
Jarum jam menunjukan pukul sembilan malam. Ke dua anak Manda sudah tidur lebih dulu, Manda yang sudah menidurkan anaknya tadi. Ia sekarang hanya bisa diam diri, duduk di ranjangnya. Dengan tangan yang masih memegang ponselnya. Ia menghubungi Vina soal rencana yang ia lakukan, untuk segera menemukan Kesha dan membawanya pulang ke rumah. Namun Vina bukannya malah memberi masukan yang positif, ia malah membuat Manda tanbah pusing di buatnya. Gimana gak pusing, jika Vina selalu menyuruhnya untuk langsung menculik Kesha, itu sama.saja penculikan, bisa di tuntut nanti dia.
Aron yang sudah pulang, langsung menemui istrinya di kamar, yang lagi sibuk dengan ponselnya. Ia melepaskan jas hitam yang membalut tubuhnya, dan melemparnya, ke atas sofa. "Tumben hari ini kamu belum tidur syang. Dan kenapa malah main ponsel terus syang?" Tanya Aron, berjalan mendekati Manda, tanpa marah sama sekali dengannya. Ia duduk di samping Manda, melepaskan sepatu yang masih menutupi telapak kakinya.
"Aku menghubungi Vina syang, katanya dia ada solusi untuk mencari Kesha. Dan dia bilang bentar lagi ada acara kampus. Gimana kalau kita datang ke acara kampus itu. Aku ingin bertemu dengan Kesha. Dan siapa tahu juga kamu bisa bertemu dengan adik kamu, Vino." ucap Manda. "Tadi Vina katanya semoat bertrmu dengan Kesha datang ke kampus aku, padahal dia bukan mahasiswi di sana. Dan ternyata ada hal penting yang ia lakukan di sana." Lanjut Manda.
"Hal penting apa syang, kenapa.kamu tadi gak bicara dnegan dia langsung?" Tanya Aron, menatap ke arah Manda.
"Yang ketemu Kesha itu Vina dan Albert, aku tadi tidak melihatnya. Jika aku melihatnya pati lanvsung aku ajak pulang." Gumam Manda. "Dan aku yakin jika kamu nanti bisa bertemu dengan adik kanu juga syang di sana" lanjutnya.
"Adik aku?" ucap Aron yang langsung terdiam, ia duduk di ranjang, samping Manda. Memegang tangan Manda erat. Mencoba menguatkan hatinya dengan genggaman tangan Manda.
"Syang apa aku terlalu keras didik adik aku. Apa aku salah dengan keputusan yang aku ambil dulu" gumam Aron, yang mulai teringat lagi dengan apa yang ia katakan pada Vino dulu. Mungkin telah menyakiti hati Vino. Ia juga tidak tahu, tapi setidaknya karena omongannya yang terlalu kasar dan menetang pernikahannya, Membuat Vino jadi pergi dan tidak menganggapnya kakak lagi.
Melihat wajah Aron yang menunduk, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aron menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah Manda sama sekali. Sepertinya memang dia sengaja menyembunyikan kesedihan dalam hatinya.
Manda memegang pundak Aron, dengan mata mencoba memandang wajah Aron yang terus menunduk ke bawah. "Syang kamu gak salah, mungkin Vino yang salah paham dengan kamu. Dia gak tahu jika kamu itu ingin yang terbaik buat dirinya. Dan untuk kehidupannya kelak jika menikah dengan Kesha." Ucap Manda mencoba menenangkan hati Aron, yang masih terus bersedih jika mengingat adiknya.
"Tapi kenapa sudah bertahun-tahun aku mencoba mencari dia. Menyewa beberapa orang untuk mencari dia. Tapi apa? gak ada hasilnya sama sekali syang. Dan setiap aku punya nomor ponselnya, dari orang yang aku bayar untuk mencari informasi tentangnya. Tapi malah dengan cepatnya Vino ganti nomor lagi. Dan dia sudah tahu kalau yang menghubunginya adalah kakaknya. Kakak yang sangat jahat padanya, dan menghancurkan kebahagiaannya. Dan dia selalu pindah-pindah tempat tinggal. Aku udah setiap bulan selalu nengirimkan uang pada Vino. Aku gak bisa biarkan dia hidup susah. " ucap Aron dengan penuh emosi dalam hatinya. Ia merasa tidak bisa jadi kakak yang baik untuk Vino. Ia hanya selalu membuat Vino tak bisa di atur dan manja dengannya. Sifat keras kepala Vino membuat hubungan mereka renggang tak pernah ada kesempatan lagi bertemu.
"Syang jangan sedih, besok kesempatan kita untuk bertemu dengan Vino. Karena 2 hari lagi acara kampus aku, dan mereka mengundang mahasiswa lain unyuk ikut dalam acara itu." Ucap Manda.
Aron mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Manda , seolah ada harapan lagi baginya untuk bertemu lagi dengan Vino.
__ADS_1
"Acara itu pasti banyak orang, meskipun datang. Aku gak mau kamu ikut" ucap Aron, membuat Manda mengerutkan keningnya.
"Kenapa aku gak boleh ikut, aku hanya ingin bertemu dengan mereka syang. Aku gak mau membiarkan mereka pergi lagi." Ucap Manda.
"Syang , lihatlah. Perut kamu masih sangat besar. Kamu harus tetap di rumah. Kamu harus jaga rumah jangan kemana-mana. Apalagi kamu datang di tengah keramaian. Kalau cari Kesha dan Vino bisa lain kali. Atau besok juga bisa, kita keliling kota untuk mencari mereka" ucap Aron, mencoba menasehati Manda, ia merengkuh bahu Manda mendekatkan ke bahunya. Dengan kepala saling bersandar.
"Syang kenapa kamu tega banget padaku, kenapa aku gak boleh ikut acara itu" ucap Manda.
"Sekarang aku tanya, gimana pendapat teman kamu. Apa dia juga menyuruh kamu untuk ikut acara itu?" Tanya Aron.
"Enggak, dia malah melarang aku untuk ikut. Dan sekarang aku entah harus gimana lagi. Aku bingung syang" ucap Manda.
"Sudah sekarang keputusanku sudah bulat. Kamu gak boleh ikut, biar aku saja yang pergi untuk cari mereka." Ucap Aron.
"Siapa yang lirik wanita lain, aku hanya ingin membantu kamu. Bahkan teman kamu saja gak bolehin kamu ikut. Dia tahu keselamatan kamu, dan apalagi suami kamu ini yang jauh lebih khawatir dengan anak aku dan kamu" ucap Aron, ia tidak berhenti menasehati istrinya yang keras kepala itu.
"Syang aku mohon, aku boleh ya ikut. Kali ini saja syang, aku janji akan selalu di smaping kamu. Dan menghindari keramaian. Aku gak bisa jiak berdiam diri di rumah saja. Tanpa melakukan apapun, aku gak bisa hanya menunggu kabar dari kamu syang. Aku mohon, bukannya kamu bisa selalu jaga aku syang. Dan aku juga akan selalu duduk di kursi roda" ucap Manda, memegang ke dua tangan Aron, memohon padanya untuk bisa ikut dengannya nanti.
Melihat wajah manda yang sepertinya memang ingin sekali ikut. Aron tidak tega, jika Manda sampai memohon-mohon padanya. "Baiklah, kamu boleh ke acara itu. Tapi kamu harus selalu ada di samping aku. Jangan pergi sendiri, dan ingat gak boleh dekat dengan keramaian" ucap Aron.
" iya syang pasti" ucap Manda dengan senyum senang menyungging di bibir manisnya. "Makasih syang kamu memang suami aku paling pengertian" lanjut Manda mengecup pipi kiri Aron.
"Iya syang" ucap Aron, mengusap lembut rambut Manda.
__ADS_1
~
Di sebuah rumah mewah, milik seorang gadis cantik, Bernama Vina. Yang sedang berbaring di ranjangnya. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak di kepalanya terus terbayang wajah Vino. Bahkan dia tidak pernah behenti menatap jam dinding, yang menunjukan pukul sembilan tiga puluh, sudah larut malam sepertinya dia sudah pulang kali ini. Aku coba cari dia saja, pikiran itu muncul dari otaknya.
Vina langsung bangkit dari ranjangnya, dan segera mengambil jaket. Berlari menuruni anak tangga. "Bi.. suruh sopir siapkan mobil" ucap Vina.
"Iya non" ucap pembantu Vina, yang mulai berlari menemui sopir.
"Vina kamu mau kemana?" Tanya ayahnya yang sudah berdiri tepat di depannya.
"Eh.. ayah, ejanka kapan ayah di depan aku?" Tanya Vina dengan senyum tipisnya.
"Kamu mau kemana malam-malam begini?" Tanya ayahnya dengan suara lembut. Seolah memang Vina selalu di manja dengan ayahnya. Namun dia sudah dari dulu di ajarkan untuk mandiri.
"Aku mau bertemu dengan teman aku yah" ucap Vina ragu.
"Teman laki-laki atau perempuan?" Tanya Ayahnya.
"Laki-laki" ucap Vina malu, ia menundukkan kepalanya.
"kalau mau bertemu dengan laki-laki. Bawa dia ke rumah jangan bertemu di jalan" ucap Ayahnya. "Tapi jangan malam-malam kalau bertemu" lanjutnya.
"jadi gimana yah, apa aku boleh keluar? tanya Vina.
__ADS_1
"Boleh tapi jangan lama-lama ya" ucap ayah Vina.