
Fany yang baru selesai membuat susu, ia berjalan menghampiri Manda.
"Makasih kalian sudah jaga anak aku sebentar" ucap Fany duduk di sofa dan meraih anaknya. Ia segera memberinya susu untuk babynya.
"Iya sama-sama, tapi mana suami kamu?" Tanya Manda, membuat Fany menunduk seketika. "Oya, dan kenapa ayah kamu mengusir kamu? Bukankah kamu anak kesayangannya" sambung Aron yang terlihat sangat penasaran dengan cerita Fany yang tiba-tiba datang lagi dan menghampirinya dengan Aron.
"Karena aku sudah menentang kebijakan ayah aku sendiri, aku ingin mengembalikan semua milik kamu. Tapi ayah melarangnya, dan dia ingin tetap menguasai perusahaan kamu. Dan sejak saat itu ayah aku mengusir aku dari rumah. Setelah itu aku memutuskan untuk bilang dengan kamu apa yang di lakukan oleh ayah aku dan baru akan menghubungi suami aku yang lagi kerja di luar kota setelah dia pualng nantinya" ucap Fany menundukkan kepalanya.
"Jadi kamu tadi pisah dengan suami kamu di sini?" Tanya Manda.
"Iya, aku tadi bilang jika ingin di sini sebentar, setelah itu akan menghubunginya jika aku ingin pulang" ucap Fany lirih.
Aron terdiam mendengarkan apa yang di ceritakan Fany denganya, ia melirik sejenak jam tangan berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Ia sudah harus bernagakt untuk meeting hari inu bersama client di sebuah restaurant terbesar di kita ini.
" iya sudah, kalian bicara saja berdua gak apa-apa kan, aku mau pergi dulu, ada kerjaan yang penting. Sudah terlambat aku syang" ucap Aron, yang beranjak berdiri dari duduknya.
"Iya syang" gumam Manda mencium lembut punggung tangan suaminya. Dan di balas dengan kecupan lembut di kening Manda. Aron mengecup pipi kanan dan kiri Manda bergantian.
"Kalian mesra juga ya" ucap Fany, ia jadi iri melihat kemesraan Manda apalagi keharmonisan keluarganya. Ia sadar jika Aron sekarang sudah menemukan kebahagiaannya sendiri dengan wanita pilihannya.
"Ini sudah jadi kebiasaan sehari-hari kami" ucap Aron, menundukkan badanya sedikit mengecup perut besar Manda. Ia juga tidak lupa dengan baby yang ada dalam kandungan Manda. Sekilas Aron mengusap perut Manda dan beranjak berdiri tegap.
"Syang aku pergi dulu ya" ucap Aron, mengusap ubun kepala Manda lembut, hingga rambutnya berantakan." Syang kamu kebiasaan deh" ucap Manda mengerutkan bibirnya seperti anak kecil yang lagi ngambek.
"Udah gitu saja marah syang, udah aku berangkat dulu" ucap Aron dengan nada lembut.
"Iya syang, hati-hati ya. Nanti langsung pulang jangan pergi kemana-mana" ucap Manda.
"Iya syang, kamu juga hati-hati dengan dia, kalau ada apa-apa telepon aku ya. Aku akan segera pulang kok tenang saja" sindir Aron mengusap lembut rambut Manda dengan jemari lembutnya.
"Tenang saja aku akan jaga istri kamu dengan baik, aku tidak akan mengecewakan kamu" sambung Fany dengan senyum manis terpaut di wajah cantiknya.
"Aku berharap begitu, kalau sampai ada apa-apa dengan istri aku dan anak yang ada dalam kandungan aku. Aku tidak akan segan-segan menyakiti kamu dan juga semua keluarga kamu" ancam Aron dengan tatapan sinisnya pada Fany, namin Fany hanya menganggapnya dengan senyum samar.
Aron segera pergi meninggalkan istrinya, tapi meskipun ia ragu setidaknya ia berharap kali ini Fany bisa di percaya. Jika tidak bisa di percaya maka dia juga akan bertindak kasar dengan mantan istrinya itu.
Manda yang hanya berdua dengan Fany, ia sebenarnya merasa takut. Meski dulu sempat sudah baikan dan saling ngobrol bersama. Tapi apapun bisa terjadi lagi, ia tidak tahu juga apa rencana Fany sebenarnya. Manda mengirim pesan pada Vani untuk segera datang ke rumahnya saat jam kuliah selesai nantinya, sekaligus belajar bersama.
Selesai mengirimkan sebuah pesan untuk Vina, ia segera meletakkan ponselnya, dalam tasnya.
__ADS_1
"Sebentar kamu kenapa datang ke sini lagi? Apa kamu mau ganggu Aron lagi? Kamu ingin dekat dengannya, atau ingin balikan lagi dengannya" Tanya Manda sinis, di balas dengan senyum tipis dari Fany.
"Aku gak akan ganggu suami kamu, aku hanya ingin memberi kabar pada suami kamu. Dan aku berharap bisa tinggal di sini kalau kamu mengijinkan" ucap Fany tanpa ragu. Sontak membuat Manda geram, melebarkan matanya menatap tajam ke arah Fany dan langsung berdiri melotot ke arahnya.
"Apa kamu sudah gila?" Tanya Manda dengan nada meninggi.
"aku hanya ingin menginap di sini satu hari saja, kasihan anak aku. Setelah itu besok suami aku akan jemput aku dan pergi dari kota ini" gumam Fany menunjukan wajah sedihnya lagi.
"Kenapa suami kamu gak jemput kamu sekarang. Bukannya kamu bisa pergi sekarang, atau kamu menginap di hotel juga bisa kan, kamu orang kaya. Punya segalanya, keluarga kamu juga dari orang kaya. Setelah mendapatkan semua perusahaan Aron di Canada. Pundi-pundi uang kamu juga semakin banyak. Kenapa kamu gak sewa hotel di luar dengan fasilitas mewah, kamu bisa melakukan apapun dengan uang kamu" ucap Manda yang sudah mulai sangat kesal dengan Fany yang terus terang ingin tinggal dengannya.
"Semua Atm dan uang aku ada di mobil suami aku, aku tadi lupa tidak memberi tahu suami aku Da" gumam Fany, yang mulai meneteskan air matanya.
"Gak usah menangis di sini, aku tahu rencana kamu. Gak mungkin kamu gak bawa uang, kalau atm kamu gak ada sama kamu, suami kamu pasti nyari kamu sekarang. Buang air mata buaya kamu. Mentang-mentang kamu bawa anak kamu jadi ngemis ingin tinggal di sini. Aku tahu sekarang kamu pasti ingin dekati suami aku lagi kan, apalagi suami aku usahanya mulai berkembang pesat saat ini." Ucap Manda dengan senyum sinis menatap ke arah Fany.
"Manda aku bisa jelaskan pada kamu, aku bisa jelaskan semuanya. Aku tidak mungkin rebut suami kamu" ucap Fany mencoba memegang tangan Manda, tetapi Manda terus menepisnya.
"Pergi kamu dari sini sekarang" ucap Manda memelankan suaranya, mencoba mengatur emosinya yang semakin menggebu-gebu.
"Apa kamu tega, di panas terik seperti ini melihat baby aku di luar" ucap Fany memegang tangan Manda.
"Apa rencana kamu sebenarnya, aku capek, capek harus seperti dulu lagi, kenapa kamu tidak pernah berhenti untuk mengganggu keluarga aku. Kamu memang mantan istri Aron tapi sekarang kamu sudah tidak berhak tinggal di sini lagi. Dan kamu sudah punya suami. Yang juga sangat mencintai kamu. Jadi jangan ganggu keluarga aku lagi" Ucap Manda dan. tes, butiran air mata keluar dari mata kecoklatan miliknya.
"Baiklah maaf sudah mengganggu kamu, aku akan pergi sekarang" ucap Fany, yang mulai bangkit dari duduknya.
"Tetaplah di sini" ucap Manda lirih, seketika Fany langsung menoleh ke belakang, menatap Manda.
"Kenapa kamu berubah pikiran?" Tanya Fany yang terlihat bingung dengan keputusan Manda yang tiba-tiba berubah.
"Tunggu sampai Aron pulang, dan kita akan mengantar kamu ke hotel. Aku akan bawa kamu ke hotel di sekitar sini. kalau alasan kamu gak ada ponsel atau atm atau apapun, aku akan bayar hotel itu. Kalau kamu mau hubungi suami kamu, bisa pinjam telepon hotel. Dan soal makan atau apapun, aku juga akan bawakan kamu makanan untuk stok satu hari. Tapi tolong jangan tinggal di sini. Aku gak ingin kamu tinggal lagi serumah dengan matan suami kamu" ucap Manda yang masih sesegukan, dengan wajah datarnya tanpa ekpresi. Ia terlihat dingin, hatinya terasa sangat berat ingin mengatakan itu. Tapi kalau bukan karena bayi yang di bawa Fany ia tidak tega jika harus keluar di tengah terik matahari seperti itu.
Tak lama Vina datang, ia langsung masuk ke rumah Manda. Dan melihat Manda hanya berdiam diri duduk di depan seorang wanita yang sedang sibuk menidurkan anaknya. Mereka saling diam, tanpa seuntai kata keluar dari mulut mereka berdua.
"Manda!" Panggil Vina, berjalan mendekati Manda.
"Vina kamu datang juga" ucap manda beranjak berdiri.
"Siapa dia?" Tanya Vina menatap setiap detail wajah Fany.
"Bentar ya, aku akan antar dia ke kamar tamu. Berhubung kamu sudah ada di sini aku gak akan takut lagi" ucap Manda.
__ADS_1
"Aku antar kamu" ucap Vina.
"Kamu ikut aku masuk ke dalam kamar, tidurkan anak kamu di dalam biar Duke dan Lia yang jaga dia. Kasihan anak kamu, dia juga butuh istirahat. Kalau kamu mau istirahat juga silahkan di kamar tamu." Ucap Manda, yang mulai jalan menunjukan jalannya menuju ke kamar tamu. Yang sebelumnya sudah di bereskan oleh pembantunya.
"Istirahatlah di sini" ucap Manda.
"Baiklah, makasih" ucap fany, yang lansung masuk ke kamar dan membaringkan bayinya me ranjang. Manda merasa kasihan dengan bayinya bukan karena kasihan dengan Fany.
"Aku tinggal dulu, kalau kamu butuh buat susu langsung saja ke dapur, kalau kamu mau makan. Kamu juga bisa ambil makanan yang ada di kulkas, atau kamu suruh pembantu untuk masak buat kamu, dan sekalian kalau anak kamu sudah makan, buatkan bubur juga" ucap Manda, yang masih tetap berdiri di depan pintu.
"Iya makasih" ucap Fany dengan senyum tipisnya.
"Tapi aku hanya ajak kamu di sini sampai Aron pulang, dan setelah itu kamu tidurlah di hotel" ucap Manda.
"Baiklah" Jawab Fany.
Manda segera menutup kembali pintunya, ia segera pergi ke ruang keluarga untuk belajar bersama dengan Vina, hari ini ia tidak bisa kuliah, karena kondisi dia yang memang lagi gak enak badan, capek. Dan Aron juga melarangnya untuk tidak kuliah lebih dulu. Sebelum keadaannya mulai membaik lagi, saat kehamilannya sudha menginjak mau yujuh bulan, Manda bahkan selalu kecapekkan dan sakit.
Hampir tiga jam berlalu, Manda belajar bersama dengan Vina, ia teringat dengan anaknya. Dengan segera Manda membuatkan susu untuk anaknya dan makanan yang mereka suka.
"Vin, aku mau masak dulu, kamu mau ikut?" Tanya Manda, yang bangkit dari duduknya, di bantu dengan Vina.
"Boleh, sekalian aku juga mau belajar masak dari kamu. Aku ingin masak buat Alberr nanti" ucap Vina.
"Albert terus, apa gak ada lelaki lain selain dia" ucap Manda yang mulai melangkahkan kakinya berjalan ringan menuju ke dapur.
"Belum ada, hanya Albert yang masih tetap setia mengisi hati aku." Gumam Vina dengan nada bangganya.
"Ya, sudah terserah kamu saja" ucap Manda yang mulai menyiapkan bahan untuk masakan hari ini, ia ingin buat soup untuk ke dua anaknya.
"Kamu mau makan apa Vin?" Tanya Manda.
"Aku makan apa saja, aku mau paella ada gak?" Tanya Vina.
"Baiklah kamu sendiri yang masak ya, aku akan kasih tahu caranya dan semua bumbunya, kamu bisa masak sesuai selera kamu sendiri. Katanya mau masak buat Albert kan, jadi kamu harus bisa masak dari yang dasar dulu. Nanti kamu bisa masak untuk Albert juga, kalau rasanya sudah enak." ucap Manda yang sudah mulai memotong beberapa sayuran untuk membuat soup, ia juga perlu banyak makan sayuran dan buah-buahan.
Setengah jam kemudian, semua masakan sudah jadi. Dan Vina juga sudah selesai masak paella buatan pertamanya. Manda juga tidak lupa mengupas buah-buah-an untuknya dan ke dua anaknya. Ia juga tidak lupa dengan Fany yang berada di kamar tamu.
"Bi, kalian sini" panggil Manda pada pembantunya yang memang mambantunya menyiapkan makanan itu ke atas nampan. "Salah satu dari kalian, bawa masakan ini ke atas ke kamar Duke dan Lia kita berdua mau makan di sana." Ucap Manda. " Dan ini kasihkan tamu kita, yang lagi tidur di kamar tamu, dan buahnya juga kasihkan ke dia ya bi" lanjutnya.
__ADS_1
"Iya, non" ucap pembantunya yang mulai mengerjakan semua apa yang di perintahkan Manda padanya.
Meski marah dengan Fany tapi dia tidak bisa membiarkan fany dan anaknya kelaparan di rumahnya.