
Bahkan Albert yang tak sengaja melihat Vino dan Kesha terlihat sangat mesra saling bahagia. Bercanda bersama di depan tempat kerja Kesha. Ia hanya bisa tersenyum di balik mobil hitamnya.
kamu ternyata lebih bahagia dengannya, dan sekarang aku belum menemukan kebahagiaanku. tapi setidaknya aku pernah memiliki kamu, meski hanya hitungan hari, makasih sudah bahagiakan hatiku. Kesha.
Setelah mengantarkan Kesha, Vino bernajak langsung pulang. Ia tidak mau lama-lama mengganggu pekerjaan Kesha. Namun, ia sudah pasang alarm untuk menjemputnya nanti tengah malam.
"Aku pulang dulu ya, kamu semanagta kerjanya," ucap Vino, mencubit pipi Kesha, dan beranjak pergi.
"Siap!!' ucap Kesha tegas.
Sedangkan Albert, yang melihatnya dari jauh, ia bergegas pergi sebelum Vino mengetahuinya.
--------
Jarum jam sudah menunjukan pukul dua pagi, Kesha yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia bersiap
untuk pulang.
“Aku pulang dulu, ya.” Ucap Kesha melambaikan tangan ke arah
temannya.
“Iya, hati-hati.” Sambung temannya yang bekerja beda shift
dengannya.
Kesha berjalan keluar dari supermarket itu.
“Sha,” panggil Vino, uamg sudah stand by di depan tempat
kerjanya.
Kesha menghentikan ;angkahnya, mendengar suara yang sangat
familiar di di tekinganya, mengerutkan alisnya, menoleh ke belakang. Menatap
Vino dengan padangan heran, ia melihat dari ujung kaki ingga kepalanya.
Kesha hari ini bekerja di sebuah supermarket, dan kebetulan
ia bekerja jam delapan malam, dan pulang jam dua malam. Pkerjaan part time tak
bisa menentu ka[pan dia bekerja. Karena memang ia bekerja di situ di saat ada
karyawan penjaga supermarket itu sedang tidak masuk.
Kesha sehari-hari bekerja di sebuah cafe, di dekat rumahnya
sekarang. Hanya berjarak dua puluh menit jika dia jalan kaki. Tapi dia biasanya
selalu naik bus.
“Kamu benar Vino, Taua hantu?” tanya Kesha, mencoba
mendekati Vino.
“Ya, aku Vino. Masak ganteng gini di bilang hantu,” jawab
Vino kesal.
“Terus, kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Kesha.
“Jemput kamu syang,” Jawab Vino, mengusap pipi Kesha.
Kesha tersenyum tipis, menatap wajah Vino. Dengan raut wajah
mulai memerah.
“Ya, sudah ayo pulang.” Esha memegangbtangan Vino,
menariknya pergi
“Bentar!! apa kamu lupa di luar hujan lebat,” ucap Vino, menghentikan
langkahnya, membuat langkah Kesah tersendak, terhenti.
“Ya, kita hujan-hujan. Lagian juga mobil kamu di depan kan?”
gumam Kesha.
Vino meringis, menyipitkan matanya. Membuat Kesha tambah
bingung di buatnya.
“Kenapa kamu hanya senyum, jangan bilang jika kamu tidak
bawa mobil.”
“ he.. he.. Iya, aku gak bawa mobil. Aku memang sengaja
ingin jalan kaki dengan kamu. Teru tadi melihat cuaca yang sepertinya tidak
mendukung. Aku sudah siapkan payung untuk kamu,” ucap Vino, mengambil payung
yang ia sandarkan di balik kaca supermarket di belakangnya.
Kesha hanya bisa menarik napasnya. Tersenyum simpul, menatap
calon suaminya itu.
Ada-ada saja calon
suami aku ini, dia benar-benar membuat aku tidak bisa melupakan kelucuanya ini.
__ADS_1
Semakin menggemaskan. Batin Kesha dalam hatinya
“Sha, kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Vino,
mengibaskan tanganya ke depan wajah Kesha. Yang menatapnya dengan pandangan
kosong.
“Ehh.. iya,” ucap Kesha tersadar dari lamunannya.
“Kamu tadi bicara apa?” tanya Kesha.
“jadi kamu tadi gak dengerin aku bicara apa?” gumam Vino,
menatap, menggoda pada Kesha. “Ehh.. pasti kamu lagi kagum melihat ketampanan
aku ya,” lanjutnya, menari kendua alisnya ke atas berkali-kali, mendekatkan
wajahnya ke arah Kesha.
“Apa’an sih, sudah mana payungnya.” Ucap kesha, meraih
payung di tangan Vino, dan mulai membukanya.
“kamu bawa berapa tadi?” tanya Kesha.
“Satu, lagian aku itu mau romantis dengan kamu, apa gak
boleh” ucap Vino, meraih kembali payungnya, dengan tangan kiri meraih tangan
Kesha. Menggegamnya erat, menarik tanganya berjalan menelusuri hujan yang
sangat dera di depannya.
“Vino, tunggu. Aku kehujanan ini,” ucap Kesha, merengkuh
tangan kiri Vino sangat erat.
“Makanya, jangan jauh-jauh dariku,” gumam Vino menggoda.
Vino melepaskan pegangan tangan Kesha, merengkuh pundah Kesha dari belakang
lehernya.
“Kalau gni, kamu gak bisa jauh dariku,” ucap Vino,
mendekatkan wajahanya, membuat ke dua mata mereka saling tertuju.
Kesha, semakin mendekatkan wajahnya, semakin dekat. Membuat
benda kenyal saling menempel di bibirnya, kesekian detik.
Vino hanya diam, terkejut, melebarkan matanya, melihat apa
yang di lakukan Kesah tadi.
mengerutkan ke dua alisnya.
“Terus bagaimana?” tanya Kesha.
“Vino menyentuh bibirnya sendiri, memberi kode pada Kesha
untuk mengecupnya lagi. “Satu kali lagi,” ucap Vini.
“Gak mau!!”
“Ya, sudah kalau gak mau, aku juga gak maksa. Kalau begitu aku
pulang sendiri,” ucap Vno, beranjak pergi, dengan sigap tangan Kesah memegang
tengan Vino, membuat langkahnya terhenti. Kesah menarik tangan Vino,
membalikkan badannya. Tanpa banyak bicara lagi, sebuah benda kenyal itu,
******* lembut bibir Vino. Perlahan Vino melepaskan payung di tangannya, ia
memegang kepla belakang Kesha, dan salah satu tangannya memegang punggung
belakang Kesha. D tengah guyuran hujan lebat yang membasahi ke duanya, kecupan
mereka semakin dalam, Vino membalas kecupan Kesha, semakin lembuta, mengusap
klepala belakang gadisnya itu.
Kesha melepaskan kecupannya, menarik napasnya. Belum sempat
bernapas normal kembali, Vino menarik kepala belakangnya, mengecupnya lagi
semakin bergairah. Jalanan yang terlihat sangat sepi, membuat Vino semakin
menjadi, ia mengusap punggung Kesha, lembut. Membuat gadis itu semakin menikmati.
Kecupan yang sangat lembut,
aku ingin terus seperti ini, di tengah guyuran hujan. Tapi.. ini gak boleh
terjadi, dia semakin dalam. Gak boleh terjadi.. Kita belum menikah..
Kesah mendorong tubuh Vino menjauh darinya, “ Sudah, aku gak
bisa napas Vino.” Ucap Kesha, dengan ke dua tangan memegang dada Vino. Ia
mencaba menarik napasnya dalam-dalam, dengan kepala sedikit menunduk.
__ADS_1
Vino hanya diam, terukir senyuman tipis di bibirnya. Ia menempelkan
kepalanya. Hembusan napas berat mereka saling berpacu. Dengan ke dua telapak tangan
Vino, memegang pipi Kesha.
“Makasih,” ucap Vino, yang masih mengeluarkan napas
beratnya.
“Buat apa?” tanya Kesha heran.
“Buat tadi, kecupan kamu sangat panas,” ucap Vino, menggoda.
“Sekarang ayo kita pulang,” Kesha, memegang tangan Vino,
menariknya jalan. Vino mengikuti setiap langakh Kesah dengan penuh senyuman,
mereka saling bercanda. Mereka saling menendang genangan air yang memenuhi
jalanan, membuat tubuh mereka semakin kotor. Berlarian di pinggir jalan sambil
bercanda, mengguyur air bekas genangan.
“Vino, sudah hentikan,” ucap Kesha, menutupi wajahnya dengan
ke dua lengannya.
“Salah siapa tadi kamu, yang mulai.”
Kesah mengerutkan bibirnya, “ Bukan aku yang mulai,”
“Terus siapa,” ucap Vino, berjalan mendekati Kesha dengan
kelopak mata semakin melebar. Terpancar senyum jahil di bibir Vino, membuat
Kesha was-was dan berjalan mundur ke belakang.
“Kamu tadi mau bicara apa,” Vino menggelitik pinggang Kesha,
membuat gadis itu menunduk lemas, tak berhenti tertawa.
“Vino, sudah hentikan.” Ucap Kesha, sambil tertawa.
“Gak mau!!” Vino semakin membuat Kesha tidak bisa berhenti
tertawa geli.
“Vino, geli... Hentikan!!” ucap Kesha.
“Gak mau. Aku amu hentikan, kalau kamu mau pergi denganku
nanti siang” ucap Vino, melirik sekilas jam tangan yang melingkar di
pergelangan tanganya. Yang sdah menunjukkan pukul tiga pagi. Dan dia belum
tidur sama sekali, dan begitu juga dengan Kesah, yang baru pulang kerja.
Merasa tangan Vino sudah berhenti menggelitiknya, esah
giliran menggelitik pinggang Vino, membuat laki-laki itu teringkat, terkejut.
“Seakarng giliran kamu,” uc Kesah, dengan senyum
menggodanya.
Klekkkk..
“Awwww...” Kesha seketika duduk, memegang kakinya yang
tiba-tiba terkilir.
“Kamu kenapa?” tanya Vino, duduk jongkok di depannya, dengan
ke dua tangan memegang kaki kiri Kesha.
“Tadi kakiku bunyi, sepertinya patah,” ucap Kesha, menarik
ujung bibirnya ke bawah, seakan amu merengek.
Vino hanya tersenyum, “Bagaimana bisa patah. Ini hanya
terkilir syang,” ucap Vino, mencubit pipi kanan Kesha. Ke dua tanganya masih
memutar-mutar pelan kaki Kesha, dan..
Klekk.. klekkk..
Seakan tulangnya mau patah, di buatnya.
“Vino, apa yang kamu lakukan?” tanya Kesha kesal, mendorong
tubuh Vino, hingga terjatuh dengan tangan menyangga ke belakang.
“Kamu gak apa-apa. Maaf tadi aku terlalu keras mendorong
kamu,” ucap Vino
Kesha terlihat sangat panik, merngkak ke depan, memegang
tangan Vino yang terlihat berdarah.
“Kita cepat pulang ya, aku akan mengobati kamu,” gumam Kesha
__ADS_1
semakin panik, ia meniup-niup luka Vino. Membuat laki-laki itu hanya diam,
melihat gadis di depannya itu, sangat menggemaskan saat dia khawatir dengannya.