Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Cerita masa lalu


__ADS_3

Awal yang pertamanya bercanda romantis berdua, gara-gara soal surat membuat Aron jadi gugup dan takut kehilangan Manda. Ia merasa itu surat dari orang yang pernah mengancamnya akan memberi tahu Manda siapa sebenarnya dia.


Meski ia sedikit merasa lega jika Aron Manda tidak tahu, tapi ia ragu Manda jujur atau hanya ingin menenangkan hatinya, dan setelah itu pergi.


Rasa takut kehilangan Manda membuat Aron tak bia berpikir jernih ia selalu curiga dan curiga.


"Syang ada apa?" tanya Manda menatap bingung ke arah Aron.


"Kamu gak marah denganku" gumam Aron.


"marah soal apa?" tanya Manda, ia semakin bingung dengan apa yang di katakan Aron.


"Apa kamu tadi gak lihat isi dari surat ini?" tanya Aron.


"Gak aku belum sempat membukanya"ucap Manda.


Aron yang tadinya sangat merasa panik kini ia membaringkan tubuhnya di ranjang, ia merasa lega Manda belum tahunsemuanya. Ia sudah janji akan memberi tahunya tapi tidak sekarang. Ini belum saatnya. "Jangan sampai orang itu mengatakan pada Manda lebih dulu. aku harus tangkap dia dan jebloskan dia ke penjara. Sebelum dia merusak hubunganku dengan Manda"batin Aron, dengan rahang yang mukai mengeras.


"Syang sebenarnya ada apa?" tanya Manda masih bingung melihat tingkah suaminya itu.


"Gak apa-apa syang, sini dekat denganku"ucap Aron emnarik tangan Manda untuk berbaring di sampingnya.


"Aku mau tanya boleh gak?" ucap Aron.


"Boleh, emangnya mau tanya apa?" tanya Manda bingung menatap Aron yang semakin aneh..


"Kamu gak mau cerita gimana kejadian orang tua kamu dulu? kenapa dia bisa klmeninggal" tanya Aron penuh keraguan. Dan menvoba basa-basi pada Manda meski sebanrnya dia sudah tahu semuanya. Ia juga ingin melihat Manda bisa terbuka dengannya soal masa lalunya atau tidak.


Manda terdiam sejenak, ia berat harus berkata tentang masa lalunya itu. padahal ia ingin membuang jauh kenangan menyakitkan itu Dan dendamnya. Tapi jika suaminya bertanya ia juga tak bisa menolak untuk cerita. Lambat laun juga semua kebongkar dan suamianya juga harus tahu tentang kebidupannya dulu.


"Kenapa diam?" tanya Aron mengusap kepala Manda.

__ADS_1


"Awalnya sih aku gak tahu siapa pembunuh orang tuaku, waktu itu ada seorang yang memegang senjata api, tapi aku tidak melihat dia menembaknya atau tidak. Tapi jelas-jelas di sana banyak darah dan orang tuaku terbunuh dengan luka tembakan. Dan orang itu juga bilang padaku jika orang tuaku punya hutang. Tapi setahu aku orang tuaku tidak pernah berhutang. Tapi kalau kakak aku yang berhutang aku tidak tahu. Karena memang dia sering minta uang orang tua aku untuk bersenang senang di sana"Cerita Manda, ia menahan air matanya yangbsekana mau menetes.


"Tapi kamu lihat jelas gak siapa yang bunuh, ada satu orang atau dua orang"tanya Aron yang mulai antusias ia memiringkan badanya dengan tangan menyangga kepalanya menatap Manda di sampingnya.


"Coba aku ingat dulu, setauku ada seorang lelaki di dalam mobil mewah berwarna hitam dan yang menembak orang tuaku masuk dalam mobil itu juga. Setalah itu entahlah. Kau merasa duriku terus bersalah dan aku semakin terpuruk karena keadaan itu. aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka. Bahkan kakak aku tidak oernah perduli denganku. Entah aku mati atau tidak mungkin dia juga tidak perduli. yang kakakku inginkan hanya uang dan uang"Gumam Manda, mencoba tersenyum meskipun berat untuk tersenyum.


Ia menahan air matanya yang terasa ingin sekali keluar jika mengingat ke dua orang tuanya. Kejadian tragis yang menimpa mereka membuat ia tak bisa terima.


"Ya, sudah jangan sedih. Sekarang ada aku yang selalu menemanimu sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu."ucap Aron mengusap lembut rambut Manda, mencoba menenangkan hatinya. Ia merasa sangat bersalah kali ini.


Sebanrnya Aron tidak begitu tahu kejadian itu. Setaunya dia tidak pernah membunuh orang di sebuah desa. Kalau di kota banyak, dan yang buwat ia bingung kenapa dia bisa berurusan dengan orang di desa yang tidak pernah ia kenal. Dari bukti itu ada yang ganjal, yang membuat ia masih curiga dengan semuanya.


"Kenapa kamu diam?"tanya Manda.


"Gak napa-napa gak nyangka jika nasib kita sama, sama-sama pernah terluka karena orang tua kita korban dari pembunuhan. Dan aku begitu sadisanya dulu denganmu. Mdmperlakukanmu dengan sangat kasar, mengingat kejadian itu aku sangat menyesal. Aku gak tahu jika kamu juga merasakan hal yang sama dengaku dulu. dan ditambah penyiksaanku dulu membuat kamu menderita dan semakin terpuruk pastinya."Ucap Aron, ia seakan menyesal dengan semua yang pernah ia lakukan dulu pada Manda.


Sekarang ia lebih berniat untuk menebus semua kesalahannya. "Aku akan membantu kamu kencari siapa pembunuh orang tua kamu sebenarnya"ucap Aron. seolah ia tidak merasa bersalah, dengan berbicara seperti itu ia juga bisa menyelidiki siapa sebenarnya dan apa motif dia membunuh.


"Maafkan aku Manda"Batin Aron menatap wajah sedih Manda.


"Oya, tadi ponsel kamu kebawa di tasku. Dan sempat ada telfon"ucap Manda mengambil ponsel Aron di dalam tasnya.


"Siapa yang telefon?" tanya Aron mulai panik lagi.


"Dari Vino, dia bilang mau pergi makan kuar dengan Kesha, ia ingin memperbaikai hubungan mereka agar semakin dekat"ucap Manda.


"Oo.. hanya itu, ya sudah"ucap Aron lega bukan dari orang yang biasa mengancamnya.


"Eh.. bentar ada satu lagi"


"Apa? dari siapa?" tanya Aron ia yang sempat lega kambali panik lagi.

__ADS_1


"Dari Vino lagi"ucap Manda.


"Huufff.. aku kira dari siapa"ucap Aron, akhirnya ia bisa bernapas lega kali ini. Manda benar-benar membuat ia jantungan lama-lama.


"Sepertinya kamu panik banget jika ada telefon"gumam Manda. "Apa kamu kira telefon dari wanita ya" Lanjut Manda mukai mengerutkan bibirnya dengan ke dua tangan bersendekap.


"Siapa sih syang, di ponsel aku tidak ada nomor wanita, hanya ada nomor kamu. Dan lagian kenapa aku menghubungi wanita lain. Dari dulu aku tidak pernah serius dengan wanita. Hanya saat bertemu dengamu aku jadi serius menjalin hubungan dengamu"gumam Aron.


"Gak usah bohong"ucap Manda kesal.


"Aku gak bohong syang, Oya Vino tadi bilang apa?" tanya Aron yang teringat tentang apa yang di ucapakan Vino.


"Dia bilang setelah lulus nanti, mau menikah dengan kesha bulan depan."ucap Manda.


Aron melebarkan matanya menatap Manda tak percaya, ia memegang je dua bahu Manda erat. "Apa? Vino mau menikah. Gimana nantinya dia bisa menghidupi kekuarganya jika dia tidak kuliah dulu dan bekerja di perusahaan."Ucap Aron sekaan marah namun Manda yang jadi pelampiasan amarahnya. Ia mencengkram erat bahu Manda.


"Apa kamu mau menyiksaku lagi, sakit syang lepaskan tangamu" Bentak Manda.


Aron langsung melepaskan tangannya.


"Maaf syang tadi aku terlalu kesal"ucap Aron.


"Kesal ya jangan aku jadi pelampiasan kamu"Ucap Manda.


"Oya kenapa kamu melarang dia menikah, jika dia ingin menikah. lagian kan sia bisa kuliah sambi kerja denganmu di perusahaan."ucap Manda.


"Tapi masalahnya aku tidak tahu dia mau kuliah di mana"


"Sudahlah nanti kamu bicara sendiri sama Vino, itu urusan kalian berdua aku gak mau ikut campur" ucap Manda. "Tapi aku berharap kamu menyetujui mereka menikah, dan memberikan solusi yang baik untuk hubungan mereka nantinya"lanjut Manda beranjak dari ranjangnya.


Maaf ya bagi para reader, bab sebelumnya banyak typo tapi udah aku revisi namun masih belum lolos reviuw...

__ADS_1


__ADS_2