Hotel Prince

Hotel Prince
Drama Queen


__ADS_3

Hotel Ryans,


Setelah pertemuannya dengan Lidya,Freya mulai merasa gugup. Dia merasakan peperangan ini sepertinya akan berat baginya untuk menang. Dia tahu dia membutuhkan Dora disaat seperti ini,hanya Dora-lah 'kartu as' terbaiknya. Dan dia harus menjaga baik akan hal itu, kehilangan dukungan Dora sama saja kehilangan semuanya..termasuk Luckas.


Freya menghubungi Dora walau waktu telah menunjukkan pukul 10 malam,tapi Freya tahu Dora tidak akan pernah keberatan jam berapapun dia menelepon karena Dora begitu menyayanginya layaknya seorang cucu kandungnya.


"Halo grandma.." suara Freya otomatis berubah menjadi seorang Freya yang manja.


"Halo sayang...bagaimana?? kamu sudah sampai di hotel Ryans??"


"sudah.." lirih Freya


"tapi mengapa suaramu terdengar sedih? kamu belum bertemu Luckas??" tanya Dora, kedatangan Freya di hotel Ryans tentu mendapat dukungan dari Dora. Dora menginginkan Freya dan Luckas lebih sering bertemu supaya Luckas dapat tertarik akan Freya.


"belum grandma.. aku dapat info dari staf jika Luckas sedang keluar kota" lirih Freya parau.


"mungkin dia lelah..besok aku akan menyuruhnya menemuimu.." ucap Dora mencoba menghibur Freya.


Senyuman lebar langsung menghiasi wajahnya,tapi tidak dengan suaranya..dia tetap membuat suara sedihnya untuk mengecoh Dora "tapi...aku hari ini bertemu Lidya.."


Dora terdiam berpikir sejenak akan nama yang disebutkan Freya "Lidya?? perempuan itu??!!! apa yang dia lakukan padamu??" sinis Dora.


Suara Dora yang terdengar begitu membenci Lidya, diam-diam membuat Freya tersenyum gembira, otaknya langsung mengarang cerita palsu menambah minyak di api yang membara "di..dia mengejekku.." lirihnya "dia mengancamku supaya meninggalkan Luckas. Dia berkata jika Luckas hanya miliknya dan dia akan menjadi bagian keluarga Ryans,apapun yang terjadi"


Emosi mulai menyala karena perkataan Freya "Dasar perempuan murahan!!!!" bentak Dora dengan geram "Freya,kamu tidak usah takut padanya!! Grandma akan memberinya pelajaran karena telah menghinamu!!"

__ADS_1


"jangan,grandma.. aku takut dia a-"


"apa yang kamu takutkan??!!! ada grandma disisimu!!" potong Dora "tenanglah.. besok aku akan memaksa Luckas memutuskan hubungannya dengan perempuar ****** itu!!"


"terima kasih, grandma"


"tidak perlu takut padanya!! Besok grandma juga akan memaksa Luckas menemanimu!"


"baiklah,grandma..terima kasih" ucap Freya parau


Setelah memutuskan telepon dari Dora,suara tawa Freya langsung memenuhi seluruh isi ruangan. Dia menertawakan Dora yang begitu menyayanginya "Dasar bodoh!!" ucapnya sambil menyesap segelas wine yang ada ditangannya.


######


Apartemen Lidya.


"Halo,mom.." sahut Luckas pelan sambil melangkah pelan berjalan keluar kamar Lidya,dia tidak ingin mengganggu Lidya yang tengah tertidur pulas.


"Halo sayang..sudah tidur?" tanya Martha sambil melihat jam dindingnya yang telah menunjukkan pukul 12 malam.


"belum..ada apa,mom?"


"Mom sedang berada di Washington"


Luckas terkejut "Kenapa tiba-tiba? apakah Dad atau grandma ikut??"

__ADS_1


"no..no...hanya mom sendiri. Sebenarnya tadi mom ke apartemenmu tapi kamu tidak berada disana" suara Martha terdengar menggoda Luckas.


Wajah Luckas merona merah seketika seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen "a..aku-"


Martha tertawa "Mom tahu kamu pasti berada di tempat Lidya.." wajah Luckas semakin merah walau Martha tidak melihatnya "its okay, honey..mom tidak akan mengganggu privasimu"


Luckas tersenyum,sejak kecil Martha selalu mendidiknya mandiri dan selalu menghargai keputusan Luckas. Setelah dia beranjak dewasa,Martha juga menghargai privasinya..dia tidak pernah mengganggu ataupun mencampuri urusan Luckas. Martha mendidiknya untuk bertanggung jawab atas apapun keputusan Luckas..dia harus menanggung semua resiko atas keputusannya dan bertanggung jawab penuh. Sebab itu Luckas tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab. Martha tidak pernah memaksanya menuruti keinginannya sebagai seorang ibu. Martha tahu Luckas lebih tahu apa yang terbaik baginya.


Sama halnya untuk masalah Lidya, Martha menghargai keputusan Luckas yang telah memilihnya. Dan dia memilih untuk mencoba dekat dengan wanita pilihan anak laki-lakinya.


"Luckas,Mom ingin meminta satu hal"


Luckas menelan ludah,dia takut ibunya meminta hal yang sama dengan ayah dan neneknya "apa itu,mom?"


"Besok..mom ingin meminjam Lidya sehari"


Luckas terkejut "maksud,mom?"


"bolehkan??" pinta Martha "tenanglah..mom hanya ingin lebih dekat dengan Lidya"


"baiklah,mom.."


"terima kasih,sayang..dan cepat istirahat" ucap Martha dan menutup teleponnya.


Luckas tersenyum, memiliki ibu seperti Martha adalah hal yang sangat dia syukuri. Jika memang kelak Luckas harus memilih meninggalkan keluarga Ryans, hal terberat baginya adalah meninggalkan ibunya. Walau Martha pasti akan mendukung pilihannya juga.

__ADS_1


Telepon Luckas kembali berdering, nama Dora terpampang dilayar teleponnya. Raut wajah Luckas berubah muram seketika. Sejak masalah pertunangan ini, telepon dari Dora tidak lagi membuatnya gembira seperti dulu. Dia tidak mengerti mengapa Dora begitu memaksanya.



__ADS_2