Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Hard To Love


__ADS_3

I'm hard to love, hard to love, oh I don't make it easy


I couldn't do it if I stood where you stood


I'm hard to love, hard to love, you say that you need me


I don't deserve it but I love that you love me goood


Love me good


•Lee Brice•



Pagi hari yang begitu cerah, sinar matahari yang begitu terang memenuhi kamar Vanya yang awalnya gelap gulita itu sekarang menjadi terang benderang yang sanggup menyilaukan mata Vanya walaupun sedang terlelap.



Vanya mengucek kedua matanya yang masih terasa berat, beberapa hari ini dia sering merasa lelah dan tidak begitu bersemangat.. ditambah setiap hari melihat Louis yang menjadi begitu dingin padanya. Walau Vanya menginginkan Louis bersikap dingin padanya, tapi pada kenyataannya.. hal itu sangat menyakiti hatinya.



Vanya membuka kedua matanya yang masih menuntutnya untuk berbaring, pikiran Vanya langsung di bayangi oleh bayangan Louis dan Ruby yang berciuman. Vanya yang waktu itu memilih untuk melewati lorong itu untuk mempercepat dirinya menuju parkiran dimana mobilnya berada,namun ternyata keputusannya membuatnya melihat pemandangan yang menyakitkan mata sekaligus hatinya.



Seulas senyuman sinis menghiasi wajah manisnya, "semua laki-laki sama saja!" serunya.



Dengan berat,Vanya mencoba bangkit berdiri. Berjalan menuju dapur kecilnya untuk membuat susu hangat supaya mengisi perutnya yang kosong. Sudah beberapa hari ini,Vanya tidak berselera untuk mengisi perutnya. Vanya memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter, dia tidak ingin terus menerus seperti ini. Vanya memilih dokter kenalannya,dokter Kelly. Dokter Kelly seorang wanita paruh baya yang merupakan kenalan dari ibu Vanya dulu. Dan karenanya,Vanya termasuk dekat dengan beliau.

__ADS_1



Klinik dokter Kelly,


Dokter Kelly selalu ramah pada pasiennya,siapapun itu. Tidak heran klinik dokter Kelly selalu penuh akan pasien. Vanya telah mengetahui akan hal itu,karenanya dia telah membuat janji terlebih dahulu sehingga dia tidak menunggu terlalu lama.


Setelah konsultasi dengan dokter Kelly,Vanya akhirnya melakukan berbagai pemeriksaan yang di sarankan oleh dokter Kelly. Dan lime belas menit kemudian,Vanya kembali dipanggil masuk ke dalam ruangan dokter Kelly.


Perasaan gugup menyelimuti diri Vanya saat melihat wajah dokter Kelly yang terlihat begitu serius. Bahkan detak jantungnya sendiri serasa terdengar begitu jelas di telinga Vanya.


"Dokter.." sapa Vanya dengan lemas.


Dokter Kelly menatap Vanya lalu tersenyum "Halo,Vanya..silakan duduk.."


Vanya menuruti dokter Kelly untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya "apakah hasil pemeriksaanku tidak begitu bagus,dok?"


Dokter Kelly menggeleng "tidak..kamu tidak perlu cemas,Vanya.." sahut dokter Kelly ramah.


Vanya sedikit bernafas lega dan setelah mendengar perkataan dokter Kelly, dia pun mulai duduk dengan nyaman..detak jantungnya yang awalnya berdetak cepat,sekarang mulai terasa normal.


Vanya menelan salivanya dengan susah payah, satu kata 'tapi' yang keluar dari mulut dokter Kelly kembali berhasil membuatnya kembali gugup.


"Bolehkah aku bertanya? apakah kamu memiliki kekasih,Vanya?" tanya dokter Kelly.


Vanya menggeleng "tidak..mengapa dokter bertanya seperti itu?"


Dokter Kelly menyodorkan selembar kertas pada Vanya, Vanya meraih kertas tersebut dan membacanya. Saat itu juga seluruh dunia seakan runtuh menimpa Vanya, isi yang tertera di kertas itu sungguh-sungguh membuatnya kehilangan semua tenaganya, bahkan selembar kertas yang ringan itu terasa begitu berat di tangannya.


"Kamu hamil,Vanya.." sahut dokter Kelly.


"A..an...anda tidak bercanda,dokter?"

__ADS_1


"Aku tidak mungkin bercanda akan hal itu,Vanya.. hasil pemeriksaanmu sendiri menunjukkan jika kamu positif hamil.." sahut dokter Kelly "sekarang..katakan pada aunty..siapa laki-laki itu?"


Air mata mengalir dari kedua pelupuk mata Vanya, dokter Kelly sudah bagaikan tantenya sendiri dan karena itu juga hasil pemeriksaan Vanya sendiri sangat mengejutkan dokter Kelly secara pribadi. Vanya hanya terduduk lemas,tidak bertenaga,tidak sanggup menjawab ataupun berkata apa-apa lagi pada dokter Kelly.


"Vanya?" tanya dokter Kelly "kamu baik-baik saja?"


"A..aku--" Vanya hanya terdiam, yang ada di benaknya hanyalah...kosong.


Dokter Kelly menghela nafas,lalu menggenggam tangan Vanya "Vanya sayang.. kamu sudah bagaikan anak perempuanku sendiri.. jika kamu membutuhkan bantuan,jangan segan untuk menghubungiku" sahut dokter Kelly lembut.


Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya,lidahnya terasa kelu.. yang hanya keluar hanya air mata dari kedua pelupuk matanya.


"Cerita padaku saat kamu siap,sayang..kapanpun itu.." lanjut dokter Kelly lembut.


"Terima kasih,aunty.. sepertinya aku butuh waktu menyendiri.." sahut Vanya lemas.


Dokter Kelly mengangguk "aku mengerti.. tenangkan dirimu,Vanya.. aunty hanya bisa mengatakan,apapun keputusanmu..ingatlah bayi yang ada di perutmu. Dia tidak melakukan kesalahan apapun"


Vanya mengangguk pelan "aku mengerti maksud aunty.. terima kasih,aunty.." lirih Vanya.



Kediaman Vanya,



Bagi Vanya sekarang,seluruh dunia bagaikan hampa. Dia mengutuk dirinya sendiri, kesalahan yang secara tidak sengaja dia lakukan..tidak..tidak..lebih tepat adalah kesalahan yang dia lakukan secara tidak sadar,sekarang telah membuahkan hasil yang harus dia tanggung.



Dia meringkuk di tempat tidurnya,memegang perutnya yang masih rata.

__ADS_1


"apa yang harus ku lakukan.." lirihnya sendiri.



__ADS_2