Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Vina & Albert part 2


__ADS_3

Albert menarik dua sudut bibirnya, seketika mengembang membentuk sebuah senyuman tipis. Ia menatap dalam ke dua mata Vina, penuh arti.


“Karena aku gak mau kamu pergi dariku Vina, aku mau kamu tetap di sisiku. Bersamaku,” ucap Albert, mencoba menyakinkan Vina dengan apa yang ia katakan.


Vina mengernyitkan dahinya, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan Albert tadi. Suatu hal yang benar-benar di luar nalarnya.


Apa benar yang di katakan Albert, apa dia suka denganku. Tapi apa alasananya, bukanya dia sudah punya tunangan. Tapi apa benar yang di katakan Vino kemarin, apa sekarang mereka benar-benar sudah bersatu dan pada akhirnya Albert, sekarang mengejarku. Ahh.. tapi itu tidak mungkin.


“Vin, apa kamu sekarang mau bersamaku,” ucap Albert tanpa ragu.


Ucapan yang sangat jelast terdengar di telinga Vina, hanya yang terduka lagi ia ucapkan. Seakan jantungnya terasa melemah. Hanya beberapa


kata darinya, sebuah oenagkuan yang embuatnya seketika tidak bisa napas.


“Apa yang kamu katakan?” tanya Vina, menyakinkan apa yang ia dengar tadi.


“Aku ingin kita selamanya bursama,” ucap Albert, jelas.


apa aku salah dengar, apa telingaku masih normal. Apa dia tadi mengatakan jika suka denganku, atau


hanya ingin membuat aku mau ikut dengannya. Oh.. Tuhan.. Tolong aku, aku gak tahu perasaan apa ini, kenapa begitu menyakitkan. Tidak ada yang di jelaskan, semuanya samar, tak ada penjelasan.


Albert mengerutkan keningnya, menatap wanita di depannya hanya diam mematung dengan pandangan kosong menunduk ke bawah. Jamari tangan Albert mengusap lembut pipi kanan Vina, “Jangan pernah ragu lagi, dengan apa yang aku bilang. Aku tulus dengan kamu,” lanjut Albert semakin jelas.


Vina membungkam mulutnya rapat, entah apa yang ingin ia jawab. Mendengar kata itu seakan mulutnya terkunci rapat, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba menolak apa yang ada di pikirannya saat


ini.


 Jantungnya benar-benar sudah tidak karuan. Vina melepaskan ke dua tangan Albert yang


sangat lembut mengusap pipinya, ia beranjak berdiri, “Maaf, aku harus ke toilet,” ucap Vina, terburu-buru. Ia berlari begitu saja pergi ke toilet.


Napasnya sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


Bruukkk...


“Maaf,” ucap Vina , yanpa menatap seseorang yang berani menabraknya. Pandangan laki-laki itu tertuju pada vina, ia menatap dari atas sampai bawah


kakinya, dengan tatapan nakalnya, seakan menelanjangi matanya.


Vian mendongak, mentap laki-laki di depannya, wajahnya sangat mengerikan. Membuat Vina bergidik geli. Laki-laki yang begitu membuat ia


merasa sangat kesal hari ini, sudah menabraknya, tatapanya seakan ingin memangsanya.


Apa yang akan dia lakukan, matanya menjijikkan, sepertinya aku harus cepat-cepat masuk ke dalam.


Melihat laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya dengan tatapan nakal. Dengan segera Vina masuk ke dalam toilet. Ia mencoba menutup

__ADS_1


pintunya. Tangan kekar laki-laki itu mencegahnya.


“Mau kemana kamu?” tanya laki-laki itu dengan sigap masuk ke dalam toilet.


“Apa yang akan kamulakukan.” Ucap Vina, was-was. Ia berjalan mundur dengan wajah yang sudah menciut ketakutan.


Tatapan leka-laki itu sangat menjijikan, berjalan terus mendekatinya.


“Pergi dari sini?” teriak Vina, mecoba memukul laki-laki asing di depannya dengan sekuat tenaganya.


laki-laki itu mencengkram erat tangan Vina, mendorongnya ke belakang hingga dia terpojok di pintu yang sudah di tutup rapat.


“Tolong... tolong, siapa saja tolong aku..” teriak Vina, air mata seakan sudah mulai menetes. Saat jemari tangan laki-laki itu berani menyentuhnya, dia semakinmendekatkan wajahnya dan berbisik lembut. “Jangan menolak, hanya beberapa menit saja. Dan tidak ada yang akan mendnegarkan kamu


di sini,”


Tolong.. tolong..


Ia terus berteriak sekuat tenaga, mengeluarkan semua suara. Wanita itu, terus meronta, namun tubuh laki-laki itu semakin mendesaknya hingga tak


bisa bergerak sama sekali. Ke dua tanganya di kunci rapat di atas kepalanya.


“Dasar menjijikkan,” ucap Vina, yang masih terus menangis sesegukan.


Laki-laki itu mulai berdengus leher Vina, dan.


Albert mengerang marah melihat wanitanya di sentuh laki-laki lain, ia menendang keras laki-laki di depannya itu. Hingga terpental jatuh. Belum


puas dengan itu, ia memukul bertubu-tubi.


Bukk.. bukk...


“Apa yang kamu lakukan,” ucap Albert, yang langsung melayangkan pukulan ke wajah laki-laki di dapanya.


Danberanjak berdiri, menghampiri Vna yang hanya diam seakan trauma dengan pa ayng terjadi. Albert memeluk erat tubuhnya Vina, mencoba membuat ia tenang tangan kiri mengusap lembut rambutnya, dan tangan kenan memegang pipi Vina, membuat gadis itu tergelam dalam dada bidang Albert.


“Kamu gak apa-apa kan, apa di menyantuhmu labih. jika dia berani macam-macam, atau berani menyentuhmu walau hanya sedikit. aku tidak akan


segan-segan memukulnya lagi sampai dia tak berdaya sekalipun,”


“HIKK.. sudah aku gak apa-apa, lebih baik kita sekarang pergi,” ucap Vina, yang sudah mulai nyaman dengan dekapan tubuh Albert.


Albert menuntunya, berjalan keluar dari toilet, menembus beberapa orang yang melihat kejadian itu, dengan wajah heran.


“Jangan sedih, aku denganmu sekarang.” ucap Albert, semakin mendekap erat tubuh Vina. Beberapa kata itu, membuat hati Vina seakan


berbunga-bunga. Ia ingin emnolak pikiran senang dalam otaknya, mengganti dengan pikiran curiga, namun hatinya menolak. Hatinya sudah terlanjur nyamanbdengannya.

__ADS_1


Albert apa kamu merasakan hal yang sama denganku. Jantungnya, degup jantungnya. Aku merasakanbjelas, aku mendengar jelas degup jantungnya semakin cepat..


Albert, menuntun duduk kembali di tempatnya, ia memegang ke dua lengan Vina, mengangkat dagunya, mendongak menatapnya. “Vin, ijinkan aku


selalu menjaga kamu. Aku ingin selalu berada di sisimu, menjagamu” ucap Albert, semakin membuat hati Vina taknkaruan. Wajah yang semula muram, penuh dengan air mata ketakutan. Ia mulai menarik ujung bibirnya, tersenyum tipis. Menatap Albert.


“Kenapa kamu mau menjagaku?” tanya Vina, mencoba memastikan.


“Karena sekarang aku sadar, jika aku gak bisa jauh darimu.” Jawab Albert penuh keyakinan.


Sebenarnya aku juga sama, tapi sepertinya. Aku belum yakin dengan hatimu. Jika kamu memang sudah benar-benar, memberikan hatimu seutuhnya untukku. Aku gak mau sakit hati lagi, aku gak mau


salah memilih cinta.


“Vin, kenapa kamu diam?” tanya Albert, merasa tida ada jawaban dari Vina.


Vina langsung menyadarkan dirinya dari lamunannya. “Ehh.. Iya, tapi aku butuh waktu, untuk menerima kenyataan ini. Sulita bagi seorang


wanitayang sudah pernah tersakiti, untuk menerima cinta orang yang pernah menyakitinya.”


Wajah Albert, muram seketika. Ia menarik napasnya, mencaoba menerima jawaban yang di berikan Vina padanya. Tapi setidaknya ia sudah dengar


jawaban dari Vina, hatinya sudah tenang.


“Meski aku tidak bisa memilikimu sekarang. Tapi aku ingin memilikimu nanti, sampai tidak ada yang memisahkan kita.”


Deg...


Mendenga kata itu sotak jantunya berhenti beberapa detik, sebuah kata lagi yang mampu melumpuhkan jantungnya seketika. Membuat hatinya


tidak karuan.


“Kita lihat saja nanti. Tapi setidaknya kita bisa jadi teman lagi.” Ucap Vina, menarik ke dua sudut bibirnya, seketika mengembang membentuk


sebuah senyuman, termanis yang ia miliki.


“Bagaimana?” Vina mengulurkan tanganya ke arah Albert. Dengan sebuah senyuman yang masih terukir di bibirnya.


“Baiklah, tapi kamu jangan main kabur lagi ya,” ucap Albert, mecubit ke dua pipi Vina. Dengan tangan kanan menerima uluran tangan Vina.


Vina mengarutkan bibirnya, mengusap pipinya yang masih terasa sakit. “Lagian, kamu juga nyebelin.” Gumam Vina.


“Nyebelin bagaimana? Sudah sekarang jangan cemberut begitu.” Gumam Albert, menarik kepala Vina, menyandarkan ke bahunya.


Membuat Vina benar-benar merasa nyaman kali ini. Ia ingin melihat seberapa besar pengorbananya saat ini untuknya. Ia ingin melihat cinta


tulus darinya, bukan hanya sekedar kata-kata yang haya membuat ia senang dalam

__ADS_1


satu hari.


__ADS_2