
You stand in the line just to hit a new low
You're faking a smile with the coffee to go
You tell me your life's been way off line
You're falling to pieces every time
And I don't need no carrying on
•Daniel Powter•
Louis menatap pria itu dengan bingung "bukankah sudah dibayar?" tanya Louis.
Pria itu tersenyum lalu memegang kedua kotak pizza itu kembali "belum,sir.." sahutnya sambil tersenyum sopan.
Louis menoleh menatap Luckas,tapi...Luckas menghilang. Dan setelah beberapa detik,Louis baru tersadar jika lagi-lagi dia dibohongi Luckas.
"tunggu sebentar.." Louis merogoh dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar dollar pada pria itu "ini.. terima kasih dan kembaliannya untuk anda saja.." sahut Louis sambil menutup pintu rumahnya.
Pria yang mengantar pizza tersebut tersenyum gembira lalu menghitung uang yang di beri Louis,setelah selesai menghitungnya. Raut wajah pria tersebut berubah menjadi kesal "dasar sinting!! Kirain benar-benar ada lebih uangnya.." maki pria tersebut.
Luckas baru saja keluar dari kamar mandi sambil berpura-pura memegang perutnya "aduh.. tiba-tiba sakit perut.." sahutnya tanpa menatap Louis, saat matanya tertuju pada dua kotak pizza yang ada di meja, Luckas tersenyum cerah "wah.. terima kasih.." seru Luckas langsung berlari dan membuka sekotak pizza dan mengambil sepotong pizza.
"Jika saja kamu bukan Luckas Ryans, terlebih lagi jika saja kamu bukan suami dari kakakku..aku akan memukulmu dengan penyedot debu yang ada di sampingku sekarang ini.." tukas Louis.
Luckas tertawa terbahak-bahak "anggap saja kamu mentraktirku karena telah mendapatkan pekerjaan.." sahutnya sambil melahap sepotong pizza lagi.
"Makan saja pizzamu,kakak iparku sayang!! aku malas mendengar ocehanmu!!" tukas Louis sambil mengambil sepotong pizza dan melahapnya.
Luckas membuka dua kaleng bir untuknya dan Louis "jadi..bagaimana pekerjaanmu?"
Louis mengangkat kedua bahunya "biasa saja.."
"Ada wanita cantik?" tanya Luckas acuh.
Louis menatap tajam ke arah Luckas "jangan bilang kamu ingin bermain api?!"
__ADS_1
"Hei..hei..tenanglah.. aku bertanya untukmu,bukan untukku!!" seru Luckas.
"Awas saja jika kau berani bermain api!!" seru Louis.
"Nyawaku taruhannya,*brother*.." balas Luckas.
"Biasa saja..tidak ada yang menarik.. hanya--" sahut Louis dan kembali membayangkan wajah Vanya.
"Hanya apa?"
"tidak..bukan apa-apa.." sahut Louis langsung.
Luckas menatap Louis dengan penuh curiga,lalu kembali menyeruput birnya "kau pernah mendengar bagaimana aku menyatakan perasaanku pada kakakmu?" tanya Luckas.
"Tentu tidak.. saat kalian berpisah,Lidya tidak pernah membicarakanmu. Tapi aku mengerti, buat apa dia mengingat dan menceritakan hubungannya dengan laki-laki brengs\*k sepertimu!!" sahut Louis.
"Aduh!!" rintih Louis sambil mengelus kepalanya "Kenapa kau melempar kaleng birmu?!" pekik Louis.
"Sorry.. tanganku licin" jawabnya acuh "mau dengar tidak?!"
"Terserah!!" sahut Louis.
"Awal bertemu.. Aku baru saja masuk ke dalam lift.. karena tergesa-gesa akan jadwal meeting-ku yang hampir telat. Waktu pintu lift hampir tertutup,aku mendengar suara kakakmu.." sahut Luckas.
Louis mengambil sepotong pizza lagi,sambil menatap ponselnya "lalu?"
"Aku menahan pintu lift-nya.. dan.." Luckas tersenyum saat mengenang awal pertemuannya dengan Lidya "aku bersyukur menahan pintu lift waktu itu,karenanya..aku bertemu wanita paling cantik yang pernah aku jumpa dalam hidupku.."
"H*oekkk*.." seru Louis seakan menahan mual yang menderanya "*sorry..sorry*.." serunya saat melihat Luckas yang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Dan.. tidak tahu kenapa wajah kakakmu selalu membayangiku, bahkan aku sampai kehilangan konsentrasi saat *meeting*.." sahut Luckas.
Louis terdiam "benarkah?" tanyanya.
Luckas mengangguk "wajah kakakmu saat itu benar-benar mengalihkanku pada semuanya. Sampai aku bertemu dengan kakakmu lagi yang sedang bersama teman-temannya".
Terlihat Louis semakin serius mendengar cerita Luckas, karena mendengar cerita Luckas tentang terbayang wajah Lidya membuatnya teringat akan dirinya yang terbayang wajah Vanya dari tadi.
"Tanpa basa basi.. aku langsung menanyakan nama kakakmu dihadapan teman-temannya dan beberapa orang penting yang sedang berada di belakangku!"
Louis menyeruput birnya sambil tetap mendengar cerita Luckas dengan seksama.
"Setelahnya.. beberapa hari kemudian,aku mencari apartemen kakakmu dan menyatakan perasaanku.." sahut Luckas sambil tertawa kecil.
"Wowow.. *gentleman*... Tidak ku sangka, kamu begitu keren,kakak ipar.." sahut Louis.
Luckas tertawa "Louis.. aku seorang pengusaha,aku tidak ingin kehilangan kesempatanku baik dalam dunia bisnis ataupun asmara.. dan ada tiga hal yang membuatku begitu cepat menyatakan perasaanku pada kakakmu.."
"Apa itu?"
"Pertama.. seperti yang aku katakan tadi.. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan" sahut Luckas "kedua.. dengan wajah yang begitu cantik seperti kakakmu,aku yakin..akan banyak pria lain yang akan mendekatinya.. dan ketiga.." Luckas menyesap tetes terakhir bir miliknya "tidak tahu mengapa.. aku begitu yakin jika Lidya adalah milikku!! Begitu juga sebaliknya.. bisa dibilang seperti.... jodoh?" sahut Luckas sambil tertawa kecil.
Louis tersenyum "A..aku s...sangat bersyukur.. jika kamu yang menjadi pilihan terakhir kakakku.." sahutnya lemas dan tiba-tiba tertidur di sofa miliknya.
Luckas tersenyum "benar..aku juga begitu bersyukur akan hal itu.." sahut Luckas sambil menatap Louis yang sudah tertidur pulas,lalu menggelengkan kepalanya "dasar.. selalu lemah akan minuman alkohol.. hanya sedikit bir saja sudah K.O.." sahut Luckas.
"Vanya~~" terdengar suara bisikan dari mulut Louis, sontak membuat Luckas kembali menatap Louis lalu tersenyum.
"Sepertinya..Lidya akan segera mendapatkan adik ipar.." bisik Luckas sambil tersenyum.
__ADS_1