Hotel Prince

Hotel Prince
Freya Green


__ADS_3

Kediaman Green,


Sejak pengumuman pertunangannya dengan Luckas diberitakan, suasana hati Freya selalu gembira. Pembantu-pembantu di rumahnya diam-diam juga ikut senang akan suasana hati Nona Muda mereka. Karena Freya sangat terkenal galak dan kejam terhadap pembantu-pembantunya. Di rumah, Freya hanyalah seorang gadis yang manja,egois,dan berbuat sesuka hatinya..sungguh berbanding terbalik disaat dia berada didepan publik, diluar Freya terlihat begitu feminim,lemah lembut,dan baik. Kenyataanya, sedikit kesalahan saja yang diperbuat oleh pembantunya maka saat itu juga mereka akan kehilangan pekerjaannya. Tidak ada yang berani mengumbar sifat asli Freya,karena tidak ada yang berani menyinggungkeluarga Green yang terpandang ditambah, tidak akan ada yang mempercayai jika Freya akan memiliki sifat seperti itu. Mereka yang dipecat oleh Freya hanya dapat menerimanya tanpa bisa melawan.


Saat Freya tengah bermimpi menjadi pengantin Luckas, ada panggilan masuk di handphonenya.


'nomor tidak dikenal.. siapa yah?!'


"halo?"


"Freya Green?"


"maaf..ini siapa?" Freya berusaha tetap sopan karena dia belum tahu dengan siapa dia tengah berbicara.


"Maafkan saya menelepon anda malam-malam. Saya Luckas Ryans"


Freya seakan tidak mempercayai pendengarannya,


'oh Tuhan..Luckas meneleponku..' Freya kegirangan sambil mencoba mengontrol dirinya tidak menjerit bahagia.


"Luckas Ryans..benarkah ini anda?" tanya Freya mencoba menekan suaranya.


"Benar. Dan aku ingin berbicara dengan anda,secara empat mata!! Terserah anda menentukan tempatnya,London atau dimanapun.. Lusa aku akan menemui anda segera" ucap Luckas,suaranya terkesan sangat tegas.

__ADS_1


Freya terpesona dengan suara Luckas 'ya ampun..hanya suaranya saja sudah cukup membuatku meleleh'


"Lusa? Lusa aku ada jadwal pemotretan di New York..mungkin kita dapat bertemu di New York"


"Bagus!! Beri tahu saya jika anda sudah berada di New York. Aku akan mengatur tempat pertemuan kita" sahut Luckas dingin.


"dengan senang hat-"


Luckas menutup teleponnya begitu saja tanpa mendengar ucapan Freya lagi.


Freya begitu menjerit bahagia setelah Luckas menutup teleponnya.


"Ya ampun.. Luckas Ryans meneleponku!!! Dan ingin bertemu denganku??!!! Oh Tuhan,kamu sungguh baik padaku!!! Hanya mendengar suaranya yang begitu laki saja cukup membuatku meleleh.. bagaimana saat aku bertemu dengannya???!!!" Freya meloncat-loncat tempat tidurnya sambil berbicara sendiri "ah..jangan-jangan Luckas ingin membicarakan tentang pernikahan kami???" Luapan bahagia Freya semakin memuncak. Tanpa mengetahui apa yang akan dia hadapi lusa.


#########


Luckas menutup teleponnya, dia berdiri di balkon kamar hotelnya memandang pemandangan malam yang gelap. Sepasang tangan tiba-tiba memeluk pinggangnya dari belakang, Luckas tersenyum memandang tangan yang tengah berada dipinggangnya "Siapa yang menelepon,Luckas?" bisik Lidya.


"hanya Edward..biasa..masalah pekerjaan,sayang" jawab Luckas membohongi kekasihnya,dia tidak ingin Lidya tahu tentang rencananya.


Luckas menarik tangan Lidya semakin dekat dengan punggungnya, dia ingin mempererat pelukannya dengan Lidya.


'Lusa!! aku akan meminta Freya menolak pertunangan yang bodoh ini!!! apapun caranya!!'

__ADS_1


°°°°°°°°°°°°°°


Lusa..hari yang ditunggu Luckas akhirnya tiba. Dia telah menerima pesan dari Freya jika dia telah berada di New York. Luckas menyuruh Edward menemani Lidya ke pusat perbelanjaan di New York, Times Square dan Luckas juga menyuruh Edward memesan tempat di salah satu restoran dekat Time Square.


Luckas membohongi Lidya jika dia ada pertemuan dengan klien bisnis jadi menyarankan Lidya untuk shopping dan menikmati kota New York sejenak sebelum mereka kembali ke Washington. Dengan Edward,Luckas meminta Edward tetap menemani Lidya supaya Lidya tidak mencarinya.


--------


Restoran Drill and Grill,New York.


Seluruh restoran terlihat sepi pengunjung,hanya ada satu meja yang terlihat seorang laki-laki tengah menunggu dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Bagaimana tidak? Freya telah terlambat empat puluh lima menit dari yang mereka janjikan. Luckas hampir kehilangan kesabarannya. Luckas memesan seluruh restoran,dia ingin berbicara empat mata dengan Freya dan tidak ingin ada yang melihat mereka dan membuat gosip atau rumor tidak jelas, Edward juga telah memberi peringatan pada manager restoran untuk bertanggung jawab atas semua staff restoran untuk menutup mulut atas apa yang mereka lihat dan mereka dengar atau mereka akan kehilangan pekerjaan mereka bahkan restoran mereka.


Tidak lama kemudian, Freya akhirnya tiba. Malam itu,Freya terlihat memukau dengan gaun diatas lutut berwarna keemasan yang berkilau bahkan sangat terbuka dan memperlihatkan hampir semua payudaranya. Dia bermaksud membuat Luckas terpesona dan tergoda olehnya. Sayangnya..Luckas tidak meliriknya sedikitpun.


Freya sengaja sedikit menunduk saat duduk dikursinya,tapi Luckas tidak bergeming. Freya mulai merasa kesal dengan respon Luckas yang masa bodoh bahkan tidak terpesona oleh penampilannya yang mungkin akan membuat banyak pria lain diluar sana mimisan dengan penampilannya.


Freya menahan rasa kesalnya dan mencoba tersenyum dengan manis "Halo..sudah lama menungguku?"


"lumayan! Maaf mengajakmu bertemu padahal kamu sangat sibuk.." sahut Luckas sambil membuat kode pada pelayan untuk memberikan menu pada Freya.


Freya menggeleng "tidak apa-apa, Luckas.. Aku akan membatalkan semuanya jika kamu ingin bertemu denganku" sahut Freya dengan suara yang manja dan senyuman yang manis, dan sekali lagi Luckas hanya membalas dengan wajah dingin.


Pelayan menyodorkan menu pada Freya "silakan pilih.." sahut Luckas sambil memesan kopi untuknya,dia tidak ingin berlama-lama dengan Freya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2