
Manda masih tersenyum jika teringat ucapan Aron tadi, yang membuat hatinya terasa tenang kali ini. Bahkan ia tidak minder lagi dengan statusnya yang sekarang.
Kini ia masih berdiri di depan pintu. Belum sempat memutar gagang pintu berwarna hitam itu. Seseorang pegawai memanggilnya membuat langkah mereka terhenti.
Seorang pegawai cantik berlari kecil seolah terburu-buru ingin menghampiri Aron. ia berdiri tepat di depannya sembari menundukan kepala. Untuk menghormati bosnya yang berdiri di depannya.
" Maaf tuan Aron mengganggu. Sekarang ada meeting mendadak dan para client sudah menunggu di ruang meeting" Ucap Pegawai itu yang sesekali mendongakkan kepalanya menatap Aron. Tubuh pegawai itu nampak bergetar seolah ia berharap Aron tidak marah dengannya. Karena ada meeting dadakan yang sebelimnya belum sempat ia mengabari tuannya.
" Baiklah aku akan segera kesana. Bilang sama para client kita, tunggu aku lima menit lagi" Jawab Aron dengan nada ramah dan penuh senyuman. tak seperti biasanya yang selalu angkuh, datar dan terkenal dengan tatapan dinginnya. Membuat para pegawainya bergidik ketakutan.
" Baik tuan" Pegawai itu menundukkan badan. Seraya berpamitan pada Aron untuk segera pergi.
Aron membuka pintu ruangannya dan persilahkan manda untuk masuk lebih dulu. " Kamu tinggal dulu disini gak papa kan" Aron menarik pinggang manda dalam dekapannya. Dengan tangan kiri masih menyangga Pinggang manda dan tangan kanan merapikan rambut Manda yang terlihat menutupi wajahnya.
Manda hanya terdiam, seolah tak sanggup lagi berbicara, ia hanya menganggukan kepalanya seraya ia tak masalah di tinggal sendiri oleh Aron.
" Kamu di sini dulu, jangan pergi kemana-mana. Tunggu sampai aku selesai meeting" Ucap Aron dengan jemari membelai lembut wajah Manda.
Wajah manda memerah seketika. Nafasnya terlalu sesak, melihat hal romantis seperti ini lagi dari Aron. Bahkan jemarinya selalu menyentuhnya lembut, setiap menatapnya seraya tak ingin melepaskannya untuk pergi.
Tangan lebar Aron menyentuh pipi Manda, lalu memberikan kecupan perpisahan di pipinya semantara untuknya. " aku pergi dulu" Ucap Aron melepaskan pinggang Manda dalam dekapannya dan beranjak pergi dari ruangannya.
Ia membuka pintu , sembari menatap ke belakang melihat wajah istrinya lagi, agar ia lebih bersemangat kali ini. Sebelum menutup pintu, sebuah senyum lebar terpapang di raut wajah Aron, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
Manda berjalan masuk dalam ruangan Aron lebih dalam. Ia ingin melihat gimana ruangannya. Ia menatap meja kerja Aron yang masih berantakan. Banyak gile yang memrnuhi siisi meja. Bahkan beberapa kertas tercecer di lantai putih di bawahnya.
Ia berjalan menuju meja kerja Aron dan mulai merapikan semuanya untuk menghilangkan rasa bosan dirinya di tinggal Aron sendiri. Ia juga ingin ruangan aron agar tetap bersih dan nyaman.
__ADS_1
"Sepertinya Aron akan lama" Gumam Manda dengan tangan memegang beberapa file milik Aron. seolah ia menyesal tak bisa memberinya sebuah kecupan di keningnya supaya ia tak lama-lama dan terus mengingatnya yang sendiri di ruangannya.
Selesai dalam pekerjaannya Manda terdiam. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan sekarang. Kali ini ia benar-benar sendiri di ruangan Aron. Yang terlihat nampak hening sepi. Ia berjalan mondar-mandir, karna merasa sangat bosan. Ingin sekali jalan-jalan keluar namun apa boleh buwat Aron sudah bepesan padanya untuk tetap menunggunya selesai meeting.
Manda berjalan menuju ke sofa depan meja kerjanya. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa. Dan tangannya leluasa mencari remot televisi di sampingnya ia duduk. Manda yang merasa sangat bosan ia ingin melihat acara kesukaannya pagi hari ini. Bagi remaja seperti dia di desa dulu suka sekali nonton drama meskipun di kota semoga masih ada.
Sibuk nonton drama hingga menyiapkan tissu dan tak lupa cemilan di meja Aron juga ia embat. Lalu duduk di lantai dengan punggung bersandar di sofa. Tanpa ia menyadari ada seseorang datang mendekat padanya. Namun Manda seolah acuh dengannya dan masih melanjutkan acara serunya.
" Hai " Sapa Jack pada Manda. Ia duduk santai di sofa kantor Aron. Karena Aron lagi ada meeting mendadak, ia di suruh jaga Manda untuk sementara selama ia masih meeting.
Manda hanya terdiam tanpa menjawab. Ia masih fokus menatap siaran televisi favoritnya. Dengan wajah nampak seirus bahkan sepertinya tak bisa di ganggu. Ia merengkuh cemilan dalam dekapannya bahkan seprti nonton bioskop dalam ruangan kerja Aron.
Jack yang merasa tak di hiraukan ia kembali mencoba ajak Manda bicara lagi.
" Iya.." Jawab manda singkat dengan mata tak melirik sedikitpun ke arah Jack.
Jack menyandarkan punggungnya, dengan kepala bersandar ke sofa. " Aron menyuruhku untuk menjagamu di sini" Jack memulai pembicaraannya kembali.
" oh.. iya.." Manda masih tetap sama. Ia seolah acuh dengan kehadiran jack di sana. Lagian ia tak butuh Jack. Ia juga tak ada pikiran untuk keluar, sebelum Aron selesai dengan pekerjaannya.
" gimana hubunganmu dengan Aron, apa sekarang sudah mulai membaik" jack mencoba bertanya lagi. Ya meskipun ia tahu selalu di cuekin oleh Manda. Taoi rasa oenasarannya dengan Manda semakin kuat karena sifatnya yang cuek membuat ia tertarik.
" Baik. Kenapa?" Manda masih tetap cuek seolah acuh padanya. Wanita itu benar-benar membuat Jack kesal. Bagaimana tidak kesal, setiap tanya selalu di cuekin bahkan lebih memilih fokus dengan drama yang ada di televisi di depannya.
Jack menmbungkukkan badanya sedikit memiringkan kepalanya mencoba menatap Manda yang duduk di lantai bawahnya, dengan santainya. Bahkan seperti di rumah sendiri. Seraya ia tak sadar jika itu di dalam kantor Aron.
__ADS_1
" Aron ternyata gak salah pilih ya" Ucap Jack tepat di samping pipi Manda. Dengusan nafas beratnya sontak membuat Manda meloncat berdiri seketika dari duduknya.
" Jangan kurang ajar ya" Ucap Manda dengan nada meninggi.
Jack kembali duduk bersandar dengan kaki kanan di lipat ke atas kaki kiri. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa dengan tangan terlentang. " Lagian di ajak bicara sibuk sendiri. Kalau kamu gak tahu tadi mungkin tiba-tiba aku menciummu" Ucap Jack dengan sangat santainya.
" Apa kamu bilang, jangan berani menyentuhku. Bahkan menciumku pun aku gak sudi" ucap Manda memalingkan pandangannya seolah jijik dengan apa yang di katakan Jack.
Jack memarik tangan Manda yang berdiri di depannya untuk duduk di sampingnya. Ia mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan Manda. " Apa kamu yakin kamu gak sudi" Ucap Jack dengan senyum menggoda pada Manda.
Manda mendorong tubuh Jack menjauh darinya. " jangan coba-coba sentuh aku" Manda menegaskan dengan anda semakin tinggi.
" baiklah aku tidak akan menyentuhmu, karena kamu milik Aron. Tetapi jika seadainya kamu bukan miliknya apa kamu mau menikah denganku" Jack mendekatkan wajahnya lagi. Kini semakin dekat, hingga Manda bisa merasakan hembusan nafas beratnya lagi.
Manda tersenyum sinis. Bukan jawaban yang akan membuat Jack Senang. Namun sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Jack.
" Plakkk..."
" Aku sudah peringatkan kamu jangan menyentuhku, aku tidak suka ada orang lain yang berani menyentuhku, Apa lagi kamu" wajah Manda semakin memerah ia tak terima dengan perlakuan Jack yang selalu cari masalah dengannya.
" Jangan mentang-entang kamu teman Aron kamu bisa seenaknya" Manda menegaskan lagi dengan nada semakin kesalnya.
Jack terdiam dan hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya berkata, menarik juga gadis kecil ini, mungkin ini yang membuat Aron bisa melupakan sindy dan kini bahkan tergila-gila dengannya. Jack terus memandang Manda. Hingga tiba-tiba ia tertawa membuat Manda bingung seketika.
" Kenapa kamu tertawa, apa kamu sudah gila?" Ucap Manda mengernyitkan wajahnya dengan mata menyipit menatap aneh pada lelaki di depannya itu.
" Ya mungkin lama-lama aku sama seperti Aron. Gila karenamu" Ucap Jack dengan senyum semringai. Tak membuat Manda terkejut malah semakin membuat Manda jijik padanya.
__ADS_1