Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Anak Mami


__ADS_3

Tahukah kawan siapa Yang mengira


Ternyata sang jagoan anak mami


Dia anak yg sangat manja


•Sherina•



"Apa yang kamu katakan?" tanya Louis karena tidak mendengar jelas perkataan Ruby.



"Ah..tidak..tidak.. sepertinya aku harus segera mengejar ketinggalanku semalam" balas Ruby.



"Oh iya..benar.. ada apa denganmu semalam? Mengapa tiba-tiba menghilang??" tanya Louis.



Ruby tersenyum "ada sedikit urusan.."



Louis hanya mengangguk tanpa ingin bertanya lebih lanjut karena Vanya telah memberinya berkas-berkas untuk dikerjakan.



Terlihat Jessica yang perlahan mendekati Ruby "Miss Ruby.. silakan ke mejaku.." sahutnya dingin. Ruby begitu membenci tatapan dingin Jessica yang seakan bisa membekukannya dalam hitungan detik.

__ADS_1



Louis memberi tanda menyemangati Ruby yang pergi ke meja kerja Jessica. Ruby hanya membalas senyuman kaku.



Tidak sampai setengah jam terlihat Jessica yang kelihatan berantakan. Selama setengah jam itu juga,dia mengajari berulang-ulang pada Ruby dan hasilnya sama seperti saat Vanya mengajarinya. Jessica akhirnya kehilangan kesabaran, "Aku sangat penasaran bagaimana kamu bisa lulus sekolah dulu.." tukas Jessica dingin.


Ruby merasa tersinggung akan ucapan Jessica "Anda tidak perlu cemas,aku lulus dengan nilai terbaik" sahutnya. Dan Ruby tidak berbohong untuk hal itu, dengan mengeluarkan sedikit uang,dia bisa membeli jawaban ujian kapanpun dia inginkan,sehingga hal itu membuatnya mendapatkan nilai terbaik masa dia sekolah dulu, dan tentunya Simon dan Sharron tidak mengetahui hal itu. Jika kamu bertanya darimana Ruby mendapatkan uang? tentu saja dari Simon. Tiap bulan Ruby mendapatkan uang jajan yang nilainya cukup besar untuk menghidupi satu keluarga besar,dan dia bisa dengan mudahnya meminta lebih pada Sharron jika uang dari Simon kurang.


"Dan aku juga penasaran bagaimana tampang kedua orang tuamu hingga memiliki anak perempuan yang begitu..." Jessica mengetik sesuatu di layar komputernya 'STUPID' (bodoh).


Kedua mata Ruby terbelak saat membaca tulisan yang telah dihapus Jessica, dia pun memukul meja kerja Jessica dengan keras. Dan lagi-lagi,Ruby mendapat perhatian semua orang termasuk Mr.Zhang, "Dengan segala hormat,Miss Jessica.. saya cukup tersinggung akan ucapan anda!!" tukas Ruby.


Jessica tersenyum,dia terlihat begitu tenang.. tidak ada reaksi apapun terhadap amukan Ruby "apa maksudmu,Miss Ruby? Aku tidak berkata apapun yang bermaksud menghinamu.." sahutnya pelan.


"Barusan anda menulis itu di komputer anda!!" pekik Ruby.


"Aku tidak menulis apapun di komputer saya.." balas Jessica tenang sambil memegang kacamata merahnya.


"Ada apa ini?" terdengar suara Mr.Zhang yang mendekati mereka.


Ruby menatap Mr.Zhang dengan tatapan merengek "Mr.Zhang..Miss Jessica menghinaku!!"


"Mr.Zhang.. sepertinya Miss Ruby telah salah paham.. ataupun berhalusinasi?" sahut Jessica sambil menatap Ruby dan Mr.Zhang dengan tenang "saya tidak mengerti mengapa Miss Ruby mengatakan aku menghinanya, padahal sejak tadi yang aku lakukan hanyalah menjelaskan pekerjaan yang harus dia lakukan.." sahut Jessica.


Mr.Zhang menatap Ruby dengan tajam "Ruby..ikut saya keluar.." tukasnya.


Ruby menahan kesal hanya bisa mengikuti Mr.Zhang keluar dari ruangan itu. Sekilas sebuah senyuman kemenangan menghiasi wajah Jessica.


"Uncle Zhang.." rengek Ruby saat mereka berada di tempat sepi.

__ADS_1


"Ruby.. uncle tidak bisa terus menerus membantumu.." sahut Mr.Zhang "Jika kamu terus menerus seperti ini,uncle akan sangat kesulitan menghadapi pegawai uncle.."


"Uncle!! Aku tidak salah!! wanita tua itu tadi benar-benar menghinaku!!" tukas Ruby.


Mr.Zhang hanya menghela nafas, dia benar-benar menyesali menerima Ruby bekerja di bagiannya. Dia sangat menyayangi Ruby sejak kecil layaknya anak perempuannya sendiri. Tapi,di lingkungan bekerja.. dia tidak bisa terus menerus memanjakan Ruby dan terus menerus mentoleransi kesalahannya, "Ruby...inilah dunia kerja.. Bukankah papamu menyuruhmu memulai dari bawah supaya kamu lebih mengerti akan seluk beluk perusahaan ini?" tukas Mr.Zhang "maka dari itu,kamu harus merasakan bagaimana rasanya bekerja sebagai pegawai.."


"Untuk apa?!!!" seru Ruby "kelak ini juga akan menjadi milikku!!" pekiknya.


"Pelankan suaramu!!" seru Mr.Zhang. Dulu Mr.Zhang bahkan tidak pernah kewalahan saat membimbing Peter Lee,kakak dari Ruby.. dia tidak mengerti mengapa Ruby begitu berbeda dari Peter. "Ini terakhir kalinya uncle membantumu!! Berikutnya,uncle akan memperlakukanmu layaknya pegawai lainnya!! Uncle tidak bisa membantu mentoleransi kesalahan-kesalahanmu lagi!!" sahutnya lalu beranjak pergi meninggalkan Ruby yang kesal dan menjerit seorang diri. Bahkan sumpah serapah terdengar memenuhi tempat itu. Mr.Zhang bahkan tidak menoleh melihat Ruby. Dia harus sedikit mengeraskan hatinya dalam membimbing Ruby, walau dia sendiri merasa pedih harus tegas pada Ruby.



Louis memberikan berkas-berkas yang telah selesai dia kerjakan pada Vanya. Vanya sedikit terkejut karena Louis bekerja begitu cepat dari dugaannya.



"Saya juga telah meng-emailkan data berkas ini pada pihak cabang kita di Beijing.. Apakah ada hal lain yang harus saya kerjakan lagi?" jelas Louis dengan serius.



Vanya tersenyum, dia menyodorkan berkas yang dikerjakan Louis tadi pada Louis kembali, "ikuti aku.. aku akan mengajarimu mengunakan mesin foto copy terlebih dahulu.. dan sepertinya kamu belum tahu mengoperasikan mesin foto copy bukan?".



Louis menggeleng "Jika mesin kopi, aku tahu.."



Vanya tertawa mendengar ucapan Louis, Louis sedikit terkejut dan terpana melihat wajah Vanya yang tengah tertawa.. suatu pemandangan yang jarang dia lihat dari wajah dingin Vanya.


__ADS_1


Ruby yang baru saja masuk kedalam ruangan,melihat Louis yang tengah tersenyum menatap Vanya yang tengah tertawa.



__ADS_2