
Manda masih berdiam di kamar sendirian. Ia masih menatap wajahnya di cermin.
" Manda kamu sudah siap belum. Ayo cepat keluar" Teriak Aron dari luar kamar Manda. Ia masih menunggu manda yang entah dari tadi ngapain gak keluar-keluar dari kamarnya.
" Kamu duluan saja. Tunggu di mobil, aku akan segera turu" teriak Manda dari dalam kamar. Ia masih sibuk berdandan yang pas dan cocok untuk wajah cantiknya itu. Agar terlihat lebih menarik dan tidak mengecewakan Aron nantinya.
" Kamu makan pagi gak" Teriak aron kembali.
" Gak" Jawab Manda singkat. Ia yang sibuk merias tak begitu perdulikan ocehan Aron di luar. Lagian juga ia mencoba berdandan juga ingin tampil cantik saat berada di dekat Aron nantinya.
" Baiklah aku tunggu kamu di mobil"Aron melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, Dengan langkah ringan. Tiba-tiba langkahnya terhenti seketika. Ia tak melihat Fany dari tadi padi.
Ia yang mulai acuh lagi pada Fany, melangkahkan kakinya kembali menuju ke halaman rumahnya. Di sana sudah terparkir mobil mewah berwarna hitam pekat milik Aron, yang sudah di persiapkan supirnya sejak tadi pagi. Kali ini ia ingin mengemudi sendiri bersama Manda. Karena ia ingin menikmati berduaan dengan Manda. Selagi ia bisa merasakanya.
Ia segera masuk ke dalam mobil menunggu Manda yang masih di kamarnya.
****
Di balik kamar Manda masih bingung dengan make upnya cocok apa tidak dengan wajahnya. Ia terus melihatnya di balik cermin.
" Ih.. kenapa susah banget pakai make up" Gumam Manda terus menggerutu gak jelas di depan cermin.
" udahlah lupain, penampilan gini aja. sekarang aku harus segera turun keburu Aron marah" Manda membalikkan badan seketika keluar dari kamarnya dengan langkah terburu-buru. Ia berlari menuruni tangga dengan hati yang masih berbunga-bunga.
Langkahnya terhenti saat melihat Fany keluar diam-diam tanpa sepengetahuan Aron. Meski Manda tahu ia hanya diam tak melarangnya. Tetapi sepertinya dia keluar dari pintu belakang. Semakin membuat Manda curiga dengannya.
Teroikir di benaknya untuk mengikuti kemana Fany pergi. Ia berjalan pelan agar langkah kakinya tak terdengar oleh Fany. Ia berjalan di belakang agak jauh dari fany. Sempat Fany menoleh ke belakang seakan dia curiga ada yang mengikutinya. Namun dengan sigap Manda bersembunyi di balik tembok putih dekat dapur.
" Kenapa dia kalau mau keluar harus di tutupi dan lewat pintu belakang" Gumam manda napak berpikir. Ia masih bersembunyi di balik tembok dnegan mata mengintip ke arah Fany. Bahkan ia sekarang seperti seorang mata-mata.
__ADS_1
Langkah Fany tertuju di gerbang pintu belakang. " Semakin mencurigakan dia" Gumam Manda mengerutkan bibirnya. Dengan mengangguk pelan.
Ia tetap mengikuti langkah Fany hingga ia masuk ke dalam mobil hitam. Namun entah siapa yang ada di mobil itu. Manda tak bisa melihat siapa yang bersama Fany. Kaca mobil itu berwana gelap membuat orang yang di dalamnya tak terlihat.
" Dengan siapa Fany pergi. Apakah Aron tahu" Pungkas Manda beranjak pergi menemui Aron. Ia pasti menunggunya sangat lama. Namun kali ini ia tak mau memberi tahu Aron tentang Fany. Mungkin belum saatnya, suatu saat nanti Aron juga pasti akan tahu dengan sendirinya.
Dengan langkah ringan ia menuju halaman depan rumah. Aron terlihat sudah di dalam mobil dengan tangan bersandar di jendela pintu mobil dengan mengetuk-ketukan jemarinya. Seraya ia sudah tak sabar menunggu Manda yang sangat lama di dalam .
" lama ya" Ucap Manda membuat Aron yang dari tadi terdiam terkejut seketika.
" Kamu dari mana saja. Kenapa lama sekali. Apa kamu gak tahu lama-lama aku berakar menunggumu . Karena menunggumu terlalu lama"
Manda tertawa kecil. " iya maaf" Ucap Manda dengan senyum manisnya. Dengan tangan membuka pintu mobil dan segera masuk duduk di depan samping Aron.
" Jangan marah gitu" Manda mencoba merayu Aron yang terlihat ngambek. Ia mencubit pipi Aron hingga terlihat memerah. Lalu ia memeluk erat tangan Aron dengan kepala bersandar di bahu Aron.
Dan Aron membalas menyentuh ubun manda sangat lembut dengan senyum manisnya terpancar di raut wajahnya. Seakan perasaan kesalnya hilang seketika melihat Manda.
Aron mulai memutar kunci mobil, hingga mesin mobilnya mulai menyala. Dengan segera Ia melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.
Manda yang semula memeluk Aron ia melepaskan pelukannya. Ia takut nantinya malah meganggu Aron mengemudi. Dan bisa membahayakan mereka.
Di setiap perjalanan mereka terus berbincang bahkan bisa tertawa lepas. Membuat hati Manda kegirangan bisa melihat Aron tertawa. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.
" Oya kamu sudah minta maaf pada Vino. Dari kemarin aku gak melihatnya" tanya Manda yang tiba-tiba terpikirkan tentang Vino.
" Dia kemarin menghubungiku. jika dia akan pergi ke korea menemui kesha. Dan mungkin selama satu minggu dia cuti sekolah " Jawab Aron. Raut wajahnya berubah seketika ketika Manda membicarakan adiknya. Ia mengira jika Manda sudah kangen dengan Vino dan ingin menemuinya.
Suasana yang tadinya penuh canda tawa. Kini mulai hening Aron terlihat diam. Manda tersenyum tipis ia tahu jika Aron cemburu padanya. " Gitu aja cemburu. Aku hanya tanya. Istri kamu tanya kan harus di jawab. Lagian dia kan adik iparku gak mungkin aku suka dengannya" Ucap Manda menyetuh pipi Aron.
__ADS_1
Seketika hati Aron luluh mendengar sentuhan lembut Manda. Namun ia sok jual mahal dan lebih memilih diam lagi. Ia ingin tahu apa yang di lakukan Manda berikutnya.
" terserah lah" Jawab Aron dengan nada datarnya.
Tanpa menjawab lagi Manda memberi kecupan lembut pada pipi kiri Aron. Wajah Aron memerah seketika. Hatinya tak bisa pungkiri itu. Sentuhan lembut dan kecupan membuatnya semakin luluh. Aron tak mau lagi membohongi perasaannya kali ini.
Tak lama perjalanan sekitar 1 jam mereka sampai di kantor Aron. Kantor yang sangat megah dan besar. Membuat Manda hanya bergumam dalam hati. Ia merasa dalam mimpi mendapatkan lelaki sehebat Aron bahkan ia sudah snagat sukses di usianya sekarang.
Terlihat beberapa pegawai menyambut kedatangannya. dan berbaris di depan pintu masuk, tak lupa karpet merah sudah tersedia di depan pintu kantornya.
Aron turun dari mobil lebih dulu.
" Sekertaris mei biar aku saja membuka mobilnya" Ucap Aron.
Ia membukakakan pintu dengan tangan kiri ke belakang, tangan kanan persilahkan Manda keluar dan badan agak menunduk sedikit. Seakan manda seperti seorang putri yang turun dari kereta kencannya. Aron menuntun tangan Manda keluar dari mobilnya. Semua pegawai nampak iri pada mereka. Aron yang biasa terlihat dingin dan kaku tiba-tiba luluh dengan gadis kecil seperti dia.
" Peluk tanganku" Pungkas Aron. Ia sudah melipat tanganya ke pinggang.
Manda tersenyum tipis memasukan tangannya ke sela tangan Aron dan memeluknya erat. Dengan langkah ringan ia masuk ke dalam kantor. Semua orang menatalnya terkejut. Di pikiran mereka pasti bertanya-tanya kenapa tuan Muda Aron menikah dengan gadis kecil yang umurnya jauh lebih muda darinya.
Namun semua pegawai hanya menunduk tanpa berani mengucapkan sebuah suara sedikitpun untuk mengkritik istrinya.
Aron berjalan menuju ruangannya meski banyak pegawai yang menatapnya seakan ia tak perduli. Dan manda terdiam menundukkan kepalanya. Ia terasa sangat malu, dan minder.
Gadis kecil sepertinya tak pastas bersanding dengan Aron yang terlihat sempurna di mata para pegawainya.
Aron menghentikan langkahnya.
" kenapa kamu menuduk" Tanya Aron menyentuh lembut dagu Manda dan mendongakkan ke atas agar menatapnya.
__ADS_1
" Tidak usah di pikirkan pandangan mereka atau kritikan mereka. Kamu istriku dan selamanya akan tetap istriku tak perduli dengan ucapan orang lain tentang kamu" lanjut Aron, seraya ia tahu apa yang ada dalam pikiran Manda kali ini. Ia mencoba meyakinkan dia agar ia tak merasa malu, takut maupun merasa canggung lagi di depan para pegawainya.