
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Albert.
“Eh... Siapa juga yang mentap kamu. Aku itu hanya kesal saja
denganmu” gumam Vina, seketika membuat Albert mengerutkan keningnya.
“Apa kamu gak suka jika aku membantu kamu. Oke kalau kamu
gak suka ya, silahkan pergi sekarang” ucap Albert meninggikan suaranya lagi.
“Siapa yang gak terima, kenapa kamu malah nyolot gitu sih”
Vina, semakin meninggikan suaranya satu oktaf. Tak mau kalah dengan Albert
“Lagian tadi kamu bilang aku kesal denganku. Padahal aku
tolong kamu juga tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Kenapa kamu jadi ngeselin
gini. Kalau aku marah dengan kamu, kasar denganmu jangan salahkan aku” ucap
Albert tak mau tahu, ia beranjak berdiri meletakan kotak obatnya di laci.
“Oya, kamu di sini mau apa?” tanya Vina, mengalihkan
pembicaraan.
“Aku hanya ingin senang-senang” ucap Albert.
“Emm.. kamu tadi lihat Manda gak” tanya Vina, yang mulai
menunjukan wajah seriusnya.
“Emangnya kenapa?” tanya Albert, berjalan mendekati Vina dan
duduk di sampingnya.
“Lihat gak?” tanya Vina memperjelas.
“Enggak!!” jawab Albert tegas.
Vina trdiam sejenak, kok aneh Manda gak ada di sini, yang
ada hanya manusia ngeselin ini. Pikirnya dalam hati.
“Bentar!! Apa kamu ke sini juga dari pesan Manda?” tanya
Vina memastikan.
Albert mengerutkan ke dua alisnya, menyipitkan matanya
mentap ke arah Vina.
“Gimana kamu bisa tahu?” tanya Albert
Vina memutar matanya malas, badan sedikit tertunduk lemas.
Gimana bisa Manda mengejak laki-laki ini. Apa rencananya. Pikir Vina dalam
hatinya.
“Heehhh... kenapa kamu diam?” tanya Albert, mengibaskan
tanganya ke wajah Vina.
“Ehh.. gak apa-apa. Menurut kamu Manda merencanakan sesuatu
tidak?” tanya Vina mendekatkan wajahnya ke arah Albert, membuat pria itu
menarik duduknya ke belakang was-was.
Albert mengerutkan keningnya, hingga membentuk lipatan kecil
di keningnya.
“Rencana?” gumam Albert tidak paham dengan apa yang di
katakan Vina.
“Iya, sebuah rencana yang membuat kita berada di sini, di
tempat yang sama. Dan sekarang Manda juga agk ada kan?” gumam Vina,
menjelaskan.
“Apa maksud kamu, tidak ada rencana segala. Mungkin kamu
sendiri yang buat rencana itu, agak kamu bisa dekatku kan? Hayo ngaku” ucap
__ADS_1
Albert, menunjuk tangannya ke wajah Vina di depannya, dengan badan sedikit
menyondong ke depan. Membuat Vina was-was.
Vina beranjak berdiri, berkacak pinggang, menatap ke arah
Albert dengan tatapan tajamnya, seperti elang yang akan mencabik-cabik
makananya.
“Eh.. siapa yang mau deketin kamu, lagian aku juga gak tahu
kalau kamu juga ada di sini. Kalau aku tahu mendingam akui gak mau datang ke
sini” ucap Vina meninggikan suaranya.
Albert membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dengan senyum
tipis terpoaut di wajahnya. Senyum yang belum pernah Vina Lihat sebelumnya.
“Kamu kalau mau dekat dengan aku bilang saja, lagian aku
juga gak akan marah dengan kamu” ucap Albert menggoda, membalikkan badannya
menatap ke arahnya dengan tangan menyangga kepalanya.
Vina menghela napasnya beberapa kali, ia hanya bisa sabar
menghadapi Albert yang semakin membuat emosinya tambah naik.
“Gimana kamu temani aku di sini” goda Albert, menepuk-nepuk
ranjang sampingnya.
Vina seketika, menggertakan rahangnya, aliran darah penuh
emosi sudah sampai di ubun-ubunya. Kepalanya terasa di siram air panas yang
menganga. “Apa kamu bilang temani kamu? Apa kamu gak mau hidup lagi” ucap Vina,
mengepalkan tanganya, mengangkat kepalan tangan itu ke depan.
“Pukulan tangan kamu itu gak ada apa-apanya”
“Apa kamu mau coba, biar tahu rasanya pukulan wanita saat
Klinggg...
Bunyi ponsel Albert membuat oerdebatan mereka terhenti,
Albert bergegas berdiri. Melangkahkan kakinya mengambil ponsel yang ada di
samping ranjangnya.
Pesan dari ‘Manda’ membuat Albert mengeryitkan matanya. Ia
sebenarnya tahu jika Manda yang menyuruhnya ke tempat itu. Tapi ia lebih suka
menggoda Vina, saat dia marah membuat ia semakin tertarik dengannya. Wanita
yang dulu ngejar-ngejar dia, sekarang jadi seperti kucing dan tikus saat
bertemu.
Albert membuka pesan itu.
“Maaf aku gak bilang sama kamu, jika aku dan keluarga gak
bisa datang. Tapi aku terlanjur memesan semuanya baik hotel, makanan di restauran,
yang berada di dekat pantai, kamu ke sana jam 7 malam. Semua sudah aku pesan. Dan
sudah terlanjur aku bayar. Karena aku melahirkan aku gak bisa datang. Jadi kalian
nikmati saja berdua.”
Albert terdiam, ia menatap ke arah Vina yang dari tadi menatap
ke arahnya. “kenapa kamu mentapku seperti itu?” tanya Vina.
Albert duduk di samping Vina, dengan wjah terlihat sangat
pasrah. Ia meletkkan ponselnya.
Vina segera meraih ponsel Albert di ranjang, dan membaca isi
pesan yang membuat raut wajah pria di depanya itu berbeda.
__ADS_1
Setelah membaca pesan itu, Vina seketika melebarkan matanya.
Ia meletakkan kembali ponselnya dan beranjak berdiri.
“Kamu mau kemana?” tanya Albert, memegang pergelangan
tanganya.
“Aku mau pergi, lagian buat apa aku di sini. Buang-buang
waktu aku, jika bersama dengan laki-laki menyebalkan seperti kamu.
“manda bilang kita harus menikmati semuanya, jadi jangan biarkan
Manda kecewa. Slama dua hari kita di sini berdua. Anggap saja ini kupon liburan
gratis bagfi kita” gumam Albert,.
Vina ,menoleh ke arah Albert, mentap wajah Albert yang
sepertinya menginginkan jika dia selalu bersamanya.
Vina menarik napasnya dalam-dalam, dengan terpaksa ia harus
menerima tawan Albert. Entah kenapa hatinya seakan tertarik berada di dekat
Albert
“Baiklah, tapi ingat kamu harus jaga jarak denganku. Jangan
sentuh aku, atau mencoba mendekatiku” ucap Vina.
Albert menahan senyumnya, “baiklah, aku juga gak akan
menyentuh kamu sama sekali. Tenang saja, aku gak selera jika menyentuh kamu”
gumam Albert dengan nada mengejek.
`````
Di balik rumah mewah Aron, semua keluraga nampak sangat
bahagia. Menikmati kedatangan keluarga baru yang sangat tampan.
“Sha, Vin aku mau tanya pada kalian?” ucap Kesha.
“Tanya apa?” jawab Kesha dan vino kompak.
“Aku mau tanya, apa kalian mash saling jatuh cinta atu
tidak?”
“Gak!” ucap Kesha tegas.
“Beneran enggak? Sebenarnya aku hanya ingin yang terbaik
untuk keluargaku ini. Aku gak mau jika kaluargaku nantinya jadi seperti ini
terus, aku ingin kalian menikah” Ucap Manda, seketika membuat Kesha dan Vino
tersendak ludahnya sendiri.
“Apa menikah?” tanya Kesha memastikan.
“Iya sha, aku mau kamu menikah dengan Vino, ini permintaan
terakhir aku. Dan bukanya kamu masih mau balas budi dengan aku kan?” ucap
Manda, memegang tangan Kesha.
“Iya, jika kalian mau. Aku akan siapkan seuanya, jadi kalian
jangan khawatir” sambung Aron.
“Kalau aku sih mau saja, tapi kalau Kesha. Sepertinya gak mungkin dia akan mau” jawab Vino, melirik ke arah Kesha, sembari menikmati
makanan yang di buatkan Aron tadi.
“Iya, Duke juga mau om dan tante segera menikah” sambung
Duke.
“Syang, sepertinya gak mungkin.” Ucap Kesha, yang masih saja
mengelak. Ia benar-benar tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Apalagi Kesha
sudah bertunangan, maka ia lebih memilih diam dulu. Sebelum bisa memutuskan ke
__ADS_1
depannya gimana.