Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kembalinya pasangan baru


__ADS_3

Albert yang mendengar mereka berbicara tentang Kesha, berjalan cepat mendekati Vina dan Manda. Ia memegang lengan Vina.


"Tunggu!!" ucap Albert.


Vina dan Manda menghentikan langkahnya, ia tahu suara yang sangat familiar di belakangnya itu. pasti laki-laki nyebelin yang selalu membuat ia marah selama ini.


Vina menoleh dengan wajah malasnya.


"Kamu lagi!! Ada apa?" tanya Vina, berkacak pinggang, melebarkan kelopak matanya dengan tatapan menajam ke arah Albert.


Albert memutar matanya malas, "Aku hanya tanya apa yang kamu katakan tadi? Bukanya kalian bicara tentang Kesha kan? Di mana dia sekarang? Dan dia pergi dengan siapa?" tanya Albert beruntun, ia masih memegang lengan Vina.


Vina, menarik bibirnya sinis, menepis tangan Albert menjauh darinya. "Jangan sentuh aku!! Bisa alergi aku di sentuh olehmu!!" ucap Vina, mengusap tangannya berkali-kali bekas sentuhan Albert.


"Ayo da Pulang, biarkan dia di sini. Malas juga berdenat dengannya lagi" Vina memegang tangan Manda, memaoahnya pergi.


Albert berdengus kesal, menarik lengan Vina, mencegahnya pergi. "Aku tadi tanya padamu? Jawab sekarang? Apa kamu tuli" Albert mendorong bahu Vina membuat gadis itu menoleh ke belajang menatapnya.


"Biasa saja jangan main kasar dengan cewek." ucap Kesal Vina, memainkan bibirnya sinis.


"Lagian salah siapa? Aku tanya baik-baik denganmu. tapi kalau kamu gak bisa di baikin ya sudah. Aku main kasar saja denganmu" ucap Kesal Albert, menarik salah satu matanya ke atas.


Manda merasa bosan kendengar perdebatan mereka. Tapi mereka sama-sama keras kepala percuma juga di ingetin. Nanti ujung-ujungnya juga sama, tetap marahan terus setiap bertemu.


Vina memainkan bibirnya kesal, dengan rahang terus bergertak, menahan emosi yang semakin meninggi. gadis itu melayangkan tangannya, lalu menurunkannya lagi dengan penuh kekesalan.


"Shiittt. gak guna bicara denganmu!! Aku udah bilang berkali-kali, sana pergi!!" ucap Vina. Membalikkan badanya dan melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Albert.


"Ayo, Da. Kita pergi sekarang, jangan hiraukan manusia gak guna seperti dia" Vina, memapah tangan Manda mengajaknya melangkah lebih cepat, membuat Manda langsung ngos-ngosan.


"KALIAN MAU KEMANA??" teriak Albert, ia terus mengikuti Vina dan Manda, sebelum ia dapat jawaban dari apa yang ia dengar tadi. Dan ia bahkan terus berharap jika Kesha tidak lagi dengan Vino.


"Bukan urusan kamu!" ucap Vina, tanpa menoleh ke belakang.


"Kamu berhenti gak?" Albert berlari cepat dan berhenti tepat di depan Vina. "Sekarang kamu mau kemana lagi?" tanya Albert, memegang bahu Vina, menatap menggoda ke arahnya.


"Vin, aku udah cukup, mau duduk. Kalau aku nurut kamu bisa-bisa lahiran di sini aku" ucap Manda terpatah-patah dengan napas yang sudah di ujung tanduk. Ia mengusap dadanya yang masih terasa sesak, dan duduk di sebuah halte depan kampus.


Vina berdengus kesal, ia menoleh ke balakang. Melihat Albert berjalan menghampirinya lagi.


"Kalian mau lari kemana?" tanya Albert,


"Kamu mau tanya apa aku jawab" ucap Manda.


"Manda gak usah!! Ngapain juga kita beri tahu dia. Lebih baik kita diam saja" ucap Vina.


"Aku gak tanya kamu, aku mau tanya pada Manda" Jawab Albert.


"Udah minggir sana!!" Albert mendorong bahu Vina yang nenghalangi langkahnya, untuk duduk di samping Manda.


"Da, aku mau tanya!!"


Vina yang tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya diam. Melipat ke dua tangannya. dengan mata melirik tajam ke arah Albert.


"Da apa kamu tahu di mana Kesha pergi?" tanya Al.


"Dia pergi ke sekolah Duke? Emangnya kenapa?" tanya Manda, memincingkan matanya melihat Albert yang mengusa dada bidanganya berkali-kali.


"Kamu kenapa?" tanya Manda.


"Dia pergi sama laki-laki gak?"


"Iyal lah, dia itu laki-laki tampan dan imut. Wlbih imut dan lucu daei pada kamu. Bahkan sekarang setiap pagi selalu antar jemput, selalu menemaninya" saut Vina, memutar matanya ke atas.


Albert memegang lengan Vina, mencengkramnya erat, menggoyang-goyangkan sedikit.


"Siapa?" tanya Albert penasaran.


"Lepaskan tangamu!! Sakit Albert!"


Albert seketika mengeluarkan tanduknya, pi kemaran mengobar di tubuhnya.


"Beri tahu aku dulu siapa lagi-laki yang bersama dengan Kesha?" tanya Albert memaksa.


"Anak Manda lah siapa lagi" ucap Vina, dia sambil tawa lepas di bibirnya. Melihat wajah Albert saat cemburu sangat lucu.


"Apa kamu cemburu dengan anak Manda?" tanya Vina yang tidak berhenti tertawa.


Albert menarik napas kesal. "Kamu itu ya, gak bisa sehari saja gak resek denganku." ucap Albert kesal, ia menunjuk wajah Vina. "Kamu itu selalu cari gara-gara denganku,"


Vina tersenyum, mendorong bahu Albert menjauh darinya. Berjalan emndekat dengan tangan menunjuk ke wajahnya. "Apa kamu bilang cari gara-gara, Eh kamu itu yang selalu cari gara-gara. Udah sekarang sana pergi, udah males banget lihat wajah laki-laki nyeselin seperti kamu."


"Kamu bilang aku nyeselin!! Kamu itu cewek nyeselin"

__ADS_1


"kamu!!"


"Kamu!!"


Mereka tidak ada yabg mau saling mengalah, perdebatan mereka membuat semua orang di sana, yang lewat menatap bingung ke arahnya.


Manda menarik napasnya kesal.


"Udah-udah diam kalian, Aku pusing melihat kalian berantem terus. Entar kalau saling suka tau rasa kalian" ucap Manda kesal.


Mereka saling menyalahkan membuat Manda di depannya melihat perdebatan mereka telinganya terasa gerah.


Ia bergegas menghentikan taksi yang kebetulan lewat.


"Da kamu kemana?" tanya Vina.


"Aku pergi dulu, kalau kalian mau berdebat silahkan. Aku gak mau ganggu kalian!! Oya aku tunggu kamu di rumah." Manda bergegas masuk ke dalam taksi itu.


"Tuh kan, gara-gara kamu Manda ninggalin aku. Terus sekarang aku pulang dengan siapa?" gerutu Vina kesal.


"Salah sendiri mobil kamu tinggal di rumah Manda. Sekarang jalan kaki sana" ucap Albert, membalikkan badannya, melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Vina sendiri di halte.


"Semuanya bener-bener nyeselin" umpat kesal Vina, menghentak-hentakkan kakinya.


Dengan terpaksa Vina duduk di halte menunggu taksi datang lagi. Sudah hampir satu jam menunggu kebetulan taksi tidak ada yang lewat di depannya. Membuat ia semakin kesal, ia tak berhenti. menggerutu gak jelas, dan terus marah-marah.


TIT... TIT...


Sebuah mobil hitam pekat, berhenti tepat di depannya. Seorang laki-laki yang sangat familiar di mata Vina, membuatnya melemparkan wajahnya berlawanan arah.


"Belum dapat taksi ya!!"


"Buka urusan kamu!!" jawab Vina kesal.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya!!" ucap Albert melambaikan tangannya. Mobil itu melaju pergi dari hadapan Vina.


"Dasar cewek, bilang saja mau numpang tapi malu-malu gitu!!" gumam Albert, yang merasa tidak tega melihat Vina duduk sendiri di halte, bahkan gadis itu terus duduk, berdiri, duduk lagi. Dan tidak pernah berhenti terus memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan putih miliknya.


~~


Vino dan Kesha masih di sekolahan Duke dan Lia. “Kita pergi sekarang?” tanya Kesha ragu.


“Emm, terserah anak-anak, tapi gimana kalau kita pergi makan dulu” ucap Vino.


“Tante!! Makan dulu ya sama om Vino” ucap Duke, merengek memegang tangan Kesha.


Kesha menarik napasnya, dengan terpaksa ia harus menerimanya lagi. Ia tidak tega melihat Duke yang terus merengek. “Baiklah!!”


“Yeeaayy.. Gitu doang!!” ucap vino dengan senyu merekahnya. Ia memegang tangan Salsa dan tangan kiri memegang Duke, ke duia mata mereka saling tertuju dalam diam. Sebuah persaan yang tidak bisa mereka tolak lagi. Hal yang sama, perasaan yang sama, dan cinta yang sama, masih tersimpan dalam hati mereka.


Kesha hanya diam, dan menerima pegangan tangan Vino, mereka berjalan masuk ke dalam mobil.



Albert yang semula melaju pergi, ia teringat dengan Vina lagi.



Pria menghentikan mobilnya, ia menoleh ke belakang. Melihat Vina dari kejauhan yang terus mengumpat kesal. “Dasar wanita, dia masihn saja gengsi untuk numoang” ucap Albert, mobilmya melaju mundur tepat berhenti di depan Vina.



Ia membuka kaca mibilnya, “{Eh.. kamu mau ikut aku gak?” tanya Albert.



“Enggak!!” jawab Vina tegas.



“Gak usah gengsi, lagian di sini kalau kamu gak dapat taksi juga bisa gosong tuh kulut kamu” sindir Albert.



Vina menatap kulit tangannya, sinar matahari seakan menyengat dalam pori\-pori kulitnya. Ia menghembuskan napasnya, dan kini tetap dala pendiriannya. Ia tidak mau numpang lagi dengan laki\-laki ngeselin seperti dia.



“Kelamaan banget mikirnya!!”



“Aku gak akan mau pergi, dan gak akan mau pergi” ucap Vina semakin tegas.

__ADS_1



Albert yang merasa sudah kesal, ia bergegas turun dari mobilnya, meraih tangan Vina. Lalu, menariknya masuk ke dalam mobilnya, ia melempar tubuh Vina masuk dalam mobil.



“Sudah diam di situ!! Aku bicara baik\-baik dengan kamu malah gak kamu perduliin. Jadi maaf jika aku lebih kasar sedikit denganmu” ucap Albert, yang segera masuk ke dalam mobilnya.



Vina, menguntupkan bibirnya, menatap tajam ke arah Albert, ia memegang tanganya yang terasa sakit akibat cengkraman pria itu yang sangat erat.



“Apa kamu gak bisa lembut sedikit?” tanya Vina.



“Lagian kamu di lembutin juga gak bisa!!”



“Emang aku kue di lembutin” jawab Vina.



“Lebih enakan kue dari pada kamu, kue itu lembut jika di telan lebih lembut lebih enak. Sedangkan kamu, jika ucapan kamu di telan itu nyangkut. Ucapan wanita itu harus di jaga, kamu boleh kasar, tapi lihat pada siapa kamu kasar. Kamu akan bisa di harigai oleh seseorang jika kamu bisa menghargai seseorang. Lihatlah, kamu saja sudah tidak bisa menghargai seorang laki\-laki yang baik menolong kamu. Eh, kamu malah menolaknya mentah\-mentah.”



Vina terdiam, menarik bibirnya sinis. “ gak usah banyak bicara cepat antarkan aku ke rumah manda sekarang”



Albery kenarik alis kenannya ke atas.


“Baiklah, tuan putri” ucap Albert, yang segera menjalankan mobilnya.



Kesha dan Vino sampai di sebuah restaurant sederhana. “Kesha, sekarang kamu mau makan apa?” tanya Vino.


“Terserah, sama kayak anak-anak juga gak apa-apa” ucap Kesha, ia merasa sangat malu harus kembali dekat dengan Vino lagi, seakan ia menarik kata-katanya lagi. Hal yang tak mudah untuk untuk mengungkapkan perasaannya kembali.


“Baiklah” Vino segera memesan beberapa makanan dan minuman untuk porsi berempat.


“Tante, jangan diam saja. Kenapa tante gak bicara dengan om Vino. Padahal om Vino baik” ucap Lia, membuat Kesha mendongakkan kepalanya menatap ke arah Vino.


“Lia!! Tante itu lagi malu-malu, lagian dia menyembunyikan perasaanya” ucap Vino.


“Vin, kenapa kamu masih mau dekat dengan aku setelah, apa yang aku lakukan padamu. Aku sudah kasar dengan kamu, aku sudah jetek dengan kamu, bahkan aku yang menghinati kamu. Tapi kenapa? Kenapa kamu masih mau dekat denganku..”


Vino terdiam, ia memegang tangan Kesha di atas meja. “Karena perasaanku padamu masih tetap sama, aku masih syang dengan kamu. Dan aku masih cinta dengamu. Meski ratusan bahkan ribuan kali kamu menghinatiku, aku tetap akan selalu mencintai kamu, sampai kapanpun. Perasaan itu masih sama.


Duke dan Lia yang tidak paham dengan apa yang mereka katakan, mereka saling diam tersenyum melihat apa yang ada di depannya.


“Tapi maaf!!” ucap Kesha, melepaskan tangan Vino di tanganya. “Aku gak bisa kembali lagi dengan kamu. Aku dan Albert akan melangksungkan pertunangan. Dia sudah memberikan aku sebuah cincin sebagai ikatan kita” Kesha menundukkan kepalanya.


“Apa yang kamu lakukan, aku tahu kamu tidak mencintai dia. Dan perasaan kamu masih sama> dan akan tetap sama” ucap Vino yang tidak mau menyerah.


Tak lama mereka terus berdebat tentang perasaan mereka. Namun Kesha masih tetap sama dengan pendiriannya. Ia tidak mau goyah lagi, ia ingin melepaskan Vino. Dan memulai hidup baru lagi dengan seseorang yang tidak pernah ia cintai sebelumnya.


“Permisi tuan.. Ini makanan dan minumannya” ucap pelayan yang berdiri di sampingnya.


“Iya!! Taruh aja”


“Sudah lama aku gak makan seperti ini lagi dengan kamu, akunmerasa hari ini adalah hari spesial. Meski kita sudahbtidak ada iktakan lagi” ucap Vino.


"tapi setidaknya kamu bisa mencari penggangti aku nantinya.” Ucap Kesha, yang mulai meminum jus orange yang sudah di pesan oleh Vino.


"Tapi aku gak akan bisa melupakan kamu, meski aku sering menghinati kamu dulu. Tapi hanya kamu yang selalu bertahan dengan bubungan kita. Kamu masih tetap mau menerima aku kembali. Tapi kenapa sekarang tidak."


"Karena kamu sudah sering menyakiti aku. Tidak hanya satu aatu dua kali. Tapi berkali-kali kamu selalu menghianatiku. Kamu jalan dengan wanita lain, pacaran dengan wanita lain. Dulu aku mungkin terlalu buta karena cintamu. tapi sekarang tidak lagi, aku tidak mau mengulangi kesalahan masa lalu."


"Om, Tante! Ayo makan jangan tetus berdebat. Nanti di rumah saja di lanjut lagi" Ucap Duke memegang tangan Manda dan Kesha.


"Iya Duke!! Tante makan ya" ucap Kesha mengusap lembut rambut Duke yang memang duduk di dekatnya.


Mereka segera menikmati makanan yang ada. Duke dan Lia juga makan dengan lahapnya. Vino yang semula diam memandang Kesha makan, ia juga mulai makan.


Selesai makan siang, Vino dan kesha segera pulang. Sebelum Manda mencari ke dua anaknya nanti.


Di perjalanan Vino hanya diam, memandang ke arah kesha, meski dia tidak memandangnya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2