
"Syang, gimana kamu sudah tidak takut kan?" tanya Manda, tersenyum menatap ke arah Aron.
"Gak kok, sekarang aku baru merasakan menyatu dengan indahnya danau ini. Kamu tahu aku tidak pernah merasakan senyaman ini di sini. Serasa aku tidak mau turun dari sini. Aku ingin terus berputar di biang lala ini, dengan kamu. Seperti kehidupan yang selalu berputar, dan aku ingin saat aku di bawah maupun di atas. Aku juga ingin tetap bersama kamu. Aku ingin kamu selalu nenemani aku, saat susah maupun senang nantinya"ucap Aron, dengan jemari mengusap lembut pipi Manda, yang terbungkus balutan make up tipis menghiasi wajahnya.
Manda menyantuh tangan kanan Aron di pipinya, ia mengusap lembut tangan Aron, dengan mata memejam sejenak menikmati sentuhan lembutnya.
"Aku akan selalu bersama kamu syang terus bersama kamu, saat susah pun aku ingin tetap bersama kamu"ucap Manda, menatap Aron, dengan tatapan sangat dalam.
"Makasih syang, besok saat kamu menyelesaikan home shcooling kamu, dan saat anak kita sudah lahir, aku ingin pindah rumah. Dan aku sudah persiapkan rumah untuk kamu dan anak kita tinggal."ucap Aron, yang mulai memasang wajah seirusnya.
"Syang, kalau kamu ragu mau jual semuanya. Jangan jual. Lagian itu perysahaan peninggalan keluarga kamu, apa kamu amu menjual milik mereka. Labih baik biarkan saja, dan kamu pasrahkan ke orang yang kamu percaya. Dan jika ada kesempatan kita bisa main bersama nanti di perusahaan kamu ini"ucap Manda, memegang tangan Aron.
"tapi syang, siapa yang aku percaya. Aku takut orang akan menjerumuskan perusahaanku. Dan tidak ada lagi yang bisa aku percaya. Setelah Vino pergi nanti. Pasti tidak ada lagi yang mau urus perusahaan aku. Dan Jack juga tidak mungkin. Dia itu juga punya perusahaan sendiri di Itali. gak mungkin dia bolak-balik ke Ke sini hanya untuk mengurus perusahaanku. Dia juga punya beban sendiri. Punya tanggung jawab sendiri"ucap Aron, menundukkan kepalanya. Ia terasa bimbang dengan keputusan itu. Ingin ia mengambil tidakkan yang tepat tanpa penyesalan nantinya.
"Sudahlah sekarang jangan pikirkan itu sendiri. Kita cari solusi bersama dengan Vino. Dan jika Vino masih mau tinggal di sini bersama kita gak apa-apa"ucap Manda.
"Dia akan kuliah di Sydney. tidak mungkin dia mau tinggal di sini. Lusa dia akan mulai tes untuk ambil jalur beasiswa. Lagian tekatnya juga sudah kuat ingin kuliah di sana. Tidak mau menganggunya ataupun mencegahnya."ucap Aron.
Baginya yang paling berat adalah melepaskan perusahaan mamanya itu ke tangan orang lain nantinya. Yang ia takuti, apa mampu orang lain urusin perusahaan mamanya. Tapi dia berharap semoga Vino bisa kasih solusi yang tepat nantinya.
Dan ia juga sangat beruntung ada Manda yang selalu menemaninya, saat dia di landa kebimbangan hati. Manda selalu menenangkan dirinya. Bahkan tak berhenti mencoba menghibur Aron.
__ADS_1
"Syang"Sapa Manda, menatap Aron yang hanya diam memandang danau.
"Ada apa?" tanya Aron, tanpa memandang ke arah Manda.
"Ayo kita turun, sudah malam kita pulang yuk"ajak Manda, ia tahu jika Aron sepertinya sudah tidak bersemangat lagi. Jadi ia berusaha mengajak suaminya itu pulang ke rumah. Lagian hari juga sudah menjelang malam.
Manda menatap jam tangan berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukan pukul 22.30.
Sudah larut malam, tapi Aron masih diam saja, bahkan pintu biang lala sudah di buka? ia masih duduk melamun. Dengan terpaksa Manda menarik tangan Aron keluar. sebelum penjaga menegurnya.
"Syang kenapa kamu hanya diam saja, sekarang kamu bisa mengemudi mobilnya gak? Kalau gak bisa aku panggil taxi saja"ucap Manda, yang terlihat panik dengan kondisi Aron yang tiba-tiba terdiam.
"Udah syang aku bisa kok, tadi hanya pusing sedikit terlalu banyak pikiran, sekarang ayo kita pulang"gumam Aron, mememagng tangan Manda berjalan menuju ke mobilnya.
"Kamu ini ya"ucap Aron tertawa mencubit ke dua pipi Manda.
"Udah tahu bawa sopir kenapa bisa lupa"gumam Aron.
"He..he ya maaf syang"ucap Manda.
"Syang kalau ada masalah cerita ya, aku gak mau kamu memandam masalah kamu sendiri"lanjut Manda memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
"Gak ada syang, hanya saja aku berpikir dunia ini terasa sempit, kita bisa di pertemukan karena suatu hal kebodohan. Aku pernah tahu kamu di jalan saat aku hampir menabrakmu. Saat melihat sekilas mata kamu, sangat mirip dengan mantan aku. Itu yang membuat aku jadi srmakin penasaran dengan kamu. dans ekarnag kamu jati teman hidup aku. Aku takut tidak bisa membahagiakan kamu nantinya"ucap Aron yang tiba-tiba teringat masa lalunya, ia menundukkan kepalanya. Banyak ketakutan yang menghantui dirinya..
Melihat hati Aron yang tiba-tiba gundah, Manda menyandarkan kepalanya di bahu Aron. "Syang lupakan masa lalu, kita melangkah bersama ke depan bersama, jangan menoleh ke belakang melihat masa lalu kita yang sudah lama terkubur."gumam Manda.
Hingga ia tertidur lelap di samping di bahu Aron. Sampai di rumah Aron mengangkat tubuh Manda masuk ke dalam rumah, berjalan ringan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. "Syang aku ingin kamu akan selalu menemaniku susah maupun senang"ucap Aron.
Ia membaringkan tubuh manda di ranjang, me arik selimut menutupi sebagian tubuhnya. "Selamat malam syang"ucap Aron, mengusap lembut pipi Manda, lalu nengecup keningnya sebagai ucapan selamat malam untuknya.
Aron segera meraih ponselnya, dan segera menguhubungi Manajer MO.
"Hallo tuan ada apa?" tanya Manajer Mo.
"Gimana kamu sudah dapatkan bukti itu?" tanya Aron, dengan nada dingingnya.
"Belum, tuan Masih ada yang masih perlu di lengkapi. Aku akan segera selesaikan dan bawa bukti itu ke kantor poslisi tuan"ucap manajer Mo.
"Baiklah, sekarang cepat selesaikan. Dan urus semua nama perusahaan atas namanya. Mungkin beberapa bulan lagi aku kaan melepaskan semuanya. Tapi ingat kamu jangan pernah pergi dari perusahaan itu. Aku akan membayar kamu jadi mata-mataku untuk merebut perusahaan itu untuk anak aku kelak nanti jika sudah dewasa.
"Tapi tuan, apa anda yakin dengan semuanya yang tuan katakan. Tuan Aron aakan tinggal di maan setelah itu?" tanya Manajer Mo, yang sangat khawatir dengannya. Manajer Mo sudah lama ikut bekerja dengan Aron, bahkan Aron sudah di anggap sebagai anaknya sendiri. Karena umurnya yang sudah tak menginjak muda lagi.
"Sya sudah pikirkan, meski aku tidak bisa merbeut perusahaan itu, tapi kelak anak aku yang akan merebut perusahaan itu untukku"ucap Aron seolah yakin dengan apa yang ia katakan.
__ADS_1
"Baiklah tuan, jika tuan butuh bantuan atau info tentang perusahaan ini nantinya. Aku siap bantu tuan."Manajer Mo merasa bersalah, ia tidak bisa mengingatkan Aron agar tidak melepaskan perusahaan besar itu. Bahkan perusahaannya paling berpengaruh dalam perekonomian negara.
"Baiklah, sekarang cepat kerjakan semuanya, dan ancam mantan mertua aku itu. agar dia tidak menganggu lagi kehidupan aku, anak aku dan istriku lagi"ucap Aron sekaan sudah tahu jika mertuanya di balik rencana itu. Ia segera menutup telefonnya. Dan mulai membaringkan tubuhnya di sampaing Manda, melupakan sejenak pikiran yang ada, lalu berusaha memejamkan matanya.