
"Kita akan berangkat ke bandara segera dan besok ada jadwal pemotretanmu dengan Swaskie. Apakah kamu masih tetap harus berakting dengan kakimu?" Walau Bella membenci Freya, tapi pekerjaannya sebagai manager Freya membuatnya mau tidak mau harus ikut andil dalam menjaga reputasi Freya.
"Beli perban jumlah banyak dan baluti kakiku saja!! Hanya saat di bandara,karena aku yakin para wartawan itu pasti mencium keberadaanku dan aku harus tetap terlihat terluka. Oh..iya.. carikan juga kursi roda! aku harus terlihat parah!" perintah Freya. Bella mengangguk,dia hanya bisa menuruti perintah Freya dan dia tidak bisa berkata tidak atas perintahnya.
Bella mengendarai di apotik yang pertama kali dijumpainya. Dia harus mempersiapkan semua permintaan nona muda itu.
"tunggu sebentar" sahut Bella sebelum turun dari mobil diikuti anggukan Freya.
Disaat dia dalam kesendirian di dalam mobil, handphone Freya berdering. Freya menatap nama yang terpampang di layar handphonenya dan dengan cepat mengubah nada suaranya terlebih dahulu sebelum mengangkatnya.
"Ha..Halo,grandma..huhuhu.." jawab Freya sambil terisak.
"oh Tuhan..Freya sayang..apakah kamu baik-baik saja? Aku baru saja melihat berita, sungguh keterlaluan Lidya itu!!" sahut Dora dengan geram.
"hiks..hiks.. aku baik-baik saja,grandma.. Grandma tidak perlu khawatir, aku sudah berobat dan kata dokter jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan baik-baik saja setelah beristirahat" sahut Freya,dia tentunya harus berbohong pada Dora. Disaat kamu memulai sebuah kebohongan maka kamu harus menutupi dengan kebohongan lainnya.
__ADS_1
"syukurlah,sayang. Tapi setidaknya hal ini berdampak baik padamu. Grandma akan memaksa Luckas untuk segera menikah denganmu dan tentunya secepatnya!!"
"Benarkah,grandma??"
"tentu saja. Mempercepat pernikahan kalian supaya wanita gila itu tidak akan bisa mendekati Luckas dan juga tidak bisa mengganggumu lagi!" ucap Dora dengan nada geram,rasa bencinya pada Lidya semakin menjadi-jadi akibat kejadian ini.
Freya berteriak dengan tanpa ada suara,dia tidak ingin Dora mendengar teriakannya "terima kasih,Grandma"
"sama-sama,sayang.. beristirahatlah sekarang. Grandma membutuhkan calon cucu menantu yang sehat,supaya grandma bisa melihat pengantin yang cantik dan sehat nantinya"
Begitu selesai berbicara pada Dora, Freya tertawa begitu kencang "Sepertinya aku bisa mendapatkan piala Oscar dengan aktingku. Aku tidak menyangka jika aktingku yang terjatuh mampu membohongi semua orang. Bahkan sampai Theodora Ryans tua bangka itu juga terperdaya olehku!! Rasakan kamu,Lidya!! Inilah balasannya karena kamu berani membalas menghinaku!!!" ucap Freya dengan lantang "Bagaimanapun Luckas akan menjadi milikku,Lidya yang malang.. Dan sebentar lagi aku akan segera menjadi Freya Ryans!! dan kamu,Lidya..tetap bukan siapa-siapa!!"
Dan tanpa disadari Freya,jika lemparan handphonenya di kursi sampingnya itu tidak sengaja menekan tombol panggilan kembali di nomor yang terakhir meneleponnya yaitu Dora. Dora bahkan mendengar dengan jelas semua perkataan Freya dan juga suara tawa Freya. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun,Dora menutup telepon dari Freya,wajahnya berubah murung seketika. Freya telah mempermainkannya selama ini!!! Dan bahkan berani menghinanya!!
##########
__ADS_1
Di hotel Ryans,
Luckas berjalan menuju ruangannya begitu tiba di hotel Ryans. Langkah kaki Luckas diiringi oleh lirikan para karyawannya, mereka tidak berani menatap langsung kearah bos mereka kecuali mereka telah tidak ingin bekerja disana lagi. Luckas terkenal sangat tegas dan dingin jika menyangkut pekerjaannya, ditambah aura dari wibawanya yang begitu mendominasi membuat semua karyawannya segan padanya.
Rekaman CCTV telah tersedia di komputernya, staf keamanan langsung mengurus semuanya saat mendapat pesan dari Edward. Sebelum dia memulai memeriksa rekaman CCTV itu,dia menatap Edward dan Edward membalas dengan anggukan. Dia mengerti maksud Luckas "saya akan segera memeriksa posisi Miss Lidya,Sir!" sahutnya sambil berjalan keluar dari ruangan. Bertahun-tahun lamanya bekerja dengan Luckas, membuatnya semakin mengerti akan apa yang akan diinginkan Luckas. Dan sebab itu juga,Luckas menyukai Edward. Dia tipe pekerja keras dan cepat mengerti,tentunya juga tipe yang sangat setia.
Luckas melanjutkan memeriksa salah satu CCTV yang berada di depan hotel, dia tidak melewatkan sedikitpun. Dia membutuhkan bukti yang menguatkan jika Lidya tidak bersalah, suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.
"Miss Lidya telah kembali ke apartemennya,sir. Sepulang dari rumah sakit,Miss Lidya tidak datang kembali ke sini" sahut Edward. Luckas mengangguk, Edward memang tidak pernah mengecewakannya. Bahkan dia tidak membutuhkan waktu lama untuk memberikan laporan padanya.
"Kita ke apartemennya dulu. Aku tidak akan bisa fokus sebelum melihatnya!" ucap Luckas sambil berjalan keluar diikuti Edward.
'semoga kamu baik-baik saja,Lidya. Aku sungguh bodoh tidak melindungimu!' celetuk Luckas dalam hati.
__ADS_1