
Keesokan paginya, Lidya memutuskan untuk pergi ke hotel terlebih dahulu. Tidak lupa dia meninggalkan pesan untuk Luckas dan juga Louis yang masih terlelap. Penerbangan yang selama empat belas jam cukup melelahkan bagi Lidya dan Luckas,begitu juga dengan Louis yang siaga menjemput mereka dari bandara dini hari tadi.
Lidya ingin secepatnya melihat perkembangan hotel baru mereka,karenanya dia memutuskan untuk pergi terlebih dahulu tanpa menunggu suami dan adiknya.
Dengan memanggil taksi,Lidya sampai di hotel Ryans. Seulas senyuman menghiasi wajah manis Lidya, hotel Ryans kali ini terlihat begitu berbeda dari hotel Ryans lainnya,dan Lidya menyukainya.
Lidya berjalan masuk ke dalam hotel Ryans,dia menatap sekeliling lobby hotel yang masih sepi. Lidya memeriksa sekeliling lobby. Vanya yang baru saja tiba melihat gerak gerik Lidya dengan bingung.
Perlahan Vanya mendekati Lidya, "permisi.."
Lidya menoleh dan menatap Vanya dari ujung kepala hingga ujung kaki, "ya?"
Vanya tersenyum manis pada Lidya, "maafkan kami,Miss.. Tapi untuk saat ini,hotel masih belum dibuka untuk umum.. Kami masih dalam tahap renovasi.."
Mendengar perkataan Vanya, Lidya langsung mendapatkan ide, "ah..benarkah?. Bolehkah aku melihat-lihat sebentar?, karena hotel ini begitu indah dan membuatku tidak bisa menahan diri untuk masuk"
"Terima kasih,miss.. Namun,kami masih belum terbuka untuk u--"
"Madam?!" suara Chandra menghancurkan segala rencana Lidya.
Lidya memutar kedua bola matanya.
"Ma.. Madam??" Vanya menatap Lidya dan Chandra dengan bingung, "kalian saling kenal?".
"Kamu tidak tahu beliau siapa?. Dia adalah---"
"Pegawai baru!" potong Lidya.
Chandra menatap Lidya dengan bengong.
"Oh,benarkah? Mengapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?!" tanya Vanya.
Lidya menggaruk-garuk kepalanya, "sebenarnya waktu bekerjaku besok, bukan hari ini.. hanya aku begitu antusias ingin melihat tempat kerja baruku"
Vanya tertawa, "kamu sungguh anak yang penuh penasaran"
Chandra melotot pada Vanya. Namun,Lidya malah tertawa mendengar ucapan Vanya, "ya.. aku memang penuh penasaran"
"Kemarilah..aku akan membawamu jalan-jalan.." sahut Vanya, "ngomong-ngomong kamu di bagian mana?"
"A...oh..aku sekretaris manajer baru kalian" sahut Lidya.
Vanya mengangguk dan mengulurkan tangan kanannya, "Kamu dapat memanggilku Rose.."
Lidya membalas uluran tangannya, "Lidya.."
Kedua wanita tersebut berjalan bersama-sama layaknya sahabat, meninggalkan Chandra yang masih kebingungan. Dia tidak mengerti mengapa Lidya berbohong tentang statusnya.
Satu jam kemudian,
Louis tiba di hotel bersama Luckas. Louis masuk ke dalam kantornya sedangkan Luckas langsung memilih berkeliling melihat hotelnya.
Chandra masuk kedalam ruangan dengan secangkir kopi hangat, "selamat pagi,sir"
__ADS_1
"Pagi,Chandra.. thank you buat kopinya.." sahut Louis sambil menyeruput kopi tersebut, "oh ya.. apakah kamu melihat Lidya?"
Chandra mengangguk, "tadi pagi,sir.."
Louis mengangguk, "apa yang dia lakukan di sini pagi-pagi buta"
"Beliau berkeliling terlebih dahulu,sir.." jawab Chandra.
"Sendirian?"
"Tidak..Beliau ditemani Miss Rose" jawab Chandra kembali.
"Miss Rose?? Dia lagi? Aku yakin dia pasti membanggakan kemampuannya pada Lidya" tukas Louis.
Chandra terdiam, "tapi.. Miss Lidya menyembunyikan statusnya.. dia berbohong pada Miss Rose.."
*tok..tok*..
Terlihat kepala Lidya nongol dari balik pintu dengan wajah tersenyum cerah.
"Selamat pagi,adikku" sapanya. Louis hanya memutar kedua bola matanya. Lidya berjalan masuk ke dalam sambil menatap adiknya dengan bangga, "kamu ternyata sungguh berkompeten..semuanya lebih sempurna dari yang ku bayangkan"
"Ha? Apa maksudmu?" tanya Louis kebingungan. Namun,pintu ruangan Louis kembali terbuka dan kali ini Luckas masuk ke dalam sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Adik ipar.. ternyata kamu lebih pintar dari yang ku duga.. Semua begitu sempurna.." puji Luckas, diiringi anggukkan kepala Lidya.
"Tunggu..tunggu..apa maksud kalian?" tanya Louis kebingungan.
__ADS_1
"Tentu saja yang kami maksud hotel! Semua hampir sempurna dan aku menyukainya!! Seharusnya sejak dulu kamu bekerja bersamaku" sahut Luckas sambil duduk di sofa yang ada di ruangan Louis bersama istrinya.
"Sebentar..tapi semua bukan aku yang melakukan itu!" balas Louis.
"Apa maksudmu? Kamu tidak perlu begitu rendah hati" balas Luckas, "tidak seperti dirimu!"
Louis memutar kedua bola matanya.
"Bahkan pegawaimu,Rose sendiri mengatakan kamu bekerja begitu keras mengurus hotel dan semuanya kamu turun tangan sendiri" jawab Lidya.
"Siapa Rose?" bisik Luckas,namun Lidya tidak menjawabnya.
Seketika Louis merasa kesal,dia merasa seperti di rendahkan "Chandra!! Panggil Rose ke sini sekarang juga!! Aku mau dia ke sini secepatnya!!" tukas Louis murka.
Chandra mengangguk dan bergegas berjalan keluar mencari dan menelepon Rose secepatnya.
"Ada apa,Louis?" tanya Lidya kebingungan.
"Tunggu..aku urus pegawai kurang ajar itu!" tukas Louis.
"Ta..tapi..dia terlihat sangat baik dan juga kompeten" jawab Lidya.
"Tidak bagiku!!"
*tok..tok*..
Chandra membuka pintu ruangan Louis "sir.. Miss Rose telah disini.." sahutnya sambil mempersilahkan Vanya masuk ke dalam ruangan.
Louis menatap mereka dengan wajah penuh amarah,tapi..tidak sampai dia melihat sosok asli Miss Rose yang membuatnya murka itu.
__ADS_1