
I know that you've been waitin' for it
I'm waiting too
In my imagination I'd be all up on you
I know you got that fever for me
Hundred and two
And boy I know I feel the same
My temperature's through the roof
•Mariah Carey•
Langit sepertinya masih tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyudahi hujannya. Keduanya berdiri dengan canggung di ruang tamu Lidya, air yang berasal dari pakaian keduanya yang basah menetes membasahi lantai.
"a.." suara Luckas memecahkan keheningan "aku akan ke kamar mandi sebentar"
"o..ah..iya..aku akan mengambilkan handuk untukmu.." sahut Lidya dengan kikuk sambil berjalan menuju kamarnya. Setelahnya,dia masuk kedalam kamar Louis untuk mengambil pakaian kering untuk Luckas.
Lidya mengetuk pelan pintu kamar mandinya. Tidak lama kemudian,Luckas membukakan pintu kamar mandinya. Nafas Lidya tercekat menatap pemandangan indah didepan matanya, Luckas hanya telah bertelanjang dada, hanya celana jeansnya yang masih membalut tubuhnya. Lidya menelan ludah melihat dada Luckas yang terlihat semakin kekar dari sebelumnya. Lidya segera mengalihkan matanya,"gan..ganti bajumu dengan pakaian Louis saja.." sahutnya, hanya tangannya yang menyodorkan handuk dan pakaian untuk Luckas, dia tidak berani menatap Luckas..kondisi Luckas yang sekarang sanggup membuatnya mengalami serangan jantung.
Luckas tersenyum geli melihat kelakuan Lidya, bukannya mengambil handuk dan pakaian yang ada di tangan Lidya...tapi,dia menarik Lidya. Tentu saja hal itu membuat Lidya jatuh dalam pelukannya. Lidya terkejut "apa yang kamu lakukan?!" pekiknya.
"aku hanya membantumu.. mengapa kamu tidak berani melihatku?" goda Luckas.
Bergegas Lidya bangkit berdiri "a..apa maksudmu?"
__ADS_1
Luckas menatap Lidya begitu dekat "ini bukan pertama kalinya kamu melihatku seperti ini..mengapa kamu terlihat malu?"
Wajah Lidya mulai terasa panas dan merah "tidak! Siapa yang malu!! hanya saja.."
Luckas menundukkan kepalanya untuk menatap mata Lidya "hanya apa,Lidya? atau..kamu ingin melihat lebih dari ini?" lanjut Luckas kembali menggoda Lidya. Lidya yang sedang tersipu seperti ini membuatnya sangat ingin lebih menggodanya.
"ah..Luckas!! segera ganti pakaianmu atau kami akan kedinginan!!" seru Lidya sambil mendorong pelan tubuh Luckas. Lidya segera berjalan keluar dari kamar mandi sambil memegang wajahnya yang terasa panas.
\---------
Tidak lama kemudian,Luckas keluar dari kamar mandi dengan memakai baju kaos berwarna hitam dan celana pendek milik Louis. Lidya kembali menahan nafasnya saat melihat Luckas. Baju yang biasanya terlihat longgar di tubuh Louis,bagaimana mungkin baju tersebut malah terlihat ketat dan semakin menunjukkan lekukan tubuh dan dadanya yang ada di balik baju itu.
Luckas menyadari Lidya yang tidak melepaskan tatapannya dari tubuhnya,dia berjalan mendekati Lidya "sepertinya kamu lebih memilih jika aku melepaskan baju ini,Lidya.."
Luckas mengambil dan meletakkan kembali gelas itu diatas meja, membuat Lidya bingung "apakah kamu tidak ingin susu coklat? Atau kamu ingin yang lain..teh atau kopi?" tanya Lidya.
Luckas tidak menjawab Lidya,dia berjalan perlahan mendekati Lidya membuat Lidya melangkah mundur hingga tubuhnya tertahan oleh meja makan "Lu.. Luckas??"
Dengan mudah,Luckas mengangkat dan membuat Lidya duduk diatas meja makan mininya "segelas susu coklat hangat lebih dari cukup untukku. Tapi,sepertinya tidak untukmu.." sahut Luckas.
"apa maksudmu,Luckas?" sahut Lidya sambil berusaha menenangkan detak jantungnya. Malam ini terasa sangat panjang bagi Lidya, kehadiran Luckas di rumahnya membuat jantungnya bekerja ekstra malam ini.
__ADS_1
"dari tadi kamu terus menatap tubuhku,Lidya..aku ingin tahu apa yang sedang kamu pikirkan.." bisik Luckas.
Wajah Lidya kembali terasa panas,dia tidak menyangka Luckas menyadarinya. Lidya pura-pura tertawa "aku?? menatapmu?? hahaha..sepertinya kamu salah,Luckas.." sahutnya dengan kikuk.
"benarkah?" Luckas meletakan tangan kanan Lidya di dadanya "sepertinya kamu merindukanku,Lidya.. mengapa kamu ragu? sentuhlah jika memang kamu merindukannya.. tubuh ini,milikmu juga" bisik Luckas.
Dari telapak tangannya,Lidya dapat merasakan betapa kerasnya dada tersebut..namun,Lidya segera menepis tangannya "jangan bercanda,Luckas.." Lidya menoleh kearah lain,tubuhnya terasa panas.
Sambil tersenyum,Luckas melingkarkan tangannya di tubuh Lidya. Perlahan tangannya masuk dibalik baju Lidya dan memeluknya, sontak membuat Lidya menggigil..tangan Luckas terasa begitu dingin.
"Ya Tuhan..tanganmu begitu dingin,Luckas!! Hangatkan tubuhmu segera,Luckas.. kamu bisa beristirahat di kamar Louis" sahut Lidya, hujan badai yang dari tadi begitu deras..mau tidak mau,Lidya harus membiarkan Luckas menginap di rumahnya.
"aku lebih memilihmu untuk menghangatkanku daripada segelas susu hangat ataupun selimut tebal!" sahut Luckas. Dia menarik pelan tubuh Lidya dan mencium pipi Lidya,perlahan ciuman Luckas pindah ke bibir Lidya.
Kali ini,ciuman yang penuh kelembutan..Lidya melingkarkan tangannya di leher Luckas,membuat Luckas semakin menarik tubuh Lidya supaya lebih dekat dengannya. Keduanya saling mencurahkan rasa rindu mereka satu sama lain.
Dari balik bajunya,tangan Luckas perlahan mengelus lembut punggung Lidya yang terasa hangat dan melepaskan kaitan yang ada di balik baju Lidya. Nafas keduanya memburu,ciuman Luckas mulai perlahan turun di leher Lidya.
Hujan badai yang semakin deras membuat listrik di rumah Lidya mati, tapi hal itu tidak membuat mereka berdua berhenti. Luckas mencium leher Lidya..tidak sedikitpun dia lewatkan,Lidya mengerang pelan.
"Mamiiiiiii......" isak Ayles dari kamarnya.
author:
"Hai guys.. thank you buat selalu support Hotel Prince❤️ hanya bagi sedikit info.. jika saat baca,ada beberapa kata yang di sensor menjadi ****..
__ADS_1
Nah..itu disensor otomatis oleh pihak mangatoon ya, bukan author..jadi harap maklum ya..
mungkin itu salah satu alasan,kenapa aku selalu pass tulisanku yang mengandung 21+, tktnya nanti semua tulisanku jd seperti bintang2 di langit 😅. Tapi, semoga hal itu tidak menjadi penghalang buat kalian nikmati novelku ya😍 love you guys"