
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam.
Albert masih terbaring kesal di ranjangnya. Ia tidak
berhenti terus berdecak kesal dan melempar semua yang ada. Dengan ke dua tangan memegang kepalanya penuh
frustasi. “Vina.. Vina.. Dan Vina, kenapa kamu selalu menganggu pikiran aku.
Kenapa kamu menggangguku. Aku gak bisa menghilangkan pikiran ini dari kepala
ku,” ucap kesal Albert, mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Arrrrggg... Kenapa kamu bodoh Albert, kamu terlalu bodoh,”
umpat kesal Albert, beranjak duduk di ranjangnya. Dengan tangan meraih bantal
di atas ranjangnya, dan melemparkan bantalnya ke lantai dengan penuh kekesalan
dalam dirinya.
Tok.. tok.. tok..
“Albert apa kamu baik-baik saja?” sapa seorang laki-laki di
balik pintu kamarnya.
“aku baik-baik saja, lebih baik sekarang kakak pergi saja,”
ucap Albert, degan ke dua tangan masih memegang kepalanya yang terasa sangat
pusing. Baru kali ini dalam sejarah hidup Albert di buat pusing dengan sosok
wanita yang hampir saja membuatnya gila. Yang semual ia menyukai Kesha wanita
yangng membuat hidupnya merasa sangat bahagia, dan berbeda dengan Vina kini.
Yang membuatnya semakin gusrah dan tak hentinya terus me geluh dan berdecak
kesal.
“Aku tahu, kamu sekarang lagi ada masalah, kamu bisa ikut
aku ke ruang kerja sekarang. Menghilangkan semua masalah kamu dengan pekerjaan kantor.”
Ucap kakak Albert.
“Baiklah, tapi nanti saja. Aku akan ke sana nanti, sekarang
aku masih ada yang perlu aku lakukan.” Gumam Albert.
“Baik, kakak tunggu”
Merasa sudah tidak ada suara di balik pintu kamarnya, Albert
segera beranjak dari ranjangnya, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas
meja. Jemarinya sangat lihai mencari kontak nama Vina di ponselnya. Ia segera
menghubungi Vina. Dan hampur tiga kali ia menghubungi Vina namun tidak ada
jawaban juga dari dirinya.
“Angkat Vin, kenapa kamu gak mau angkat telepon dariku..”
gusrah Albert yang tak berhenti mencoba menghubungi Vina.
“Vin, angkat.. Aku mohon..” ucap Albert dengan rasa cemas
dan khawatir dalam dirinya.
Semanjak kejadian tadi padi membuat ia tidak bisa tenang, ia
terus memikirkan di mana Vina sekarang. Dan ia juga sudah berniat untuk beli tiket
ke Paris untuk menjemput Vina. Sekalian pulang ke rumahnya. Albert memang
tinggal di paris ke dua orang tuanya tinggal di sana, namun karena ia ingin
belajar tentang perusahaan di kota dekat dengan kakaknya. Ia memutuskan untuk
tinngal dengan kakaya sambil meneruskan kuliahnya.
-----
__ADS_1
Kisah mereka bebeda dengan Vino, dan Kesha yang tidak
berhenti terus berantem seperti kucing dan tikus setiap detiknya. Pasangan yang
baru memutuskan untuk menjalin kasih lagi ini, mereka selalu tidak pernah akur,
satu sama lain.
“Filmnya bagus ya?” tanya vino, yang duduk di sofa dengan
mata tertuju di depan tv, sesekali ia melirik ke arah Kesha yang duduk dengan
bibir manyun beberapa senti.
“Jelek!!” jawabnya kesal, dengan ke dua tangan di lipat ke
dadanya.
Vino tersenyum melihat calon istrinya itu, yangtidak
berhentyi manyun dari tadi, “Kenapa kamu manyun begitu?” tanya Vino, mendekatkan
tubuhnya ke arah Kesha, ia meletakkan kepalanya di ke dua paha Kesha. Menatap
wajahnya dari bawah.
“Apa yang kamu lakukan?” Kesha berusaha menyingkirkan kepala
Vino di pahanya.
“Gak boleh pacar kamu seperti ini, aku mau menatap wajah
cantik calon istri aku ini, dari bawah. Apalagi saat melihat bibir manyun kamu
yang menggemaskan. Aku merasa sangat tertarik” ucap Vino menggoda.
“Kamu boleh di sini, asalkan remot tv-nya buat aku. Aku mau
lihat drama, aku gak suka film laga seperti ini.”
“Tapi ini bagus,” gumam Vino.
“Sini remotnya,” Kesha mencoba meraih remot di dekapan
tangan Vino.
tidak bisa meraih remotnya. bangkit dan duduk lagi di samping.
“Vino, serahkan remotnya, atau aku gak akan mau berbicara
dengan kamu lagi,” ucap Kesha, dengan tangan tak mau kalah merebut remot dari
Vino.
“Gak boleh,” ucap Vino, menarik ke dua alisnya dengan senyum
menggodanya.
“Sini,” Kesha beranjak berdiri, dan. Buukkk... Tubuhnya
jatuh tepat di atas tubuh Vino di atas sofa dengan ke dua mata saling tertuju.
Detak jantung mereka berpacu sangat cepat, pandangan mata
mereka tak mau beralih. Mereka terus saling memandang, membuat Vino semakin
memanfaatkan ke sempatan. Ia merengkuh erat pinggang Kesha.
“Apa yang kamun lakukan?” tanya Kesha, yang terkejut dengan
tangan Vino yang membuat tubunnya semakin tak bisa bergerak.
Vino hanya diam, ia memegang kepala belakang Kesha.
“Lepaskan aku, atau aku akan marah,” ucap Kesha.
“Lepaskan aku Vino,” kesha terus meronta mencoba melepaskan
tangan Vino dari pinggangnya.
Vino hanya tersenyum, menarik kepala belakang Kesha,
mendekat ke arahnya hingga benda kenyal menepel di bibir kenyal milik Kesha.
__ADS_1
Membungkam mulut Kesha agar tidak berkata lebih banyak lagi.
Mata Kesha melebar seketika, merasakan benda kenyal semakin
lembut mengecupnya. Bahkan semakin dalam dan liar.
Kesha yang semula meronta, tiba-tiba hatinya mulai tertarik
dan tak bisa menolaknya. Ia hanya bisa diam dan pasrah. Seakan hatinya tak mau
menolak apa yang Vino lakukan sekarang. Ia membalas kecupan Vino, membuat pria
itu semakin suka dan menggila. Tangannya merayap di punggung Kesha, mengusapnya
lembut.
Mereka beruda bernajka kompak dengan tangan Vino masih
merengkuh erat pinggang Kesha. Ia beranjak berdiri dan berbalik posisi Vino
membuat Kesha tak bisa berkutik dan hanya dia, kecupan Vino semakin menggila
menjulur ke lehernya.
Membuat suara desahan keluar dari mulut Kesha. Jemari tangan
Vino mulai nakal merayap masuk dalam helaian kain yang menutupi tubuh kesha,
dan. Plaakkkk...
Tangan Vino menarik bra belakang milik kesha sontak menbuat
gadis itu terjingkat dari duduknya. Ia beranjak berdiri dengan wajah kesal menatap
Vino di depannya. Dan tangan ke belakang, mencoba memasang branya kembali.
“VINOO....!!” teriak Kesha kesal, menjamkan tatapannya.
“He.. he.. Maaf, lagian kamu terlalu serius begitu,” ucap
Vino semakin membuat Kesha semakin kesal.
Disaat ia menikmati apa yang Vino lakukan. Dan ternyata Vino
hanya menggodanya dan bercanda. Membuat Kesha semakin geram. “Shiitt.. Vino
beraninya, kamu menggodaku, awas saja nanti aku akan balas perbuatanmu” ucap
Kesha, yag masin mencoba memasang kembali tali belakang bra miliknya.
Vino hanya tersenyum melihat Kesha yang kesusahan, tanpa
meminta bantuanya.
“Sini, aku bantu.” Ucap Vino. Melangkahkan kakinya mendekati
Kesha.
Kesha yang merasa was-was dengan Vino, ia melangkahkan
kakinya mundur ke belakang menjauhi Vino. “Jangan mendekat,” ucap Kesha tegas.
“Aku hanya membantu kamu, dari pada kamu gak bisa” ucap
vino, menarik ke dua alisnya ke atas.
“Aku gak butuh bantuan kamu, aku bisa melakukannya sendiri.”
Ucap Kesha.
“Baiklah, kalau memang kamu bisa.” Vino menghentikan
langkahnya, dengan ke dua tangan melipat di atas dadanya. Memandang kesha yang
belum juga bisa.
“Aku sudah bilang, sini aku bantu” ucap Vino, medekap tubuh
Kesha, dengan ke dua tanganya ke belakang. Menyelip di balik kain belakang
punggung kesha.
“Sudah, sekarang sudah terpasang” ucap vino, mengusap lembut ujung kepala
__ADS_1
Kesha. Mmebuat wajah Kesah memerah, tersipu malu. Dengan kelembutan jemari
tangan Vino.