Hotel Prince

Hotel Prince
Drag Me Down


__ADS_3

If I didn't have you, there would be nothing left


The shell of a man that could never be his best


If I didn't have you, I'd never see the sun


You taught me how to be someone, yeah


•One Direction•



Sesampai di penthousenya,Luckas berjalan menuju kamar tidurnya yang besar. Jas yang telah dilepaskannya,dilemparkannya di sembarang tempat. Dia langsung meleparkan tubuhnya di tempat tidurnya yang besar dan juga terasa dingin. Luckas melirik sebelahnya,sisi kosong di tempat tidurnya..tempat dimana dia khususkan hanya untuk Lidya. Mengingat akan Lidya membuatnya kembali sedih,hatinya terasa perih.



'*kamu keterlaluan,Lidya! Begitu kamu pergi meninggalkanku sendirian,tidak pernah sekalipun kamu memberiku kabar..aku terlalu merindukanmu hingga terkadang ingin membuatku membencimu karena menyiksaku seperti ini*' lirih Luckas dalam hati.



Satu bulan kemudian,


Edward masuk kedalam ruangan Luckas dengan tergesa-gesa. Luckas yang tengah membaca berkas-berkas di mejanya,sontak terkejut saat Edward menerobos masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu dan selama bekerja, ini pertama kalinya dia seperti ini. Luckas menatap Edward seakan meminta penjelasan atas semuanya namun Edward masih mencoba mengatur nafasnya yang memburu, perlahan Luckas meletakan berkas-berkasnya dan melipat tangannya sambil melihat Edward.


"Semoga kamu memiliki sesuatu hal yang sangat penting untuk disampaikan,Edward. Karena kamu telah membuatku terkejut dengan menerobos masuk kesini" ucap Luckas.


"Maafkan aku,sir.. tapi ini semua karena aku memiliki kabar baik untuk anda.." sahut Edward sambil masih mencoba mengatur nafasnya.


Luckas menatap Edward dengan seksama "baiklah..dan semoga itu adalah kabar baik,Edward"

__ADS_1


Edward tersenyum penuh makna "aku telah menemukan Miss Lidya!!"


Refleks Luckas beranjak berdiri dari kursinya "kamu serius?!"


Edward mengangguk dengan cepat.


"apakah dia berada di New York?" tanya Luckas.


Edward menggeleng "Miss Lidya berada di Boston"


Wajah Luckas terlihat begitu bahagia "sege-"


"tidak perlu khawatir, sir. Saya telah menyiapkan tiket penerbangan anda ke Boston hari ini juga.." sahut Edward sambil menyodorkan tiket pesawat menuju Boston. Mengenal sifat Luckas, Edward telah memesan tiket menuju Boston segera saat mengetahui jika Lidya berada disana. Dia tahu jika tuannya tidak akan menyia-nyiakan waktu jika menyangkut tentang Lidya, Luckas pasti ingin segera menuju ke Boston. Edward sangat terkesan akan kesetiaan Luckas pada Lidya, tapi dia tidak berani memberitahukan tentang apa yang dilihatnya satu bulan yang lalu.


Satu bulan yang lalu, Edward melihat sosok Lidya yang menggendong seorang anak kecil dan ada seorang pria disampingnya. Edward tidak berani berandai-andai,dan juga tidak berani menghancurkan hati Luckas dengan sesuatu yang belum pasti.


Edward yakin akan kesetiaan tuannya pada Lidya tapi tidak dengan sebaliknya, selama tiga tahun..Lidya tidak pernah memberi kabar sedikitpun pada Luckas,hal itu membuat Edward ragu akan perasaan Lidya pada Luckas.


Perasan Luckas bercampur aduk, penerbangan yang memakan satu jam itu terasa seperti satu tahun bagi Luckas. Dia sangat ingin segera bertemu Lidya, bahkan Luckas tidak tahu harus mengatakan apa saat bertemu dengannya, dia terlalu merindukannya. Selama penerbangan,Luckas memikirkan nama hotel yang disebutkan Edward tadi.. Luckas merasa pernah mendengar nama hotel tersebut, tapi dia lupa dimana dia mendengarnya.



Sesampai di Boston,



Luckas segera naik taksi yang didepan bandara dan segera menuju hotel DeParis. Hotel DeParis bukanlah hotel besar jika dibandingkan dengan hotel Ryans dan bahkan setahu Luckas jika hotel ini pernah hampir diambang kehancuran. Tapi dalam beberapa tahun ini hotel ini terlihat kembali bangkit dan semakin maju.


__ADS_1


Setiba di hotel DeParis,Luckas akhirnya mengingat jika hotel ini bernama yang sama dengan hotel tempat resepsi pernikahan Benny,kenalannya. Bergegas Luckas berjalan masuk kedalamnya, lobi hotel terkesan minimalis,berbeda dengan hotel Ryans yang begitu glamor. Hotel DeParis lebih terlihat minimalis namun para staf yang begitu ramah membuat suasana hotel tersebut begitu hangat dan nyaman seakan seperti rumah sendiri.



Sepasang resepsionis tersenyum ramah pada Luckas saat dia mendekati mereka.


"Selamat sore,sir..selamat datang, apakah ada yang bisa kami bantu?" sapa pria tersebut.



"aku ingin memesan kamar untuk dua malam" sahut Luckas.



"Baik,sir.. silakan mengisi form berikut" sahut pria tersebut ramah.



Luckas mengisi seluruh data yang tertera di form tersebut dan menyerahkan pada mereka "apakah anda memiliki staf yang bernama Lidya?"



Pria tersebut menatap Luckas dengan bingung "Jika boleh tahu,Lidya yang mana,sir?"



"Lidya..Lidya Claresta" sahut Luckas.


__ADS_1


Pria tersebut berpikir sejenak, tidak lama kemudian raut wajahnya berubah "oohhh..mungkin yang anda maksud adalah Miss Lidya,manager kami!!"



__ADS_2