
Chandra berusaha tersenyum, "saya adalah karyawan di sini,begitu juga dengan wanita yang ada di belakangku..".
"Cih.. karyawan saja sudah begitu berlagak! Enyah!! Biarkan aku berbicara dengan wanita itu!" tukas Peter yang mendorong tubuh Chandra supaya tidak menghalanginya untuk melihat Vanya.
Namun,sedikitpun Chandra tidak bergeming "ah.. maafkan saya,tuan.. Tapi, saya dan wanita ini harus mengurus pekerjaan yang sangat penting. Jadi, sepertinya dia tidak bisa berbicara dengan anda.. Bukankah begitu,Miss?" sahut Chandra sambil melirik Vanya yang mengangguk pelan.
Peter semakin murka mendengar ucapan Chandra, lalu melirik Vanya yang masih bersembunyi, "jangan katakan jika pria culun ini adalah kekasih barumu,Vanya???" pekik Peter.
Ruby memutar kedua bola matanya, "Peter!! hentikan!! Ingat tujuan kita ke sini!! Aku tidak ingin mendapat masalah dengan papa hanya karena kamu!!"
"Diam!!" bentak Peter sambil menatap Ruby dengan murka, bertemu Vanya seakan menghidupkan kembali tombol obsesi yang ada dalam dirinya pada Vanya. Rasa ingin memiliki Vanya semakin menggebu-gebu saat dia melihat Vanya yang sekarang. Peter melirik Vanya lalu kembali tersenyum, "Vanya.. sayang.. ingatlah masa-masa kita dulu.. Bukankah kau juga merindukanku??. Bagaimana jika kita mencari tempat.. atau jika kamu mau,kita bisa menyewa kamar di sini atau di hotel lain.. supaya kita bisa berbicara lebih leluasa tanpa ada yang mengganggu kita??" sahut Peter sambil mencoba mendekati Vanya.
Chandra yang bagaikan bodyguard Vanya,terlihat sigap untuk menahan Peter untuk mendekati Vanya. Namun, melihat Vanya yang semakin gelisah dan risih.. akhirnya Chandra mendorong pelan Peter dan menarik Vanya, "maaf.. kami sedang terburu-buru!" tukas Chandra yang lalu bergegas menarik Vanya untuk segera pergi dan tempat itu.
Sekujur tubuh Vanya bergemetar hebat, bertemu dengan Peter membuatnya mengingat saat Peter yang mencoba masuk ke dalam apartemennya dulu saat berada di Beijing. Walau dia membenci Chandra,namun di saat ini..dia sangat bersyukur akan kehadiran Chandra yang telah membantunya.
Tiba-tiba Vanya merasakan ada yang menarik tangan kirinya, Vanya berbalik dan menyadari jika Peter telah menarik tangannya.
__ADS_1
"Mau pergi kemana kamu,Vanya?!" pekik Peter.
Vanya memekik keras tanpa dia sadari, cengkraman tangan Peter bagaikan jarum-jarum yang menusuknya dan menyakitinya. Dia membenci Peter!
"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" suara bentakan terdengar memenuhi lorong yang hanya diisi oleh mereka berlima.
Mereka berempat menatap ke arah sumber suara. Ruby yang awalnya terkejut, seketika tersenyum gembira.. "Louiss???" pekiknya.
Tanpa menatap Ruby, Louis berjalan begitu cepat dan menarik tangan Vanya dari Peter dan juga Chandra. Vanya kembali bersembunyi di belakang tubuh Louis.
Melihat pemandangan yang ada di depannya, seketika wajah Ruby berubah muram. Dia melipat kedua tangannya, "kalian masih bersama?" sahutnya dingin.
"Mengapa kamu tidak membawa kedua tamu kita ke kantor??! Lihatlah mereka bahkan tersesat hingga bisa berada disini!" tukas Louis pada Chandra. Seketika Chandra bergidik,belum pernah Chandra melihat wajah Louis yang seperti ini.
"Ta..tamu?!" sahut Chandra gugup.
"Bawa mereka segera ke kantor!" tukas Louis.
__ADS_1
Peter tersenyum sinis, "kamu juga bekerja di sini?"
"Beliau--" kalimat Chandra di hentikan oleh Louis.
"Benar!" tukas Louis.
Ruby tersenyum dan mendekati Louis perlahan, "lihatlah.. bukankah lebih bagus jika dulu kamu menerimaku?. Bukankah lebih bagus jika kamu menjadi menantu dari seorang Simon Lee daripada menjadi pegawai rendahan di sini.." Ruby melirik sekitar hotel, "bahkan di kota kumuh ini!"
"Tarik ucapan anda,Miss!" tukas Chandra, dia tidak terima Ruby menghina kota kelahirannya.
Ruby terkekeh lalu memegang lembut pipi kanan Louis, "masih belum terlambat untuk kembali padaku,Louis.." bisiknya.
Chandra yang masih terlihat kebingungan akan situasi saat ini.. Dia yang baru saja mencoba menelaah apa yang terjadi antara Vanya dengan kedua orang asing ini, dan sekarang.. dia dihadapkan kembali dengan situasi saat ini.. Tapi,yang dia tahu jika baik Vanya maupun Louis sama-sama mengenal kedua tamu ini.
Louis tersenyum dingin lalu menepis tangan Ruby, "jangan mengotori wajah tampanku dengan tangan berbisamu!" tukas Louis sambil menarik Vanya untuk pergi dari hadapan mereka. Sebelumya, Louis berbalik lalu berbisik pada Chandra, "bawa mereka ke ruangan meeting dan jangan beritahu mereka siapa aku dan Vanya!" sahut Louis,diiringi anggukan kepala Chandra.
Ruby dan Peter merasa kesal atas kepergian Louis dan Vanya namun mereka yang masih memiliki tugas dari ayah mereka,membuat mereka hanya bisa diam melihat kepergian Louis dan Vanya.
__ADS_1
"Aku akan menghancurkan kalian berdua!!!" pekik Peter.