Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Aku mengenalnya


__ADS_3

"Peter Lee???" Luckas mengerutkan keningnya.


"Benar,sir.. Dan setelah kami cek,dia telah meninggalkan Bali tepat setelah kejadian yang menimpa Miss Vanya" lanjut Richard.


"Bajing*n!!. Mengapa dia melukai Vanya??!!" sahut Luckas dengan suara murka.


"Ada apa,Luckas?" Lidya yang baru saja keluar dari kamar mandi, tidak sengaja mendengar suara suaminya yang terdengar sangat kesal.


Luckas mengangkat tangan kanannya, dia ingin mengakhiri pembicaraannya terlebih dahulu dengan Richard sebelum menjelaskannya pada Lidya.


"Lakukan yang terbaik!! Aku menginginkan dia segera di tangkap..dimana pun dia berada!!" lanjut Luckas dan mengakhiri pembicaraan mereka.


Luckas menatap Lidya yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk, "Lidya, Richard telah menemukan tersangkanya"


Refleks Lidya menghentikan aktivitasnya dan menatap Luckas, "apakah kita mengenalnya?"


"Aku tidak tahu.. Hanya..namanya terdengar tidak asing di telingaku.." jawab Luckas. Nama Peter Lee memang sepertinya pernah terdengar oleh Luckas,namun dia tidak bisa mengingat siapa Peter Lee.


"Siapa dia?"


"Peter Lee.. Apakah kamu mengenalnya?" tanya Luckas.


Sontak membuat Lidya menoleh dan menatap suaminya, raut wajahnya terlihat terkejut akan nama itu, "Kamu bilang Peter Lee??".


Luckas mengangguk.


"As..astaga.." lanjut Lidya.


"Mengapa Lidya?? Kamu mengenalnya?"


"Jika dia Peter Lee yang sama dengan yang aku tahu.. Maka ya.. Dia adalah putra dari Simon Lee.." sahut Lidya "apakah kamu lupa cerita Louis pada kita dulu?? Saat Vanya pergi meninggalkannya".


Luckas terdiam sejenak lalu menepuk keningnya, "Astaga!!! Sebab itu sejak tadi aku merasa pernah mendengar nama itu!!"


"Louis akan sangat marah jika mengetahui ini" sahut Lidya.


"Tapi..Bagaimanapun,dia harus tahu"


"Aku takut dia akan melakukan hal bodoh" sahut Lidya.


Luckas kembali terdiam, "Tidak akan,Lidya.. Aku mengenal Louis.. Dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang kamu pikirkan.. Terlebih,aku telah menyuruh Richard mengurus dan secepatnya menangkap Peter".


Lidya mengangguk lesu, "ja..jadi..apakah kamu akan memberitahu Louis sekarang?"


"Bagaimana jika besok kita baru memberitahunya?. Aku yakin kita membutuhkan istirahat yang tenang,begitu juga dengan Louis.." sahut Luckas.


Lidya mengangguk,menyetujui saran suaminya.



Hari semakin gelap,Louis terlelap di sofa yang ada di ruangan Vanya di rawat.. Namun,dia tidak pernah terlelap nyenyak. Tidak sebelum Vanya sadar.. Berulang kali Louis bangkit berdiri memeriksa Vanya lalu kembali duduk atau berbaring.



Sama seperti sekarang,Louis baru saja terbangun dari tidurnya. Dia berdiri,mendekati Vanya.. mengecup kening Vanya.

__ADS_1



"Kamu tidur terlalu lama,sayang.. Aku merindukan tatapan matamu dan cerewetmu" bisik Louis.



Saat Louis berbalik sambil mengucek kedua matanya. Sayup-sayup, terdengar suara yang memanggil namanya. Louis berbalik kembali, menatap Vanya yang telah membuka kedua matanya,menatap Louis dan sekelilingnya.



"Va..Vanya???!!!" pekik Louis, "kamu telah sadar,Vanya??. Demi Tuhan.. terima kasih...terima kasih banyak,Vanya!!! Terima kasih kamu telah bertahan" sahut Louis sambil mengecup pipi Vanya berulang kali.



"Lo..Louis" lirih Vanya yang kewalahan akan 'serangan' bertubi-tubi dari Louis.



"Ah..ma..maafkan aku..aku hanya terlalu senang melihatmu telah sadar."



"A..aku dimana?"



"Rumah sakit,sayang.." sahut Louis sambil tersenyum, "tunggu sebentar,aku akan memberitahu suster jika kamu telah sadar.."




"Selamat,nona.. kamu telah melewati semuanya.. Selain kamu harus menjaga luka yang ada di perutmu untuk sementara waktu, selebihnya tidak ada masalah lagi.." jelas dokter Rudy.



Louis semakin kegirangan mendengar penjelasan dokter Rudy. Setelah ditinggal dokter Rudy dan perawat lainnya, Louis menatap Vanya dan menggenggam tangan kanan Vanya dengan erat.



Vanya tersenyum, "mengapa kamu seperti anak kecil?" sahutnya sambil mengangkat tangan kanannya yang di genggam Louis.



"Jangan melarangku,Vanya.. Aku baru menyadari, betapa berharganya setiap detik bersamamu setelah kamu tidak sadarkan diri. Dan aku tidak ingin melepaskanmu lagi!!"



"Apakah aku tidak sadar begitu lama?"



"Lama..sangat lama!!! satu jam bagiku bagaikan satu tahun!!"


__ADS_1


Vanya tertawa kecil, "dasar gombal!!"



"Vanya.."



Vanya menatap Louis.



"Apakah kamu mengingat apa yang terjadi padamu?" lanjut Louis.



Seketika wajah Vanya berubah muram,lalu mengangguk pelan.



"Siapa yang melukaimu,Vanya??. Apakah dia perampok yang masuk ke rumahmu?? Atau.. di..dia ingin me..memper--" Louis tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.



"Louis..Dia tidak sempat memperkos\*ku" lirih Vanya, "dia bukan perampok ataupun maling.. Dia murni ingin menemuiku dan sejujurnya.. memang menginginkanku"



Seketika perasaan Louis seakan tertusuk jarum bertubi-tubi, dia tidak mampu membayangkan apa yang terjadi jika dia terlambat masuk ke dalam rumah Vanya saat itu.



"Ja..jadi mengapa kamu bisa terluka?" tanya Louis.



"Semuanya terjadi begitu saja.. Aku hanya ingin membela diri,tapi.. malah aku yang terkena getahnya.." sahut Vanya.



"Kamu mengenalnya? Atau kamu mengingat wajahnya??. Kita bisa menyuruh pihak berwajib untuk membuat sketsanya!!" tukas Louis.



"A.. aku mengingatnya.. bahkan aku mengenalnya" sahut Vanya sambil menundukkan kepalanya, "Peter Lee.."



*Dhuarrr*!!!!



Suara gemuruh langit seakan menambah suara latar bagi Louis saat mendengar nama yang disebutkan Vanya.


__ADS_1


__ADS_2