
Baik Ruby maupun Peter seketika mematung, sedangkan Sharron hanya bingung akan penjelasan pelayannya.
"Polisi? Mengapa mereka disini?" tanya Sharron. Ruby melirik Peter.
Drap..drap..drap..
Suara derap langkah kaki terdengar mendekati mereka. Sharron melihat tujuh orang yang berpakaian seragam kepolisian dan beberapa diantaranya memakai pakaian biasa dibalut jaket kulit berwarna hitam. Sharron semakin bergidik melihat pistol yang berada di pinggang mereka.
"A..ada apa ini??!! Mengapa kalian masuk ke dalam rumah saya?!" pekik Sharron.
Perlahan Peter semakin menutup celah pintu kamarnya, dia hanya menyisakan sedikit celah kecil untuk mendengar pembicaraan antara ibunya dan para polisi.
Salah satu detektif berjaket hitam mengeluarkan selembar kertas dan menunjukkan pada Sharron.
"Selamat siang,madam.. Kami di sini untuk membawa sir Peter Lee atas tuduhan pelecehan dan penusukan terhadap miss Vanya Rossane" sahut detektif tersebut dengan tegas sambil melirik ke arah pintu kamar Peter.
"Aa...apa??" sahut Sharron dengan gugup.
Bam!!!
Peter langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya, seketika para petugas kepolisian bergegas mendobrak pintu kamar Peter, beberapa diantara mereka telah berjaga di depan rumah Simon supaya menghindari Peter yang melarikan diri melalui jendela kamarnya.
"Peter Lee!!! Kami harap anda tidak memberatkan kejahatan anda!!!" pekik salah satu detektif tersebut.
Sharron dan Ruby hanya menatap mereka dengan bengong. Sekujur tubuh Sharron bergemetar hebat, Ruby yang menyadari situasi yang serius ini.. dia mendekati sang ibu yang sudah terlihat pucat.
"Mama.."
__ADS_1
Sharron menatap Ruby dengan wajah yang seputih kapas, "Ru..Ruby.. a.. ada apa ini?. Ce..cepat hubungi papamu..." lirih Sharron.
Brak!!
Pintu kamar Peter akhirnya berhasil di dobrak oleh petugas kepolisian, Peter terlihat menodongkan pistol kepada para kepolisian. Pistol milik Simon Lee yang dia ambil secara diam-diam dari ruang kerja Simon. Pistol yang disimpan Simon Lee untuk berjaga-jaga melindungi diri. Pistol yang Peter taruh di dekatnya setiap kali jika dia merasa ketakutan.. berulang kali dia memikirkan untuk mengakhiri hidupnya dengan pistol itu. Tapi,selalu berakhir dengan tangan gemetar dan hanya menitikkan air mata. Peter sadar..dia terlalu pengecut untuk mengakhiri hidupnya.
Terakhir kali dia mulai merasa lega saat membaca pesan jika pelaku yang melukai Vanya tidak ketahuan, tanpa dia ketahui jika itu merupakan pesan dari Louis yang membohonginya.
"Peter Lee!!!" pekik salah satu detektif itu, "saya harap anda meletakkan pistol tersebut dan mengangkat kedua tangan anda sekarang juga!"
Mendengar kata pistol membuat Sharron semakin lemas dan gemetar, dia berlari masuk ke dalam kamar Peter.. melihat Peter yang tengah menodongkan pistol milik suaminya mengancam para kepolisian.
"Pe..Peter.." Sharron menitikkan air matanya, "Peter. mama mohon..letakkan pistolmu itu.. Dengarkan perintah para polisi ini.. Kita bisa meminta bantuan pengacara kita untuk membersihkan namamu nanti!!. Papamu pasti akan membantumu,sayang.." pinta Sharron.
"Tidak!!!" pekik Peter.
Ruby berlari masuk ke dalam kamar Peter, dia syok melihat suasana tegang di kamar Peter, "ge..ge.. a..apa-apaan ini!! Letakkan pistol sial*n itu!!" pekik Ruby.
"A..apa? Karenaku?!"
"Karena kamu memberitahuku jika tidak ada apa-apa!! Jika tidak, a..aku sebelumnya telah--"
"PENGECUT!!!" pekik Ruby.
"Peter Lee,saya harap anda meletakkan pistol anda!!" pekik petugas kepolisian kembali.
"Salahku katamu?!. Siapa yang menyakiti Vanya?!. Siapa yang melecehkannya,hah?!" pekik Ruby "dan kamu menyalahkanku?!"
__ADS_1
Peter menatap Ruby, tatapan matanya terlihat sangat tidak stabil. Dia terlihat begitu ketakutan namun mencoba melindungi diri dengan pistol yang ada di tangannya. Menyerah..sama saja menjadi akhir hidupnya.
"Ti..tidak! Bukan salahku!! A..aku hanya ingin berbicara dengan Vanya.. Dan dia menodongkan pisaunya padaku.. A..aku hanya mencoba mengambil pisau itu.. ta..tapi.." sahut Peter dengan gugup.
"Kita dapat membicarakan itu di kantor polisi nanti,Peter Lee.." bujuk salah satu petugas kepolisian.
"Benar,Peter.. Mama.. mama akan meminta papamu segera menolongmu" bujuk Sharron.
Peter menggelengkan kepalanya, air matanya akhirnya mengalir dari kedua pelupuk matanya. Dia tertawa, suara tawa yang terdengar begitu pilu di telinga semua orang.
"P..Peter.." sahut Ruby.
"Menolongku?" Peter kembali tertawa, "papa tidak akan menolongmu,ma!!! Jika papa akan menolongku, aku tidak akan seperti ini sampai hari ini!!!" pekik Peter "Papa..papa akan--"
"PETER!" suara pekikan Simon Lee yang memanggil nama putranya, seketika membuat semua orang menoleh melihat kearah Simon.
Ternyata,sebelumnya Ruby mengirimkan pesan pada sang ayah untuk segera kembali ke rumah.
"Pa..papa.." sahut Peter semakin gugup.
"Simon.." Sharron mendekati suaminya, "aku mohon..bujuklah dia.."
Simon menatap Sharron lalu melihat Peter, "Kamu gila?!!. Letakkan pistol itu atau kamu akan menerima ganjaran dariku?!"
Peter kembali tertawa pilu, "lihatlah.. aku benar.." lirih Peter lalu meletakkan pistol tersebut kearah kepalanya.
"TIDAAKKKKKKK!!!!!"
__ADS_1
Dorrrrr!!!!