
Kesah yang kesal dengan Vino, gara-gara vcemburunya yang
terlalu berebihan, beranjak menuju kamar Vino dengan wajah cemberutnya.“Sha,
kenapa kamu jute seperti iyu pada Vina?” tanya Vino, opada Kesha yang duduk
santi di ranjangnya.
“Karena aku gak suka, jadi jangan paksa aku untuk ramah”
ucap Kesha jutek.
“kenapa kamu gak suka? Apa salah dia padamu? Apa yhanya kamu
ceburu dengannya, kamunjadi gak suka denganya, atau dia pernah dengan Albert
juga jadi kamu benci dengannya... Apa itu alasan kamu?’ tanya Vino, dengan nada
semakin meninggi.
“Kenapa kamu bela dia, apa kamu suka dengannya. Kalau kamu
suka denganya, sana sususl dia pergi.. jangan urus aku.” Ucap Kesha, meluapkan
isis hatinya.
“Aku itu gak suka dengannya, apa aku harus bicara ribuan
kali biar kamu paha dengan apa yang aku katakan. Aku hanya cinta sama kamu.
Tidak ada wanita lain sekarang di hati aku.” Ucap Vino, memegang ke dua bahu
Kesha.
Kesha menepis tangan Vino, kasar. “Jangan sentuh aku, kalau
kamu gaksuka dengan dia, kenapa kamu
bentak aku bivcara dengan nada tinggi denganku.. Bahkan kamu bernainmembentak
aku hanya untuk emmbala dia.” Ucap Kesha, yang masih tidak mau kalah.
Vino, menarik napasnya, mecoba meredakan emosi dalam
dirinya. Ia mengusap kepalanya frustasi, dengan nada sedikit kesal dengan
semuanya. Vino duduk di sofa, membiarkan Kesha yang terus meras kesal dengannya.
Pria itu memegang kepalanya yang terasa pusing di buatnya.
“kenapa kamu diam, apa kamu gak nbisa jawab kan sekarang.
Kamu memang benmar suka dengan Vina”
“Diam!!!” bentak Vino, sketika membuat Kesha terdiam, denagn
bibir sedikit masuk ke dalam, melihat wajah Vino sangat marah. Kesha baru kali
ini, melihat laki-laki marah, sangat. Menakutkan!!
Kesha mengigit bibir bawahnya, menatap takut melihat mata
Vino, penuh dengan percikan api kemarahan menatap ke arahnya.
Vino memejamkan matanya beberpaa detik, menarik napasnya, mencoba
untuk sabar menghadapi Kesha saat ini. Ia beranjak berdiri, mencoba memegang
Kesha di depannya.
Kesha yang takut, ia melangkah mudur ke balakang, dengan
mata sudah mulai berkaca-kaca, menggelengkan kepalanya tidak percaya. Vino bisa
marah menakutkan seperti itu.
“Sha, aku bisa bicara baik-baik denganmu.. jangan seperti
ini, aku gak mau kamu marah seperti ini” ucap Vino, semakin melangkah ke depan.
Hingga ia bisa meraih lengan kesha, memegangnya erat. Namun Kesha, memalingkan
wajahnya, tanpa perdulikan Vino.
Vino memegang ke dua pipi Kesha, menariknay mengarah ke
hadapannya. Ke dua mata mereka saling tertuju satu sama lain, dan. Tes..
__ADS_1
Bukisran air mata jatuh datri mata Kesha, membuat Vino,
merasa sangat berslah telah membentaknya tadi. Pria itu, menyeka air mata Kesha
dengan jemari tanganya lembut.
“Sha, tatap aku, tataplah mataku.. tolong percaya denganku.
Dan jangan lagi seperti ini, aku syang dengan kamu. Aku syang, sama kamu. Jagan
seperti ini, aku syang mencintai kamu. Di hatiku gak ada wanitya lain selain
kamu.. Toong percaya padaku, jangan membuat hubungan kita jadi renggang lagi.” Ucap
Vino, menarik tubuh Kesha dalam dekapan hangatnya, menenggelamkan wajah Kesha
dalam dada bidangnya.
“Tapi kenapa tadi kamu sat Vina perhi menatapnya seprti itu,
bahkan kamu senyum manis denganya. Aku melihat tatapan kalian. Aku melihat
semuanya.” Ucap Kesha, memukul punggung Vino berkali-kali.
Vino, semai
mempererat pelukannya, ia tidak mau mebiarkan Kesha larut dalam kesedihan
karena ulah dia sendiri yang terlalu cumburu dengannya. Meski di sisi lain ia
merasa snagat senang, memgetahui perasaan Ksha yang sama seperti dulu, sangat
mencintainya. Tapi saat melihat dia cemburum, ia tidak tega.
“Sha.. dengannya hanya sebatas teman, dan tidak lebih. Sama
seperti kamu dan Albert, aku tidak pernah sama skeli bebicara lebih dnegannya.
Dekat dnegannya, atau memegang tangannya. Kita pernah hubungan juga lewat
ponsel. Dan aku bertemu dengannya juga karena dia ingin menyatukan kamu dan
aku.. Dia itu baik, Sha.” Ucap Vino lembut, mengusap rambut Kesha denagn salah
satu mengusap punggungnya.
“Apa benar apa yang kamu katakan?” tanya Kesha, melepaskan
“Aku bicara apa adanya, dan aku gak pernah sama sekali
bicara bohong sama kamu” ucap Vino, memegang ke dua pipi Vino.
Kesha yang tadinya merasa sangt kesal, hatinya perlahan
mulai luluh saat menatap ke dua mata Vino, yang terlihat kejujuran di matanya. Sentuhan
lembut tangan Vino, membuat ia terbuai dalam kehangatan tangannya. Perlahan
amarah dan cemburu dalam diri Kesha memudar.
“Sekarang, akmu percaya dengan aku kan, Aku gak mungkin
bohong dengan kamu. Aku syang dengan kamu Sha, jangan marah lagi.. hatiku
benar-benar hancur saat melihat kamu seperti itu” ucap Vino, tersenyum tipis,
mengusap lembut ke dua pipinya beberapa kali, lalu menarik tubuhnya masuk dalam
dekapannya, untuk yang ke dua kalianya.
--
Tok.. tok.. Tok...
Vin, Sha. Apa kalain baik-baik saja. Kenapa aku mendnegar
kalain berantem” ucap Manda di balik pintu kamar Vino.
Vino dan Kesha mengakhiri pelukannya, mereka saling menatap
beberapa detik, lalu menatap ke arah pintu secara bersamaan.
“Kita, harus bilang apa pada Manda nantinya?” tanya Kesha,
menatp ke arah Vino.
“Aku bia atur, sekarang kita keluar sama-sama. Dan yang
__ADS_1
paling bagi aku saat ini, gadi mungil aku yang gemesin ini, jangan ngambek lagi”
ucap Vino, memgang ke dua pipi Kesha, memdkatkan wajahnya, kemudian mendaratkan
sebuah kecupan lembut di kening Kesha, ke dua pipinya dan bibirnya.
“Udah-udah, cepat buka” ucap Kesha, mendeong tubuh Vino,
agar segera membuka pintunya.
Vin.. “ panggil Manda yang merasa tidak ada jawaban sama
sekali dari Vino dan Kesha.
Vino membuka pintu kamarnya setengah, mengeluarkan separuh
badannya m,enatap ke araj Mnada. Membuat Manda dan Aron yang berdiri di sana
mengerutkan ke dua alisnya kompak.
“Kalian lagi ngapain?” tanya Kesha, dengan wajah bingung.
“Rahasia dong” ucap Vino, tersenyum semringai di hadapan
Manda.
“Jangan bilang kalau kamu berani macem-macem dengan wanita”
sambung Aron.
‘Kaka juga pernah dulu, masak aku gak boleh” ucap Vino.
“Gak boleh” ucap Manda tegas.
“Kenapa? Lagoian gak ada yang melarang, kita sama-sama suka.
Dan kalau Kesha mau gimana”
“Kalian menikah dulu, kalau sudah gak sabar besok kalian
menikah” ucap Aron seketika membuat Kesha beranjak dari duduknya berjalan
menemui Manda dan Aron.
“Gak mau kak” uacp tegas Kesha pada Aron.
“Kenapa gak mau?” tanya Vino bingung.
“Kalau besok aku gak mua, lagian aku mau menikah tampil yang
paling cantik di hadapan para tamu undnagan dan di depan kamu pastinya. Jadi
pernikahan gak bisa langsung mendadak, aku mau kita milih gaun yang pas buat
aku sebelum acara pernikahan” ucap Kesha, tersenyum tipis menatap Vino.
Vino yang mengira Kesha tidak mau menikah dnegannya.
Mendnegar jawaban itu membuat Vino merasa lea, iia memegang tangan Kesha, mesra
tanpa rasa canggung lagi di depan kakanya.
“Kalau seperti ini aku senang, apalagi saat melihat kamu
bisa akur seperti ini” ucap Aron.
“Iya, kalain itu pasangan cocok, makanya aku gak mua jika
kalain bepisah terlalu lama” sambung
Manda.
“Iya, mulai skearang, kita akan selalu jadi pasangan yang
snagat romantis.” Ucap Vino dengan bangganya, ia menggoyang-goyangkan pegangan
tangannya.
“Oya, aku boleh nitip anak aku bentar, aku dan Atron mau
masak. Sekaian buat kue.” Ucap Manda, menyerahkan ke dua anak mereka pada Vino
dak kesha. Dan langsung di sambut begitu saja oleh mereka.
“Tapi kalau meraka minta adi giaman?” tanya Kesha.
“Kalain bisa panggil aku di dapur, lagian juga aku gak
__ADS_1
pergi jauh. Dari pada kalian pacaran saja. Lebih baik kalian belajar urus anak,
biar nanti kedepannya. Kalain bisa urus anak sendiri.” Sindir Manda