
Jarum jam sudah menunjukan pukul 04 sore. Kesha dan Vino sudah bersiap untuk berangkat ke Vila nantinya.
"Kak, koper aku dan Kesha, sudah ada di mobil belum?" tanya Vino, berjalan mendekati Aron, yang sibuk dengan ke dua baby-nya.
"Sudah semuanya. Kamu tinggal berangkat saja, Vin."
"Hati-hati. Pulang bawa kabar baik untuk Kesha." saut Manda dengan senyum menggoda, Vina.
"Maksud kamu?" tanya Vino bingung.
"Masak kamu gak tahu, apa maksud aku."
Vino hanya diam, menggelengkan kepalanya.
"Kabar kehamilan Kesha nanti, Vino" saut Aron cepat.
"Aku ke Roma hanya sebentar, Manda. Gak sampai satu bulan juga." ucap Vino.
"Sudah cepat berangkat. Aku sudah siapkan semuanya di mobil. Dan termasuk tiket untuk kamu." Aron menepuk bahu Vino, dan beranjak pergi membawa ke dua anaknya pergi.
Vino segera melangkahkan kakinya menghampiri Kesha, dan di sambut dengan pelukan di tangan kiri Vino. Kesha langsung berjalan keluar, melemparkan bunga itu ke belakang. Dan langsung masuk ke dalam mobil.
Semua orang berebut untuk mendapatkan bunga itu. Sedangkan Vino dan Kesha, mulai berangkat menuju ke sebuah Vila di atar sopir Kak Aron.
"Syang ini apa?" tanya Kesha, yang tak sengaja menemukan sebuah amplop di bawah ia duduk.
"Apa ini yang di maksud kak Aron tadi." gumam Vino
Vino segera meraih amplop itu, dan mulai membukanya. Mata Vino seketika melebar tak percaya dangan yang di berikan kakaknya itu. Sebuah tiket liburan ke lima negara yang berbeda. Dan sebuah atm.
"Ada suratnya syang!" ucap Kesha, yang mulai mengambil surat itu. Dan mulai membacanya.
"Vino itu untuk kamu. Setelah kamu pergi ke Roma. Kakak sudah pesankan tiket liburan ke lima negara yang berbeda. Dan sekalian aku kasihkan atm kamu dulu, yang pernah kamu berikan pada kakak. Uang di situ masih sangat cukup bahkan lebihnya bisa buat kamu. Itu untuk bekal bulan madu kamu,"
"Kak Aron, ternyata baik banget ya," ucap Kesha. Meraih tiket di tangan Vino.
"Kita liburan kemana saja syang?" tanya Vina.
__ADS_1
"Jangan di lihat sekarang, nanti saja di dalam kamar."
------
Hingga dua jam perjalan, Kesha yang sudah gerah dnegan dengan gaunnya. Ia tidak tidak tahan lagi ingin melepasnya.
"Sudah sampai tuan pitri, mau jalan sendiri atau aku gendong?" tanya Vino, yang beranjak keluar lebih dulu. Mengulurkan tangannya ke arah Kesha, bak seorang ratu kerajaan.
Kesha hanya diam, dan beranjak keluar dari mobilnya. Tanpa menerima ukuran tangan Vino.
Merasa di abaikan Vino, mengangkat tubuh Alana langsung berjalan menuju ke Vila, yang terletak sedikit jauh, karena memang berada tepat di pinggir laut.
"Vino, turunkan aku!!" Vina memukul manja dada bidang milik Vino.
"Diamlah!! Mau gak bisa jalan sendiri nanti. Biar aku yang gendong kamu," ucap Vino, berjalan masuk ke dalam Vila yang udah sejak awal ia siapkan. Vila yang sangat indah, dengan pemandangan pantai yabg terlihat jelas di depannya.
Brukkk...
Vino membaringkan tubuh Vina di ranjangnya. "Kita mulai sekarang ya syang!!" goda Vino, berbaring di samping Kesha, mengusap manja wajah gadis itu dengan jemari-jemari-jemarinya.
"Emmm.. Kalau aku gak mau gimana?" tanya Kesha, mendorong tubuh Vino pelan." Ia beranjak duduk, Vino yang sudah tidak sabar, ia menarik tangan Kesha, hingga gadis itu jatuh tapi di atas tubuhnya.
"Nanti malam saja syang!!" goda Kesha, mengusap lembut wajah Vino, dengan jemarinya. Hingga membuat pria itu nafsu menatapnya.
Kesha beranjak berdiri, melangkah menuju ke cermin, mencoba melepaskan gaunya.
"Aku gerah syang!!" ucap Kesha. Ia sudah tidak betah terus memakai gaun panjang itu, yang membuatnya sangat penas.
"Sini aku bantu lepaskan," Vino membuka resleting belakang gaun Kesha. Sembari menatap punggung halus milik istrinya, yang perlahan terbuka sempurna.
Kesha menjatuhkan gaunnya ke lantai, ia ingin melangkahkan kakinya. Dengan sigap Vino langsung memeluknya dari belajang, dengan ke dua tangan memegang dadanya, yang masih terbalut bra.
"Kamu mau pergi kemana?" bisik Vino, sembari menggigit telinga Kesha, lalu menciumi leher belakangnya, membuat Kesha mengeliat geli. Di sambut dengan sentuhan keras Vino di dadanya. Suara desahan keluar dari mulut Kesha, menikmati sentuhan manja Vino, sebagai pamanasan saja.
Krukkkk....
Krukkk...
__ADS_1
Kedua perut mereka berbunyi. Membuat Vino menghentikan aksinya, ia mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa sangat lapar. Sama dengan Kesha, ia mengusap perutnya yang sangat lapar. Ia belum makanan dari tadi pagi, membuatnya perutnya terasa sakit.
"Syang aku lapar!!" ucap Vino, merengek. Seakan berharap Kesha masak sesuatu untuknya.
"Kau juga syang!!"
"Gimana kalau kita masak?"
"Masak apa? Aku saja gak bis amasak," jawab Kesha terus terang.
Vino memegang tangan Alana, menarik tubuhnya segera keluar dari kamarnya menuju ke dapur.
"Syanng!! Aku belum pakai baju," ucap Kesha malu.
"Di sini hanya kita berdua. Aku mau kamu tetap seperti ini dneganku. Saat berdua, aku gak mau kamu oakai baju," ucap Vino.
"Tapi Vin.."
"Kenapa malu syang!! Di sini hanya kita berdua, gak ada yang melihat kemolekan tubuh kamu.
"Baru kali ini Vino melihat Kesha berdiri hanya dengan bra dan celana dalam miliknya. Menatap Vino gang sedang mencari makanan di dapur.
"Hanya ada mie. Apa kamu mau?"
"Gak apa-apa, yang penting aku makan. Setelah itu aku mau berendam. Capek banget aku syang!!" ucap Kesha, memeluk manja tubuh Vino dari belakang. Membuat dadanya menempel di punggung Vino, seketika Vino tak bisa menahannya lagi.
"Jangan di belakangku, sekarang kamu yang masak. Kamu pasti bisa kalau hanya mie instan." ucap Vino, menarik tubuh Kesha ke depan. Kesha yang mulai masak seketika terkejut, merasakan sentuhan tak terduga di daerah intinya. Yang terus mengusap-ngusap lembut miliknya.
"syang!! Hwntikan, aku maish buat mie ubtuk kamu." ucap Kesha, yang menggeliat meraskan sensasi sentuhan jemari Vino.
"Diam syang, aku ingin buat kamu basah lebih dulu," bisik Vino, yang mulai memainkan daerah inti yang masih terbalut kain. Dnegan tangan kiri, tak berhenti memegang dadanya. Dengan kecupan mesra di belakang lehernya.
"Emmm... Vino!!" ucap Kesha, menggesek pahanya. Dengan tubuh mengeliat mneikmati sentuha Vino
Desahan terus keluar dari mulutnya. Saat jemari tangan Vino berhasil masuk, di sela-sela kain kecil yang menutupi intinya.
Kesha berusaha tetap tenang sembari memasak, Vino yang semakin liar membuatnya tak bis kosentrasi masak. Sentuhan jemarinya membuat kepuasan tersendiri dari Vino untuknya.
__ADS_1
"Syang!! Makan dulu," ucap Kesha, memegang tangan Vino di dadanya. Menariknya untuk menyudahi aksinya dulu.
"Baiklah, kita makan. Setelah itu kita lanjutkan lagi ya syang!!" ucap Vino, menarik tangannya di daerah inti Kesha.