
Malam pun tiba, Fany sedang keluar entah kemana, Manda melihat Aron duduk dendiri di ruang keluarga.
Manda meneteskan air matanya, mengumpulkan semua keberanianya untuk mendekati Aron. Saat ini Fany tidak ada di rumah ini kesempatan Manda untuk berbicara berdua dengannya. Ia berharap ingin memperbaiki hubungan yang selama ini renggang.
Manda menghela napas panjangnya, berjalan mendekati Aron yang duduk bersandar di sofa dengan ke dua tangan terlentang di atasnya.Dan tangan kanan memegang remot tv. Ia menikmati siaran berita di tv depannya. Tanpa menyadari kehadiran Manda berjalan di belakangnya.
Manda mencengkram erat ujung bajunya, mengigit bibir bawahnya, untuk menghilangkan rasa keraguan dalam hatinya.
" maaf mengganggumu" gumam Manda menundukkan kepalanya. Tubuhnya kini semakin mengigil. Ia mencoba mengatur napas untuk menghilangkan sejenak rasa ragunya berbicara dengan Aron.
Aron masih terdiam seakan tak perduli, namun dalam hati ia tahu gimana perasaan Manda dengannya. Bukannya ia berniat menyakitinya. Hatinya juga sakit melihat Manda terus menangis, tapi setidaknya dia harus mengerti dengan keadaannya sebentar. Saat yang tepat akan menceritakan semuanya.
Manda semakin berjalan mendekati Aron.
" aku sudah tahu semuanya sekarang, kenapa kamu menjauhiku. Dan kenapa kamu tak pernah memandangku. Bagimu mungkin sekarang aku hanyalah debu yang bisa di lempar seenaknya. Tapi apa kamu tahu isi hatiku. Gimana saat kamu gak perdulikan aku lagi. Gimana saat kamu acuh padaku. Semua terasa membekas sakitnya di hatiku. Ya, aku tahu, aku hanya simpanan tak pantas mendapatkan hatimu. Tapi asal kamu tahu tuan Aron yang terhormat. Di hati ini merasa lebih dari itu" Manda menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
Aron menoleh, menatap Manda dengan rasa kasihan, hatinya bagai di sayat-sayat melihat manda terus menangis. Manda mencoba tersenyum di hadapan Aron yang hanya terdiam menatapnya.
Aron meletakkan remot tv nya. Ia beranjak bediri di depan Manda dengan raut wajah dinginnya yang terasa lebih menyakitkan kali ini di hati Manda.
Aron seolah tak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang ia rasakan sama dengan Manda. Namun ini berbeda. ia tak mau kehilangannya hanya karena menutupi masalah besar yang di sembunyikannya sendiri. Dan masalah itu diam-diam Fany mengetahuinya. Dan satu hal yang Aron masih sembunyikan padanya. Di balik kesedihan hari ini suatu saat pasti ada hal bahagia untuk mereka berdua. Aron percaya itu, ia diam-diam ingin nenyingkirkan Fany, tetapi ia tak bisa berbicara dengan Manda dulu.
hal itu yang membuat Aron bingung, apa ia harus berkata jujur demi melihat Manda bahagia, tetapi di sisi lain Fany pasti tak bekerja sendiri ia akan melakukan berbagai cara untuk menyakiti Manda jika dia berani mendekatinya. Aron hanya Hidup bahagia dengannya. Tetapi dalam hatinya selalu berkata, Apa mungkin ia bisa menerima jika suaminya adalah pembunuh orang tuanya. Meskipun tidak secara langsung.
Manda beri aku waktu 3 hari untuk menyelesaikan semuanya, bersabarlah, Batin Aron
Ia tak berani menucap kata itu secara langsung pada Aron.
__ADS_1
Namun sepertinya kini Manda terlihat diam menatap tajam ke arah Aron, seraya dendam Manda menjalar padanya. Aron tak sanggup jika Manda membencinya. Lebih baik jika Manda tetap di sisinya. ia bisa menjaganya dari jauh meskipun terkadang harus rasa sakit yang diderita Manda karena sifat acuh Aron padanya kali ini.
Tetapi bagi Aron itulah yang terbaik, agar ia bisa menatap Manda setiap hari, meskipun dia tak bisa menyentuhnya. Dan wajah yang semula ceria tiba-tiba hilang dari raut wajahnya.
Mata Manda kini selalu terlihat memerah dan membengkat. Sepertinya ia memang setiap hari menangis, menyesali apa yang terjadi. entah apa ada kesempatan lagi buwat dia untuk memperbaiki semuanya.
Manda terus berharap Aron akan kembali seperti semula. Setiap hari Aron mengacuhkannya hatinya sangat sakit. Bahkan tak sanggup lagi untuk menatap dunia lagi.
Aron menyetuh ke dua pundak Manda.
Hikss..hikss.
Manda menangis sesegukan, menutupi matanya dengan punggung tangannya.
" Kamu terlalu jahat, kamu jahat Aron. Apa kamu tidak tahu gimana sakitnya aku. Menahan emosi saat kamu berdua dengan Fany, saat kamu mengacuhkanku. Dan bahkan saat kamu tak pernah menganggap perhatianku. Apa salahku? Cepat katakan apa salahku" Manda sangat emosi menarik narik kerah baju Aron. Air matanya terus mengalir tak hentinya.
" kenapa kamu diam cepat jawab" Bentak Manda yang masih sesegukan, dengan tangan masih nencengkram erat kerah Aron
" Jika memang kamu sudah tidak menganggapku, kenapa, kenapa kamu pertahankan aku saat ini, kenapa kamu tidak meninggalkanku, agar tak terus menehan skait hati seperti ini"
Hiks..hikk... manda menyandarkan kepalanya ke dada bidang Aron. Ia terus menangis sesegukan. Hatinya tak kuat lagi menahannya. Bahkan Aron hanya diam tanpa kata penjelasan darinya.
Aron mengangkat tangannya seolah ia ingin memeluk Manda. Namun ia terlihat ragu dan membatalkan niatnya. Meski sebenarnya ia tak sanggup melihat Manda seperti ini. Mata Aron mulai berkaca-kaca, ia mendongakkan kepalanya menahan air mata yang seakan ingin sekali menetes.
" hikk.. hiks.. aku benci kamu. Aku benci kamu" gumam Manda memukul dada bidang Aron berkali-kali dengan ke dua tangannya. Ia tak berhenti menangis.
Tanpa sadar air mata Aron menetes tepat jatuh di tangan manda membuat Manda berhenti menangis sejenak. Ia mendongakkan kepalanya menatap Aron. Namun Aron memalingkan wajahnya tak ingin memandang Manda.
__ADS_1
" Sepertinya aku harus pergi, maaf " Ucap Aron tanpa menatap ke arah Manda. Ia berjalan menaiki tanggan dengan tangan menyaka air matanya yang tak sengaja keluar.
" Maafkan aku Manda" Gumam Aron dengan langkah kini semakin berat. Ia terus memejamkan matanya menahan air matanya yang sudah tak bisa terbendung lagi.
Manda terdiam menatap punggung Aron yang sudah semakin menjauh darinya.
" kamu telah memberikan jawabannya, terima kasih mungkin semuanya harus berakhir sampai di sini" Gumam manda dengan. Senyum tipis mencoba menghilangkan kesedihannya.
Manda menyeka air matanya dengan punggung tangannya dan beranjak pergi. Menuju kamarnya. Manda segera membereskan semua bajunya dan memasukan ke dalam koper.
" Manda kamu mau kemana" Kesha berlari masuk ke dalam kamar Manda. Ia memeluk erat sahabatnya itu.
" Aku mendengar semuanya, aku sudah mendengar" Ucap Kesha dengan tangan membelai lembut rambut Manda.
" hikss.. Sa apa yang harus aku lakukan?" Gumam Manda lirih.
" Sudahlah, tanangkan hatimu jika kamu masih tetus seperti ini. Kamu tidak akan bisa bepikir tanang" Jawab kesha.
" Huekkk..huekk." Manda tiba-tiba terasa ingin muntah. Ia berlari menuju kamar Manda.
Kesha berlari mengikuti Manda, ia takut terjadi apa-apa dengannya.
" Manda kamu kenapa" kesha memijat pundak Manda.
" Huekk...huekk" tak hentinya Manda muntah-muntah. Dan kini kepalanya terasa sangat pusing. Matanya mulai berkunang-kunang. Wajah kesha terlihat samar-samar di depannya.
Kesha dengan sigap membawa Manda segera kerumah sakit. Ia memapahnya serta meminta bantuan Vino untuk mengantarnya ke rumah sakit.
__ADS_1