Hotel Prince

Hotel Prince
Unbeliever


__ADS_3

Our story began in the heart of a star


We've lost our way, forgotten what we are


We are only particles in motion


Floating through space, a destructive race


What a destructive race


•Architects•



Setelah kepergian Louis, Lidya berbaring di tempat tidurnya. Menatap telepon genggamnya yang masih hening tidak ada telepon ataupun pesan yang masuk dari Luckas,Lidya tertawa namun air matanya mengalir "bajing\*n kau,Luckas!" kutuk Lidya dengan suara pelan. Sejujurnya, Lidya tidak serius saat mengatakan ingin memutuskan hubungan dengan Luckas,namun emosi sesaat membuat Lidya tidak bisa berpikir jernih.



Bukan hal yang sulit jika Lidya harus membawa Ayles untuk tes DNA, karena hanya pada Luckas seorang saja dia menyerahkan seluruh dirinya..bahkan jiwanya. Namun, Lidya merasa harga dirinya sangat tercoreng jika dia menyanggupi permintaan Dora..bagi Lidya, menyanggupi hal itu..sama saja menganggap dirinya seperti perempuan murahan yang telah seenaknya berhubungan dengan pria-pria lain selain Luckas. Dan kalimat Dora yang membekas dihatinya tentang kesalahpahaman akan Darren yang sehingga membuatnya meminta kejelasan Ayles,hal itu sangat menyakiti hatinya.

__ADS_1



Lidya kembali menatap telepon genggamnya dan akhirnya dihempaskannya kembali di tempat tidurnya "Apa kamu sungguh ingin aku menyanggupi permintaan Dora,Luckas?" bisik Lidya dengan suara lirih "bagaimana mungkin kamu sendiri meragukanku,Luckas.." lirih Lidya sambil menitikkan air mata. Sakit hati dengan Dora ditambah Luckas yang meragukannya,cukup membuatnya terasa begitu terhina.



Di depan salah satu mini market dekat kediaman Lidya, terlihat sosok Louis bersama Ayles yang menikmati es krim coklatnya. Louis tengah melamun memikirkan alasan dibalik sikap kakaknya yang tiba-tiba menyendiri. Louis menatap Ayles yang tengah menikmati es krimnya "sepertinya uncle harus mencari papamu,Ayles.." sahut Louis pelan yang lalu tertawa melihat wajah Ayles yang telah berlepotan karena es krimnya. Bergegas Louis membersihkan wajah Ayles,dan memanggil taksi.


Sebelumnya,Louis tahu jika Lidya akan pergi ke rumah Luckas bersama Ayles..dan setelahnya dia tidak mengerti mengapa dia pulang dalam keadaan terpuruk seperti ini. 'aku akan menanyakan pada Luckas..jika saja keluarganya masih menyakiti Lidya,maka aku tidak akan tinggal diam' sahut Louis dalam hati.


Louis melihat kartu akses yang diberikan Luckas padanya sebelumnya,sehingga Louis bisa dengan mudah memakai lift yang ada di hotel Kingdom.


Sambil menggendong Ayles,Louis menekan bel yang ada di pintu Luckas, dan sama seperti Lidya..Louis tidak mendapatkan jawaban apapun ataupun pintu yang dibuka. Dengan jengkel,Louis menekan bel berulang kali.. masa bodoh pikirnya,jika memang Luckas berada di dalam,tentunya dia akan membuka pintu itu. Louis merasa kesal dengan kelakuan pasangan ini.


Begitu pintu terbuka,Louis langsung menutup hidungnya begitu juga Ayles yang hanya mengikuti tingkah pamannya.


"maaf sekali,Sir Luckas..anda tidak bisa memecatku.." sahut Louis "demi apa..kau mabuk??"


Sambil mencoba menahan rasa mabuknya,Luckas memicingkan matanya mencoba melihat siapa yang tengah berada didepannya "kamu?? siapa??"

__ADS_1


Louis memutar kedua bola matanya "Kalian berdua.." dia sungguh kehabisan kata-kata "bagaimana mungkin kalian berdua berubah seperti ini begitu kembali dari rumahmu??!! apa yang terjadi??" tanya Louis dengan suara tinggi.


Luckas menggelengkan kepalanya mencoba menenangkan rasa pusing di kepalanya, tanpa menjawab Louis..dia berjalan masuk kedalam rumahnya diikuti Louis dan Ayles. Ayles sedari tadi diam,dia tidak berani mendekati ayahnya yang terlihat begitu berbeda dari biasanya.


"kamu duduk saja..aku tidak peduli apa yang ingin kamu lakukan..dan jika sudah selesai,silakan keluar dari sini" sahut Luckas sambil berjalan ke arah kamarnya dengan langkah yang sempoyongan.


Louis menghampiri dan menahannya "Bisakah salah satu dari kalian menjelaskan padaku apa yabg terjadi dirumahmu?? atau rumahmu itu adalah rumah angker atau terkutuk?? Mengapa setiap kembali dari rumah itu,tidak ada satupun dari kalian yang terlihat gembira dan bahkan sekarang Lidya hanya bisa mengurung dirinya di kamarnya?!" sahut Louis jengkel. Dia merasa putus asa melihat mereka berdua .


"Lidya??" Luckas menepis tangan Louis sambil tertawa kencang namun terkesan pedih "aku tidak percaya padanya!!"


Louis menatap Luckas dengan keheranan "apa maksud ucapanmu itu?!".


Ayles yang sedari tadi hanya berani menatap Luckas,akhirnya memberanikan diri mendekati ayahnya. Dengan perlahan dia menarik celana ayahnya "deedi?" sahutnya pelan.


Luckas menatap Ayles yang sedang melihatnya dengan tatapan polosnya, Luckas mendorongnya sehingga membuat Ayles terjatuh dan menangis karena kesakitan.


"Ayles!!!" pekik Louis,dengan cepat dia menggendong dan menenangkan Ayles yang menangis "apa yang kamu lakukan,Luckas?!!" bentak Louis "sadarlah!! ini Ayles!! anakmu!!"


Luckas menatap Ayles dan tertawa "anakku?? siapa? Ayles?" tanyanya sambil tertawa "aku sendiri tidak yakin apakah dia anakku atau bukan..bagaimana mungkin kalian dengan mudah mengatakan jika dia adalah anakku??!!" pekiknya.

__ADS_1


Louis sekarang tahu permasalahan apa yang sedang terjadi antara kakaknya dan pria yang didepannya ini. Dia merasa tersinggung dan marah, perlahan dia menurunkan Ayles yang masih terisak dan dengan cepat dia memberikan pukulan di wajah Luckas. Luckas tersungkur di lantai dengan darah segar yang mengalir di sebelah sudut bibirnya. Dia meringis kesakitan.



__ADS_2