
Do you remember you remember
Remember what you said (said)
You talked to me as if you were going to give me anything
Don’t you remember you remember
Remember what you said (said)
Like some kind of drug that has forever changed you
•(G) I-dle•
Keesokan malam harinya di kediaman Lidya,
Akibat pukulan yang membekas di wajah Luckas mengakibatnya dirinya tidak bisa datang ke rumah Lidya selama dua malam ini, dia tidak ingin Lidya melihat wajahnya..seperti yang telah di janjikannya pada Louis, dia tidak ingin Louis menganggap jika dia benar-benar menggunakan wwajah lukanya untuk menarik simpatinya Lidya. Wajah Luckas masih memiliki sedikit bekas luka akibat pukulan Louis namun sudah tidak terlalu terlihat jelas, dia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertemu Lidya.
Luckas berjalan perlahan hingga dirinya berada di depan pintu rumah Lidya, dia pun menekan bel dan mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan kata-kata kasar dari Louis, penolakan dari Lidya, Ayles yang bersembunyi setiap melihatnya..seperti malam-malam sebelumnya. Sekilas Luckas tersenyum pedih, "Ini semua merupakan balasan atas perbuatanmu,Luckas!!!" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Menunggu beberapa saat namun tidak kunjung mendapatkan jawaban dari balik pintu, Luckas kembali menekan bel dan mengetuk pintu rumah Lidya. Dan..tidak ada jawaban,lagi?
"Lidya..?" panggil Luckas sambil kembali mengetuk pintu. Luckas mulai kebingungan, bukan penolakan,penghinaan yang dia terima kali ini.. tapi.. bahkan tidak ada yang membukakan pintunya?
Luckas menggedor lebih keras "Lidya??Louis??"
Cuaca yang sedikit bersalju hari itu membuat jendela rumah Lidya sedikit buram, Luckas bergegas berjalan mendekati jendela Lidya dan mengelap sedikit jendela tersebut, dia pun mengintip ke dalam rumah dan... jantung Luckas berdebar kencang saat melihat seluruh isi rumah..sofa,meja,televisi..hampir seluruh perabot di tutupi kain putih.
"Ti..tidak..." Luckas kembali ke pintu rumah Lidya dan menggedor pintu tersebut dan memanggil nama Lidya,Louis dan Ayles dengan suara yang lebih keras. Dia mencoba menelepon Lidya dan Louis namun seperti biasa, sejak Lidya memutuskan hubungan mereka, Lidya dan Louis tidak pernah lagi mengangkat teleponnya bahkan diam-diam Louis memblokir nomor Luckas di handphone Lidya tanpa diketahui Lidya.
Luckas berlari menuju mobilnya dan segera menjalankan mobilnya menuju hotel DeParis. Dia yakin Elena pasti mengetahui keberadaan Lidya.
Hotel DeParis,
__ADS_1
Suasana menjelang natal tentu merupakan hari yang paling sibuk bagi seluruh hotel di kota New York,termasuk salah satunya hotel DeParis. Luckas berjalan begitu cepat menuju resepsionis dan meminta untuk bertemu dengan Elena segera!
Staf tersebut menghubungi Elena dan memberitahu mengenai Luckas yang ingin menemuinya. Elena tersenyum saat mendengar hal itu, dia telah menunggu kedatangan Luckas,
"Beritahu dirinya jika aku sedang memiliki tamu.." sahut Elena sambil menutup teleponnya.
Staf tersebut pun memberitahu Luckas, wajah Luckas berubah muram "katakan padanya,aku akan menunggunya sampai jam berapapun!" tukas Luckas.
Staf tersebut mengangguk dan kembali mengirim pesan pada atasannya itu.
Luckas sudah tidak tahu berapa jam dia menunggu Elena,sesekali dia melirik jam tangannya,sesekali dia melirik arah resepsionis hotel.
Saat waktu mulai menunjukkan pukul sebelas malam,Luckas mulai kehilangan kesabaran. Sudah empat jam dia menunggu Elena tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban.
Luckas menghela nafas,mencoba kembali bersabar..ya,dia harus sabar..ini adalah hukuman,ujian atas kelakuannya.
Dia berjalan pelan mendekati resepsionis dan kembali menanyakan mereka dengan suara lembut tanpa ada amarah.
Alih-alih tersenyum dengan ucapan lembut Luckas, staf tersebut malah merasa takut mendengar suara Luckas. Dia tahu Luckas yang sudah berjam-jam lamanya menunggu atasan mereka tapi tetap begitu sabar? hal itu malah membuatnya bergidik. Dengan cepat,dia kembali menghubungi atasan mereka.
Sesungguhnya Elena melupakan Luckas yang tengah menunggunya karena disibukkan dengan pekerjaannya,awalnya dia memang sengaja menyuruh Luckas menunggunya tapi kesibukan membuatnya benar-benar melupakan Luckas.
Elena menepuk keningnya "Ya ampun..aku lupa.. apa dia masih berada disana?"
"benar madam" sahut staf tersebut dengan berbisik seakan tidak ingin di dengar Luckas.
"baiklah..suruh dia ke ruanganku" sahut Elena sambil mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
"baiklah..mari kita mulai permainan kita sejenak,sir Luckas Ryans.." gumamnya sendiri sambil tersenyum.