
Seminggu sebelum berangkat ke Washington, di malam yang sunyibitu..Lidya duduk termenung memikirkan Louis yang masih menanti berita akan Vanya. Lidya menghela nafas, lalu menatap Luckas yang berada di kursi meja kerjanya.
"Ada apa, sayang? Kamu melihatku seperti itu..aku merasa tersipu" sahut Luckas sambil tersenyum pada Lidya.
"Aku merasa bersalah padamu.."
Luckas terkejut akan jawaban Lidya, "apa maksudmu?"
"Aku sedang memikirkan Louis yang masih menunggu Vanya dan itu membuatku memikirkanmu dulu.. Hal itu membuatku merasa bersalah karena dulu meninggalkanmu.. maafkan aku,sayang.."
Luckas tertawa lalu beranjak dari kursinya,dia mendekati Lidya dan duduk di sampingnya. Luckas menarik tubuh Lidya hingga berbaring di tubuh bidang Luckas, "mengapa kamu memikirkan masa lalu,semua telah berlalu, sayang.. dan lagipula,aku telah memaafkanmu tepat setelah aku menemukanmu dulu.."
Lidya mengelus lengan Luckas yang melingkar di tubuhnya, "dan aku bersyukur akan hal itu, bersyukur kamu yang tidak menyerah akan diriku"
Kecupan ringan mendarat di belakang kepala Lidya, "karena aku mencintaimu,dan itu menguatkanku!"
Lidya tersenyum, "bagaimana jika dulu aku telah menikah dengan pria lain?"
Luckas membisu, "kamu ingin tahu jawabannya?"
"Karena itu,aku bertanya bukan?"
"Sejujurnya,mungkin aku akan membunuhnya dan menculikmu!"
Suara tawa Lidya langsung memenuhi ruang kerja Luckas.
"Aku serius!" lanjut Luckas.
Lidya mencoba menghentikan tawanya karena jawab vulgar dari suaminya, "sudah.. sekarang..bantu aku pikirkan cara untuk memberi jawaban pada Louis!! Aku sungguh-sungguh tidak ingin pergi ke Washington tanpa memberinya kabar akan Vanya"
Luckas menghela nafas, "Lidya.. sekarang.. Vanya berada di Beijing.. bukan di New York atau di bagian manapun di Amerika.. dan aku kesulitan untuk mencarinya jika dia berada di Beijing. Dan ditambah.."
Lidya menatap suaminya, "ditambah? ditambah apa?"
"Dua bulan yang lalu,aku mendapatkan kabar jika Vanya telah berhenti dari Lee's Ship.. itu semakin membuatku kesulitan untuk mencarinya" sahut Luckas.
"A..apa??! Mengapa kamu tidak memberitahuku?!"
"Karena itu tidak mengubah apapun! Yang aku inginkan adalah memberimu dan Louis kabar akan keberadaan Vanya!"
Lidya termenung, "apakah dia tidak kembali ke New York?"
Luckas menggelengkan kepalanya, "tidak.. Edward juga telah memastikan hal itu. Tapi Vanya tidak pernah kembali ke New York"
"Ya Tuhan.. apa yang harus aku katakan pada Louis?!" lirih Lidya sambil menatap vas bunga antik yang berada di sudut ruang kerja suaminya, "Vas bunga darimana,Luckas? Terlihat begitu antik.."
"Ah.. benar.. aku lupa memberitahumu.. itu pemberian dari tuan Frey..kamu ingat? CEO dari Ye Entertainment dari Hong Kong?" tanya Luckas. Frey Ye,CEO muda dari Ye Entertainment, salah satu entertainment terkenal di Hong Kong. Luckas dan Lidya pernah membantunya saat Frey Ye menginap di hotel Ryans. Saat itu Frey tengah kebingungan karena mengurus masalah hukum yang menjerat salah satu aktornya. Dan Luckas yang mendengar hal itu langsung membantu Frey untuk mengurus hingga akhirnya aktornya bebas karena terbukti di celakai oleh aktor dari Entertainment saingannya. Frey Ye sangat bersyukur dan berhutang budi pada Luckas dan sejak itu keduanya saling berhubungan dan berteman satu sama lain (ps: baca "Still Holding On" untuk cerita lengkapnya ya.. karena saling berhubungan dengan ini✌️). Dan beberapa bulan kemudian,Frey Ye mengirimkan vas bunga antik sebagai hadiah untuk Luckas.
"Ya..aku ingat" sahut Lidya. Sebab saat Frey bertemu dengan Luckas,kebetulan Lidya berada di kantor Luckas. Dan Lidyalah yang memberi saran pada Luckas untuk segera membantu Frey.
"Tuan Frey mengirimakan itu sebagai tanda terima kasih pada kita.." sahut Luckas.
"Ya ampun..bukankah ini terlalu mahal?"
Luckas mengangguk, "karenanya aku langsung meneleponnya dan mengucapkan terima kasih.."
__ADS_1
Sejenak Lidya terdiam,lalu seulas senyuman menghiasi wajahnya, "apakah memungkinkan jika kita meminta bantuan darinya?"
"Bantuan? bantuan apa?"
"Tentang Vanya!"
"Ha? Lidya.. beliau itu di Hong Kong,sedangkan Vanya di Beijing!"
"Bukankah itu memungkinkan?! Seperti kamu di New York yang bisa mencari orang yang berada di seluruh Amerika?"
Luckas mengerutkan keningnya, "aku tidak sehebat itu.. Bahkan aku dulu tidak bisa menemukanmu!"
Lidya tersenyum malu, "Sepertinya kamu benar.." sahutnya "tapi..bukankah tidak salah jika kita mencoba?" lanjut Lidya sambil menatap Luckas dengan mata berbinar-binar penuh harapan.
Luckas membisu, dirinya merasa segan untuk meminta bantuan pada Frey Ye, tapi tatapan mata istrinya membuatnya merasa tidak tega untuk menolak, "baiklah..baiklah!! jangan menatapku seperti itu!! Aku akan meneleponnya!" sahut Luckas sambil mencari kontak nama Frey di ponselnya.
Hong Kong, Ye Entertainment.
Frey Ye yang tengah berada di kantornya, menikmati segelas kopi hangat untuk mengawali harinya. Suara dering ponselnya langsung membuyarkan lamunannya.
"Luckas?" bergegas Frey mengangkat telepon dari Luckas, "Halo Luckas.. apa kabarmu?"
"Tentu tidak,Luckas.. aku bahkan merasa tersanjung menerima telepon darimu.."
"Ah.. jangan berkata seperi itu.."
Frey tertawa, "jadi..ada perihal apa kamu meneleponku,Luckas? Dan sepertinya tidak mungkin hanya sekedar mengucapkan selamat pagi padaku,bukan?"
Luckas tertawa, "kamu benar,Frey.. sebenarnya aku merasa segan untuk meneleponmu"
"Tidak perlu merasa seperti itu,Luckas.. aku siap membantumu kapanpun kamu membutuhkan bantuanku"
"Sebenarnya.. begini, aku membutuhkan bantuanmu untuk mencari seseorang.."
__ADS_1
Frey mengerutkan keningnya, "mencari seseorang?. Apakah dia berhutang padamu?"
"Ah..tidak..tidak..bukan seperti itu.. Hanya masalah keluarga. Hanya, terakhir kami mengetahui dia berada di Beijing dan setelahnya kami kehilangan kabar akan dirinya.. Tapi.. apakah mungkin bagimu untuk membantuku? Karena kamu berada di Hong Kong,bukan?" sahut Luckas perlahan.
Frey tertawa, "Bukan tidak mungkin,Luckas.. Aku siap membantumu sebisaku.. bisakah kamu mengirimku data beserta foto orang tersebut?"
"Tentu..tentu,Frey"
"Aku akan membantumu sebisaku.. tapi walaupun begitu,aku tidak bisa menjamin apapun padamu terlebih dahulu.." sahut Frey.
"Aku mengerti,Frey. Aku sudah sangat bersyukur kamu mau membantuku.."
"Tentu,kawan.. kapanpun itu!! Segera kirim padaku data dirinya.. Paling lambat, mudah-mudahan minggu depan aku telah bisa memberimu kabar baik" sahut Frey.
"Terima kasih,Frey.. Aku berhutang budi padamu.."
"Jangan berkata seperti itu,Luckas.. katakan itu saat aku menemukan orang tersebut"
Luckas tertawa, "Bagiamanapun dan apapun hasilnya,aku tetap berhutang budi padamu,Frey.."
Frey tertawa "baiklah.. aku akan segera mencari orang yang kamu cari terlebih dahulu.. aku tidak ingin mengecewakanmu.."
Seminggu kemudian,
Sekujur tubuh Louis seakan tersihir menjadi patung saat Lidya mengatakan tentang Vanya, "be..benarkah??"
Lidya mengangguk, "kami meminta bantuan dari teman Luckas yang berada di Hong Kong.. dan telepon terakhirnya.. dia mulai mendapatkan lokasi Vanya berada.. mudah-mudahan mereka sungguh-sungguh menemukannya!"
Louis mengangguk penuh harap. Luckas menatap Louis yang terlihat begitu gembira, "Louis.. aku bukan ingin membuatmu jatuh kembali.. tapi jangan menaruh harapan terlalu tinggi terlebih dahulu,ok?"
Louis kembali mengangguk, "tenanglah,Luckas..aku bukan diriku yang dulu yang hanya bisa meringkuk di balik selimut di dalam kamar.."
__ADS_1