
Manda yang baru saja selesai makan, ia berbincang berdua
dengan Aron sambil menjaga ke dua anakanya yang masih terbaring di ranjangnya.
“Kamu gak mandi-kan dia syang” tanya Aron.
“Iya, sama kamu juga syang” ucap Manda.
“Baiklah,” ucap Aron, yang mulai menggendong Brandon, dan
Manda menggendong Axcel.mereka segera memandikan baby mungilnya yang tampan dan
lucu itu bersamaan. Selesai memandikan mereka segera memakiakan baju ke dua
naknya itu. Kemudian , menggendongnya menidurknnya dalam dekapan hangatya.
Manda tak berhenti menciumi pipi anaknya yang terlihat menggemaskan itu.
“Syang, mereka lucu ya” gumam Manda, mengusap lembut pipi
anaknya bergantian.
“Iya, seperti mamanya juga lucu” Goda Aron, mencubit pipi
Manda.
“kalau papanya ityu laki-laki paling ngeselin” gumam Manda
menggoda.
“Syang, sepertinya mereka sudah tidur lagi. Lebih baik
sekarang kamu tidurkan mereka di boks tidur mereka saja ya” ucap Aron.
Manda melihat wajah anaknya yang lucu saat tidur, dengan
segera meletakkan dalam bok kotak tempat tidur ke dua anaknya.
“Oya, tadi Duke dan ia pergi kemana ya” tanya Manda yang
mulai khawatir dengan anaknya.
“Kamu kangen sama mereka ya?” tanya Aron duduk di ranjang,
ia menarik tubuh istrinya itu ke dalam pangkuannya. Dengan tangan merengkuh
erat pinggang Manda mesra.
“Iya, kangen. Gimana gak kangen syang, biasanya kalau kamu
kerja, sekarang ya Lia dan Duke yang menghiburku saat mereka sudah pulang sekolah.
Dan dua hari semenjak aku lahiran. Mereka belum masuk sekolah. Dan setai
menemani aku syang” ucap Manda.
“Iya, aku tahu. Mereka juga oengobat lelah kamu” gumam Aron,
memeluk Manda dengan tangan Aron yang perlahan sudah berani mmenyelip di balik
kain ke atas.
“Boleh pegang ya syang” ucap Aron, hanya di balas dengan senyuman tipis oleh Manda. Tanpa penolakan dari Manda sama sekali. Aron, mengusapnya lembut membuat Manda terdiam, menikmatinya.
“Jangan bergerak syang?” ucap Aron.
“Memangnya kenapa?” tanya Manda, melirik ke arah Aron.
__ADS_1
“Masak kamu gak tahu syang” ucap Aron, hanya tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa.
“Suami ku ini baru saja anaknya tidur lagi, sudah mulai nakal ya.” Gumam Manda, mecubit pipi Aron.
“Lagian ada peluang nerusin yang kemarin malam syang. Dan Duke sama Lia juga gak ada, jadi rumah sepi, kita bisa melanjutkan kemarin malam yang tertunda.” Kata Aron menjelaskan.
“Emangnya kita mau ngapain syang” gumam Mnada. “Aku masih sakit, jadi gak mau berhubungan dulu. Baru beberapa hari lahiran, rasa nyeri
masih ada syang, jadi kau gak mau dulu berhubungan”
“Baiklah, kalau gak mau. Aku juga paha syang, lagian aku hanya ingin pegang saja syang, setelah itu tidur berdua. Aku ngantuk” gumam Aron.
“Jam sidini suah ngantuk?” tanya Manda.
“Iya, kemarin kita bergatian jaga anak-anak. Sekarang aku masih ngantu, tapi aku mau tidur kalau di dalam dekapan istri aku,” ucap Aron dengan manjanya, megecup pipi Manda.
“Mulai lagi sekarang manjanya suami aku” gumam Manda, mengusap rambut Aron.
“Aku itu memang pengan di manja kalau sama istriku tersayang ini, kamu itu bagian dari hidup aku syang. Pelangkap hidupku. Jadi kalau kita
jauh, kita saling marah, ada yang bilang dalam diri aku. dan pekerjaan banyak di kantor, membuat aku jarang bisa memanjakan mu. Dan sekarang lagi libur kerja aku akan memanjakan mu” ucap Aron, memegang ke dua pipi manda, mengecup
bibirnya mesra.
Di balas dengan Mnada yang kini sudah semain bernai dengan Aron, ia mendorong tibuh Aron hingga berbaring di ranjang, mereka saling mengecup mesra, merengkuh, erat berguling-guling di ranjangnya. Sebuah kemesraan yang saling mereka
rindukan. Sejak hamil anak ke dua mereka tidak pernah bisa mesra seperti itu di
ranjang, hanya bisa saling mengecup satu sama lain.
Tangan Aron sudah mulai nakal sama seperti pertama mereka menikah, namun kini tanpa paksaan lagi tidak seperti dulu. Yang membuat Manda pernah menderita di tanganya. Di balas dengan suara berat manda membuat Aron
semakin menjadi, meski tidak bisa berhubungan. Ia hany bisa melakukan apa yang
bisa ia lakukan dengan Manda saat ini.
Tokk... tokk.. tokk..
Seketika Aron mengakhiri permainan tangan nakalnya. Ia beranjak duduk, merapikan kembali baju Manda, dan mengusap lembut rambut Manda yang
terlihat berantakan.
Manda duduk mentap wajah Aron di depannya, yang terlihat
bergitu perhatiannya dengan dirinya. Wanita itu, memegang ke dua pipi Aron,
lalu mengecup bibir Aron beberapa detik.
“Suami ku yang paling aku cinta, bahkan sangat aku cinta.
Berkat kamu kita sudah punya tiga anak. Yang sudah aku lahirkan normal” ucap
Manda, mengusap ujung kepala Aron, agak mengaak-acak rambutnya, membuat rambut
Aron yang semula sudah berantakan jadi tabah berantakkan.
“Iya, sekarang tanya siapa yang datang” ucap Aron pada Manda
“Ada apa bi?’ tanya Manda.
“Non, Vina datang non, dia sudha menunggu di ruang tamu”
ucap pembantu Manda.
“Baik bi, aku akan segera keluar” ucap Manda
“Syang ada Vina. Sekarang kita keluar dulu ya. Atau aku saja
__ADS_1
yang keluar menemuinya.” Ucap Manda.
“Baiklah, tapi ada satu syarat kamu pergi dari sini” ucap
Aron menggoda, denganjemari tangan mengusap pipi Manda.
“Apa syang, cepetan. Nanti Vina keburu lama menungu ku” ucap
Manda.
“Kecup aku. Di bibir, lima menit saja, setelah itu pergi.
Dari pada taman kamu menunggu lama” ucap Aron, yang memang belum puas dengan
kecupanya di ranjang tadi.
“baiklah, tapi hanya bentar ya. Lima menit gak lebih” ucap
Mnad, yang langsung menarik kepala Aton mendekat ke arahya, ia mulai mengecup
bibir Aron, tanpa balasan dari Aron. Aron memang membiarkan Manda yang memainkan
bibrinya sendiri. Ia ingin melihat sebarapa mahirnya dia sekarang.
Manda melepaskan kecupannya, dan megusap bibirmya dengan
punggung tanganya. Ternyata kamu mahir juga syang’ ucap Aton.
“buaknya kamu yang ajari aku. Udah sekarang aku mau pergi. Vina
sudah lama menunggu aku di bawah. Nanti kamu bisa lanjut lagi” gumam Manda,
bergegas pergi meniggalkan ke dua anaknya
dan Aron.
```
“Vin, kamu sudah menunguunkama ya” ucap Manda berjalan mendekati Vina yang duduk tanpa eskpresi di wajahnya.
“Gak, kok Da” ucap Vina, datar”
Manda duduk di samping Vina, memegang pundak Vina. “Apa kamu ada masalah?” tanya Manda.
“Vina hanya diam, ia memelauk sahabtanya itu snagat erat, dan tangisan seakan pecah membasahi pipinya.
Manda terlihat bingung dengan pelukan tiba-tiba dari Vina, dengan suara tangisan Vina yang semakin sesegukan, Manda semakin bingung di
buatnya.
“Vin!!” panggil manda, memegang ke dua bahu Vina, melepaskan pelukan Vina padanya.
Manda mantap wajah Vina, yang menunduk ke bawah, an air mata yang terus menetes di matanya.
“Da, Aku akan pergi, dan mungkin aku gak tahu. Kapan kita akan bertemu lagi” ucap Vina, seketika membuat Manda terkejut, tak percaya
dengan apa yang di katakan Vina itu.
“Apa kamu berkata jujur, atau hanya kamu mau berbohong padaku Vin.” Uca Manda yang masih tidak percaya.
“Aku jujur, Da. mungkin ini terakhir aku di sini, besok sore aku akan pergi” ucap Vina.
“Kenapa mendadak sekali?” tanya Manda
“Orang tua aku yang pindah kerja di sana. Mereka mendirikan perusahaan di sana, jadi aku harus pindah iku mereka juga” ucap Vina, yang
terus menunduk.
__ADS_1
Ia tidak mau cerita, tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Manda. Kalau sebenarnya alasannya bukan hanya orang tuanya yang pindah.
Tapi ia juga ingin pindah karena Albert.