
Di sebuah pantai dengan pamandangan alam yang sangat indah,
seperti dalam senuah lukisan yang tertera dalam sebuah canfas. Banyak lalu
lantang pengunjung pantai, yang menikmati pemandangan pantai, ada yang berjemur, ada yang bermain dengan
pasir, bahkan ada yang lebih memilih berduaan sendiri.
Namun, tidak dengan Albert dan Vina, yang baru saja keluar
dari hotelnya. Ia berjalan menuju pantai menikmati pemandangan sunset. Dengan
perasaan saling jaim, tanpa suara sedikitpun dari mulut mereka. Rasa malu untuk
saling sapa, saling bercanda. Saat kejadian tadi, membuat mereka menjadi bungkam, kejadian yang membuat
mereka saling berpikir ingin melirik. Tapi harus mengurungkan niatnya untuk
melakukan hal itu.
---
Falsh back on.
Albert yang baru saja bertemu dengan Vina, ia segera mandi
dan seperti yang di katakan Manda. Ia akan menikmati liburan kali ini. Albert
berjalan ringan menuju kamar mandi, merendam tubuhnya yang terasa sudah penuh
dengan puluh keringat.
Clekkkk...
“Kemana tuh orang? Aku harus segera cari dia,” ucap vina,
mengintip dengan badan setengah masuk, ia mencoba mencari Albert untuk minta
tolong untuk membukakan salah satu kopernya yang lupa kata sandi. Dan sekalian
mengambil kunci hotel yang tertukar tadi saat berbincang berdua di dalam kamar
Albert tadi.
“Sepertinya gak ada orang? Atau memang dia sudah pergi lebih
dulu. Dasa ngeselin, kenapa tega ninggalin aku dulu. Dan lebih memilih
jalan-jalan sendiri.” Vina, memasukkan satu kakinya lebih dulu, perlahan ia
membuka pintu lebar, lalu menutupnya dengan perlahan, tanpa decitan suara yang
terdengar.
“Albert!! Kamu di mana?” tanya Vina, yang lansgung berjalan
masuk begitu saja tanpa menunggu pria itu keluar lebih dulu, untuk menemuinya.
Langkah Vina terdiam, saat seisi ruangan itu nampak sangat
kosong, tidak dan siapaun di sana.
“Kemana dia? Apa dia di kamar mandi? Atau dia sudah keluar.
Pikir Vina lagi, yang terus bergumam dengan kata-kata yang sama.
Ia berjalan dengan langkah dangat hati-hati, mencoba membuka
pintu kamar mandi. berjalan
mengendap-endap masuk ke dalam.
“Upppss,, maaf aku gak sengaja” ucap Vina, menutup matanya.
Seketika membuat Albert yang semula berendam, kepala bersandar di pinggiran
bathup, dengan ke dua mata terpejam. Ia membuka matanya lebar.
Aaaaaaa,,,,
“Kenapa kamun masuk?” tanya Albert terkejut, sontak ia
meraih handuk yang menggantung di sampingnya.
Vina yang gak tahu jika Albert sedang mandi, ia menutu
wajahnya, lalu membalikkan badanya.
“Maaf!! Aku gak tahu kalau tadi ada orang” ucap Vina lirih.
“Gimana kamu bisa gak tahu, dan kenapa juga kamu masuk ke
kamar aku? Apa kamu mau intip aku mandi ya? Dan atau jangan-jangan kamu memang
sengaja mau menggodaku kan?” ucap Albert kesal, ia beranjak berdiri, membalut
tubuhnya cepat dengan handuk putih.
“Enggak, aku gak sengaja maaf” ucap Vina, yang masih menutup
matanya. Ia berjalan ringan. Dengan sigap Albert, memegang tangan Vina,
mencegahnya pergi.
“Kamu mau kemna?” tanya Albert.
“Aku mau pergi” ucap Vina lirih.
Pria itu mendekarkan bibirnya di telinga Vina, dan berbisik
padanya. “Jangan pergi dari sini, kamu mandi berdua denganku, gimana?” Bisikan
Albert, membuat Vina geram, ia menoleh seketika, menatap ke arah Albert.
“apa kamu tahu ya, aku di sini hanya minta tolong padamu.
Dan aku cari kamu di kamar gak ada, ya aku coba lihat di dalam” gumam Vina
lirih.
Albert tersenyum, mencengkram semakin erat lengannya. “Ya,
sudah. Kamu sudah terlanjur sampai sini, lebih baik seklian mandi” ucap Albert,
mendorong Vina masuk dalam bathup, Vina yang takut terjatuh, ia mencoba
memegang tangan Albert. Membuat Albert ikut terjatuh dalam bathup yang masih
penuh dengan Air.
Vna mengusap wajahnya berkali-kali yang seakan di penuhi
__ADS_1
oleh air. “Dasar mesum!! Kamu sudah gila?” umpat Vina kesal.
Albert hanya diam, ia memandang wajah Vina sangat dekat,
wajah yang belum pernah ia lihat.
Ternyata dia cantik juga, kenapa wajah ini tidak terlihat
saat aku dekat dengannya.
“Albert, kenapa kamu mentapku?” tanya Vina, menarik tubuhnya
ke belakang. Albert tak berhenti menatap Vina, ia menarik tubuhnya semakin dekat.
Membuat Vina semakin was-was.
Entah apa yang terjadi, ia meras tertarik dengan Vina, dan
berusaha mendekatinya. Albert memegang pipi vina, dengan sigap ia memegang
pinggang Vina, memasukan tubuhnya dalam dekapan hangat miliknya dalam bathup.
“Albert kamu jangan gila!!” ucap Vina takut.
Pria itu menarik kepala Vina mendekat, ia mengecup bibir
Vina dengan rasa yang entah apa, ia juga tidak paham dengan hatinya.
“emmmm... eemmmm..”
Vina mencoba memukul Albert berkali-kali. Namun laki-laki
itu hanya diam, dan tak mengiraukan pukulan Vina. Hingga hal yang tak boleh
terjadi, semua terjadi dalam sebuah bathup penuh dengan hasrat Albert yang
semakin menggila. Vina, yang semula menolak ia seakan tak bisa berkutik saat
albet melai mengecupnya lebih dalam.
Hasrat Albert semakin menggila, membuat Vina menjerit tak
berdaya. Tetesan air mata kesakitan keluar dari mata indahnya.
---
Setengah jam berlalu, Albert menyudahi apa yang ia lakukan
pada Vina. Ia meraih handuk yang masih kering. Untuk menutup tubuh Vina. Vina
masih meneteskan air matanya, ia tidak menyangka jika semuanya terjadi begitu
saja.
Albert, memegang ke dua pipi Vina, mengusap lembut air mata
yang membasahi pipinya. Vina hanya diam,
ia menunduk. Mnecengkram erat handuk putih yang menutupi tubuhnya.
“Kamu jahat Albert!!” ucap Vina sembari sesegukan.
“Sekarang kamu keluarlah” ucap Albert yang beranjak keluar
dai dalam bathup, menuju shower, ia menarik tangan Vina, dan mengajaknya
mengguyur tubuhnya kembali.
yang sudah ia lakukan. Melakukan hal yang tidak ia lakukan, apalagi ia sudah
punya tunangan. Dan Vina juga masih Virgin.
Hingga tetesan kental berwarna merah keluar, membuat warna
air dalam bathup berubah.
Selesai mengguyur tubuhnya, Vina beranjak pergi tanpa suara
lagi, ia masih menunduk. Memendam kekesalan dalam hatinya. Wanita itu yang
masih mengenakan handuk menutupi tubuhnya, berjalan keluar dari kamar Albert,
menuju kamar sampingnya, ia berlari masuk ke dalam kamarnya.
Albert, keluar dari kamar mandi, denan rasa bersalah yang
menghantui dirinya. Ia benar-benar sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan.
Albert duduk di ranjang, mendukkan kepalanya, dengan ke dua tangan memegang
kepalany. Ia merenung sejenak, berpikir apa yang harus ia lakukan. Gimana jka
Vina hamil, dan gimana nanti kalau Kesha tahu, dan ia batal menikah denganya.
Pikiran itu terus saja menghantui dirinya.
Aarrrrgggg.. Albert apa yan sudah kamu lakukan.” Umpat kesal
albert, mengacak-acak rambutnya yang basah, ia meraih bantal di ranjang,
melemparnya dengan keras ke lantai
“Shiittttt,.... Sekarang apa yang harus aku lakukan, aku gak
bisa apa-apa lagi” gumam Albert menggelengkan kepalanya.
“Apa yang harus aku katakan dengan Kesha nanti. Dan gak
mungkin jika aku meninggalkan Kesha dan menikah dengan Vina. Tapi aku berharap
semoga Vina tidak hamil, jika sampai dia hamil, aku gak mungkin menikahinya”
gumam Albert lirih, mengusap wajahnya berkali-kali penuh frustasi.
Arrgggg..
Ia beranjak berdiri, menuju ke lemari pakaian yang ada di
depannya. Dan segera mengambil beberapa baju yang akan ia kenakan. Pria itu ingin
mengajak Vina pergi ke pantai sambil membicarakan hal yang tadi. Ia tidak mau
jika Vina salah paham dengannya, ia sudah memutuskan tidak akan bersama dengan
Vina. Dan akan tetap menikah dengan Kesha. Tetapi, jika semuanya berubah nanti
ia juga tidak tahu.
````
Beberapa menit kemudian, Vina yang sudah berdiri di depan
__ADS_1
pintu hotel, ia menunggu kedatangan Albert, yang katanya ingin mengajaknya
pergi.
Albert mengirimkan sebuah pesan untuknya tadi, yang seketika
membuat ia harus berlari keluar dari kamarnya. Dan Vina juga merasa bosan ada
di kamar, ia juga ingin mencari makanan, dan hiburan atas hatinya yang terluka.
“Kamu nunggu lama?” tanya Albert berjalan mendahului Vina.
Vina menatap detail tubuh Albert, dengan gaya ia berjalan
ringan ke dua tangan di masukan ke dalam sakunya. Dan kaca mata hitam menutupi
matanya.
Vina segera berlari, mengejar Albert yang semakin menjauh
darinya. Gadis itu berjalan beriringan di samping Albert. Ia terpikir soal
kejadian tadi, yang membuatnya sangat bingung. Dan entah sejak kapan, vina
mulai tumbuh lagi binih-binih cinta dalam hatinya.
Albert, melirik sekilas ke arah Vina yang hanya diam, berjalan
dengan kaki menendang-nendang pasir yang ada di depannya.
“Dasar gadis aneh!!” ucap Albert, tersenyum tipis. Menatap
Vina di balik kaca mata hitamnya.
Vina hanya menunduk, ia memegang jahitan celana di sampingnya,
berjalan dengan langkah seakan kesal dan marah, ia tak berhenti menendang pasir
pantai. Denga bibir manyun beberapa senti.
“Dasar ngeselin, laki-laki aneh” umpat Kesl Vina dalam
hatinya.
“Udah di ajak jalan tapi tidak sedikitpun dia menoleh ke
arahku, terus kenapa dia ajak aku pergi. Apa hanya sekedar jalan-jalan, saling
diam tanpa tegur sapa. Padahal aku masih kesel banget sama dia, udah begitu
mudah menodaiku, da sekarang ia diam saja. Apa gak bisa keluar dari mulutnya
meski hanya beberapa kata ‘aku akan tanggung jawab’. Hanya kata itu yang ingin
aku dengar, apa dia gak punya hati, dan seenaknya mempermainkan hati wanita,
apa memang dia sudah gak punya harga diiri lagi. Pikir Vina, melirik sekilas ke
arah Albert, yang masih tetap diam membisu. Seperti patung berjalan di
sampingnya.
Vina menarik napasnya dalam-dalam, ia mencoba memberanikan
dirinya untuk mengakhiri keheningan di antara mereka. “Ehem..” Vina mencoba
berdahem, dengan kaki kiri menendang kaki Albert.
“apa-apaan kamu, kenapa kamu menendangku” ucap Kesal Albert,
dengan badan sedikit menunduk, mengusap kakinya yang terasa sakit.
“Kagian kamu nyebelin banget. Kamu kirim aku chat, agar aku
keluar menunggu kamu di depan. Dan sekarang hanya diam, apa aku jalan dengan
patung” ucap Kesal Vina, membalikkan badanya ke samping, dengan pandangan
sedikit mendongak ke atas mentap Albert.
“duduklah!!” ucap Albert, menarik tangan vina untuk duduk di
atas pasir.
Dengan perasaan kesal dan geramnya, Vina terpaksa duduk di
samping Albert.
“Ada apa seenarnya kamu mengajakku keluar?” tanya Vina,
menatap kagum pemandanga pantai yang indah di depannya.
“Diamlah dulu!! Lihat sekarang di depan kamu, pemandangan
sunset bagus ya” Albert menujuk ke depan, membuat mata Vina tertarik mengikuti
arahan tangan Albert.
Ia tersenyum tipis, memandang pemandnagan yang jarang sekali
ia lihat. “Sebenarnya aku belum pernah pergi ke pantai.” Ucap Vina.
Albert menoleh ke arah Vina. “Kenapa kamu gak pernah ke
pantai, pemandangan pantai sangat bagus, dari pada kamu menghabiskan uang
belanja di mall” gumam Albert.
“Iya, aku tahu. Tapi aku gak ada waktu. Waktu aku kesita
untuk kuliah dan bekerja di kantor papa aku. Hari-hari selalu di penuhi dengan
berkas pekerjaan kantor yang menumpuk. Ada waktu luang juga hanya untuk
sesekali bebelanja di mall. Dan nongkrong dengan teman-teman yang lainya.”
“Sekarang kamu nikmati pemandangan di depan. Yang entah bisa
kamu lihat lagi atau tidak” ucap Albert melirik ke arah Vina, di sampingnya.
Albert menarik kepala Vina, menyandarkan di baunya dengan
pandangan mata yang sama. Saling menatap ke depan. Mereka bertukar cerita satu
sama lain,. Gak tahu kenapa, Vina menceritakan semua yang ada dalam hatinya
selama ini, mulai dari keluarga dan yang lainya. Hingga lupa apa yang namanya
sakit hati dengan perlakuan Albert tadi padanya. Ia merasa nyaman berada di
sandaran laki-laki yang pernah ia cintai dulu
__ADS_1