Hotel Prince

Hotel Prince
Be my girl


__ADS_3

Malam hari di apartmen Lidya,


Rasa lelah menjalar di tubuh Lidya,dia tidak tahu mengapa hari ini dia merasakan lelah yang sangat menjalar di seluruh tubuhnya, menemui pimpinan mereka ternyata cukup menguras pikirannya.


Lidya melepaskan ikatan dirambutnya,dia membiarkannya tergerai begitu saja. Lidya juga membuka dua kancing paling atas dari bajunya supaya membuatnya lebih nyaman, lagipula Lidya hanya sendirian di apartemennya jadi dia leluasa ingin memakai pakaian seperti apa. Lidya menghempaskan badannya di kasurnya yang empuk. Lidya membiarkan perutnya yang mulai kelaparan,dia lebih membutuhkan tidur daripada makan untuk saat ini. Dia menutup kedua matanya,mencoba untuk bekerja sama membawanya ke dunia mimpi..tapi hal itu tidak terjadi sampai handphone Lidya yang berbunyi. Lidya meraba-raba tempat tidurnya mencari handphonenya tanpa ingin membuka kedua matanya.


"Halo? Ini siapa?!" sahut Lidya kasar,dia kesal karena telepon yang telah mengganggu istirahatnya.


"wow..galak sekali anda,Miss Lidya" terdengar suara balasan dari handphone Lidya.


Lidya mencoba membuka matanya untuk melihat handphonenya 'nomor tidak dikenal..siapa ya?'


"ini..siapa ya?" tanya Lidya.


"kamu akan mengetahui siapa aku jika kamu membuka pintumu sekarang" balas orang tersebut.


"hah????"


"Iya..buka pintumu sekarang,Lidya atau aku akan menggedor kencang supaya tetanggamu semua keluar?" sahut orang tersebut.

__ADS_1


"silakan saja..dan akan dengan senang hati aku akan melaporkan anda pada pihak berwajib" balas Lidya acuh tak acuh,dia belum tahu siapa orang yang meneleponnya.


Orang tersebut tertawa mendengar ancaman Lidya "saya Luckas"


"okay...jadi anda bernama Luckas..." seketika mata Lidya terbelak "Luckas??? Luckas Ryans????!!!!"


"yes,I am!!! jadi apa bisa anda membuka pintu anda sekarang,Miss Lidya??" sahut Luckas


Dengan bergegas Lidya bangkit dan berlari menuju pintu apartemennya. Begitu dia membuka pintu,dia seakan tidak mempercayai dengan apa yang ada di depannya, seorang Luckas Ryans berdiri di apartemennya sambil memegang sebotol wine. Luckas terlihat sangat simple dan casual dengan balutan kaos t-shirt putihnya dan celana jeans. Samar-samar terlihat jelas bentuk tubuh yang bidang karena tipisnya kaos yang dipakainya. Lidya diam-diam menelan ludah. "jadi...aku tidak dipersilahkan masuk kedalam??" tanya Luckas tersenyum sambil menatap Lidya.


"owhhh..maafkan aku,pak..silakan masuk" sahut Lidya gugup.


"maaf sedikit berantakan,pak..silakan duduk" sahut Lidya sambil mempersilakan Luckas duduk di sofa mininya yang hanya muat dua orang saja.


Luckas tersenyum dan meletakan wine yang ditangannya dengan perlahan.


"bapak ingin minum apa?" tanya Lidya yang mencoba mencairkan suasana canggung di ruang tamu kecilnya ini.


"Bagaimana dengan dua gelas kosong?" balas Luckas sambil menunjuk wine ada dimeja.

__ADS_1


Lidya tertawa dan berjalan ke arah dapurnya untuk mengambil dua gelas kosong. Ruang tamu dan dapur saling terhubung sehingga Luckas bisa melihat gerak gerik Lidya yang terlihat sedikit gugup. Lidya meletakan perlahan kedua gelas yang ada ditangannya diatas meja kecilnya. Dengan cepat,Luckas membuka dan menuangkan wine di kedua gelas kosong tadi. Lidya tidak memberanikan diri duduk disamping Luckas yang dimana hanya sofa itulah tempat duduk satu-satunya diruang tamu, Lidya pun memilih untuk duduk dilantai.


Luckas menatap Lidya,saat matanya turun mengarah bagian dada Lidya yang terbuka jelas karena kancing yang tadi dibuka Lidya, wajah Luckas sedikit terasa panas dan mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain "Bagaimana jika kamu.." sahut Luckas sambil menunjuk kearah dada Lidya, Lidya melihat kearah yang ditunjuk Luckas dan rasa malu menjalar keseluruh tubuhnya seketika 'Oh My God,Lidya!!! bodohnya kamu!!!!' seru Lidya didalam hati seakan memaki dirinya sendiri yang begitu ceroboh "ma..maafkan aku,pak.." Lidya dengan cepat mengancing kembali kancing yang dibukanya tadi.


"tidak apa-apa..sesungguhnya aku tidak begitu keberatan.." sahut Luckas sambil bercanda diiringi tawa Lidya "dan..satu hal lagi,Lidya.."


Lidya menatap Luckas "Diluar jam kerja,saya harap kamu memanggil saya 'Luckas', sebenarnya aku sangat tidak nyaman dengan panggilan 'bapak' apalagi diluar jam kerja seperti ini"


"ta..tapi..bukankah itu sangat tidak sopan..Anda adalah atasan saya"


"Jika begitu, maka anggap ini adalah perintah dari atasanmu sendiri"


Lidya kembali tertawa "maka saya tidak akan segan lagi.." Luckas tersenyum sambil menyesap wine yang ditangannya "jadi...ada hal apa sampai anda ke sini,Luckas?" tanya Lidya pelan, panggilan 'Luckas' masih terasa kelu di lidahnya "tidak mungkin hanya kebetulan ataupun sekedar penasaran dengan tempat tinggal saya, bukan?" tanya Lidya "apakah ada hal penting yang menyangkut pekerjaan?"


Luckas terdiam mendengar perkataan Lidya,dia meletakkan gelasnya perlahan di meja,perlahan dia mendekati Lidya..begitu dekat dengan wajah Lidya "Lidya.." Lidya merasa canggung dengan kedekatan Luckas pada dirinya "Lu..Luckas...an..anda.."


"jadilah kekasihku...." sahut Luckas dengan sedikit berbisik.


 

__ADS_1


 


__ADS_2