
Tell me
With your sweet smile
Tell me
Tell me like you’re whispering in my ear
Don’t be like a prey
(Be) Smooth like a like a snake
I want to get away
•BTS•
"Te..tentu saja itu milikku!" jawab Vanya yang tiba-tiba merasa gugup melihat wajah Louis yang begitu serius.
"Jangan berbohong,Vanya.. aku tahu ini pakaian laki-laki.."
"Ja..jadi mengapa jika itu pakaian laki-laki? Tentu saja aku memberimu pakaian laki-laki,tidak mungkin aku memberimu pakaianku!" sergah Vanya.
Louis menghela nafas "baiklah.. jika begitu,jawab pertanyaanku ini! Apakah kamu memiliki kekasih?"
"Dan bagaimana jika aku telah memiliki kekasih?!" tukas Vanya.
Louis berjalan cepat mendekati Vanya, "maka aku akan menghancurkannya!"
Vanya menelan salivanya dengan susah payah "jangan bercanda!"
"Aku serius!"
"Dan aku juga serius!! Aku memiliki kekasih!!! puas,sir Louis?!" balas Vanya dengan suara yang tidak kalah keras.
"Kamu!!!" Louis mengepal tangannya lalu kembali mencoba menenangkan dirinya "beri aku namanya!"
Vanya mengerutkan keningnya "Mengapa aku harus memberimu namanya?"
"Aku sudah mengatakan padamu!! Aku akan menghancurkannya!!"
__ADS_1
"Kamu gila,Louis!!" hadrik Vanya.
"Ya!! itu karenamu!!" balas Louis.
"Keluar!!" bentak Vanya.
"Tidak sebelum kamu mengatakan sejujurnya siapa nama kekasihmu!" sahut Louis.
Vanya mendorong Louis "punya atau tidak.. itu tidak ada sangkut pautnya dengan anda!! dan aku tidak berkewajiban memberitahu tentang privasiku!! Sebab kamu bukan siapa-siapaku!! dan sekarang anda keluar dari rumah saya!!"
Seketika Louis tertawa kecil "sepertinya kamu membohongiku tentang 'kekasih'mu.. dari foto-foto yang kamu taruh di dinding saja tidak ada sedikitpun terlihat fotomu bersama laki-laki!".
Vanya membisu, Louis berkata benar adanya.. Vanya hanya membohongi Louis dan tidak menyangka akan berujung hingga beradu mulut dengan pria yang ada di depannya sekarang.
Louis menatap Vanya yang terdiam, "sepertinya aku benar.." gumamnya.
Vanya memutar otak, memikirkan alasan yang bisa dia pakai untuk membalas perkataan Louis. Namun,yang ada hanya Vanya merasakan otaknya kosong seketika.
"Lukas?" Louis menatap Vanya dengan heran.
"Iya!! Lukas!! nama kekasihku!!" sahut Vanya dengan serius.
Alis kanan Louis terangkat naik "apa Lukas yang kamu maksud adalah Luckas Ryans?"
Vanya terkejut "i..iya.. benar!!"
"Kami serius?"
"Ten..tentu saja!!"
"Sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya Louis.
__ADS_1
"Du..dua tahun.." sahut Vanya sesukanya.
"Baiklah..aku mengerti.." sahut Louis lalu berjalan meraih ponselnya yang ada di meja ruang tamu dan keluar dari rumah Vanya tanpa mengucap sepatah katapun.
Vanya menghela nafas lega saat Louis meninggalkan rumahnya, "siapa Luckas Ryans yang dia katakan?" gumam Vanya sendiri "terserahlah..yang penting aku bisa terlepas dari Louis.." lanjutnya.
Tidak sedikitpun terlintas dipikiran Vanya untuk berpacaran, dia merasa sudah cukup capek bekerja.. dan dia tidak berniat untuk menambah 'beban' untuk berpacaran,setidaknya itu menurut Vanya. Dia telah puas akan kehidupan sendirinya.
Penthouse Luckas,
Lidya bermain dengan anak perempuannya,Alysse. Suara tawa imut Alysse memenuhi ruang tamu. Sedangkan Luckas tengah bersama Ayles di kamarnya, beberapa menit yang lalu, Ayles kesulitan mengerjakan pekerjaan rumahnya dan Luckas mengajukan diri untuk mengajari Ayles di kamarnya.
Ting Tong..
Desya,asisten rumah tangga Lidya bergegas berjalan menuju pintu utama mereka.
"Kakakku sayang!!!!" bahkan sebelum batang hidung Louis kelihatan,suaranya terlebih dahulu memenuhi seisi rumah Lidya.
Alysse tertawa begitu mendengar suara pamannya, begitu juga dengan Lidya.
"Aku pikir setelah bekerja adikku tidak ingin bertemu kakaknya lagi.." seru Lidya begitu Louis menampakan dirinya di depan kakaknya.
"Alysse..tuan putriku... sini uncle peluk.. kangen banget sama kamu" sahut Louis yang langsung menyerbu Alysse dengan ciuman yang tiada henti.
Lidya hanya menggelengkan kepalanya, baru beberapa hari tidak bertemu Louis.. ternyata cukup membuat Lidya sedikit kesepian akan celotehan dan keisengan adiknya. Lidya menatap Louis dari atas hingga bawah lalu mengerutkan keningnya, "pakaian siapa yang kamu pakai? atau kamu membeli pakaian baru?" tanya Lidya yang mengenal pakaian yang dipakai Louis sekarang bukan milik adiknya.
Louis tertawa "aku meminjamnya dari temanku.. kebetulan tadi aku membantunya dan sedikit kehujanan.. jadi dia meminjamku pakaiannya.." sahut Louis "oh ya.. dimana bandit kecilku? dan juga.." Louis melihat sekeliling "kakak iparku tersayang..."
"Jangan ganggu mereka terlebih dahulu, Luckas tengah membantu Ayles mengerjakan pekerjaan rumahnya" jelas Lidya "kamu sudah makan?".
Louis menggeleng "aku merindukan ramyeon ala Korea buatan kakakku yang manis,cantik dan baik"
"Pujianmu hanya saat kamu membutuhkanku" sergah Lidya "jika kamu mau itu,aku akan menyuruh Desya menyiapkannya"
Louis menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya ke kiri dan ke kanan "no..no..no.. aku rindu buatan kakakku lohhhhhh~"
Lidya menghela nafas lalu bangkit berdiri "selama kamu mau menjaga Alysse"
"Tentu!! tentu saja!! dengan senang hati" balas Louis sambil tersenyum lebar.
Ceklek..
"Uncle Louis!!!!" pekik Ayles seketika saat melihat kedatangan pamannya, Ayles berlari dan langsung memeluk kaki pamannya.
"Bandit kecil uncle rasanya semakin tinggi.." sahut Louis sambil mengelus kepala Ayles yang tersenyum lebar.
"Uncle bobo sini?" tanya Ayles.
"Hmmm.. sepertinya tidak"
"Ah..uncle..pleaseeee~" pinta Ayles.
Louis tertawa "uncle sekarang telah bekerja dan jika uncle menginap disini, uncle tidak memiliki baju ganti untuk bekerja besok" jelas Louis.
"Kamu bisa memakai punyaku" sahut Luckas tiba-tiba sambil berdiri di depan kamar Ayles.
Louis tersenyum lebar saat melihat Luckas "ah.. kakak iparku!! Waktu yang tepat! Ada yang ingin aku tanyakan padamu!"
__ADS_1