
"Sudah selesai makannya syang?" tanya Aron, mengusa0 rambut Manda.
"Udah syang, udah di kupas semua buahnya?" tanya Manda melirik ke arah buah yang udah di kupas Aron.
"Kok hanya 2 syang, kenapa gak semua?" ucap Manda kesal, ia memalingkan wajahnya dari Aron.
"Emangnya kamu mau makan semuanya?" tanya Aron heran, istrinya benar-benar makanya banyak banget hari-hari ini.
"Emang gak boleh?" ucap Manda kesal. Aron mengusap ubun kepala Manda, tersenyum melihat tingkahnya yang semakin lucu.
"Siapa bilang gak boleh, boleh syang. Ya udah aku kupasin semuanya ya?" Ucap Aron, terpaksa harus ngupas 5 buah sekaligus sekarang, karena keinginan istrinya yang tak bisa ia tolak.
Manda tersenyum, suaminya kini begitu penurut, apapun yang ia minta langsung di kabulkan gitu saja. Tanpa penolakan darinya. Manda segera meraih buah jeruk dan a0el yang sudah di kupas duluan oleh Aron, ia memakan habis tan0a tersisa, hingga habis 3 kupas buah.
"Syang sudah aku kenyang"ucap Manda mengusap perutnya, yang terasa sudah penuh.
"Kalau gitu sekarang ikut aku?"ucap Aron,menarik tangan Manda untuk berdiri.
"Kemana syang?" tanya Manda. Ia terdiam sejenak, merasakan ada yang aneh pada perutnya. Tapi Manda tak mau bilang pada Aron karena ia hanya mengira mungkin sakit perut biasa. Ia hanya memegang terus perutnya dan beranjak berdiri.
"Sudah ikut saja"ucap Aron, berdiri di belakang Manda menutup mata Manda dengan kedua tangannya.
"Syang kenapa di tutup mata aku, aku gak bisa lihat jalan entar"gumam Manda, memegang tangan Aron di matanya.
"Aku akan menuntunmu syang, tenang saja aku akan memberi arahan kamu untuk jalan"jawab Aron, ia mengarahkan Manda menuju suatu ruangan yang dekat dengan kamarnya.
"Kita kemana sih syang, aku jadi penasaran"ucap Manda, yang sudah tak sabar apa yang akan Aron lakukan dengannya. Mereka terus berjalan perlahan berjalan masuk ke ruangan tersebut.
"Sudah sampai syaang, kamu tutup mata dulu ya, jangan buka mata sebelum ada petunjuk dariku"ucap Aron, berdiri di depan Manda.
"Cepetan sayang"ucap manda yang sudah tak sabar lagi.
"Baiklah, satu, dua, tiga, udah buka mata syang"ucap Aron.
__ADS_1
Manda perlahan membuka matanya, pandangannya pertama masih buram, ia melihat samar-sama Aron di depannya. Ia mengusap ke dua matanya, terdiam menatap apa yang ada di depannya itu, beberapa gaun dari berbagai merk terkenal, jam tangan, sepatu, sandal, tas, semua lengkap di ruangan itu. Dan bahkan sudah tertata sangat rapi.
Manda berjalan mendekati barang-arang yang akan jadi miliknya itu. Ia matanya berbinar seketika melihat deretan perhiasan yang sudah tertata di tempatnya. Ia tak behenti terkagum-agum dengan suaminya. Ia tak pernah minta tapi sekana dia tahu apa yang ia inginkan sebagai istrinya.
"Syang ini semua benar untukku? Kamu gak salah kan? Inu semua barang mahal syang?" tanya Manda bingung dengan apa yang Aron berikan padanya.
"Kamu suka kan? Aku gak perduli mahal atau tidaknyang paling utama bagiku bukan uang namun kebahagiaan istriku, asal kamu bahagia aku juga bahagia syang. Lagian aku mau kamu bisa pakai itu saat keluar rumah. Dan kamu gak mider lagi dengan yang lainnya. Kalau semua ini masih kurang aku akan ajak belanja lagi nantinya"ucap Aron tersenyum manis dengan Manda.
Manda yang semula bercanda, ia terdiam sejenak. Ia memegang perutnya yang terasa sakit "Syang kenapa perut aku terasa panas gini ya?" tanya Manda pada Aron, Manda terus memegang perutanya yang terasa sangat panas.
"Kenapa syang"tanya Aron yang langsung beranjak Mendekati Manda, memegang ke dua bahu Manda.
"Sakit syang"ucap Manda meringis sakit, ia terus memegang perutnya yang semakin melilit.
Melihat Manda terus kesakitan, ia tak mau tunggu lama lagi, dengan segera Aron menggamgkat tubuh mungil Manda, berlari masuk dalam mobilnya. "kamu bawa aku kemana syang?" tanya Manda yang duduk di samping Aron.
"Kerumah sakit, kamu harus periksa. aku takut gara-gara efek kamu minum semalam."ucap Aron yang sudah nampak khawatir. Ia bergegas mengemudi mobilnya dengan keceparan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Manda terdiam sejenak, ia baru ingat jika Manda memang meneguk satu gelas penuh minuman itu. Demi melindungi Aron agar tidak minum lagi. Bahkan dia seakan lupa jika kini Manda tidak sendiri. Ada baby dalam perutnya.
"syang sakit"ucap manda terus memegang perutnya.
"Sabar syang bentar lagi kita sampai di rumah sakit"ucap Aron, ia bergegeas memarkir mobilnya. Tak mau basa-basi Aron mengangkat tubuh Manda, berlari masuk ke dalam.
"Tahan ya syang" ucap Aron, mencium lembut kening istrinya.
"Dokter, suster" teriak Aron, berlari masuk ke lorong rumah sakit.
"Ada apa? Kenapa dia?"tanya dokter itu.
"Gak tahu dok. Cepat dok periksa dia, aku gak mau bayiku kenapa-napa"ucap Aron terpatah-patah. Napasnya benar-benar sudah habis karena rasa khawatir dan berlari demi menyelamatkan segera istrinya.
"Baik cepat bawa masuk tuan"ucap dokter itu berjalan terburu-buru menuju ruangannya.
__ADS_1
Aron berlari masuk dalam ruangan dokter di depannya, dengan segera mebaringkan tubuh Manda di kamar pasien. "Aku akan periksa dulu tuan"ucap dokter itu, seolah memberi kode untuk menyuruh Aron keluar lebih dulu.
"Baik dok"Aron keluar menunggu di runag tunggu. Ia tak sabar mendengar kabar dari dokter, tubuhnya terus begetar hebat, dengan terus menghentak-hentakkan kakinya ke lantai utih rumah sakit itu, menghilangkan rasa gugup yang menganggunya.
"Kenapa doktet lama sekali"ucap Aron, bernajak berdiri, mengintip di balik pintu. Ia masih, lalu duduk lagi di tempatnya. Ia semakin gelisah dan cemas dokter itu tak kunjung keluar dari ruangannya.
Ia belum bisa tenang jika belum mendapatkan kabar baik dari dokter. "Semoga kamu baik-baik saja Manda, ku terlalu bodoh tidak kencegahmu kemarin"ucap Aron, ia merasa bersalah dengan Manda.
"Semoga anak kita baik-baik saja"lanjuta Aron terus berdoa berharap yang terbaik untuk Manda dan calon anaknya nantinya.
"permisi tuan"Sapa dokter itu, membangunkan Aron dari lamunnanya.
Aron beranjak berdiri mendekati dokter itu. Belum sempat bertanya Aron langsung masuk ke ruangan manda melihat kondisinya lebih dulu.
"Apa dia habis minum alkohol?" tanya dokter itu pada Aron.
"Iya dok satu gelas penuh wind" ucap Aron yang terus memeluk tubuh istrinya itu.
"maaf tuan, tolong jaga istri tuan, kandungannya sangat lemah, hampir saja dia keguguran tadi. Untuk tuan bawa dia tepat waktu. Kalau tidak entah apa jadinya pada anak tuan dalam kandungan yang masih berumur 2 bulan itu."ucap Dokter itu.
Aron terus memegang tangan Manda yang kini sudah tak sadarkan diri.
"Tapi kondisi dia baik-baik saja kan dok?" tanya Aron, yang masih terlihat khawatir.
"Dia baik-baik saja, karena efek minuman saya gak tahu kedepannya bayi anda akan terlahir sempurna atau tidak"ucap dokter laki-laki itu penuh keraguan.
"Apa kamu bilang dok"ucap kesal aron mencengkram erat kerah baju dokter itu.
"Jangan bicara yang tidak-tidak dengan anakku. Dia pasti terlahir normal, ingat itu"ancam Aron, api kemarahan mengobar dalam mata Aron dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tidak mau hal buruk terjadi dengan anaknya nanti.
"lakukan yang terbaik untuk kesehatan anakku dan istriku, aku akan membayar berapun yang kamu inginkan. Jangan sampai mereka kenapa-napa. Kalau sampai terjadi hal buruk maka aku tidak akan segan-segan menyakitmu"ancam Aron, mendorong tubuh dokter itu.
"Baik tuan, saya akan usahakan"ucap Dokter itu ketakutan.
__ADS_1
"Baik, lakukanlah yang terbaik buat dia"lanjut Aron.