Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Marvin Gaye


__ADS_3

Let's Marvin Gaye and get it on


You got the healing that I want


Just like they say it in the song


Until the dawn


Let's Marvin Gaye and get it on


•Charlie Puth & Meghan Trainor•



Louis segera menutup mulut Vanya dengan tangan kanannya, dia tidak ingin jeritan Vanya menjadi sirine yang dapat memanggil, tetangganya atau orang sekitar rumahnya.



Eits..jangan salahkan Louis,pemirsha.. Louis tidak kalah syok seperti Vanya. Dia tidak kalah terkejut saat mendapati dirinya bersama Vanya,terlebih lagi dia dan Vanya sama-sama tidak tertutup sehelai benang pun.



Vanya mengigit tangan kanan Louis hingga membuat Louis merintih kesakitan, "aduh!! apa yang kamu lakukan?!" pekik Louis yang refleks menarik tangan kanannya kembali.


__ADS_1


"Aku yang seharusnya bertanya apa yang kamu lakukan padaku?!!" pekik Vanya sambil menarik selimut yang menutupi dirinya "apa yang kamu lakukan dirumahku,bukan..di kamarku dan mengapa kita sama-sama--" Vanya menghentikan ucapannya karena dia menarik selimutnya,otomatis bagian selimut yang menutupi tubuh Louis ikut tertarik dan memperlihatkan isi dibalik selimut itu "kya!!!!" pekik Vanya kembali sambil menutup kedua matanya.



Louis mencoba menutup pusakanya dengan kedua telaak tangannya sambil mencari celananya yang tergeletak begitu saja di lantai.



"Aku akan keluar..pakai bajumu dan kita bisa membicarakan ini baik-baik!!" sahut Louis "tapi..Vanya,aku ingin kamu mengetahui sesuatu.. Aku tidak mengambil keuntungan darimu dikala kamu mabuk! Aku sendiri juga tidak mengerti mengapa kita bisa--" Louis terdiam "apapun itu.. pakailah bajumu dan kita bisa berbicara setelahnya!".



Sekujur tubuh Vanya bergetar,dia sangat berharap ini hanya mimpi dan setelah dia bangun semuanya akan kembali normal. Kembali dia menatap tubuhnya yang polos,Vanya pun menitikkan air matanya, "apa yang telah kamu lakukan,Vanya?" lirihnya.




Disisi lain,


Louis tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri, selama ini dia berpegang teguh untuk tidak bermain-main dengan wanita tapi... sekarang.. "arggh!!" Louis menggaruk kepalanya dengan kasar.


"Mengapa aku bahkan tidak mengingat apa yang terjadi tadi malam?" lirih Louis, dia berjalan di depan cermin yang ada di dekat pintu masuk rumah Vanya. Vanya meletakkan sebuah cermin disana untuk memeriksa dirinya sebelum keluar rumah, dan itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Louis merapikan rambutnya yang telah acak-acakan,lalu menatap dirinya perlahan "apapun itu kamu harus bertanggung jawab!!" serunya pada bayangan dirinya sendiri.


Louis menatap bayangan dirinya dengan lekat, sebuah tanda kemerahan di bagian dadanya sangat menarik perhatiannya. Louis melihat dan memeriksa langsung di tubuhnya, sebuah bekas gigitan yang melekat di tubuhnya dan hal itu membuat Louis sedikit merasa perih. Louis mencoba mengingat dari mana bekas gigitan itu tapi dia tidak mengingatnya.

__ADS_1


'ceklek..'


Suara pintu kamar terbuka, Vanya telah memakai kaos putih dengan celana jeans pendek. Vanya terlihat begitu lemas dan berjalan begitu pelan. Louis mendekatinya "ada apa? apakah kamu tidak enak badan?" tanyanya.


"Jangan dekati aku!!" tukas Vanya dingin.


Louis mengangkat kedua tangannya "ok..fine..baiklah" sahutnya lalu duduk di sofa coklat tua di ruang tamu Vanya.


Dengan menahan perih yang masih mendera mahkotanya,Vanya akhirnya berhasil sampai di sofa dan duduk perlahan di sofa tersebut, "hei..dengar.. aku tidak tahu dan tidak ingin dengar apapun darimu!! pulanglah!! dan aku akan anggap apa yang terjadi tadi malam tidak ada.."


Louis tercengang "tapi aku tidak bisa!"


Tatapan tajam dari mata Vanya menusuk Louis "jadi..apa yang kamu mau?! Apa kamu berharap aku merengek memintamu bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan yang dalam keadaan sama-sama mabuk??"


"Tentu!! kenapa tidak?"


"Tidak denganku,sir Louis!" mata Vanya tertahan di bekas gigitan di bagian dada Louis, tiba-tiba dirinya mengingat sesuatu, malam dimana dia dan Louis saling memenuhi satu sama lain. Erangan dari mulutnya memenuhi seisi kamarnya sendiri, Vanya mengigit daerah bagian dada yang ada di tubuh Louis hingga membuat Louis mengerang akibatnya. Louis bahkan menghukumnya dengan memberinya ci*man di bibirnya dengan begitu dalam.


Kedua mata Vanya terbelak seketika,dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya "a..apa yang baru saja--" gumamnya sendiri.


Louis menatap Vanya yang terlihat sedikit pucat "ada apa deng.." Louis melihat sebuah tanda kemerahan di bagian paha Vanya yang terbuka, celana pendek jeans Vanya membuat Louis menyadari adanya tanda merah di bagian tubuh Vanya itu. Louis memegang kepalanya yang mencoba memaksanya mengingat apa yang terjadi diantara mereka tadi malam.. Louis mengingat dirinya menahan Vanya yang telah polos tanpa ditutupi sehelai benangpun, wajah Vanya yang terlihat begitu menggoda di mata Louis. Louis ******* bibir Vanya dan perlahan mencium leher,dada dan perut Vanya hingga membuatnya merasakan geli "akh.. jangan berhenti.." terdengar rintihan Vanya. Louis pun melanjutkan ciumannya hingga di bagian mahkota Vanya sampai membuat Vanya mengeluarkan suara desahan yang terdengar begitu menyemangati Louis, sampai akhirnya Louis siap untuk memenuhi Vanya. Vanya sedikit merintih kesakitan,Louis bahkan kembali mencium bibir Vanya supaya dia dapat sedikit merasa rileks.


Okay..stop!! Louis menepuk keningnya "a..aa..apa yang telah kulakukan..??" gumamnya sendiri.


__ADS_1


__ADS_2