Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Ikuti aku


__ADS_3


"TATAP AKU!!" hadrik Louis saat Vanya mencoba memalingkan wajahnya lagi.



"Aduh.." seru Vanya sambil menghempaskan tangannya yang dalam genggaman Louis "aku hanya membohongi Peter!!"



Louis menatap Vanya dengan tatapan tidak percaya "kamu bohong!"



Vanya tertawa kecil "aku tidak!! aku serius!!"



"Baiklah!!" sahut Louis yang kembali menarik tangan Vanya sambil membuka pintu dan berjalan menuju parkiran.



"Apa yang kamu lakukan?! kita akan kemana??!! Kita masih jam kerja,Louis!!" pekik Vanya.



"Jika kamu serius dengan ucapanmu dan tidak berbohong padaku.. maka kunci mulutmu dan ikuti aku!!" sahut Louis dingin sambil mendorong perlahan Vanya untuk masuk ke dalam mobilnya "atau kamu lebih memilih aku membungkam mulutmu dengan mulutku???".



Ancaman yang cukup berhasil pada Vanya, dia tidak peduli akan apa yang akan mereka harus jelaskan pada Mr.Zhang atau bahkan jika harus mendapat surat peringatan sekalipun dari perusahaan. Yang dia tahu hanyalah,diam dan cukup mengikuti Louis yang bahkan dia tidak tahu kemana Louis akan membawanya. Diam dan pasrah,itu yang Vanya lakukan sekarang..terlebih sekarang dia sedikit lelah,jadi..diam dan pasrah merupakan keputusan yang tepat,bukan?.

__ADS_1



Sesampai di tempat tujuan, Louis menatap Vanya yang terlelap. Louis mengambil ponselnya dari saku bajunya,sejak tadi.. getaran ponselnya tidak berhenti bergetar. Louis sengaja mematikan suara dering ponselnya,saat dia memutuskan untuk 'kabur' bersama Vanya. Tidak lupa,dia bahkan menyita milik Vanya.


Louis menatap layar ponselnya, 'Ruby'.. Louis sudah menebak akan hal itu. Dia mematikan ponselnya,dia ingin bersama Vanya sekarang.


Tidak lama,ponsel milik Vanya bergetar. Louis menatap layar ponselnya, 'Mr.Zhang'.


Bergegas Louis keluar dari mobilnya dan menerima panggilan tersebut, Louis telah siap bertanggung jawab atas apapun konsekuensi yang nantinya akan diberikan perusahaan dan dia juga ingin bertanggung jawab atas Vanya.


"Halo,Mr.Zhang.." sapa Louis.


Bukan suara Mr.Zhang yang Louis dengar, "Mengapa kamu yang mengangkat teleponnya?! Kamu dimana? Mengapa kamu bersama Vanya??" bertubi-tubi pertanyaan keluar dari mulut Ruby.


"Mengapa kamu memakai ponsel Mr.Zhang?" tanya Louis datar.


"Mengapa?! tentu karena kamu yang tidak mau mengangkat ponselmu!!! Aku bahkan harus memohon mr.Zhang untuk meminjam ponselnya?!! Dan yang aku dapatkan kamu malah bersama Vanya?!" pekik Ruby.


"Louis, kamu lupa akan janjimu?! Mengapa kamu begitu lemah dan begitu cepat menyerah, kamu seharusnya bersabar sedikit lagi dan menunggu Vanya mendekatimu!"


"Persetan dengan itu!! sudah berapa lama aku bersandiwara denganmu?!. Aku bahkan tidak melihat perubahan apapun pada Vanya, yang ada aku malah melihat dia semakin menjauh dan kamu yang semakin menempel padaku..." sahut Louis kasar "bahkan terkesan sepertinya kamu memanfaatkan Vanya supaya kamu bisa mendekatiku?!"


"T..tidak.. aku tidak!!" balas Ruby gugup.


"Dengar Ruby, aku ingin menghentikan sandiwara kita!! Aku lelah menemani seharian tanpa hasil. Dan sekarang,aku lebih memilih maju sendirian tanpa bantuanmu!!" seru Louis "dan perjanjian kita batal!"


"Tidak!! kamu tidak bisa seperti ini,Louis!!!" pekik Ruby.


Louis dengan cepat mengakhiri teleponnya, dia tidak ingin mendengar suara pekikan Ruby lebih lama. Louis menatap sekelilingnya lalu menghela nafas berat. Dia sungguh-sungguh dipusingkan oleh dua wanita ini.


"Sandiwara apa maksudmu??" suara Vanya membuyarkan lamunan Louis. Louis menoleh,menatap Vanya yang telah berdiri di belakangnya,tanpa dia sadari sejak tadi Vanya mendengar semua ucapannya pada Ruby.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?" sahut Louis.


"Jawab pertanyaanku.." sahut Vanya, dia menatap sekelilingnya, "dan mengapa kamu membawaku ke rumah sakit?!"


Louis tersenyum datar,lalu kembali menarik tangan Vanya "aku akan menjawab pertanyaanmu setelah aku mendapat jawaban pasti darimu juga".


Jantung Vanya berdetak kencang, dia tidak mengerti mengapa Louis membawanya ke rumah sakit dan menariknya ke bagian Ginekologi (kandungan)??? "a..apa?!!!" pekik Vanya dalam hati,dengan segenap tenaga yang dia miliki, dia menarik tangannya dari genggaman Louis.


"Ada apa?" tanya Louis datar.


"Ada apa katamu??!!! Mengapa kamu membawaku kesini?!" seru Vanya yang sontak mendapat perhatian dari sekelilingnya.


Louis mendekati Vanya, "pelankan suaramu,sayang.. kita berada di rumah sakit.." bisik Louis "Bukankah aku telah mengatakan padamu? Aku.." Louis menatap bagian perut Vanya "membutuhkan jawaban pasti!! Dan tidak dari mulutmu!!"


"Louis!!"


"Jika jawabanmu benar adanya,dan tidak berbohong padaku..mengapa kamu tidak berani untuk diperiksa?!" sahut Louis dengan tegas.


"A..aku.. baiklah!! siapa takut?!"


Louis menarik tangan Vanya "jujurlah padaku.. kamu sungguh-sungguh hamil?"


"Aku sudah menjawabmu!!"


"Vanya.." Louis menghela nafas berat "mengapa kamu begitu keras kepala.."


"Begitu juga denganmu!!" tukas Vanya.


"Baiklah!! Jika itu yang kamu inginkan!!" Louis menarik Vanya kembali menuju bagian Ginekologi.


"ok..hancur sudah.. Louis akan mengetahui yang sebenarnya.." lirih Vanya dalam hati.

__ADS_1



__ADS_2