
"Benar juga sih, kita belum tahu anak kita laki apa perempuan. Kalau kamu maunya anak laki-laki apa perempuan syaang"tanya Aron memegang perut Manda.
"Kalau aku sih sama saja, tapi aku lebih suka anak kembar laki dan perempaun. Atau perempuan semua juga gak apa-apa"ucap Manda.
"Kalau aku ingin anak kita kembar laki-laki semua" ucap Aron terus mengusap perutnya berharap anaknya bisa laki-laki seperti yang ia inginkan.
"Kenapa kamu maunya laki-laki" tanya Manda memegang tangan Aron di atas perutnya.
"Kalau laki-laki bisa jalankan bisnis kita, jadi aku kalau sudah tua bisa tiduran di rumah menikmati hidup bersama istriku ini, bisa bermesraan lagi seperti anak muda" ucap Aron dengan pikiran membayangkan hari tuanya nanti bersama Manda.
"Bukannya wanita juga bisa menjalankan bisnis?" gumam Manda.
"Tapi gak bisa cekatan tegas dalam bertindak seperti laki-laki"ucap Aron mengelak.
Manda menegaskan kembali."Tapi meskipun begitu perempuan juga bisa tegas kok, tergatung anaknya bagaimana nantinya"
"Baiklah terserah kamu deh, dari berdebat dengan kamu terus capek aku. Terserah mau anak perempuan, laki-laki sama saja yang penting dia sehat"ucap Aron mengalah pada istrinya itu yang tidak pernah mau kalah itu.
"Jadi nulis permintaan gak?" tanya Aron.
Manda menepuk jidanya. "Oo.. iya aku lupa sayang"gumam Manda .
"Aku sudah nulis, sekarang giliran kamu?" gumam Manda.
Aron segera menulis dan menggantungkan kertas panjang itu di bawah lampion. "Sekarang kita terbangkan bersama-smaa ya?" ucap Aron dengan tangan memegang ke dua tangan Manda.
"Baiklah" Manda mulai memegang dan mulai menghitung sampai 3 lalu menerbangkan lampion itu bersama Aron.
"Bagus ya"ucap Aron.
"iya, oya kamu tadi nulis apa?" tanya Manda.
"Mau tahu ya? atau mau tahu banget nih" Aron menyolek pipi Manda.
"Udah cepat bilang apa sih yang kamu tulis"ucap Manda kesal.
"Baiklah, aku tadi nulis jika mau punya anak laki-laki" gumam Aron.
Manda mengerutkan keningnya, "Aku tadi juga minta anak tapi perempuan, tapi lihat nanti anak kita laki-laki apa perempuan jadi itu nanti doa siapa yang jadi kenyataan." gumam Manda sangat percaya diri jika anaknya pasti perempuan.
Manda terus menatap lampion yang sudah terbang jauh itu, Aron melirik pinggang Manda mencoba menjahili dia.
"Kamu mau kamana jangan kabur?" teriak Manda mengejar Aron dan langsung melompat naik ke punggung Aron. merengkuh erat leher Aron erat-erat.
"Jangan erat-erat syang aku gak bisa napas"ucap Aron mencoba melepaskan rengkuhan Manda.
"He.. he.. Maaf sayang"gumam Manda menarik ke dua pipi Aron.
"Ayo jalan sekarang"perintah Manda, ia terlihat sangat senang menjahili Aron, mencolek pinggangnya.
"Geli syang, dan awas jatuh entar jangan terlalu banyak gerak"gumam Aron.
"Aku gak berat masak jamu gak kuat sih syang"ucap Manda.
"kalau kamu banyak gerak gitu berat syaang"gumam Aron mengeluh.
Aron berlari menerjang hebusan ombak bermain, dengan menggendong Manda ala piggyback berlari di tengah hebusan angin malam, dan ombak pantai yang menerjang kakinya, mereka merasa sangat bahagia kali ini bisa mendapatkan seuatu hal terindah dalam hidupnya. Semoga kini Manda bisa jadi yang terkahir dengannya.
__ADS_1
"Aahh...."Teriak Manda menggelegar ke penjuru lautan.
"Aku sayang tuan Aron yang nyebelin"Teriak Manda lagi.
"Apa kamu bilang nyebelin, Awas ya kamu"ucap Aron menggelitik telapak kaki Manda.
"Syang udah geli tahu"Gumam Manda.
"Cepat ralat yang kamu bilang tadi" ucap Aron.
"Ralat gimana lagi, itu-kan udah benar syang"gumam Manda tersenyum mengejek pada Aron.
"Ralat gak, kalau gak mau aku gelitikin lagi lo ya"ucap Aron mengancam.
"Udah aku gak mau, iya aku ralat deh"Uca9 Manda mengerutkan bibirnya.
"Cepat"
"Iya."
"Aku syang sama Tuan Muda yang sangat tampan"teriak Manda tanpa menyebut nama Aron.
"Kenapa gak menyebut namaku"Ucap Aron kesal.
"Aronnn..."Teriak Manda lagi.
"Kamu memang suka jahil ya"ucap Aron dengan tatapan menggodanya.
---00---
"Kamu mau seperti mereka?" tanya Vino.
"Mau atau gak percuma, tergantung cowoknya gimana nanti. Kalau yang lakinya gak peka mau gimana lagi, di kode berkali-kali juga sama saja"gerutu Kesha. "Gak peka"ucap Kesha tepat di telinga kanan Vino.
"Siapa yang gak peka?"tanya Vino menatap ke arah Kesha.
"Entahlah"gumam Kesha.
---00--
Aron menurunkan tubuh Manda perlahan.
"syang sepertinya mereka lagi berdebat lagi tu"gumam Manda menatap ke arah Kesha dan Vino.
"Udah biarkan saja jangan ikut campur masalah mereka"jawab Aron mengalihkan pandangan istrinya ke arahnya.
"Udah tatap aku"ucap Aron.
"Udah"
Perlahan Aron mendekatkan bibirnya, namun belum sempat menyentuh benda kenyal milik Manda sudah bersin duluan.
"Hachu.. Hachu...."
Manda terus menggosok gosong hidungnya yang tiba-tiba terasa sangat gatal.
"Tu kan kena flu, udah sekarang ayo pulang. Besok kita juga sudah harus kembali lagi. Aku gak mau kamu sakit nantinya"Aron segera menarik tangan Manda untuk segera balik ke mobilnya.
__ADS_1
"Gak mau, aku mau di sini dulu"gumam Manda kesal.
"Hachu...Hachu..."
"Udah ayo jangan ngeyel gitu deh, kamu gak bisa kena angin malam lama-lama. Ingat kamu sekarang juga gak sendiri ada baby di dalam perut kamu. Kalau kamu gak bisa jaga badan kamu apa kamu gak kasihan dengan baby dalam kandunganmu"Ucap Aron berusaha menasehati Manda, yang selalunngeyel terus gak bisa di bilangin.
Meskipun ia sempat kesal tadi belum sempat mengecup mesra bibir Manda gara-gara bersin. Tapi bagi dia kesehatan Manda kini lebih penting dari itu semua. Ia tidak mau Manda dan babynya sakit. Karena mereka harta teridah bagi Aron yang harus di jaga.
"Hachu..."Manda tak berhenti bersin-bersin dari tadi.
"Gimana mau pulang gak?" tanya Aron
"Iya aku pulang" ucap Manda terpaksa. Perhatiannya gak bisa di tolak lagi.
"Vin , Sha, ayo pulang. Besok kita segera kembali"Teriak Aron.
"Iya kak"Jawab Vino.
"°Ayo kita pulang, kak Aron sudah ajak kita pulang"Ucap Vino pada kesha, ia menggandeng tangan Kesha berjapan mepewati hamparan pasir dengan sesekali bercanda saling jahil satu sama lain.
"Sha!!" sapa Manda duduk di samping Kesha,
"Iya Da"
"Kamu ada tisu gak? tanya Manda yang masih memegang hidungnya kini sudah mulai memerah.
"Kamu flu Da? Iya bentar aku carikan di dalam.tas aku. Eh.. Vin di depan gak ada tisu kah?" tanya Kesha yang sibuk mencari tisu untuk Manda.
"Gak ada, apa kamu gak bawa?" ucap Aron.
"Eh.. ini Da ada tapi aku hanya bawa segini kamu pakai saja ya"Gumam Kesha mengulurkan satu kotak tisu untuk Manda.
"Itu makanya jangan jalan-jalan terus"Gumam Aron.
"Bukannya yang ajak jalan-alan tadi kamu, kenapa jadi aku yang di salahin sih"jawab Manda kesal.
Aron terdiam, Benar sih aku tadi yang ajak Manda keluar, kenapa aku nyalahin dia, wah, pasti dia akan marah padaku, gumam Aron dalam hatinya.
"Udah sampai ayo turun"ucap Aron.
"Kak, Manda tidur "Bisik Kesha.
"Kamu turun dulu"pinta Aron pada Kesha.
Aron segera menggendong Manda ala Bridal style, berjalan masuk ke dalam Lift meski berdesak-desakan pada orang di sampingnya Aron tak perduli, kalaupun orang itu gak suka mendingan pergi jangan masuk dalam lift bersamanya, gumamnya dalam hati. Bahkan dia juga tidak perduli semua orang menatapnya.
Manda merangkul leher Aron dengan kepala bersadar lembut di dada Aron.
"Kalau tidur gini lucu juga"ucap Aron tersenyum menatap wajah imut istrinya itu.
"Kak, aku balik dulu ya ke kamar"Ucap Vino menepuk pundak Aron.
Aron hanya tersenyum menatap Vino, dengan langkah ringan langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu kamarnya, namun kini ia kesulitan untuk membuka pintunya.
Maaf ya dia Bab sebelumnya salah ketik nama, Itu nama novel author satunya. Dan makasih udah pada ingeti jadi yang beberapa salah nama sudah aku revisi tapi belum lolos reviuw kak..
Maaf ya🙏🙏
__ADS_1