Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Misunderstanding


__ADS_3

There must be some misunderstanding


There must be some kind of mistake


I was waiting in the rain for hours


You were late


•Genesis•



Louis menarik Luckas masuk kembali ke dalam kamar Ayles dengan sedikit kasar dan tergesa-gesa.



"Hei!! ada apa denganmu?!" pekik Luckas begitu mereka masuk ke dalam kamar Ayles.



"Aku..aku hanya ingin memastikan sesuatu padamu" sahut Louis.



"Apa?" tanya Luckas lalu duduk di tepi kasur bermotif iron man, favorit Ayles.



"Jujur padaku,Luckas!! Apakah kamu memiliki wanita lain selain Lidya?" tanya Louis sambil menatap Luckas dengan serius. Suara petir menggelegar menambah suasana kelam diantara mereka berdua.



"Ha? kamu mabuk,Louis?" tanya Luckas yang kebingungan.



"Jawab aku,Luckas!"



"Mengapa aku harus menjawabmu dengan jawaban yang sudah pasti?!" balas Luckas tidak kalah kasar.



"Hmm..sepertinya aku akan bertanya pada Lidya saja.." sahut Louis sambil berjalan menuju pintu kamar.



Dengan cepat Luckas menariknya "jika kamu ingin menghancurkan keluarga kakakmu maka silakan.."



"Maka dari itu!! jawab aku,Luckas" sergah Louis.



"Tentu saja tidak ada dan tidak akan pernah!!! aku telah berjanji hanya kakakmu seorang dan tidak akan pernah ada wanita lain yang masuk diantara kami!!" bentak Luckas.



Louis tersenyum "baiklah..satu hal lagi.. kamu mengenal gadis yang bernama Vanya?"



"Vanya??" Luckas mengerutkan keningnya, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu..seulas senyuman nakal menghiasi wajahnya "tentu saja!"


__ADS_1


Louis tercengang "ka..kamu kenal??"



Luckas mengangguk.



"Bukankah kamu mengatakan tidak akan ada wanita lain dalam kehidupan kalian?!" pekik Louis.



"Benar! Dan aku serius akan itu!! tapi berbeda dengan Vanya.. aku kenal secara tidak langsung"



"Apa maksudmu?!" tanya Louis.



"Siapa Vanya yang kalian bicarakan?!" tukas Lidya yang tiba-tiba membuka pintu kamar Ayles, suara petir menggelegar seakan mengerti waktu yang tepat saat Lidya masuk ke dalam kamar Ayles.



Baik Louis maupun Luckas langsung mematung menatap Lidya yang terlihat kesal, bahkan mereka sedikit bergidik saat petir menggelegar.



"Sa..sayang..aku bisa jelasin.." sahut Luckas sambil mendekati Lidya.



"Jangan kamu mengatakan jika kamu sungguh-sungguh memiliki wanita lain di belakangku?!" seru Lidya.




"Lalu siapa Vanya?!" tanya Lidya dengan dingin.



Luckas menghela nafas lalu menatap Louis dengan tajam "semua gara-gara kamu!!" serunya lalu kembali menatap Lidya "aku tidak mengenal Vanya,Lidya.."



"Bohong!" sahut Lidya.



"Aku berkata benar apa adanya! Aku mengenal nama itu karena dulu Louis pernah menyebut nama itu saat dia tidur!!" pekik Luckas yang mulai putus asa.



"Ha? aku?!" Louis kebingungan.



"Tentu saja!! jika tidak,bagaimana aku tahu nama itu?! Kamu ingat saat kamu ketiduran karena mabuk waktu aku ke rumahmu?!" sahut Luckas dengan suara yang terkesan jengkel,dia bahkan tidak mengerti mengapa dia malah masuk ke dalam masalah akan wanita yang bahkan dia tidak tahu bagaimana wajahnya.



"A..aku?"



Luckas memutar kedua bola matanya,lalu menatap Lidya "sayang..kamu ingat saat aku bilang sepertinya kamu akan segera memiliki adik ipar?"

__ADS_1



Lidya mengangguk.



"Dan Vanya adalah wanita yang dia sebutkan dalam mimpinya!!" pekik Luckas sambil menunjuk Louis.



Louis menggaruk kepalanya "aku tidak tahu.." lirihnya.



"Tentu saja kamu tidak tahu!! Jika kamu tahu,kamu tidak akan ke sini dan menuduhku yang tidak-tidak hingga membuat kami berselisih paham!" pekik Luckas "andai saja kamu bukan adik Lidya.." lanjutnya.



Lidya menghela nafas lega lalu mendekati suaminya "kamu bersungguh-sungguh tidak memiliki wanita lain?" tanyanya dengan nada mulai lembut.



Luckas mengelus pipi Lidya "Nyawaku taruhannya,sayang.. memilikimu sudah lebih dari cukup dalam hidupku. Bagaimana mungkin aku mencari wanita lain selain dirimu? Tidak akan ada wanita yang sesempurna dirimu di mataku" sahut Luckas dengan suara sedikit berbisik lalu menarik kepala Lidya dan langsung \*\*\*\*\*\*\* bibir Lidya dengan dalam.



Louis berjalan perlahan keluar dari kamar Ayles,dia tidak ingin mengganggu mereka berdua,dia telah menyesal membuat keduanya bertengkar. Jika dia mengganggu mereka berdua lagi,bisa-bisa..Luckas akan sungguh-sungguh membunuhnya. Louis perlahan menutup pintu,sebelumnya dia mengintip ke dalam kamar dimana kedua sejoli tersebut malah semakin memperdalam ciuman mereka.



"Sepertinya sebentar lagi Ayles akan memiliki adik lagi" gumam Louis sendiri.



"Adik apa, uncle??" suara Ayles mengejutkan Louis "Mommy dan daddy di dalam? Ayles mau masuk.."



"No..no..no.. mommy dan daddy sedang berbicara hal penting dan Ayles tidak boleh mengganggu mereka..." sahut Louis sambil menahan Ayles.



Mendengar adanya suara Louis, Desya bergegas menghampirinya "Tuan.. makanan yang tuan minta telah disiapkan madam dari tadi.."



Louis mengangguk "thank you,Desya.." balas Louis "Ayles.. uncle punya ramen..Ayles mau?



Ayles mengangguk "mau..mau.."



"Yuk ikut,uncle.." ajak Louis lalu kembali menatap Desya "Desya..bisa bantu jaga Alysse sebentar? dan jangan mengganggu madam di kamar Ayles ya"



Desya mengangguk patuh.



Ingin rasanya Louis membuka dan mengintip Lidya dan Luckas,tapi mengingat adanya Ayles yang disampingnya..Louis mengurungkan niatnya.


"Sebagai tanda maafku, bersenang-senanglah kalian" bisik Louis sambil berjalan menuju meja makan bersama Ayles.


__ADS_1


__ADS_2