Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Teman Manda


__ADS_3

"Da tadi itu siapa?" tanya Vina, menepuk bahu temannya itu.


"Oo. lelaki tadi itu anak manajemen bisnis" ucap Manda cuek.


"Dia sangat tampan" ucap Vina, dengan pandangan terus kedepan mengagumi Albert yang membuatnya tak bisa berhenti tuk mengagumi ketampananya.


"Jadi dia anak manajemen juga, tapi beda jurusan. Kenapa gak ambil akutansi sama dengan kita. Biar aku bisa duduk di sebalahnya menatap wajahnya terus. Setiap saat, setiap detik, setiap menit." ucap Vina.


"Jangan terlalu berlebihan, kalau kamu memandangi dia terus dia bakal kepedean nanti, lagian iya kalau dia suka dengan kamu. Kalau tidak, kamu yang akan sakit hati nantinya. Aku gak mau teman aku ini sakit hati, pada lelaki seperti dia." ucap Manda, ia tidak merespon senang dari wajanya tentang lelaki itu.


"Aku pergi dulu, mau konsultasi sama dosen, kamu kalau mau kenalan sama dia. Mending sekarang kamu kejar dia, yapi ingat jangan berlebihan jika mau kenalan sama lelaki" ucap Manda tersenyum tipis berlari meninggalkan Vina. Sebelum temannya itu banyak tanya lagi tentang lelaki nyebelin yang selalu bertemu dengannya.


"Eh.. Da, Tunggu!" teriak Vina.


Ya, masak aku suruh kenalan sendiri. Gak banget tahu gak Manda. Em, tapi bentar... sepertinya aku harus kenalan sendiri. Nanti kalau menyuruh orang, lelaki itu malah suka dengan orang yang akus uruh malah gagal aku... Sekarang aku coba dekati dia. Semoga berhasil....


Vina, berjalan mendekati Al, yang dari tadi masih duduk di taman menyendiri, dengan airphone di telingannya.


"Hai.." Sapa Vina, tanpa di perhatikan oleh Al sama sekali.


"Hey.." sapanya lagi, namun hasilnya tetap nihil.


Vina segera melepas airphone Al, dan berteriak di telingannya. "Wooooy..."


Teriakan keras Vina, membuat Al bangkit dari duduknya, ia berdengus kesal menatap ke arah Vina.


"kamu siapa?" tanya Al jutek.


"Aku Vina" Jawabnya nengulurkan tangan ke arah Al.


"Oo.. ya sudah.. sekarang kamu pergi. Aku lagi sibuk" ucap Al, yang mulai memasang airphone miliknya lagi. Dan beranjak pergi, dengan tangan seakan menikmati alunan musik keras yang ia dengarkan.


Vina, menghentakkan kakinya kesal.


"Ini lelaki nyebelin banget, kalau enggak ganteng udah aku tampar dia. Tapi aku harus sabar, dan lebih baik sekarang aku kejar dia, terus pepet dia sampai dia menatapku."


Vina berlari mengikuti Al, menepuk bahu kanannya, dan berjalan ringan di sampingnya. "Kamu siapa?" tanya Vina, tanpa rasa malu.

__ADS_1


Al hanya diam, dan masih menikmati musik yang ia dengarkan. Merasa terus tak di hiraukan, Vina menarik airphone milik Al, dan membuangnya ke depan.


"Apa-apaan kamu? Dasar gila" ucap Al kesal, mendorong tubuh Vina menjauh darinya.


"Kamu yang gila, kalau emang aku gak boleh tanya ya sudah, nyebelin" ucap Vina. Melotot dengan tatapan menantang? Melangkahkan kakinya pergi, menenggor bahu Al hingga terpental.


"Aneh banget tu orang" ucap Al, tak perdulikan lelaki itu lagi.


Vina terus berjalan emnjauh mencarai Manda, bahkan tiap langkah ia terus menghentakkan kakinya dan terus bergumam gak jelas. Dasar itu laki udah nyebelin, bikin aku semakin naik darah, padahal aku hanya ingin kenalan tapi malah di balas jyek seperti itu. Dan aku juga di katain gila lagi,  baru kali ini aku di tolak dengan lelaki dan di katain gila. Padahal ya memang dia sendiri yang gila. Nyebelin, bikin aku rasanya ingin mengusap-usap terus rambutnya. Sekalian mukanya biar berantakan.


"Kamu kenapa?" tanya Manda yang baru keluar dari ruang dosen. Ia melihat Vina yang terus bergumam gak jelas dengan langkah kesalnya melewati Manda.


"Eh.. kamu udah selesai Da?" tanya Vina.


"Belum ketemu dosennya" ucap Manda


"Oo." ucap Bina jutek, wajahnya masih di tekuk kesal.


"Kenapa wajah kamu?" tanya Manda memegang wajah Vina.


"Da, lelaki itu ternayat nyebelin, dia udah berani ngatain aku gila?" ucap Vina.


"Ih.. kamu sama saja, lagian kamu yang menyuruhku tadi krnalan sama dia sendiri. Kalau kamu bantuin aku kayaknya gak seperti inj" ucap Vina kesal. Ia memutar matanya memandang seketar taman, pandangannya terhenti saat melihat suami Manda seperti orang bingung.


"Eh.. Da itu bukannya suami kamu?" tanya Vina, menunjuk ke arah di mana ia melihat suami Manda.


"Gak mungkin dia datang ke kampus ku!" ucap Manda.


"Lihat dulu baru komen" ucap Vina, memegang dagu Manda dan menarik ke arah di mana suaminya berdiri.


"Iya, kenapa dia di sini?" gumam Manda, yang langsung meninggalkan Vina sendiri.


"Yah.. dia ninggalin aku. Padahal aku belum selesai bicara tadi" gerutu Vina. ia tak mau mengikuti Manda dan lebih memilih pergi ke kantin. Dari pada mengganggu privasi temannya itu dengan suaminya.


---000---


Manda berjalan ringan menghampiri Aron.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Manda.


"Eh.. kamu di sini syang, u tadi mencarimu kemana-mana" ucap Aron dengan wajah yang terlihat sangat panik.


"Emangnya kenapa?" tanya Manda bingung.


"Lia syang, Lia gak ada syang" ucap Aron dengan nada cepat dan terengah engah.


"Maksud kamu gak ada gimana?" tanya Manda.


"Dia hilang syang" ucap Aron, memegang ke dua bahu Manda.


"Apa? Gimana dengan Duke? Dan kenapa dia bisa hilang? Apa kamu gak jaga dia?" tanya Manda bertubi-tubi dengan nada khawatirnya.


"Sudah sekarang kamu ikut aku, kita cari dia bersama. Duke sekarang di kantorku, Aku suruh manajer aku jagain dia sekalian baby sisternya juga di sana" ucap Aron terburu-buru.


"Ya, sudah sekarang aku ikut kamu, tapi bentar aku bilang ke Vina, agar dia ijinin aku di mata kuliah berikutnya" ucap Manda, segera berlari menghampiri Vina.


Setelah menemui Vina, ia memberi tahu semuanya pada temannya itu, agar dia mau mengijinkan ke dosen kalau dia tidak ikut mata kuliahnya.


"Ayo cepat pergi" manda menarik tangan suaminya, segera masuk ke dalam mobil dan mencari Lia. Meski Lia anak angkat tapi syang mereka sama dengan Duke.


"Kamu jelasin kanapa dia bisa hilang?" tanya Manda.


"Dia tadi keluar sebentar ikut aku ke ruang meeting tapi entah tiba-tiba saat aku tinggal bicara sebentar dengan Client dia gak ada di samping aku" ucap Aron, ia terlihat sangat khawatir.


"Bentar? Kamu tadi di kantor atau di luar?" tanya Manda.


"Di kantor?" ucap Aron, yang masih fokus dengan jalan di depannya.


"Bentar, kalau kamu di kantor, berarti yang menculik Lia, dia orang kantor situ. Dan gak mungkin akan pergi jauh" ucap Manda. "Kita balik ke kangor sekarang, kalau sang penculik pergi jauh. Dia pasti kelihatan siapa yang keluar sekarang pada saat jam kantor" tegas Manda.


"Benar juga kata kamu syang, aku akan hubungi manajer aku. Sepertinya di dalam kantor ada yang tidak beres." ucap Aron. "Oya, sekalian cek siapa tamu yang datang selama jam meeting tadi." gumamnya.


Aron segera menghubungi manajernya, bertanya tentang karyawan yang pergi atau datang selama jam kantor sebelum meeting. Dan jawaban itu belum ia tetima dan ia masih menunggu untuk pengecekkan lebih lanjut.


"Dia masih cek semuanya" ucap Aron.

__ADS_1


"Aku khawatir dengan Duke juga, dia di sana. Lebih baik kita segera pergi sebelum penculik itu membawa Duke sekalian." ucap Manda semakin tidak tenang dan terus khawatir.


__ADS_2