
Sunday morning I wake up
You're beside me, breathing so loud
The wall is empty and so flat
The world around me is too large, oh
•Lola Marsh•
Louis masuk ke dalam dapur bersama Ayles "kamu salah,mom.. ada empat pria tampan di dapurmu sekarang!" sahutnya bangga.
Lidya memutar kedua bola matanya,sedangkan Belinda menatap Louis dengan bingung "empat? tapi yang mom lihat hanyalah tiga.."
Louis terkekeh "Ayles kan termasuk pria tampan juga,mom.."
"Memang yang mom maksud adalah Ayles,Luckas dan Darren.."
"Mom!!!" sahut Louis yang membantah ucapan ibunya.
Sontak membuat semua orang menertawai Louis secara diam-diam.
"aku akan sangat merindukan suasana ini nantinya,mo-..maksudku madam.." sahut Darren.
Belinda menatap Darren dengan lembut "kamu bisa memanggilku mom jika kamu tidak keberatan.."
"benarkah??" tanya Darren.
"ten--"
"maka aku juga akan memanggil anda mommy,madam!!" sahut Luckas tiba-tiba.
Belinda terkekeh "aduh..rasanya seperti diperebutkan dua pria tampan.."
Lidya dan Louis menatap ibu mereka dengan melongo. Darren kembali tertawa "terima kasih,mom..tapi sepertinya aku harus segera kembali ke New York hari ini.."
Lidya terkejut "mengapa tiba-tiba,Darren?"
"benar sekali keputusan anda,sir Darren.. lebih cepat lebih baik" sahut Luckas yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.
__ADS_1
Darren kembali tersenyum "urusanku telah selesai disini,Lidya..Aku telah mendapatkan jawaban yang kuinginkan walau jawabannya sedikit mengecewakanku" sahut Darren,dan dia menatap Belinda setelahnya "terima kasih telah memberiku kesempatan merasakan keluarga yang begitu hangat,mom..aku akan sangat merindukan kalian.."
"kamu akan berangkat sekarang?" tanya Lidya.
Darren mengangguk "karena sepertinya seseorang menginginkanku segera pergi dari sini.." bisiknya pada Lidya. Luckas langsung menatap Darren dengan tajam.
Darren tertawa,dia mendekati Luckas dan berbisik padanya "Aku akan dengan senang hati merebut wanita yang di sampingmu jika kamu sedikit saja membuatnya sedih, tuan Luckas..dan setelahnya,jangan harap kamu bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali lagi padanya!!" bisik Darren dengan nada serius.
Lidya menatap kedua pria tersebut dengan bingung karena tidak mengetahui apa yang sedang dikatakan Darren. Luckas dengan segera memeluk Darren dan tersenyum canggung "benar!!semoga kelak kita bisa bekerja sama,sir Darren!!" sahut Luckas dengan keras sambil tertawa dan setelahnya dia berbisik kembali pada Darren "sayangnya..tidak akan ada masa saat itu!! kamu tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu!"
Darren melepaskan pelukan mereka dan tertawa canggung "tentu..tentu saja aku sangat mengharapkan kesempatan bekerja sama dengan anda,sir Luckas.." dan keduanya tertawa canggung bersama.
Akhirnya Lidya mengantarkan Darren ke depan,sebelum Darren masuk ke dalam mobilnya. Dia menatap Lidya yang masih begitu memukau di matanya dan Darren begitu mengharapkan dirinya bisa mengganti posisi Luckas saat itu juga.
"Darren..tentang jawaban yang kamu maksud--"
"aku sudah mendapatkannya,Lidya... kamu tidak perlu merasa canggung seperti itu. Kamu akan tetap menjadi teman baikku!"sahut Darren.
"terima kasih,Darren.." sahut Lidya.
Darren menatap Luckas dari kejauhan dan tersenyum penuh arti, Darren akhirnya memeluk Lidya "terima kasih juga,Lidya.." sahutnya.
Luckas bergegas keluar dari rumah dan berlari mendekati mereka, Darren tertawa keras dan segera masuk ke dalam mobilnya sebelum Luckas mendekat pada mereka. Lidya menahan Luckas yang ingin mengejar Darren.
"Dasar sialan kau, Darren!!" pekik Luckas.
Darren mengemudikan mobilnya menjauh sambil mengeluarkan tangannya dan melambaikannya pada Lidya dan Luckas.
Belinda dan Ronald tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Luckas menatap Lidya "aku ingin segera mempercepat pernikahan kita!" sahutnya dengan kesal karena Darren.
Lidya terkekeh "kamu masih sama saja,Luckas.. selalu cemburu"
"aku tidak cemburu,Lidya..aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku!" tukasnya.
__ADS_1
"ya..ya..apapun itu,Luckas.." sahut Lidya "apakah kamu ingin berjalan sekitaran sini?" tanya Lidya.
Luckas tersenyum dan menggenggam tangan Lidya "dengan senang hati,Mrs.Ryans.."
Lidya mengerutkan keningnya sambil tersenyum "...will be!! masih belum,Luckas.."
Luckas tertawa "secepatnya,Lidya!!"
Keduanya berjalan sekitaran rumah Lidya,sampai akhirnya Lidya kembali membuka mulut "Luckas..aku ingin bertanya dengan serius.. bagaimana dengan keluargamu jika kita menikah?"
"ibuku dan ayahku akan sangat berbahagia,Lidya!! terutama ibuku!" sahut Luckas.
"Bagaimana dengan Dora?"
Luckas menghentikan langkah kakinya "no more Dora!"
"Luckas--"
Luckas menghela nafas "kamu tahu,Lidya? Aku membencinya!! karenanya aku hampir kehilangan dirimu lagi!! Tapi dia tidak akan mengganggu kita lagi,Lidya.. Dora koma"
Lidya terkejut "koma??!"
Luckas mengangguk "sudah beberapa hari dia tidak sadarkan diri.."
"ba..bagaimana bisa?"
"Dia terjatuh di kamar mandinya dan tidak sadarkan diri hingga saat ini.."
"Ya Tuhan!! Bagaimana dengan keadaannya sekarang?"
Luckas mengangkat kedua bahunya "aku tidak tahu dan tidak ingin tahu!"
Lidya menepuk lengan Luckas "kita kembali ke New York!"
__ADS_1