Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
part Albert dan Vina


__ADS_3

Di sebuah pantai dengan pamandangan alam yang sangat indah,


seperti dalam senuah lukisan yang tertera dalam sebuah canfas. Banyak lalu


lantang pengunjung pantai, yang menikmati pemandangan pantai,  ada yang berjemur, ada yang bermain dengan


pasir, bahkan ada yang lebih memilih berduaan sendiri.


Namun, tidak dengan Albert dan Vina, yang baru saja keluar


dari hotelnya. Ia berjalan menuju pantai menikmati pemandangan sunset. Dengan


perasaan saling jaim, tanpa suara sedikitpun dari mulut mereka. Rasa malu untuk


saling sapa, saling bercanda. Saat  kejadian tadi, membuat mereka menjadi bungkam, kejadian yang membuat


mereka saling berpikir ingin melirik. Tapi harus mengurungkan niatnya untuk


melakukan hal itu.


---


Falsh back on.


Albert yang baru saja bertemu dengan Vina, ia segera mandi


dan seperti yang di katakan Manda. Ia akan menikmati liburan kali ini. Albert


berjalan ringan menuju kamar mandi, merendam tubuhnya yang terasa sudah penuh


dengan puluh keringat.


Clekkkk...


“Kemana tuh orang? Aku harus segera cari dia,” ucap vina,


mengintip dengan badan setengah masuk, ia mencoba mencari Albert untuk minta


tolong untuk membukakan salah satu kopernya yang lupa kata sandi. Dan sekalian


mengambil kunci hotel yang tertukar tadi saat berbincang berdua di dalam kamar


Albert tadi.


“Sepertinya gak ada orang? Atau memang dia sudah pergi lebih


dulu. Dasa ngeselin, kenapa tega ninggalin aku dulu. Dan lebih memilih


jalan-jalan sendiri.” Vina, memasukkan satu kakinya lebih dulu, perlahan ia


membuka pintu lebar, lalu menutupnya dengan perlahan, tanpa decitan suara yang


terdengar.


“Albert!! Kamu di mana?” tanya Vina, yang lansgung berjalan


masuk begitu saja tanpa menunggu pria itu keluar lebih dulu, untuk menemuinya.


Langkah Vina terdiam, saat seisi ruangan itu nampak sangat


kosong, tidak dan siapaun di sana.


“Kemana dia? Apa dia di kamar mandi? Atau dia sudah keluar.


Pikir Vina lagi, yang terus bergumam dengan kata-kata yang sama.


Ia berjalan dengan langkah dangat hati-hati, mencoba membuka


pintu kamar mandi.  berjalan


mengendap-endap masuk ke dalam.


“Upppss,, maaf aku gak sengaja” ucap Vina, menutup matanya.


Seketika membuat Albert yang semula berendam, kepala bersandar di pinggiran


bathup, dengan ke dua mata terpejam. Ia membuka matanya lebar.


Aaaaaaa,,,,


“Kenapa kamun masuk?” tanya Albert terkejut, sontak ia


meraih handuk yang menggantung di sampingnya.


Vina yang gak tahu jika Albert sedang mandi, ia menutu


wajahnya, lalu membalikkan badanya.


“Maaf!! Aku gak tahu kalau tadi ada orang” ucap Vina lirih.


“Gimana kamu bisa gak tahu, dan kenapa juga kamu masuk ke


kamar aku? Apa kamu mau intip aku mandi ya? Dan atau jangan-jangan kamu memang


sengaja mau menggodaku kan?” ucap Albert kesal, ia beranjak berdiri, membalut


tubuhnya cepat dengan handuk putih.


“Enggak, aku gak sengaja maaf” ucap Vina, yang masih menutup


matanya. Ia berjalan ringan. Dengan sigap Albert, memegang tangan Vina,


mencegahnya pergi.


“Kamu mau kemna?” tanya Albert.


“Aku mau pergi” ucap Vina lirih.


Pria itu mendekarkan bibirnya di telinga Vina, dan berbisik


padanya. “Jangan pergi dari sini, kamu mandi berdua denganku, gimana?” Bisikan


Albert, membuat Vina geram, ia menoleh seketika, menatap ke arah Albert.


“apa kamu tahu ya, aku di sini hanya minta tolong padamu.


Dan aku cari kamu di kamar gak ada, ya aku coba lihat di dalam” gumam Vina


lirih.


Albert tersenyum, mencengkram semakin erat lengannya. “Ya,


sudah. Kamu sudah terlanjur sampai sini, lebih baik seklian mandi” ucap Albert,


mendorong Vina masuk dalam bathup, Vina yang takut terjatuh, ia mencoba


memegang tangan Albert. Membuat Albert ikut terjatuh dalam bathup yang masih


penuh dengan Air.


Vna mengusap wajahnya berkali-kali yang seakan di penuhi

__ADS_1


oleh air. “Dasar mesum!! Kamu sudah gila?” umpat Vina kesal.


Albert hanya diam, ia memandang wajah Vina sangat dekat,


wajah yang belum pernah ia lihat.


Ternyata dia cantik juga, kenapa wajah ini tidak terlihat


saat aku dekat dengannya.


“Albert, kenapa kamu mentapku?” tanya Vina, menarik tubuhnya


ke belakang. Albert tak berhenti menatap Vina, ia menarik tubuhnya semakin dekat.


Membuat Vina semakin was-was.


Entah apa yang terjadi, ia meras tertarik dengan Vina, dan


berusaha mendekatinya. Albert memegang pipi vina, dengan sigap ia memegang


pinggang Vina, memasukan tubuhnya dalam dekapan hangat miliknya dalam bathup.


“Albert kamu jangan gila!!” ucap Vina takut.


Pria itu menarik kepala Vina mendekat, ia mengecup bibir


Vina dengan rasa yang entah apa, ia juga tidak paham dengan hatinya.


“emmmm... eemmmm..”


Vina mencoba memukul Albert berkali-kali. Namun laki-laki


itu hanya diam, dan tak mengiraukan pukulan Vina. Hingga hal yang tak boleh


terjadi, semua terjadi dalam sebuah bathup penuh dengan hasrat Albert yang


semakin menggila. Vina, yang semula menolak ia seakan tak bisa berkutik saat


albet melai mengecupnya lebih dalam.


Hasrat Albert semakin menggila, membuat Vina menjerit tak


berdaya. Tetesan air mata kesakitan keluar dari mata indahnya.


---


Setengah jam berlalu, Albert menyudahi apa yang ia lakukan


pada Vina. Ia meraih handuk yang masih kering. Untuk menutup tubuh Vina. Vina


masih meneteskan air matanya, ia tidak menyangka jika semuanya terjadi begitu


saja.


Albert, memegang ke dua pipi Vina, mengusap lembut air mata


yang membasahi pipinya.  Vina hanya diam,


ia menunduk. Mnecengkram erat handuk putih yang menutupi tubuhnya.


“Kamu jahat Albert!!” ucap Vina sembari sesegukan.


“Sekarang kamu keluarlah” ucap Albert yang beranjak keluar


dai dalam bathup, menuju shower, ia menarik tangan Vina, dan mengajaknya


mengguyur tubuhnya kembali.


yang sudah ia lakukan. Melakukan hal yang tidak ia lakukan, apalagi ia sudah


punya tunangan. Dan Vina juga masih Virgin.


Hingga tetesan kental berwarna merah keluar, membuat warna


air dalam bathup berubah.


Selesai mengguyur tubuhnya, Vina beranjak pergi tanpa suara


lagi, ia masih menunduk. Memendam kekesalan dalam hatinya. Wanita itu yang


masih mengenakan handuk menutupi tubuhnya, berjalan keluar dari kamar Albert,


menuju kamar sampingnya, ia berlari masuk ke dalam kamarnya.


Albert, keluar dari kamar mandi, denan rasa bersalah yang


menghantui dirinya. Ia benar-benar sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan.


Albert duduk di ranjang, mendukkan kepalanya, dengan ke dua tangan memegang


kepalany. Ia merenung sejenak, berpikir apa yang harus ia lakukan. Gimana jka


Vina hamil, dan gimana nanti kalau Kesha tahu, dan ia batal menikah denganya.


Pikiran itu terus saja menghantui dirinya.


Aarrrrgggg.. Albert apa yan sudah kamu lakukan.” Umpat kesal


albert, mengacak-acak rambutnya yang basah, ia meraih bantal di ranjang,


melemparnya dengan keras ke lantai


“Shiittttt,.... Sekarang apa yang harus aku lakukan, aku gak


bisa apa-apa lagi” gumam Albert menggelengkan kepalanya.


“Apa yang harus aku katakan dengan Kesha nanti. Dan gak


mungkin jika aku meninggalkan Kesha dan menikah dengan Vina. Tapi aku berharap


semoga Vina tidak hamil, jika sampai dia hamil, aku gak mungkin menikahinya”


gumam Albert lirih, mengusap wajahnya berkali-kali penuh frustasi.


Arrgggg..


Ia beranjak berdiri, menuju ke lemari pakaian yang ada di


depannya. Dan segera mengambil beberapa baju yang akan ia kenakan. Pria itu ingin


mengajak Vina pergi ke pantai sambil membicarakan hal yang tadi. Ia tidak mau


jika Vina salah paham dengannya, ia sudah memutuskan tidak akan bersama dengan


Vina. Dan akan tetap menikah dengan Kesha. Tetapi, jika semuanya berubah nanti


ia juga tidak tahu.


````


Beberapa menit kemudian, Vina yang sudah berdiri di depan

__ADS_1


pintu hotel, ia menunggu kedatangan Albert, yang katanya ingin mengajaknya


pergi.


Albert mengirimkan sebuah pesan untuknya tadi, yang seketika


membuat ia harus berlari keluar dari kamarnya. Dan Vina juga merasa bosan ada


di kamar, ia juga ingin mencari makanan, dan hiburan atas hatinya yang terluka.


“Kamu nunggu lama?” tanya Albert berjalan mendahului Vina.


Vina menatap detail tubuh Albert, dengan gaya ia berjalan


ringan ke dua tangan di masukan ke dalam sakunya. Dan kaca mata hitam menutupi


matanya.


Vina segera berlari, mengejar Albert yang semakin menjauh


darinya. Gadis itu berjalan beriringan di samping Albert. Ia terpikir soal


kejadian tadi, yang membuatnya sangat bingung. Dan entah sejak kapan, vina


mulai tumbuh lagi binih-binih cinta dalam hatinya.


Albert, melirik sekilas ke arah Vina yang hanya diam, berjalan


dengan kaki menendang-nendang pasir yang ada di depannya.


“Dasar gadis aneh!!” ucap Albert, tersenyum tipis. Menatap


Vina di balik kaca mata hitamnya.


Vina hanya menunduk, ia memegang jahitan celana di sampingnya,


berjalan dengan langkah seakan kesal dan marah, ia tak berhenti menendang pasir


pantai. Denga bibir manyun beberapa senti.


“Dasar ngeselin, laki-laki aneh” umpat Kesl Vina dalam


hatinya.


“Udah di ajak jalan tapi tidak sedikitpun dia menoleh ke


arahku, terus kenapa dia ajak aku pergi. Apa hanya sekedar jalan-jalan, saling


diam tanpa tegur sapa. Padahal aku masih kesel banget sama dia, udah begitu


mudah menodaiku, da sekarang ia diam saja. Apa gak bisa keluar dari mulutnya


meski hanya beberapa kata ‘aku akan tanggung jawab’. Hanya kata itu yang ingin


aku dengar, apa dia gak punya hati, dan seenaknya mempermainkan hati wanita,


apa memang dia sudah gak punya harga diiri lagi. Pikir Vina, melirik sekilas ke


arah Albert, yang masih tetap diam membisu. Seperti patung berjalan di


sampingnya.


Vina menarik napasnya dalam-dalam, ia mencoba memberanikan


dirinya untuk mengakhiri keheningan di antara mereka. “Ehem..” Vina mencoba


berdahem, dengan kaki kiri menendang kaki Albert.


“apa-apaan kamu, kenapa kamu menendangku” ucap Kesal Albert,


dengan badan sedikit menunduk, mengusap kakinya yang terasa sakit.


“Kagian kamu nyebelin banget. Kamu kirim aku chat, agar aku


keluar menunggu kamu di depan. Dan sekarang hanya diam, apa aku jalan dengan


patung” ucap Kesal Vina, membalikkan badanya ke samping, dengan pandangan


sedikit mendongak ke atas mentap Albert.


“duduklah!!” ucap Albert, menarik tangan vina untuk duduk di


atas pasir.


Dengan perasaan kesal dan geramnya, Vina terpaksa duduk di


samping  Albert.


“Ada apa seenarnya kamu mengajakku keluar?” tanya Vina,


menatap kagum pemandanga pantai yang indah di depannya.


“Diamlah dulu!! Lihat sekarang di depan kamu, pemandangan


sunset bagus ya” Albert menujuk ke depan, membuat mata Vina tertarik mengikuti


arahan tangan Albert.


Ia tersenyum tipis, memandang pemandnagan yang jarang sekali


ia lihat. “Sebenarnya aku belum pernah pergi ke pantai.” Ucap Vina.


Albert menoleh ke arah Vina. “Kenapa kamu gak pernah ke


pantai, pemandangan pantai sangat bagus, dari pada kamu menghabiskan uang


belanja di mall” gumam Albert.


“Iya, aku tahu. Tapi aku gak ada waktu. Waktu aku kesita


untuk kuliah dan bekerja di kantor papa aku. Hari-hari selalu di penuhi dengan


berkas pekerjaan kantor yang menumpuk. Ada waktu luang juga hanya untuk


sesekali bebelanja di mall. Dan nongkrong dengan teman-teman yang lainya.”


“Sekarang kamu nikmati pemandangan di depan. Yang entah bisa


kamu lihat lagi atau tidak” ucap Albert melirik ke arah Vina, di sampingnya.


Albert menarik kepala Vina, menyandarkan di baunya dengan


pandangan mata yang sama. Saling menatap ke depan. Mereka bertukar cerita satu


sama lain,. Gak tahu kenapa, Vina menceritakan semua yang ada dalam hatinya


selama ini, mulai dari keluarga dan yang lainya. Hingga lupa apa yang namanya


sakit hati dengan perlakuan Albert tadi padanya. Ia merasa nyaman berada di


sandaran laki-laki yang pernah ia cintai dulu

__ADS_1


__ADS_2