
Selesai makan bersama Vino dan keluarga Kesha pergi ke rumah
Manda. Untuk melihat anak-anak Mnada yang membuat mereka merasa ingin sekali
menjenguknya, bahkan menggendongnya.
Mama Kesha menggendong Axcel dan papa Kesha menggendon
brandon. Mereka melirik sekilas ke arah Kesha yang hanya diam, memandang ke
arahnya. Dengan tangan menyengga dagu manisnya.
“Kenapa kalian mentapku seperti itu?” tanya Kesha
mengerutkan alisnya.
“Kamu pasti tahu apa maksud mama kan Sha?” tanya mamanya.
“Ya, mana Kesha tahu ma, kalau mama gak bilang sama Kesha.
Apa maksud mama”
Manda yang melihat mereka tersenyum, “Sha, mama kamu itu
sudah ingin punya cucu. Masak kamu gak tahu dari kode mata meeka” goda Manda,
membuat Kesha menguntupkan bibirnya kesal.
“Iya Sha, kapan kamu punya anak. Mama dan papa sudah mulai
tua. Kita juga ingin segera menggendong cucu” sambung mama Kesha.
Kesha menarik napasnya dalam-dalam. “Gimana bisa mama bicara
seperti itu, Kesha saja belum menikah ma” ucap Kesal Kesha. Setiap mama Kesha
bersama dengan anak Manda selalu saja itu yang di bicarakan. Kapan punya cucu,
dan selalu mendesak Kesha untuk segera menikah.
“Ya, makanya kamu harus segera manikah. Vino juga sudha mau
menikahi kamu dengan segera” ucap papa Kesha, seketika membuat Kesha kembali
menarik napasnya dalam-dalam, mengusap dadanya. Menahan rasa kesal yang
menguntup di hatinya.
“Kenapansetiap hari, setiap detik, bahkan setiap menit. Apa
yang kalian bicarakan selalu sama. Kapan punya anak, dan menikah dengan Vino. Apa
gak ada laki-laki lain selain Vino gitu. Kayak di dunia ini laki-laki hanya
Vino saja” gumam Kesha kesal.
Vino yang tadinya keluar dengan aron untuk membuat makanan
ringan untuk Mnada. Vino juga ingin belajar banyak dari kakanya. Untuk urusan
masak. Ia yang baru saja masuk ke kamar Manda, mendengar sedikit pembicaraan
mereka. Dan segera melangkahkan kakinya, duduk di samping Kesha, memegang ke
dua tangan Kesha, dengan tangan kanan memegang pipi Kesha.
Membuat gadis itu, menoleh menatap ke arahnya. Ke dua mata
mereka saling tertuju satu sama lain.
“Sha, aku tahu banyak laki-laki di dunia ini yang jauh lebih
baik dari pada aku. Tapi setidaknya hanya satu laki-laki yang berada di hati
kamu kan. Meski kamu tidak mau mengakuinya.” Ucap Vino dengan wajah seriusnya.
Kesha hanya diam, ia tidak bisa bersuara apa-apa lagi.
Karena yang di katakan Vino, memang benar apa adanya. Meski dari mulut berkata
tidak. Tapi di hati beda, ia masih menyimpa perasaan yang sama dengan Vino.
“Aku tahu mulut kamu memang bisa berbohong. Tapi dari
pandangan mata kamu, dan hati kamu tidak bisa berbohong lagi” lanjut Vino.
Semua wajah yang melihat mereka mentap serius. Bahkan Duke
dan Lia yang juga tadi melihat mereka. Kini ke dua mata mereka di tutup oleh
Aron agar tidak melihat kejadian itu.
“Om, Tante, Kak Aron serta Manda. Kalian jadi saksi ucapan
aku. Jika aku akan segera menikahi Kesha. Setelah dia memutuskan pertuangannya
dengan Albert. Dan aku gak mau bertunangan lebih dulu. Kita akan langsung
__ADS_1
menikah. Aku gak mau lagi kelamaan, nanti malah keburu di ambil laki-laki lain
lagi” ucap Vino yang semula serius, berubah menjadi snyum tipis terukir di
bibir para wajah yang melihatnya.
Pembicaraan mereka semakin jauh, uantuk melanjutkan apa yang
di katakan Vino tadi. Ke dua orang tua Kesha juga setuju. Vino benar-benar
tulus, tidak pernah macam-macam dengan anaknya. Dan Manda juga Aron sangat
setuju dengan semuanya. Dan Akhirnya mereka membuat kesempatanyang kini semakin
membuat Kesha tidak bisa bicara apa-apa lagi.
Ia hanya diam, memikirkan cara untuk bicara dengan Albert
nantinya. Apa dia akan terima dengan keputusan orang taunya atau tidak. Ia
takut akan melukai hatinya. Apalagi Albert juga sudah membicarakan hal
pernikahan dengan kedua orang tuanya. Bahkan mereka juga sudah ingin pergi ke
rumahnya, membicarakan hal pernikahan.
Pembicaraan mereka sangat serius, membuat mereka lupa jika
sudah larut malam, Duke dan Lia ketiduran di ranjang Manda. Dan dua anak
kembarnyajuga ia baringkan di ranjangnya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam.
Keluarga Kesha suidah pergi dari rumah Mnada. Dan Vino kali ini menginap lagi
di rumahnya. Ia sudah masuk ke dalam kamarya dengan wajah yang penuh dengan
senyuman terukir jelas di wajahnya.
“Syang, kamu tidur di sofa sekarang” tanya Aron apda Manda.
“Iya, syang mau gimana lagi. Aku juga gak mau mengganggutidur
mereka. Dan kamu tidur di lantai ya. Temani anak-anak. Biar nanti kalau mereka
bangun, kamu bisa dengar lebih dulu” ucap Manda tersenyum tipis, ia mengambikan
selimut tebal untuk Aron.
“Kamu yang tidur di bawah syang, Ada tempat tidur lipat di lemari.”
“Ya, sudah ambilkan sekarang” ucap Manda.
Aron dan Manda sudah mulai berbaring di tempat tidur lipat
berdua saling merengkuh erat. Hal yang sudah lama tidak pernah lagi Aron
rasakan saat Manda Hamil.
````
Vino yang sudah di kamarnya lebih dulu, ia masih belum
memejamkan matanya. Ia masih terbaring di ranjang dengan tangan memegang
ponselnya.
“Apa aku kirim pesan ya pada kesha!!” gumam Vino.
Merasa segera ingin menghubungi Kesha, ia mengirim sebuah
chat untuknya.
“Sha!!”
“Apa?”
“Kamu belum tidur?”
“kalau aku sudah tidur gak mungkin bisa bals chat kamu”
“Oo.. Iya”
“Iya”
“Kenapa jutek?”
“Siapa yang jutek?”
“Kamu”
“Udah aku mau tidur jangan ganggu” Balas Kesha terkahir.
“semoga mimpi indah, mimpiin aku ya”
Merasa sudah tidak ada balasan chat dari Kesha. Ia segera
__ADS_1
memejhamkan matanya. Dengan ukiran senyum masih terpaut jelas di bibirnya.
---
Keesokan hariya,
Jarum jam menunjukan pukul delapan pagi. Manda dan Aron sudah
sibuk mengurus anaknya. Bahkan, Aron sekarang tidak pergi ke kantor. Dia sudah
ada yang gantikan untuk sementara, yaitu, Vino.
Aron mau beberapa hari meluangkan waktu untuk bersama dengan
anaknya.
“Syang, Axcel nangis” ucap Aron, yang terlihat bingung
melihat Axcel yang tiba-tiba nangis dalam gendongannya.
“Tenangin dulu syang, aku masih nyusui Brandon.” Manda juga
masih bingung Brandon terus nangis barengan dengan Axcel.
“Mama, Duke mau mandi, baisanya Dfuke, mama yang mandiin,”
“Ma, biar Brandon sama Lia ya” saut Lia menraik baju Manda.
“Kamu mau jaga adik kamu, Syang”
“Mau ma” jawab Lia antusias.
Brandon yang sudah mulai gak nangis lagi, ia segera
membaringkan anaknya di atas ranjang.
“Syang!! Kamu jaga Brandon ya, kamu tidur di sampingnya.
Mama mau nenagin Axcel dulu.”
“Syang!! Cepetan Axcel gak mau berhenti nangis” ucap Aron
yang sudah mulai panik.
“Iya syang!! Sini biar aku susui dia” Manda terlihat bingung
dengan anak-anaknya yang benar-benar bikin dia tambah pusing dibuatnya.
“Mama kapan mama mandiin Duke” saut Duke yang sudah mulai
kesal.
“Syang!! Kamu mandi sama papa ya”
“Gak mau, aku mau sama mama!!”
“Syang,, mama lagi sama adek. Jangan begitu ya, nanti kalau
adek sudah tidur , mama mandiin kamu lagi ya” ucap Manda.
“Mama ngeselin”
“Duke sama papa yuk main!!” ucap Aron, yang berjalan
menghampiri Duke.
Duku memajukan bibirnya manyun beberapa senti. “Main kamana?
Dan main apa?” tanya Duke jutek.
Duke merasa kesal semenjak ada dedek baru, papa dan mamanya
gak pernah perhatian dengan Duke. Dan semua perhatian orang tuanya hanya pada
semua adek barunya.
“Duke, kamu jangan ngambek gitu!!” ucap Manda.
“mama udah gak syang sama duke!!” Aron mengusap lembutujung
kepala Duke.
“Siapa yang gak syang sama Duke. Mama, dan papa syang sama
Duke syang banget. Dan syangnya sama pada dengan Lia dan adek baru kalian. Kita
tidak membedakan sama sekali di antara kalian, tapi kalau adek kalian rewel. Mama
juga harus menyusui adik kalian. Dulu Duke waktu kecil juga seperti itu” ucap
Aron menjelaskan.
“Iya, jadi jangan berpikir jika mama gak syang sama kamu. Mama
sangat syang sama Duke dan Lia juga”
Duke terdiam, ia menarik tangan Aron. “Mau kemana syang?”
__ADS_1
tanya Aron.
“Mandi, Duke gak mau di mandiin baby siter” ucap Duke.