
Keesokan harinya, semalaman ksmarin dia menginap di rumah Manda. Dan kebetulan tiba-tiba Albert datang nenghubunginya. Ia ingin mengajak dia makan malam dengan manda dan keluarganya. Padahal belum sempat bilang dengan Manda, suaminya Aron sudah pulang, jadi ia pagi tadi harus segera pulang ke rumah. Ayahnya juga sudha mencarinya untuk membantunya bekerja di perusahaan.
Matahari sudah menutup cahaya terangnya. Hanya gelapnya malam yang menemaninya kini. Di bawah sinar bulan yang terlihat redup.
Dan kemerlip bintang yang terlihat sangat terang.
Vina duduk di teras rumahnya, dengan penampilan cantiknya. Hari ini ia harus berlama-lama dalam kamar hanya karena ingin make up, agar terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
Sebenarnya ia bisa make up ke salon, tapi ia gak mau. Lebih baik merias wajahnya sendiri, dari pada di rias orang lain. vina ingin menyulap wajahnya menjadi seorang bidadari malam ini di depan Albert. Karena baru pertama kali juga Albert mau ajak dia makan malam. Ya, meski bukan malam berdua saja. Tapi setidaknya ia bisa merasakan kencan dengan Albert malam ini.
Satu jam berlalu, Albert tak kunjung datang untuk menjemputnya.
Vina meraih tasnya dan mengambil ponselnya, ia dengan segera menghubungi Albert yang katanya kemarin mau ajak dia makan malam bersama dengan Manda dan juga suaminya dengan anak-anaknya juga.
Jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, Albert belum juga menampakkan batang hidungnya di depan Vina. Bahkan wanita itu sudah menunggunya hampir satu jam lebih di depan rumah. Namun masih saja, dia belum datang.
Akhirnya Vina memutuskan untuk jelan di depan rumahnya. Menunggu Al di depan gerbang. Ia sudah tidak sabar lagi, Al bisa melihat penampilan cantiknya malam ini.
Vina menghentakkan kakinya kesal, Ia dari tadi menghubungi Albert namun gak di angkat juga olehnya. "Di mana Albert?" Gumam Vina, yang masih menggerutu gak jelas. Ia tetap mencoba menghubungi Albert dan mengirimnya beberapa pesan. Namun, hasilnya nihil, tidak ada jawaban sama seakli dari Albert.
"Albert angkat, di mana kamu. Sebenarnya kamu jadi gak sih ajak aku makan malam" gerutu Vina, yang terus mondar-mandir di depan gerbang rumahnya. Ia memutuskan untuk menunggi Albert di halte yang tak jauh dari rumahnya. Berharap di ujung jalan Albert sudah melihatnya.
Ia yang fokus dengan ponselnya. Hingga ia tak sadar ada dua lelaki hidung belang, yang datang menghampirinya.
"Hai cantik" ucap lelaki itu, mencoba menyentuh tangan Vina, dan langsung di tepis olehnya. "Kalian mau ngapain, jangan ganggu aku. Pergi dari sini" bentak Vina, memukulkan tasnya ke tubuh dua pria di depannya.
Bukannya malah pergi, dua pria itu semakin menggoda Vina. "Cantik jangan galak-galak. Paman ingin bermain dengan kamu malam ini" ucap salah satu lelaki itu. Mendekap tubuh Vina dari belakang.
"Lepaskan, jika kalian mau uang aku akan kasih kalian berapa-pun kalian mau. Tapi tolong lepaskan aku sekarang" ucap Vina, yang sudah mulai panik dengan wajah yang oenuk dengan make up kini, Tes. Buliran keringat menetes di dahi Vina. Ia mencoba melawan lelaki itu, tapi tubuh kekarnya membuat Vina tak bisa berkutik.
"Lepaskan! Aku akan berikan uang sekarang" ucap Vina, di sambung dengan tawa lepas dari dua lelaki hidung belang itu.
"Aku gak butuh uang kamu tapi tubuh kamu" ucap salah satu lelaki itu. Dengan tangan mencoba memegang Vina, dan. KREKKKK..
Gaun putih yang sudah ia siapkan di jauh-jauh hari, untuk kencan pertamanya bersama dengan Albert. Kini lengan pendek gaun itu sobek.
Vina tak berhenti menangis, dan terus mencoba melawan. Tangan lelaki kerkar itu sangat kuat, mencengkramnya. Bahkan kakinya tak bisa berggerak sama sekali.
BUUUKKK...
Sebuah pukulan dari balok kayu syang keras tepat mengenai leher belakang lelaki kekar yang mendekap Vina dari belakang. Vina yang terkejut hanya memejamkan matanya. Lelaki itu melepaskan dekapanya di tubuh Vina. Ia mendengar suara perkelahiran antar lelaki yang sedang baku hantam satu sama lain.
__ADS_1
"Jangan beraninya sama wanita" ucap lelaki itu, suara yang sangat asing bagi Vina.
"Awas, aku akan balas semua ini" ucap lelaki kekar, dan segera pergi meninggalkan Vina.
Vina memeluk erat tubuhnya sendiri, untuk menutupi lengannya yang terbuka. Hembusan angin malam yang menusuk ke tulang membuat ia mengigil kedinginan. Helaian gaun putih dengan panjang selutut tak bisa menghangatkan tubuhnya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya seorang lelaki yabg tidak ia kenal sebelumnya. Namun, Vina yang masih takut ia belum membuka matanya.
"Kamu siapa?" Tanya Vina, dengan nada gugup dan ketakutan menghantui dirinya.
"Buka matamu, aku gak akan menyakiti kamu" ucap lelaki itu, membuka jaketnya dan langsung memakaikan pada Vina.
Merasa lelaki itu baik padanya, Vina perlahan membuka matanya. Ia melihat lelaki tampan berdiri di depannya. Mata yang semula ketakutan, kini ia menatap kagum setiap ukiran wajah yang begitu tampan.
"Kamu siapa?" Tanya Vina.
Lelaki itu tersenyum, mengulurkam tangannya ke arah Vina. "Kenalin aku Vino, kamu siapa?" Tanya Vino dengan penuh keramahan.
"A-aku Vina" ucap Vina terpatah-patah.
"Kenapa kamu malam-malam di luar, apa kamu nunggu bis. Atau kamu nunggu seseorang." Ucap Vina.
"Oo. Ya sudah sekarang kamu pulang. Bahaya wanita di luar sendirian jam segini" ucap Vino, yang mulai melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Vina.
"Tunggu!" Panggil Vina, menghentikan langkah Vino yang sudah jauh darinya.
"Ada apa?" Tanya Vino menoleh ke belakang melihat Vina.
"Jaket kamu?" Tanya Vina ragu.
"Ambil saja" ucap Vino, dengan senyum manis nenyungging di bibirnya.
"Eh. Tunggu boleh aku ikut denganmu" ucap Vina berlari mendekati Vino.
"aku mau pulang, bukannya rumah kamu ada di depan. Lagian rumah aku jauh. Aku ke sini sekalian amu nunggu bis lewat. Cuaca di luar sangat dingin, lebih baik kamu pualng saja." ucap Vino.
"Tapi aku sudha terlallnjur bilang pada orang tua aku jika aku akan keluar dengan seseorang" ucap Vina.
"Ya, bilang saja kalau kamu gak jadi keluar." Ucap Vino dengan santianya. Ia memasukna tangannya yang terasa dingin ke dalam kantung celananya.
"Tapi." Vina menundukkan kepalanya dan Tes. Tetesan kristal tiba-tiba jatuh dari mata indahnya.
__ADS_1
"Eh.. kenapa kamu nangis?" Tanya Vino yang langsung khawatir melihat seorang wanita menangis. Karena itu krlemahan dia dari dulu tidak bisa melihat seorang wanita menangis.
"Orang yang ingin ajak aku kencan gak jadi menjemputku" ucap Vina, memegang lengan Vino, tetesan air mata tak bisa terbendung lagi.
"Ya sudah sekarang kamu diam ya, gimana kalau aku ajak kamu minum di cafe dekat sini saja. Ya itung-itung mau menghibur kamu" ucap Vino, dengan senyum tipis menyungging di bibir manisnya.
"Iya, makasih" ucap Vina.
Vino berjalan lebih dulu, menunjukan jalan menuju sebuah cafe yang dekat dari tempat ia berdiri. Ia berjalan ringan, dengan tangan masuk ke dalam saku celananya.
Vina yang nerasa jauh ketinggalan, ia berlari kecil mengikuti Vino yang sudah jauh di depannya.
"Kenapa langkah kaki kamu cepat banget" ucap Vina.
"Itu udah sampai" ucap Vino menunjuk ke depan sebuah cafe kecil, yang sangat ramai, cuaca dingin di luar membuat orang tak ingin hanya berdiam diri menikmati kopi di rumah. Mereka bersama dengan temannya untuk merayakan musim dingin di sebuah cafe.
"Sepertinya cafe ini terkenal ya, ramai banget. Aku belum pernah ke sini sebelumnya" ucap Vina, berdiri di samping Vino.
"Kamu coba saja, kopi di sini enak. Aku sering ke sini jika merasa jenuh saat pulang kerja" ucap Vino, dengan langkah kaki masuk ke dalam cafe tersebut.
Vina berlari masuk mengikuti Vino. "Apa benar ini enak?" Tanya Vina memastikan.
"Permisi" ucap Vino memanggil seorang waiters laki-laki di depannya.
"Iya mau pesan apa?" Tanya waiters itu.
"Caffe latte dua" ucap Vino.
"Baik, tunggu bentar ya" ucap waiters itu segera memberikan pesanan pada bar tender caffe itu.
"Sekarang kamu kalau mau cerita denganku cerita saja, aku gak akan cerita pada siapun. Lagian kita juga baru kenal. Jika kamu cerita bisa bikin hati kamu lega, cerita saja. Aku terbuka untuk kamu yang mau ceita padaku" Ucap Vino.
"Iya, tapi aku hanya ingin tanya padamu." Ucap Vina.
"Tanya apa?" Jawab Vino.
"Jika kamu jadi aku, apa kamu akan bertahan pada cinta yang menyakitkan." Ucap Vina.
"Tergantung, jika cinta itu menyakitkan tapi hati kita masih cinta dengannya mau bagaimana lagi, jika kita tidak bisa melupakan dia. Malah kita yang tersiksa sendiri, bahkan bertahun-tahun yang memang tidak ada kabar saja cinta itu masih ada meaki tanpa status. Tapi jika memang ujungny dia bukan jodoh kita. Kita juga gak bisa apa-apa. Hanya bisa bisa pasrah apa yang akn terjadi selanjutnya dengan cinta, kita berdia untuk yang terbaik saja, tapi jika menurut kamu itu cinya yang kasar, jangan pertahankan. Karena itu tidak patur di pertahankan, bukan hanya menyakiti hati dan perasaan kita. Juga akan menyakiti batin kita, dan fisik kita. Lebih baik pergi jauh dari orang seperti itu. Jika hanya mengucapkan kata kasar itu hal biasa pada orang yang pura-pura tidak cinta tapi sebenarnya memandam rasa." Ucap Vino, panjang lebar. Membuat Vina yang mendengarkan penjelasan Vino hanya diam, menyangga dagunya menatap wajah Vino yang fokus menjelaskan padanya.
Dia tampan juga, tapi sepertinya dia bernasib sama dengan aku, tapi dia sepertinya lebih patah hati dari pada aku, dari tatapan mtanya terlihat dia menyembunyikan kesedihan hatinya yang mendalam, gumam Vina menatap mata Vino di depannya.
__ADS_1