Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kemarahan yang masih ada


__ADS_3

Manda di dalam berbincang dengan Vina dan Aron, mata mereka


saling tertuju saat melihat wajah sedih Vino yang masuk ke dalam mengahmpiri


Vina. “Aku pergi dulu!” ucap Vino, seketika membuat Manda dan Aron bnagkit dari


duduknya.


“Tunggu Vin! Kamu mau kemana? Apa kamu mau pergi lagi dari


kita? Kenapa kamu tidak mentap ke arah kita sedikitpun? Apa salah kita padamu?”


ucap Manda yang tak berhenti menyakan beberapa pertanyaa sekaligus untuk Vino


yang berdiri di depannya.


“Tanya sendiri sama laki-laki di samping kamu itu” ucap Vino


beranjak pergi, dengan segera Aron berlari mengikuti Vino.


Vina hanya diam, gara-gara dia smeua jadi berantakan, ia


mengira akan jadi moment mengharukan dan ternyata malah jadi masalah yang membuat


mereka saling marah dan pergi.


Vina memegang tangan Manda, dengan kepa menunduk seakan menahan


rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.


“Da, maafkan aku! Semua terjadi gara-gara aku. Penyebab


semua ini adalah aku, jadi kamu sekarang boleh marah denganku. aku memang berhak kamu marahi Da." ucap Vina yang terus menunduk penuh penyesalan dalam hatinya.

__ADS_1


"Vin, Aku tidak pernah menyalahkan kamu. Kamu gak salah, mereka pasti salah paham. Jadi kamu jangan minta maaf padaku, lebih baik kamu jelaskan saja semuanya pada Kesha yang lebih sakit hati. Aku yakin jika dia mengira kalau kamu dan Vino pacaran." ucap Manda yang mencoba menjelaskan pada Vina, agar tidak merasa bersalah lagi dengannya.


"Apa Kesha masih mencintai Vino? Kalau dia masih syang dengan Vino kenapa dia menikah dengan orang lain. Dan kenapa dia meninggalkan Vino begitu saja tanpa penjelasan apapun darinya?" gerutu Vina, mengungkapkan semua isi yang ada dalam hatinya, untuk mendapatakn sebuah penjelasan yang memang ia harus benar-benar melepaskan Vino, laki-laki yang baru saja ia kagumi.


"Kesha punya masalah, dan dia tidak mau cerita dengan Vino. Dan kita gak perlu tahu tentang masalahnya itu. Dan Kesha hanya pura-pura untuk menikah dengan orang lain, ia terpaksa harus berbohong soal pernikahannya itu.


Vina terdiam, ia tidak bisa bicara apa-apa lagi, bagaimanapun juga Kesha wanita yang di sayang Vino saat ini, dan dirinya hanya teman baru baginyta. Yang tidak ada posisi sama sekali di hatinya.


~~


"Vin, Berhenti!" teriak Aron yang terus mengejar adiknya itu.


Mendengar teriakan Aron yang membuatnya gerah, Vino menghentikan langkahnya. " Ada apa lagi?"


"Aku ingin bicara dengan kamu" ucap Aron.


Vino duduk di kursi yang tepat berada di sampingnya. "Bicaralah, aku hanya ada waktu sedikit. Jadi jangan lama-lama" gumam Vino dengan wajah datarnya.


"Oya ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu!" ucap Vino, segera membuka dompetnya,dan mengambil kartu atm yang selama ini ia selalu simpan, dan tidak pernah sama sekali ia gunakan sepersen-pun uang di dalamnya. Semua uang itu adalah pemberian dari kakaknya setiap bulan untuknya.


"ininpunya kakak, dan mulai sekarang jangan memberiku uang sepersen-pun. Aku ingin tunjukan pada kakak jika aku bisa hidup mandiri. Dengan pekerjaan yang aku selama ini aku sudah merasa senang, bisa kuliah dan buat kehidupan sehari-hari juga.


"Vin, kakak minta maaf dengan semua yang terjadi, jika aku mengijinkan kamu dan Kesha menikah pasti semua gak akan seperti ini. Kalian masih saling mencintai, jadi jangan saling ada ego di antara kalian. Kakak ingin menebus semua yang kakak lakukan dulu. Jika kalian masih bisa bersama lagi, kakak akan menikahkan kalian dengan segera." ucap Aron penuh dramatis.


"Kakak gak perlu minta maaf semua sudah terjadi, penyesalan juga gak ada gunanya. Sekarang aku senang jalani kehidupan aku yang baru." ucap Vino bangkit dari duduknya.


"Apa kamu gak mau tinggal dengan kakak lagi" ucap Aron sebelum Vino melangkahkan kakinya pergi menjauh darinya.


"Gak perlu, aku sudah punya tempat tinggal sendiri, meski kecil dan sederhana, tapi itu lebih baik" gumam vino, tanpa mentap ke arah Aron yang masih duduk di belakangnya.


Aron beranjak dari duduknya, berjalan perlahan menghampiri Vino, menepuk pundaknya, dengan tangan memasukan alamat rumahnya di saku jaket Vino.


"baiklah, jaga diri kamu baik-baik. Aku harap kamu bisa hidup dengan baik. Kakak selama ini sudah susah payah cari kamu, bisa melihat kamu di sini saja kaka sudha bersyukur" ucap Aron.

__ADS_1


Vino hanya diam, tak perdulikan ucapan kakanya, ia mulai melangkahkan kakinya beranjak pergi. "Vino, jika kamu ingin bertemu dengan Kesha, datanglah ke rumahku dan Manda, alamatnya ada di saku jaket kamu" Teriak Aron.


Vino mendengar ucapan kakanya, ia memasukan ke dua tangannya di saku jaket, ada sebuah kartu nama di dalam saku jaketnya. vino menghembuskan napasnya berkali-kali, dan segera mempercepat langkahnya.


"Aku yakin jika kamu pasti akan menemui Kesha, aku akan tunggu kamu Vino" ucap aron, membalikkan badannya dan beranjak pergi ke dalam cafe menyusul Manda yang masih ada di dalam.


Aron berjalan dengan wajah datarnya, membuat Manda yang semula berbincang dengan vina, ia menoleh ke belakang. saat Vina memberi tahu jika Aron datang.


"Syang di mana Vino?" tanya Manda mentap bingung saat Aron datang tanpa seuntai kata yang keluar dari mulutnya.


"Ayo kita pulang" ajak aron, memegang tangan manda.


"Baiklah!" jawab manda beranjak berdiri.


"Vin, aku pulang dulu ya" ucap Manda.


"Iya, Da. gak apa-apa. Lebih baik kalian selesaikan masalah kalian" ucap vina dengan senyum manis terpaut di wajah cantiknya.


"Maaf ya, lain kali kalau semua sudah beres, aku akan ajak kamu lagi makan malam di ruamh aku, nabti biar aku siapkan makanan enak sebagai minta mafku padamu" ucap Manda.


"Iya, udah kalian pergi dulu. Lagian sudah malam. Lebih baik kamu istirahat Manda" ucap Vina. Manda hanya tersenyum dan beranjak pergi dari cafe itu, di bantu dengan Aron yang menuntunnya untumasuk ke dalam mobil.


"Syang! Kenapa kamu dari tadi hanya diam? Apa ada masalah lagi yang mengganggu kamu? Dan Vino apa masih gak mau bicara sama kamu juga?" tanya Manda yang duduk, dengan pandangan menatap wajah Aron yang masih muram.


Aron menghembuskan napasnya, "Dia gak mau bicara dengan aku, bahkan uang yang aku kasih ke dia. Ia kembalikan" ucap Aron.


"Kenapa dia masih keras kepala begitu, dan Kesha di mana? dari tadi aku gak melihat dia" ucap Manda yang baru sadar jika dia tadi bersama dengan Kesha, tapi tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar lagi.


Aron mengerutkan keningnya, bahkan dia tidak tahu Kesha di mana tadi. " Lebih baik kamu hubungi dia sekarang, jadi kamu gak khawatir lagi. Nnati dia di mana kita jemput" ucap Aron, yang mulai mengemudi mobilnya keluar dari parkiran cafe itu.


Manda segera mengambil ponsel di tasnya, ia melirik ponselnya. ada sebuah pesan dari Kesha.


"Aku sudah pulang duluan Da, jadi kamu dan Aron langsung pulang saja. aku sudah di rumah"

__ADS_1


"Syang kita langsung pulang saja ya, Kesha sudah ada di rumah sekarang. Baru saja dia mengirimkan pesan padaku" ucap Manda.


"ya, sudah. Sekarang kita langsung pulang" ucap Aron yang langsung melaju dengan kecepatan sedang, menuju ke rumahnya. pikirannya kini juga terasa sangat penat. Saat mengingat apa yang di katakan Vino tadi membuatnya tak bisa tinggal diam kali ini. Ia berniat untuk segera mencari paparazi untuk menikuti dan memantau setiap gerak gerik Vino. Ia ingin membantunya secara diam-diam.


__ADS_2