
"Arta tunggu, ucap manda mencoba berjalan mengikuti Arta.
"Manda kamu mau kemana?" ucap Aron mengikuti Manda yang berjalan pergi dari sisinya.
Arta yang melihat Manda mengikutinya. Ia menghentikan langkahnya. Dan menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanya Arta, mencoba meraih tangan Manda yang sudah berdiiri di belakangnya.
"Aku hanya mau bilang sesuatu padamu"ucap Manda.
"Sesuatu apa?" tanya Arta semakin penasaran.
"Aku hanya bilang, tolong jangan ganggu hubunganku dengan suami aku, bukannya aku melarang kamu dekat denganku. Kamu teman aku, sampai kapan-pun kamu teman aku, tapi kamu harus tahu batas antara teman. Dan tapi aku mohon juga, kamu hargai perasaan suami aku. Jangan bertindak berlebihan denganku. Aku tahu perasaanmu denganku. Tapi aku sudah ounya suami yang syang denganku. Lebih dari siapapun. Di hati aku sudah gak ada orang lain lagi selain suami aku"ucap Manda.
Aron hanya diam menatap mereka. Ia tersenyum mendengar ucapan Manda yang begitu membelanya. Dan ia lebih memilihnya dari pada mantannya itu. Rasa bangga merasuk dalam dirinya.
Arta seketika melepaskan tangan Manda. "Baiklah, aku megerti maaf, tapi aku akan tetap menjaga kamu dari jauh"ucap Arta, mencoba tersenyum di depan Manda.
"Oya satu lagi, ini uang kamu. Makasih sudah menolongku tadi. Dan ini uang yang kamu berikan buat bayar makan aku dan Aron tadi, aku kembalikan padamu. karena Aron tidak mau menerima uang kamu. Tolong di ambil dan jangan di tolak. Aku gak mau suami aku marah nantinya"ucap Manda segera mengambil uangnya di dalam tas.
"Iya"ucap Arta meraih kembali uangnya di tangan Manda.
Ia segera pergi dari hadapan Manda, Arta tidak mau terlihat sedih di depan Manda dan Aron.
"Syang, makasih"ucap Aron, meriah tangan Manda, dan menggenggamnya erat.
Manda menoleh ke arah Aron, yang berdiri di sampingnya. "Makasih buat apa syang?" tanya Manda bingung.
"Makasih kamu telah pengertian dengan perasaanku, aku gak nyangka kamu berani bilang itu pada Mantan kamu. Dan kamu sangat menghargai perasaanku sebagai suami kamu"ucap Aron, memegang ke dua tangan manda, mengecup lembut kening istrinya itu.
"Iya, syang. Aku sangat menyanyangi kamu dan anak kita, aku gak mau kamu marah. Gara-gara salah paham denganku."ucap Manda menjelaskan pada Aron.
"Iya, syang"ucap Aron. Melepaskan kecupannya.
"Syang entah kenapa dia sepertinya memang mengikuti kita"ucap Aron.
"Sudah jangan pikirkan itu syang, kita sekarang hanya ingin bersenang-senang. Bukannya untuk berpikiran buruk"ucap Manda menarik tangan Aron untuk lebih dekat dengan gedung opera.
"Baiklah, tapi jangan izinkan dia menyentuh kamu lagi ya syang" ucap Aron.
"Gak akan syang, tangan aku ini hanya akan ada dalam gengaman kamu selamanya."ucap manda, "Sampai kapanpun, aku hanya milik kamu syang"lanjut Manda.
"Iya, syang selamanya."ucap Aron, memegang pelipis Manda dengan telapak tangannya.
"Bentar syang!"gumam Aron, melepaskan tangannya. Dan beranjak pergi menemui seseorang yang sedang berjalan melewatinya.
"Tunggu, boleh minta tolong"ucap Aron.
"Boleh, minta tolong apa?" tanya orang yang lagi bekencan dengan pacarnya itu.
"Minta tolong fotoin kita berdua"ucap Aron, mengulurkan ponselnya pada lelaki di depannya.
"Baiklah"jawab ke dua pasangan itu ramah.
__ADS_1
Aron segera berfoto dengan Manda mengabadikan berbagai moment berharga saat ia masih berada di sini. menemani Manda dan calon anaknya nanti.
Berbagai pose romantis mereka lakukan, tanpa malu pada dua pasangan yang mem-foto dirinya.
"Makasih"ucap Aron.
"Sama-sama"
Manda menatap di pinggir pantai itu, dengan hembusan angin sepoi yang membuat rambutnya berantakan tersapu angin.
"Syang!"ucap Aron, memeluknya dari belakang, dengan tangan memegang perut Manda. Ia mengusap lembut perut Manda meraskan gerakan kecil dari bayinya. "Apa anak kita bisa lihat ya syang"tanya Aron, menyandarkan dagunya di pundak Manda.
"Anak kita belum bisa mengerti tempat bagus ini syang, tapi anak kita pasti bisa merasakan. Di balik senyum dan kesenangan hati orang tuanya"ucap Manda.
"Oya, syang besok aku akan bekerja lagi, kamu jaga kesehatan ya. Di rumah jangan terlalu capek. Besok pembantu kita sudah datang. Jadi kita punya dua pembantu di rumah. Aku ajak pembantu yang sudah lama ikut denganku kesini."ucap Aron.
Manda memegang tangan Aron di perutnya. "Baik syang, tapi kamu juga jaga mata dan jaga hati juga ya syang. Di kantor jangan melirik pada wanita lain"ucap Manda memegang kepala Aron di sampingnya.
"Iya pasti syang"ucap Aron, ia tidak merasa malu mengumbar kemesraan di depan umum.
Aron melihat jam tangannya, sudah menunjukan pukul 17.00.
"Sudah mau sore syang. jadi belanja gak nanti"ucap Aron.
"Ayo belanja syang, keburu malam nanti."Ucap Manda.
"Baiklah, istriku yang cantik ini"gumam Aron.
Mareka segera beranjak menuju ke toko perlengkapan bayinya, manda tidak ingin melewatkan waktunya untuk beli perlengkapan bayi. Sekalian Aron ada waktu dengannya. Jadi ia bisa belanja sesukanya untuk anaknya nanti.
"Syang ini bagus kan" tanya Aron, yang memilih baju untuk anaknya.
"Terserah kamu syang"ucap Manda.
"Sudah banyak, ekarang kita pulang"ucap Aron. Yang sudah tidak sanggup membawa belanjaan yang begitu banyaknya.
"Bentar syang, ada lagi yang kurang"ucap Manda.
"Apalagi sih syang"tanya Aron.
"Lampu hias dengan berbagai bentuk syang, biar kamarnya terlihat lebih bagus nanti"ucap Manda.
"Ya, sudah"ucap Aron.
Belum sempat menjawab manda sudah menghilang dari pandangannya.
"Manda kamu di mana?" tanya Aron, mencoba mencari istrinya.
"Hai syang, udah ayo ke kasir"ucap Manda, berjalan ringan menghampiri Aron.
"Baiklah"ucap Aron yang sudah merasa sangat lelah.
__ADS_1
----000----
Lama berbelanja semua kebutuhan, Manda akhirnya sampai juga di rumah, ia langsung duduk di sofa meretangkan ke dua tangannya di atas sofa. merenggangkan ot9tnya yang terasa sangat cepek.
"Hari ini cape banget aku syang?"Ucap Manda.
Aron masih sibuk dengan belanjaannya yang masih menumpuk di mobil. Ia mengangkat masuk bersama pembantunya.
"Syang semangat"ucap Manda, tersenyum memberi semangat pada suaminya itu, yang terlihat mulai lelah.
"Ahh.. syang aku capek"ucap Aron, membaringkan tubuhnya di sofa dengan alas kepala paha Manda.
"Syang, ini jahil gak?" tanya Aron.
"Maksud kamu jahil gimana syang?"tanya Manda.
"Jahil gak kalau kita..."Aron menghentikan ucapnya.
"Kita apa syang?" tanya Manda bingung.
"Kita melakukan malam seperti biasa syang, lagian sudah berapa bulan aku hanya tidur di samping kamu, hanya bisa memeluk kamu. Dan pegang saja. Gak bisa melakukan malam spesial lagi syang"ucap Aron.
"Kamu ini syang, emang boleh ya kata doktet"tanya Manda, mengusap rambut suaminya itu.
"Boleh syang, tapi jangan terlalu sering"ucap Aron dengan tatapan menggoda. Jamari Aron terus memegang lembut perut Manda. dan sesekali menempelkan telinganya ke perut Manda.
"Aku mau dengan apa yang di lakukan di dalam syang"ucap Aron.
"Syang geli"gumam Manda.
"Oya, gimana jadi gak syang"ucap Aron, melanjutkan ucapnya tadi.
"Gak mau syang, aku capek. kamu pejiti aku dulu ya"ucap Manda.
"Baiklah, ayo ke kamar"ucap Aron penuh semangat kali ini. Ia beranjak berdiri. Menuntun tangan Manda untuk menaiki anak tangga, menuju kamarnya.
"Mana yang sakit syang?" tanya Aron.
"Ini sakit syang, ke dua kaki aku"ucap Manda. Aron segera mengangkat ke dua kaki Manda ke atas ranjang.
"Kamu berbaring saja syang, kalau cepek." ucap Aron.
"Iya syang"ucap Manda.
Aron segera memijat ke dua kaki Manda, dengan penuh kasih syang. Tanpa rasa mengeluh sama sekali.
"Syang, jangan tidur dulu ya"ucap Aron.
Manda hanya diam, pijatan Aron terlalu enak membuat ia bisa memejamkan matanya, dengan nyenyak, seakan melakukan spa.
"Syang kamu tidur"tanya Aron, menatap ke arah Manda yang sudah tertidur lelap.
__ADS_1
"Yah, tidur. Ya sudah kalau gitu selamat tidur syang, mimpi indah ya"gumam Aron, mengusap kepala Manda mengecup lembut keningnya.
Aron menarik selimut Manda, hingga menutupi tubuhnya. "Selamat malam syang"ucap Aron.