
"Syang aku pulang" ucap Aron, yang baru pulang dari pekerjaannya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Dan Manda hanya diam, bersama dengan anaknya di depan Tv, Manda menemani anaknya untuk bermain di ruang keluarga, bersama dengan baby sister mereka. Dengan satu mengkok bubur di depan meja, yang masih ia dinginkan untuk ke dua anaknya.
"Ma, papa pulang" ucap Duke, menarik tangan manda yang masih berbaring di sofa, tubuhnya terua terasa lelah, dan dia juga sudah minum vitamin untuk baby dalam perutnya.
"Eh, syang. Kenapa kamu baru pulang?" tanya Manda tersenyum tipis, menatap sejenak ke arah Aron. Manda memgambil bubur yang surah dingin, ia kembali menyuapi makanan Duke dan Lia bergantian.
"Iya, yang maaf ya, tari aku ada rapat. Oya nanti aku mau bicara sama kamu, kalau anak-anak sudah tidur" gumam Aron.
"Baiklah, apa ada masalah di kantor?" tanya Manda.
"Gak ada syang, hanya saja aku ada sebuah ide bagus jadi aku biacarakan sama manajer baru kita di kantor, dan juga aku ingin bilang ke kamu dulu. Kamu setuju gak sama ideku nantinya" gumam Aron, yang duduk di sofa samping Manda.
"Emangnya kamu sudah dapat manajer baru? kapan dia mulai bekerja. Kenapa aku gak tahu. Laki-laki atau perrmpuan syang" gumam Manda menoleh ke arah Aron.
Dan memberikan buburnya pada baby sister Duke dan Lia, untuk ganti menyuapi mereka. Hari ini mereka gak makan seperti baisanya. Duke minta di baurkan bubur untuknya.
~
"Kenapa kamu tanya begitu syang, lagian laki-laki, perempuan sama saja." ucap Aron mengusap lembut rambut istrinya.
"Ya, gak sama. Kalau perempuan itu harus yang agak tua, atau lebih tua jauh dari kamu" gumam Manda menguntupkan bibirnya.
"Kamu pasti cemburu ya" ucap Aron menggoda.
"Ya, jelas-lah syang aku cemburu, kamu suami aku. Nanti kalau di kantor kamu ganjen dengan orang lain gimana. Apalagi aku sudah tidak ada di sana lagi, saat pulang dari kampus" gumam Manda, merasa mengganggu baby sister anak-anaka, meletakkan piring kosong di atas meja, ia sudah selesai menyuapi ke dua anak itu dan membawanya pergi masuk ke kamar.
"Syang, kamu itu ya, udah tenang saja, lagian aku itu gak bakalan suka dengan wanita lain. Kamu saja sudah cukup bagiku, dan apalagi kita akan punya 3 anak nantinya. Itu sudah lebih dari cukup syang, keluarga kecil kita sudah lengkap, dan tidak perlu ada bumbu wanita lian lagi" ucap Aron.
Duke dan lia hanya diam, dan baby sisternya mengajak mereka masuk ke dalam kamar, agar Aron dan Manda bisa berbincang berdua.
"Kamu bohong!" gumam Manda.
__ADS_1
"Aku gak bohong syang, lagian manajer di kantor aku itu laki-laki. Aku sudah gak mau cari manajer wanita. Dia itu teman aku dulu syang, waktu sekolah, kebetulan dia sangat kenal dengan aku dan pernah akrab waktu sekolah. Dan dia juga pas butuh pekerjaan, jadi aku nawari dia untuk berkeja di tempat aku" ucap Aron menjelaskan pada Manda.
"Benar apa kata kamu? Tapi kamu bisa bertemu dia dimana?" tanya Manda bingung. "Apa kamu keluar ya, waktu jam kerja" lanjutnya curiga.
"Kamu ini selalu curiga denganku, lagian aku itu ketemu di waktu aku pergi ke tempat client baru aku, di sebuah restaurant, dan kebetulan dia bekerja di sana, Aku kasihan melihat dia. Jadi aku tolong, agar dia bekerja di tempat aku, jauh lebih baik dari pekerjaannya sekarang. Lagian dia juga lulusan s1 manajemen dengan nilai bagus. dan percuma kan syang, kalau pendidikan dia percuma dan bekerja sebagai pelayan di restauran." gumam Aron.
"Iya, sudah aku mendukung apa yang kamu anggap semuanya tepat, yang penting dia bukan wanita muda. Aku sudah merasa sangat lega" gumam Manda dengan senyum menungging di bibirnya.
"Ya, udah sekarang kamu ke kamar dulu, aku mau nidurkan anak-anak" gumam Manda, bangkit dari duduknya.
"Baiklah, aku tunggu kamu di kamar, udah kangen sama baby baru kita di perut, aku ingin mengusapnya dan mngecupnya" ucap Aron dengan tatapan menggoda.
"Iya, syang" ucap Manda dengan senyum menyungging di bibirnya. Ia mulai melangkahkan kakinya pergi menuju kemar anak-anak di lantai dua.
Setelah selesai menidurkan Duke dan Lia, Manda beranjak ke kamarnya. Ia melihat Aron sudah duduk bersandar di ranjang. Dengan tangan memegang ponsel, entah siapa yang di hubungi dia, dan sepertinya dia serius banget menatap ponsel itu. Hingga kehadirannya saja tidak di ketahui olehnya.
Manda berjalan ringan, tanpa memanggilnya yang lagi sibuk sendiri, dia melangkahkan kakinya dan naik ke atas ranjang, duduk bersandar di sampingnya. "Sibuk banget" ucap Manda menarik selimut menutupi sekujur kakinya.
"Baru saja, habisnya kamu sibuk dengan ponsel kamu. Sampai aku datang jugakamu gak tahu" ucap Manda.
" Maaf syang, tadi manajer baru aku, yang baru saja menghubungi aku." gumam Aron, menarik kapala Manda menyandarkan ke bahunya.
"Beneran kan?" tanya Manda penuh keraguan dalam hatinya pada Aron.
"Benar syang, kenapa kamu suka curiga sih padaku aih syang" gumam Aron.
"Aku hanya tanya syang, lagian aku percaya sama kamu, kamu gak mungkin kalau pergi dengan wanita lain atau menghubungi wanita lain" gumam Manda, bermanja ria dengan Aron.
"Terus kenapa kamu curiga terus padaku syang, kalau memang kamu percaya dengan aku" gumam Aron.
"Entahlah, aku hanya masih ragu dikit syang" gumam Manda menyipitpka matanya dengan senyum semringai di wajahnya.
"Kamu ini percaya tapi ragu" ucap Aron, mengusap kepala Manda.
__ADS_1
"Hehe, iya syang aku percaya sekarang" gumam Manda beraandar mesara di bahu Aron.
"Nah gitu, lagian aku tadi hanya ingin bahas usaha baru syang dengan manajer kita" gumam Aron.
"Tentang masalah apa?" tanya Manda semakin penasaran.
"Aku ingin bangun sebuah hotel syang, aku ingin membuat usaha penginapan. Karena sudah ada dana lebih, ku ingin menyisakan tabungan kita untuk membuat sebuah restauran dan hotel untuk anak kita nantinya. Dan manajer kita karena sudah paham tentang itu semua. Jadi aku membantu dia untuk mengatur semua manajemennya" gumam Aron, dengan tangan mengusap perut Manda yang sudah terlihat besar.
"Ya, usah aku hanya bisa mendukung kamu, tapi jangan bangun usaha kamu di sini, gimana kalau bangun usahanya di rumah kita dulu. Kita bangun di sana mulai dari nol, bukannya kamu juga punya beberapa restauran perhotelan dan aset lainnya di sana. Lagian Fany hanya membawa perusahaan elektronik berbasis online milik kamu yang lagi bekekembang pesatnya. Dan aplikasi juga semakin banyak." ucap Manda, membuat Aron hanya diam,
"Iya juga, dan semua masih di urus oleh manajer Mo, dengan baik, tapi aku ingin mengembanhkan usaha aku itu di sini syang, biar aku bisa punya beberapa cabang lagi restauran dan hotel. Dan aku berniat untuk memulai di negara lain juga" gumam Aron.
"Baiklah, terserah kamu syang, aku hanya dukung semua keputusanmu. Lagian kalau memang itu untuk anak-anak kita, aku akan terus dukung" gumam Manda.
"Udah sekarang ayo tidur dulu syang, kamu pasti capek kan" ucap Aron.
"Gak terlalu syang, cuma capek pikiran ngerjain tugas kuliah menumpuk" gumam Manda.
"Ya, udah sekarang kamu istirahat dulu ya syang"
"Lah, emangnya kamu gak tidur?" tanya Manda.
"Aku bentar, masih banyak berkas yang harus aku urus syang, aku akan selesaikan secepatnya. Agar manajer kita bisa segera mulai untuk melakukan tugasnya" gumam Aron.
"Baiklah, kalau gitu aku tidur dulu syang" ucap Manda, yang mulai membaringkan tidurnya. "Tapi kamu jangan tidur malam-malam ya syang" lanjutnya.
"Pasti" gumam Aron, yang mulai beranjak dari duduknya di ranjang, menuju ke sofa.
Manda hanya tersenyum dan mulai memejamkan matanya perlahan. Hingga 3 jam berlalu Aron masih setia dengan laptopnya dan semua berkas yang akan di siapkan dia berceceran di meja. Jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, namun ia belum meraskana ngantuk sama sekali. Tugas banyak membuatnya hingga lupa untuk tidur.
Sedangkan Manda sudah tertidir pulas dari tadi, ya biasanya Manda selalu nemenin. Tapi Aron tidak permasalahkan itu, karena dia juga pasti sudah capek seharian harus kuliah dan ngurus anak. Dan kandungan dia juga lemah, Aron sangat khawatir dengannya dan anaknya.
Meski besok hari libur, tapi Aron ingin mengejerkana semua sekalian. Agara besok bisa menemani anak-anaknya untuk bermain. Dan banyak waktu dengan keluarga.
__ADS_1