
Si balik mobil hitam, milik Aron. Vino mengemudi mobilnya dengan keceoatan sedang. Kali ini ia memang sengaja bawa mobil Aron, karena ia berangkat dengan ke dua anaknya. kalau pakai mobil sport gak bisa buat empat orang nantinya.
"Sha, Lihatlah anak mada sudah tertidur pulas" ucap Vino, melirik ke arah Kesha
"Biarkan saja, memangnya kalau mereka tidur kenapa?" tanya Kesha, melirik tajam ke arah Vino. mendekatkan wajahnya secepeat kilat, membuat Vino, menarik tubuhnya ke kanan was-was.
"Apa yang mau kamu lakukan" ucap Vino was-was.
"Mau mengecupmu, tapi ber-hubung kamu gak mau aku cium. Ya, lebih baik aku diam sajan, Gak jadi." ucap Kesha, dengan pandangan kini mulai menatap ke arah samping kaca mobilnya, melihat jalan raya yang jari ini memang sangat padat.
"Kalau kamu meu menciumku sini, ku kasih peluang" ucap Vino, mendekatkan pipi kirinya ke arah Kesha.
Kesha mendorong pipi Vino, menjauh dari wajahnya. "Jauhkan dariku. Aku udah gak mau lagi cium kamu. Padahal aku beri kamu satu kesempatan. tapi kamu spontan langsung menolaknya. Jadi aku hanya bisa diam dan tiak mau mengulanginya lagi sekarang." ucap Kesha kesal.
Vino mencolek pipi Kesha, "Kesha, syang. Jangan ngambek itu dong. Kalu kamu ngambek. Aku juga sedih" ucap Vino.
"Kenapa kamu juga ikut sedih?" tanya Kesha.
"Karena aku gak bisa melihat senyum manis kamu lagi. plpadahal senyum kamu itu pengobat hati aku saat jenuh, gundah. Dan kecantikan kamu itu sudah jadi anugrah yang gak hilang. Di pandang setiap hari-pun bagiku kamu itu tetap cantik" ucap Vino, dengan tangan ke belakang punggung Kesha. Mengusap lembut rambut belakang Kesha yang terurai lurus.
"Kamu memang pintar banget kalau suruh merayu" ucap kesha, tersenyum tipis. Menatap ke arah Vino.
"Aku merayu ya hanya untuk kamu. Seorang wanita pujaan hatiku" ucap Vino, penuh bangga.
"Kamu itu bagi aku ibarat bunga yang harus di jaga. dan aku tidak akan biarkan orang lain menyantuh kamu atau memetik kamu. Biarkan aku saja yang selalu mengusap bunga itu, menjaganya, merawatnya. Dan selalu menganggumi ke indahanya setiap hari" ucap Vino, memegang tangan Kesha, di atas pahanya. Sekilas ia melirik ke arah Kesha beberapa detik.
Kesha menatp ke arah Vino, membuat mata mereka saling memandang satu sama lain. "Makasih!! Kamu sudah menjadi malaikat pelindungku. Tapi aku tidak.mau terus menyusahkan kamu. Dan status kita kamu paham kan" gumam Kesha.
"Iya, status kita masih sebatas kekasih, mantan kekasih yang kembali lagi." ucap Vino memperjelas apa yang ia tahu.
Kesha menatap kembali ke liar mobil, ia melihat seorang nenek tua, dengan baju lusuh, rambut putih acak-acakkan berdiri dengan tongkat, dan badan menunduk empat puluh lima derakat.
Melihat nenek itu hati Kesha terasa tersentuh seketika. "Sepertinya nenek itu mau menyeberang jalan" gumam Kesha dalam hatinya.
"Vin, berhenti!!" ucap Kesha, menepuk bahu Vino keras, berkali-kali. Membuat Vino terkenjut dan langsung menginjak rem mobilnya.
__ADS_1
"Ada apa, Sha?" tanya Vino.
Kesha, lansung melepas seatbelt nya dan beranjak turun dari mobil. Menghampiri nenek tua itu, merengkuh tubuhnya dari belakang.
"Nenek mau kemana?" tanya Kesha sopan.
"Nenek mau menyeberang, mau pulang. Tapi mobilnya masih banyak dan belum berhenti"
"Ya, sudah saya bantu ya nek" ucap kesha, memegang tangan nenek itu masuk ke dalam mobil Vino.
Membuat Vino menatapnya bingung .
Apa yang di lakukan Kesha, kenapa bwa dia ke sini kesini. Jangan nilang kesha mau mengadopsinya jadi neneknya. Pikir Vino dalam hatinya.
"Nen, naik mobil teman saya, nanti saya antar pulang. nenek tinggak bilang alamat nenek di mana." ucap kesha.
"Iya, makasih anak muda. Kamu baik banget" ucap Nenek itu, yang menyebutkan alamatnya.
Vino menarik napasnya lega, ia mengusap dadanya. Ia mengira Kesha akan mengadopsi nenek utu. Eh ternyata mau antar dia pulang.
"Vin, kamu tahu alamat yang di ucapkan nenek tadi. sekarang cepat antar. Jangan lama-lama. kasihan nenek ini" ucap Kesha.
"Berangkat sekarang gak?" ucap Kesha, dengan nada sinis tegasnya.
Vino tersenyum, ia segera menjalankan mobilnya kembali. Menuju ke alamat yang nenek berikan, rumah nenek itu tidak jauh dari tempat ia berhenti tadi hanya lima menit naik mobil mereka sampai di sebuah alamat yang nenrk itu berikan.
"Syabg, sudah sampai. Nenek rumahnya di mana?" ucap vino.
"Udah biar aku antar, kamu di sini saja. Jaga Duke dan Kia yang masih tidur. Kasihan dia kecapekan.
Kesha bergegas turun, ia segera menganyar nenek itu ke rumahnya. Tak butuh waktu lama. Kesha kembali lagi naik ke mobil. "Sudah, ayo pulang!!" ucap kesha.
"Cepat banget, syang." ucap Vino.
Kesha menatap ke arah Vino, yang kebetulan memegang ponselnya.
__ADS_1
"Emangnya kamu mau aku di luar lama-lama, biar kamu bisa hubungi wanita gitu" ucap Kesha sinis, dengan ke dua tangan di lipat ke dadanya, salah satu alisnya terangkat ke atas, menatap tajam ke arah Vino.
Vino seketika refleks melempar ponselnya ke dasboard mobil. Lalu tersenyum menatap ke arah Kesha, mencolek dagunya lembut. Vino mencoba merayu kesha yang sepertinya mulai marah dan curiga padanya.
"Syang, jangan ngambek gitu. Nanti kalau marah jelek lo. Lagian aku gak hubungi wanita syang. Tadi itu Kak Aron, yang mengirim aku pesan."
"Emangnya apa isinya?" tanya Kesha datar.
Vino terdiam, jika aku bilang ada Vina datang kamu pamitan. apa dia akan marah. Kalau dia marah bisa kacau. Aku gagal nanti jadi suaminya. Terus dia ngambek. Dan gak jadi nikah sama aku. Pikir Vino.
"Kenapa kamu diam? kamu pasti bohong kan. Awas saja ya, kalau kamu bohong. Aku gak akan kasih kesempatan kamu lagi. " ucap Kesha tegas, ia menatap ke arah Vino tajam.
"Baiklah, tapi kamu jangan marah ya!!" ucap Vino
"Enggak!!" ucap Kesha tegas.
"Baik, aku cerita. Kak Aron bilang padaku jika, Vina datang ke rumah Manda. Dan dia mau pergi ke Paris. jadi ia ingin bertemu hanya untuk pamitan saja. Dan gak lebih. Dia juga tadi lihat baby baru Manda di rumahnya. Sekarang dia masih ada di sana. Menunggu kita berdua untuk pulang" ucap Vino, memegang tangan Kesha.
Dengan pandangan mata seakan memohon jangan marah dengan Kesha.
Melihat wajah Vino yang menggemaskan, ia tidak bisa marah dengan Vino. Malah ingin mencubit ke dua pipinya lembut. "Kamu itu ya, kalau gitu gemesin banget. Lagian apa susahnya sih bilang gitu. Aku itu gak mungkin marah Vino. Aku hanya tes kejujuran kamu saja. Tapi kalau kamu jujur gini, ya aku bisa pertimbangkan lagi untuk jadi suami aku. " ucap Kesha, memegang pipi Vino.
Ke dua nata mereka saling menatap, dan tangan Vino memegang tangan Kesha di pipinya. "Sekarang kita pulang ya. Kasihan Vina, Dia akan pergi. Jadi lebih baik kita temui dia." ucap Vino, dan hanya di balas anggukan oelan oleh kesha.
Vino segera menjalankan mobilnya lagi, menuju ke rumah Aron.
Dua puluh menit perjalanan. Vino berhanti tepat di rumah Aron. Dan bergegas keluar menggendong Duke dan Kesha menggendong Lia, memebawa mereka masuk ke kamarnya.
"Vino!!" panggil Manda.
Vino menoleh ke arah Manda, "Duke dan Lia tidur?" tanya Manda.
"Iya, Da" ucap Vino.
"Iya, udah bawa Duke dan lia ke kamar ya, Sha, Vin" ucap Manda. "Setelah itu kalian turun!! Aku Vina mau bicara denganmu. Dan dia menunggu di ruang keluarga, gendong Axcel dan sambil jaga Brandon.
__ADS_1
"Iya, sebentar lagi aku ke sana" ucap Vino.
"Baiklah!! Aku turun dulu" Manda melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Vino dan Kesha.