Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Waktu untuk beranjak dewasa


__ADS_3

"Tentu tidak,kakakku sayang.." dalih Louis.


"Awas jika aku mendengar kamu menghamili perempuan tanpa status yang jelas, kamu akan menerima ganjarannya terlebih dahulu dariku!!" tukas Lidya tegas.


"Aduh..kakak! Aku hanya sekedar bertanya,tapi kamu sudah mengomeliku begitu panjang!" sahut Louis dengan wajah cemberut.


Lidya menghela nafas "kamu tahu sendiri seberapa pahitnya yang aku lalui karena hamil sebelum status yang jelas" sahut Lidya sambil termenung, hanya membicarakannya membuatnya teringat akan masa pahitnya saat itu "karena aku bertemu dengan orang sebaik Elena dan juga orang tua kita yang selalu mendukungku..Jika tidak,aku tidak akan berada di dunia ini lagi,Louis"


Louis terkejut mendengar perkataan kakaknya "apa sebegitu parahnya?"


"Kalian laki-laki tidak akan pernah tahu bagaimana sulitnya hidup perempuan,apalagi jika mereka yang hamil tanpa status yang jelas. Beban yang ditanggung itu beribu-ribu kali lipat" sahut Lidya.


"Lidya.." suara Luckas mengejutkan kakak beradik itu.


"Luckas?? Kapan kamu pulang?" tanya Lidya.


"Baru saja.." jawabnya dengan wajah muram, lalu memeluk Lidya dengan erat "maafkan aku.."


"Apa yang terjadi? Mengapa kamu meminta maaf?" tanya Lidya dengan bingung.


"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian,dan sekarang..aku merasa sangat bersalah..bersalah karena dulu kamu harus menanggung sendiri.." lirih Luckas sambil tetap memeluk Lidya.


Lidya tertawa kecil "Aku hanya menasehati Louis.. bukan mengangkat masa laluku.." sahut Lidya lembut, "tidak perlu merasa bersalah seperti ini,sayang.. sudah,lupakan masa lalu kita.." lanjut Lidya "kamu sudah makan?" tanyanya.


"Sudah..tapi wangi ayam goreng Desya kembali membuatku lapar.." sahut Luckas sambil menatap ayam goreng di atas meja makan yang tinggal satu potong.


"Sorry,bro..keburu habis" tukas Louis sambil mengambil potongan terakhir dan mengunyahnya.


"Kau!!" Luckas melempar Louis dengan dasi yang baru saja dilepasnya. Louis hanya membalasnya dengan tertawa keras.


Lidya menggeleng-gelengkan kepalanya, "sudah-sudah..aku akan menyuruh Desya membuatnya lagi.." sahut Lidya sambil menatap Desya yang sudah mengangguk mengerti maksud tatapan nyonyanya. Desya bergegas kembali ke dapur dan menyiapkan ayam goreng untuk Luckas.



Malam harinya,



Louis mengetuk pintu ruang kerja Luckas,dimana terlihat Luckas tengah sibuk berkutat dengan kerjaannya.



"Jika kamu bermaksud mengajakku bertengkar,nantilah..aku sedang sibuk" sahut Luckas.



Louis terkekeh, "aku bisa menunggumu,abang ipar.. lagipula besok hari minggu.. dan malam ini aku menginap disini.."

__ADS_1



Luckas menatap Louis sebentar "tumben kamu kalem begitu.."



"Karena ada yang ingin aku bicarakan dengan bos besar,pemilik dari hotel Kingdom dan juga hotel Ryans" sahut Louis sambil duduk bersandar di sofa merah yang ada di ruang kerja Luckas,Louis mengambil asal salah satu majalah yang bersampul wajah Luckas, "sepertinya efek editan sekarang semakin canggih.. wajahmu terlihat begitu sempura di sini,padahal aslinya sudah seperti pria tua" sahut Louis.



*Pletak*!



"Aduh!!" rintih Louis karena pukulan Luckas di kepalanya yang tiba-tiba.



"Ada lalat besar tadi..sorry" sahut Luckas singkat lalu duduk di sofa yang tidak jauh dari Louis "cepat katakan, kamu ingin membicarakan apa?. Tidak perlu berbelit-belit! Aku tahu kamu ada maksud tertentu hingga masuk ke sini".



Louis menatap Luckas dengan kesal sambil mengelus kepalanya yang sakit, "mood bicaraku hilang".



Luckas tertawa "bagus! berikutnya aku akan memukulmu lebih keras,supaya kamu bisa kembali normal"




"Aduh..kalian dua.. tidak ada sehari,tidak berantem jika telah bertemu" sahut Lidya yang baru masuk ke dalam ruangan.



Luckas tertawa "anak-anak telah tidur?"



Lidya mengangguk,lalu duduk di sofa yang masih kosong, "jadi..apa yang ingin kamu bicarakan hingga memanggilku kesini?" tanya Lidya.



"Aku mau menerima tawaran dari Luckas.." sahut Louis.


__ADS_1


Luckas dan Lidya menatap satu sama lain, "kamu yakin?" tanya Lidya.



Louis mengangguk dengan serius "ya!! Aku akan bekerja sama dengan kalian!"



"Jadi..bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Lidya.



"Berhenti.. simple kan?" sahut Louis.



Luckas menatap Louis dengan lekat, "Apakah kamu memiliki masalah disana? Mengapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?"



"Aku ingin berubah,Luckas.. Dan menurutku,bekerja disana,tidak dapat memberiku perubahan yang aku inginkan!" sahut Louis "*terlebih sekarang aku harus memikirkan anak yang ada di perut Vanya*" lanjutnya dalam hati.



Luckas tersenyum puas, "bagus.. akhirnya pukulanku tadi bisa menyadarkanmu!" sahut Luckas.



Louis menatap Luckas dengan pandangan tajam, "akan ku simpan untuk balasanku nanti,abang ipar.."



Lidya memutar kedua bola matanya,lalu menatap adiknya dengan serius "apapun keputusanmu,aku akan mendukungmu,Louis. Jika kamu serius untuk bekerja bersama kamu, maka kamu harus mempelajari tentang perhotelan terlebih dahulu, supaya kamu lebih paham akan bidang ini sebelum kamu terjun ke dalamnya" sahut Lidya.



"Dengan senang hati!" tukas Louis.



Luckas tersenyum puas, memiliki Louis sama seperti menambah satu orang yang bisa menjadi orang kepercayaannya yang akan membantunya mengontrol bisnisnya. Dan Luckas telah memiliki rencana tersendiri untuk Louis nantinya.



"Baiklah!" sahut Luckas sambil berdiri "beristirahatlah! Persiapkan dirimu untuk mengundurkan diri dari Lee's Ship dan juga persiapkan dirimu untuk mempelajari semuanya dengan cepat!! Aku tidak butuh pegawai yang lambat!!" sahut Luckas dengan nada tegas dan berwibawa seakan tengah berbicara dengan pegawainya.


__ADS_1


Louis menunduk "aye..aye,kapten..siap!"



__ADS_2