
So I'm gonna love you like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Wherever we're standing
I won't take you for granted
'Cause we'll never know when, when we'll run out of time
•Meghan Trainor•
########
Luckas menatap Dora dengan tatapan tajam "apa masih ada Freya-Freya lain yang ingin grandma jodohkan padaku??? Belum cukup dengan kejadian Freya yang kemarin???" ucap Luckas dengan kasar.
Mendengar suara cucu dan neneknya yang masing-masing mulai meninggi,Arthur berjalan mendekati mereka berdua "jaga ucapanmu!!" ucap Arthur pada Luckas.
"Benar!! Aku sedang memilih perempuan lain untukmu.. bahkan lebih baik daripada Freya!!" ucap Dora sambil tertawa sinis "aku tidak percaya, jika tidak ada wanita lain yang sanggup menggantikan posisi Lidya di hatimu!"
Kedua tangan Luckas menahan geram "Tidak akan ada seorangpun,grandma.. walau sekalipun wanita itu adalah seorang putri kerajaan manapun, aku akan tetap memilih Lidya!!!"
Suara tawa ejekan keluar dari mulut Dora "Tidak ada kamu bilang??? sadarlah Luckas!! sudah berapa kali aku katakan jika dia hanya melihat harta kita, banyak wanita seperti dia.. bahkan grandma cukup menjentikkan jari saja untuk menemukan wanita seperti dia tanpa harus bersusah payah!"
__ADS_1
"Bagaimana dengan Freya yang grandma jodohkan untukku?? bagaikan serigala berbulu domba!! memang banyak wanita yang hanya melihat harta, tapi.. grandma.. banyak juga wanita ber-ada yang hanya melihat status sosial kita tanpa harus tulus mencintaiku!!" balas Luckas dengan suara yang meninggi.
Raut wajah Dora menahan geram, Freya yang menjadi pilihannya dulu telah menjadi suatu kegagalannya menilai seorang wanita untuk cucunya.
"Jika memang dia ingin masuk dalam keluarga ini maka buktikan jika dia mampu dan layak untuk masuk kedalam keluarga Ryans!!" bentak Dora.
Di balik dinding menuju ruang tamu,Lidya mematung mendengar semua pembicaraan yang begitu jelas di dengarnya tanpa harus susah payah menguping. Awalnya, Martha menyuruhnya untuk memanggil mereka untuk makan karena semua makanan telah selesai tapi dia malah mendengar pembicaraan yang menyakitkan hatinya.
Lidya menahan air matanya, dia berjalan perlahan mencoba tidak mengeluarkan suara menuju dapur. Martha yang tengah konsentrasi menata makanannya di piring,tidak memperhatikan Lidya yang berjalan keluar dari pintu belakang yang berada di dapur dengan hanya memakai sandal rumah dari rumah Luckas,dia tidak ingin berbalik melewati ruang tamu hanya untuk mengambil alas kakinya. Tentu dia lebih tidak ingin ketiga orang yang berada di ruang tamu menyadari kepergiannya.
Dengan sekuat tenaga,Lidya berlari menuju gerbang utama dan menghentikan taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang tidak jauh dari rumah Luckas. Saat Lidya duduk di dalam taksi,dan disaat itu juga air matanya mengalir. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya.. mengapa..mengapa Dora begitu membencinya.
#######
Semua makanan telah tertata rapi di meja makan,dan hanya menanti untuk dinikmati. Martha kebingungan menunggu keluarganya yang tidak kunjung menuju ruang makan "apa Lidya belum memanggil mereka?" tanya Martha pada dirinya sendiri. Martha berjalan menuju ruang tamu dan menyadari suasana yang terasa sangat panas, dia menatap sekeliling ruangan dan menyadari jika Lidya tidak berada di sana.
"Arthur,mom,Luckas.. makanan telah selesai.." sahut Martha memecahkan keheningan yang mencekam di ruang tamu tersebut.
Arthur dan Dora berdiri hampir bersamaan dan berjalan menuju ruang tamu dengan wajah yang muram. Luckas masih duduk sendirian di sofa itu,mencoba menenangkan dirinya sebelum menuju ruang makan. Martha mendekatinya "apa yang terjadi?".
Luckas menggelengkan kepalanya dan mencoba tersenyum pada ibunya.
Martha mengelus kepala anak laki-lakinya,tanpa harus bertanya lebih jauh..dia tahu jika baru saja terjadi 'perang dingin' diruangan itu "makan yuk..mom sudah memasak makanan favoritmu. Oh ya,Lidya mana?"
__ADS_1
"Bukannya dia bersama mom di dapur?" tanya Luckas.
Martha menggeleng "tadi dia memang membantu mom di dapur,tapi karena makanan telah siap..mom menyuruhnya memanggil kalian tapi sejak tadi kalian tidak masuk ke ruang makan jadi mom keluar untuk memanggil kalian"
"tidak..sejak tadi Lidya tidak ada ke sini.." ucap Luckas dan perlahan terdiam "jangan-jangan dia mendengar pembicaraan kami.." ucap Luckas dengan wajah pucat.
"tenanglah..mungkin saja dia di kamar mandi.. lebih baik kita mencarinya terlebih dahulu,Luckas.." ucap Martha "dan coba hubungi teleponnya".
Luckas mengangguk, dia berjalan menuju kamar mandi yang ada dirumah itu sambil mencoba menelepon Lidya.
"maaf..nomor yang tuju tidak aktif..silakan tinggalkan pesan setelah bunyi bip"
Luckas mulai panik dan cemas,semua ruangan telah hampir di periksanya dan tidak kunjung melihat sosok Lidya. "Lidya..kamu dimana??? Jangan buat aku cemas,Lidya.. aku mohon hubungi aku sekarang!!" sahut Luckas mencoba meninggalkan pesan pada Lidya.
Martha menjelaskan pada Dora dan Arthur mengenai hilangnya Lidya. Dora kelihatan acuh tak acuh dengan hal itu.
"coba periksa CCTV mungkin saja dia kabur setelah mencuri sesuatu.." sahut Dora yang sontak membuat Martha tercengang.
"Mom... Lidya hilang..mengapa mom malah menuduhnya mencuri.." ucap Martha.
"kita tidak pernah tahu,Martha.. cepat suruh mereka mengecek CCTV..awas saja jika dia mencuri sesuatu,maka dia akan menerima ganjarannya!!" ucap Dora.
__ADS_1