
"Manda jangan terlalu banyak bergerak dulu, sudah berbaringlah."ucap Kesha, yang masih memegang kaki Manda
"Iya syang diamlah dulu, nanti kalau s7dha waktunya makan. Kamu baru duduk ya"gumam Aron pada Manda, yang ingin duduk bersandar di ranjang pasien itu.
"Aku gak bisa duduk aja syang, aku ingin tahu keadaan aku sebenarnya dari dokter. Aku tahu kamu bohong padaku kan. Aku ingin membuktikan sendiri bertanya pada dokter."ucap Manda memukul dada bidang Aron berkali-kali.
"Manda tenanglah, aku bicara jujur padamu. Anak kita baik-baik saja. Sekarang kanu tenang ya" Aron langsung memeluk tubuh Manda yang berbaring di kamar pasien. Ia ingin memenangkan hatinya. Dia gak mau Manda akan emosi lagi, dan Aron takut jika emosinya tidak bisa di kontrol lagi.
"Manda yang di katakan kak Aron benar, jadi kamu jangan khawatir ya"saut Kesha yang masih berdiri di samping Manda.
"Apa kamu benar Sha"ucap Manda. menatap ke arah Kesha, Aron melepaskan pelukannya seketika saat Manda sudah mulai tenang.
"Apa kamu tahu kapan aku bohong padamu"ucap Kesha.
"Baiklah aku percaya dengan kalian. Dan kenapa Vino menunduk"tanya Manda yang menatap ke arah Vino yang masih diam duduk di sofa. Seakan dia merasa ada bebanĀ pikiran yang menganggunya.
Kesha menatap ke arah Vino. "Vin kenapa kamu diam?" tanya Kesha berjalan mendekati Vino.
"Gak apa-apa, aku keluar dulu ya kak. Dan Manda semoga cepat sembuh"ucap Vino beranjak berdiri, tersenyum menyapa Manda dan Aron. Ia berjalan keluar dari ruangan di Mana pManda di rawat.
Aron menatap ke arah kesha memberi kode padanya untuk mengejar Vino, yang sepertinya lagi kesal dengan kakanya. Aron tidak bisa mengejarnya dan menjelaskan. karena ia kini harus fokus untuk merawat istrinya dulu. Dan Aron lebih memilih membiarkan Vino agar bisa berpikir dewasa sendiri. Lagian dia masik sangat kecil untuk menikah. Balum bisa jadi Istrinya.
Sifat Vino yang terkadang seperti anak kecil. Aron belum bisa melepaskan dia seutuhnya. Apalagi jika dia menikah dan tinggal bersama istrinya, saat itu maka Vino akan semakin jauh dari Aron.
Meskipun begitu, Aron tahu Vino bukan anak oecip lagi, yang harus selalu di pantau setiap hari. Setiap apa yang ia lakukan. Dan pada saatnya dia menikah ia akan benar-benar lepas dengan kakanya. itu yang semakin membuat Aron tak bisa menjauh darinya.
Kesha berjalan pergi mengikuti kemana Vino pergi. Dan manda hanya diam menatap ke arah Aron. Dia bingung sebenarnya apa yang terjadi pada mereka. Kenapa Vino terlihat sedih. Dan sekana ia ingin marah namun hatinya selalu menahannya.
__ADS_1
"Syang, kenapa Vino? Apa mereka ada masalah lagi" tanya Manda.
"Gak tahu syang, sepertinya gara-gara aku belum mengizinkan mereka untuk me ikah. "ucap Aron yang sekarang duduk di samping Manda.
"Kenapa kamu gak mengizinkan mereka" tanya Manda penasaran.
"Mereka belum sama-sama dewasa. Jadi lebih baik jika mereka jalani hubungan seperti ini dulu. Apalagi Vino suka labil dalam hal persaan. Karena pernikahan itu adalah hal sakral yang tidak di buat permainan seenaknya. Aku harap dia bisa jadi lebih dewasa dulu, dan aku ingin melatih kemampuan kerja dia dulu di perusahaanku."ucap Aron menjelaskan pada Manda. Dan tangannya tak pernah lepas dari tangan Manda. Ia terus menggegam tangan lembut milik Manda.
"Kenapa kamu gak memberi dia kesempatan syaang. Bukannya aku pernah menasehati kamu dulu. Sekarang kamu berubah pikiran lagi."ucap Manda mengusap kepala suamianya itu oenuh manja.
"Oya syang agak dekat sini wajahnya"lanjut Manda.
"Emangnya mau di apain sih syang?" tanya Aron, mendekatkan wjaahnya ke arab manda tanpa rasa ragu lagi.
Sebuah kecupan di pipinya membuat ia terkejut. "Kamu sekarng lebih berni ya cium aku. Tapi aku maunya lebih dari itu"gumam Aron menggoda.
"Istriku galak banget sekarang, dia lebih sensitif dari pada biasanya"ucap Aron menggoda.
"Permisi tuan"ucap perawat yang masuk ke ruangan Manda.
"Iya masuklah"ucap Aron.
"Ini tuan makanan untuk non Manda. Dan ini juga obatnya."Ucap perawat itu, an segera pergi.
Melihat oelyan sudah pergi, Manda sudag mernggilai Hti dan perasaan zuaminya.
"Suapin."ucap Manda dengan manjanya. Rasa khawatir yang tadinya begejolak dalam dirinya karena takut kehilangan anaknya. Tapi sekana rasa khawatir itu hilang. Ia yakin pada ucapan Kesha dan Aron jika anaknya baik-baik saja. Dan kini dia juga lebih jaga pikirannya agar tidak mudah stres dan menganggu perkembangan bayinya nanti.
__ADS_1
" Baiklah, tapi aku bantu kamu duduk dulu"ucap Aron membantu Manda untuk duduk. "Pelan-pelan syang."ucap Aron.
"Sekarang kamu makan ya habiskan semuanya"ucap Aron, yang mulai suapin Manda satu sendok pertama. "Oya kamu harus lebih banyak makan buah dan sayur ya. Agar bayi kita tetap sehat. Dan jangan lupa kamu gak bileh terlalu stress"ucap Aron mengingatkan pada Manda lagi.
"Iya bawel"ucap Manda tersenyum tipis menatap Aron.
"Kenapa bilang aku bawel"Aron mencubit penuh perasaan hidung Manda.
"Sakit."ucap Manda mengusap hidungnya yang terasa sakit.
"Udah sekarang makan lagi, jangan banyak bicara"Gumam Aron.
"Iya, iya, ini juga kamu suapin kan. kalai kamu ajak aku biacara gimana mau nelan makananya."ucap Manda dengan mulut yang amsih penuh dengan makanan.
"Iya, maaf. lanjutkan dulu."Aron terus menatap wajah Manda yang lucu saat mulutnya penuh dengan makanan. Bisa-bisanya istrinya itu berbicara sambil menguyah makanan.
"Aku lanjut makan sendiri saja, kamu kupas buahnya ya. Di potong kecil-kecil sekalian. Dan belikan aku susu buat ibu hamil juga ya"ucap Manda, meraih satu nampan makanan berisi sayuran dan nasi di pangkuan Aron.
"Iya entar aku biar suruh Kesha beli susu buat kamu. Dan sekalian beli buah-buahan yang kamu ingainkan kemarin"Aron tersenyum tipis berharap semoga Manda tidak ingat jika menyuruhnya ke pasar tradisonal untuk membeli buah-buahan.
"Oo.. iya aku lupa. Aku menyuruhmu beli buah apukat, anggur dan semangka kan. Mana sekarang?" Manda menatap sekelilingnya tak ada buah yang ia inginkan. Hanya buah jeruk dan buah apel di piringnya. "Kenapa selalu buah apel lagi, apel lagi"gumam Manda kesal. Ia sudah bosan makan buah jeruk dan apel. Aron juga membelikan Manda di rumah buah itu. Dan di rumah sakit juga sama.
"Iya nanti aku belikan sekalian syang. Tapi boleh aku suruh Kesha kan?" tanya Aron memastikan. Takut di semprit makanan nantinya.
"Apa?" Manda melebarkan matanya menatap ke arah Aron. "Apa kamu bilang?"lanjut Manda.
"Bentar.. sepertinya aku pernah menuruh kamu beli di..."Aron menutup mulur Manda untuk tidak berbicara keras tentang itu di rumah sakit. Dan berharap istrinya itu lupa.
__ADS_1
"Emm.. lepaskan tanganmu. Apa kamu gak lihat aku lagi makan"ucap kesal Manda pada Aron.