
“Kamu mau kamana lagi sekarang?”Tanya Aron menatap ke arah Manda di sampingnya,
“Gimana kalau kita jalan-jalan malam dulu, aku belum pernah tau gimana suasana malam di sini seperti apa. Dan kamu juga gak pernah ajak aku keluar malam. Kamu ajak aku keluar juga waktu di luar negeri saja. Di negeri sendiri belum pernah jalan-jalan menikmati indahnya pemandangan di sini.”gumam Manda kesal, iya belum pernah sama sekali keluar saat menikah dengan Aron.
“Iya udah kita mau lihat pasar malem atau jalan-jalan keliling kota naik mobil”ucap Aron, menarik kepala Manda untuk bersandar di bahunya.
“Aku mau ke pasar malam saja, mungkin banyak taman hiburan ya, apalagi kalau ada orang jualan makanan khas sini Aku mau coba”gumam Manda, membayangkan beberapa makanan di otaknya, yang bikin air liurnya seakan menetes.
“Baiklah, aku nurut saja apa kata kamu deh”ucap Aron.
“Pak, kita putar balik ke pasar malam ya”ucap Aron pada sopirnya.
“Iya, tuan”
Laju mobil putar balik menuju ke pasar malam yang lumayan jauh.
“Aku mau bicara denganmu, tapi kamu jangan marah atau kecewa, aku hanya Tanya tetang pendapat kamu syang”ucap Aron, menusap lembut kepala Manda di bahunya
“Emangnya mau bicara apa syang, tetang hubungan kita, tentang Vino atau tentang anak kita nantinya”Tanya Manda yang nampak sangat penasaran dengan cerita Aron, ia menatap wajah Aron yang tepat di depannya.
“Aku mau kita pindah dari kota ini”Ucap Aron, yang mulai memasang wajah serius.
“Kenapa pindah, emangnya di sini kenapa syang?”Tanya Manda beranjak duduk tegap menatap ke arah Aron.
Aron menarik kepala Manda agar bersandar di bahunya, “Enggak kanapa-napa, aku hanya ingin hidup bersama kamu. Tanpa memandang masa lalu lagi, kita lupakan semua masa lalu kita yang menyakitkan di sini. Dan mulai hidup baru dengan keluarga kecil kita. Setelah aku sudah selesai menyelidiki siapa pembunuh orang tua kamu, itu kita pergi dari sini, aku takut banyak orang yang akan mengincar kamu nantinya. Karena ini terlalu bahaya bagi kamu dan bayi kita. Yang di incar adalah aku, aku tahu jika dia pasti ingin menguasai harta aku . Dengan menjatuhkan nama baik aku, tapi Vino sudah bergerak cepat dan menutup kasus itu menghilangkan dari semua berita. Dan kamu yang harus jadi korban”ucap Aron, menjelaskan lagi kasus itu. Ia menyandarkan kepalanya di kepala Manda dengan tangan memengang bahu manda mengusapnya lembut. Ia ingin mencari ketenangan hidup bersama Manda menjalani tanpa ada malasah yang akan melibatkan anaknya kelak.
“Baiklah, aku setuju dengan kamu syang, aku juga gak mau nanti anak kita yang akan jadi sasaran mereka. Tapi kamu apa yakin dengan keputusanmu itu. Aku gak mau nantinya kamu menyesal dengan keputusan itu”gumam Manda, mendongakkan kepalanya mentap Aron di sampingnya.
“Aku yakin dan sudah sangat yakin, aku akan menjual semua perusahaan ku di sini. Dan kita pindak ke kota lain dan menjalani hidup baru, membangun usaha baru dari nol bersama kamu”ucap Aron, dengan senyum tipis mentap ke arah Manda, jemari tangannya tak pernah berhenti mengusap lebut bahu Manda.
__ADS_1
“Tapi apakah Vino akan setuju dengan keputusan kamu syang, aku tidak mau jika Vino akan kecewa jika semua perusahaan kamu di jual, bagaimana dengan Vino saat ia kuliah nanti, gimana dengan biaya kuliah mahalnya nanti. Dan aku juga akan kuliah nanti, tapi kalau biaya kuliahku bisa di atur, aku akan berusaha cari beasiswa. Dan yang aku pikirkan adalah Vino kedepannya”jawab Manda.
“Aku akan bicarakan nanti padanya, tapi jika memang dia benar akan menikah dan gak mau sama sekali untuk dapat uang dariku, aku juga akan mendukungnya. Biarkan dia mandiri, bagaimana cara dia harus berjuang mencari uang untuk orang yang ia sayangi. Aku yakin dia bisa sukses sendiri tanpa bantuanku. Tergantung tekat dan kerja kerasnya”ucap Aron.
“Tuan sudah sampai”ucap sopir itu, menghentikan pembicaraan mereka. Manda segera duduk tegap kembali, dan segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil Aron.
“Nanti kita bicarakan itu lagi di rumah, bersama Vino dan Kesha, biar mereka semua tahu”gumam Aron.
“Baiklah syang, sekarang kita senang-senang dulu”gumam Manda
“Eh.. tapi syang kamu duduk di kursi roda, jangan jalan jauh-jauh dariku. Kamu belum sembuh beneran.”ucap Aron.
“bukannya aku dari tadi jalan sendiri tanpa kursi roda, tenang saja syang aku udah baikan kok, asal aku lebih hati-hati lagi sekarang”gumam Manda, menoleh ke belakang menatap Aron di belakangnya, dengan memasang senyum manisnya di hadapan Aron.
“Wah… benar-benar sangat indah” gumam manda tak berhenti menatap kagum, ada berbagai macam hiburan di sana. Banyak orang yang melakukan atraksi dance tarian lain, dengan deretan penontot menutupi jalan, dan berbagai jajanan khas daerah yang membuat Manda seakan meneteskan air liurnya, Dan tak lupa banyak sekali perminan hiburan di sana, dengan kemelip lampu lampion yang indah. Dan lapu hias yang menhiasi jalanan. “Sayang, aku mau itu” ucap manda, berlari menuju ke penjual jajanan dan berbagai saufenir di pinggiran.
“Eh.. syang jangan lari, hati- hati kamu belum sembuh” Teriak Aron, berlari mengikuti Manda.
“Syang jangn terlalu banyak makanan pedas”ucap Aron mengingatkan istrinya itu, agar hati-hati jika makanan.
“Hakk… Buka mulut kamu. Coba deh!”ucap manda, yang mulai suapn aron lagi.
“Udah jangan cerewet, kita makan saja bersama.”ucap Manda, mentap Aron dengan senyum menggodanya.
Aron terdim, baru kali ini ia merasakan jajanan ini, dan memang benar enak. Meski jajanan pinggiran tapi mampu membuat lidah aron tak berhenti merasakan pecahnya lumitan keju dalam mulutnya, di tambah dengan daging yang kenyal. Dan rasa pedas yang tesrsisa di dalam mulutnya.
“Sayang kenapa diam? Gak enak ya?”Tanya Manda mentap aneh pada Aron.
“Enak kok syang”gumam Aron yang masih mengunyah makanan itu.
__ADS_1
“Benar kan yang aku bilang, oya syang di sana ada apa? Kenapa banyak sekali orang bawa lilin”Tanya Manda, ia mencoba melangkahkan kakinya berjalan mendekati kerumunan kupulan orang itu.
“Syang kamu mau kemana lagi, jangan jauh-jauh dariku”ucap Aron, meraih tangan Manda mencegahnya pergi jauh dari sisinya. Di keramaian ini Aron takut jika kehilangan jejak Manda nantinya.
“Aku hanya ingin lihat di sana syang. Emang disana ada apa?”ucap Manda, menunjuk ke arah keramaian itu.
“Ooo.. itu hanya orang-orang yang mengenang seseorang dengan meletakkan lilin itu ke danau”ucap Aron. “Ikut yuk, syang.”saut Manda.
“Gak mau, di sana ramai sayang, aku takut kalau kamu berdesak desakan di sana. Di sana ramai banget syang”ucap Aron, mengusap lembut rambut Manda.
Manda mengerutkan bibirnya, ia kesal tidak di bolehkan ikut ke sana. Padahal ia sangat penasaran apa yang di lakukan orang di sana.
“Sayang boleh ya”ucap Manda dengan pandangan memohon, mendongakkan kepalanya menatap Aron yang jauh lebih tinggi darinya.
“jangan memohon seperti itu”ucap Aron, ia tak bisa melihat istrinya, memohon seperti itu dengan pandangan mata seakan mengeluarkan harapan keinginan ingin sekalai melihat.
“Pliss.. ”Manda tak berhenti memohon ke dua tanan menggenggam jadi satu, di atas dadanya mentap dengan pandangan mata kasihan.
“Baiklah, tapi hanya lihat jangan ikut-ikutan. Itu bukan adat kita”ucap Aron.
“Siap syang”
“Tapi jangan jauh-jauh dariku, kamu harus tetap dalam dekapanku. Tak boleh lepas dari pelukanku. Aku gak mau kamu pergi senidri di tengah kerumunan itu”gumam Aron, yang sepertinya terpaksa menuruti apa kata istrinya itu.
“Baik syang, aku akan selalu di samping kamu, udah sekarang ayo jalan keburu habis nanti”ucap Manda menarik tangan Aron.
Aron memegang tangan Manda, menghentikan langkahnya, ia diam sejenak, merangkul Manda, menarik bahu kanannya agar menempel ke dadanya. Ia berjalan ringan menuju ke arah di manna acara itu di mulai. Manda tak berhenti manatap wajah Aron, baru kali ini ia berada dalam dekapan kehangatan tubuh Aron di depan orang banyak. Dan dia benar-benar seperti malaikat pelindungnya sekarang.
“Katanya mau lihat, kenapa mentapku seperti itu”Tanya Aron.
__ADS_1
“Eh,, iya ini aku lihat syang”ucap Manda, wajahnya mulai memerah seakan seperi baru pacaran dengan Aron, bahkan dulu dengan pacarnya tak pernah seperti ini dulu, dan bersama Aron sekarang seakan pacaran setelah menikah.